Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Masak-Masak


__ADS_3

Kiana menangis sejadi-jadinya dalam pelukan bi Iyem. Pelukan hangat dari ibunya itu terasa hangat seperti pelukan mamanya, pelukan orang tua yang teramat sangat dirindukannya


"Sayang, Laa Tahzan, jangan bersedih karena Allah bersama orang-orang yang sabar!" ujar bi Iyem yang menggetarkan hati Kiana.


Sejak hidup Kiana berubah 360 derajat dari sebelumnya, Kiana lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan, terlebih lagi sejak ia hidup sebatang kara, ia selalu mendengarkan nasehat-nasehat agama dari bi Iyem yang menenangkan hati dan perasaannya.


"Kia nggak apa-apa, Bu. Kia cuma kangen aja sama Mama."


"Ibu juga kangen banget sama Nyonya," bi Iyem menghapus air mata Kiana sembari memandang potret mama Windari yang terpajang besar di kamar Kiana.


Bagi bi Iyem, mama Windari adalah sosok terbaik yang menyelamatkan hidupnya, yang membuat kehidupannya terangkat dan menjadi lebih baik.


"Udah Nak, jangan nangis-nangis lagi ya, Nak."


Bi Iyem memeluk Kiana dan menghapis air mata yang mengalir membasahi pipi Kiana.


"Iya, Bu," jawabku lembut.


"Oh iya, Nak. Oh iya, Nak Rendi katanya mau ngajakin kita jalan-jalan ke pantai, gimana?"


"Kapan Rendi ngajak, Bu?" tanya Kiana dengan nada suara yang masih parau.


"Barusan Nak Rendi menghubungi Ibu," jelas bi Iyem.


"Ya udah kalau gitu, Bu. Kita juga udah lama nggak jalan-jalan, mungkin bisa menghilangkan penat dan menenangkan pikiran."


"Iya Nak, Ibu juga setuju."


"Oh iya, Bu, kita masak cemilan yuk. Kita bikinin puding coklat kesukaan Rendi . Biar Tania yang bikin deh, Bu," ucap Kiana sembari memijit pundak ibunya.


"Emang kamu bisa, Nak? Bukannya kamu anti banget ya sama yang namanya dapur? Kamu bahkan nggak pernah kedapur, Nak!" canda Ibu yang memang benar adanya.

__ADS_1


Mana pernah seorang Kiana mengerjakan pekerjaan rumah, apalagi memasak karena ia adalah anak manja yang segala kebutuhannya dipenuhi oleh asisten rumah tangga. Semua keinginannya juga terpenuhi dengan mudah karena Kiana hidup mewah dan diperlakukan seperti seorang putri dikerajaan papanya.


Namun, itu dahulu, semua telah berubah karena keluarganya telah hancur berantakan, tidak ada lagi manja dan tidak ada lagi pelayanan.


"Jangan salah-salah, Bu, kalau cuma masak puding coklat doang mah kecil, Bu."


"Alah, gayamu, Nak. Masak air aja hangus." Kali ini bi Iyem tertawa sangat lepas. Bukannya beliau meremehkanku tapi apa yang beliau katakan memang benar adanya.


"Ibu, Kiana bisa ya."


Merasa tidak terima dianggap tidak bisa, Kiana dengan percaya diri mengatakan kebisaannya, ia menggelitik pinggang bi Iyem sehingga sang ibu merasa geli. Bi Iyem juga ikut membalas gelitikan itu hingga mereka berdua tertawa sangat lepas bersama.


"Aduh, Nak, kok malah ngerjain Ibu sih? hayo katanya mau bikin puding coklat, nggak jadi? bentar lagi Rendi datang lo." Bi Iyem mengingatkan Kiana dalam tawa candanya.


"Habis, Ibu nggak percaya banget sama Kia, kalau puding aja mah kecil, Bu. Santai."


Kalau hanya puding mungkin Kiana bisa karena ia beberapa kali memesaknya untuk diberikan kepada mamanya semasa mamanya dirawat di rumah sakit jiwa.


"Ya udah buktiin dong, Nak." Tantang Bi Iyem.


Tingkah Kania semakin membuat bi Iyem tertawa lepas karena Kiana terlihat sangat bersemangat dan bahagia bisa memasak untuk orang lain. Kiana juga bahagia bisa membuat ibunya tertawa lepas seperti itu dan ia berharap setelah ini tidak akan ada lagi air mata dikeluarganya. Walaupun, di dalam hati terdalam sebenarnya Kiana masih sangat merindukan papanya, kerinduan yang bercampur aduk dengan kebencian.


"Kalau masak itu harus pake cinta dan perasaan ya, Nak. Biar rasanya juga enak!" celoteh bi Iye  yang tengah asik memperhatikan Kiana memainkan kemampuan memasaknya.


"Ibu ada-ada saja, masak masak pake perasaan, emangnya pacaran, Bu?" tawa Kiana lepas dan semakin terbahak-bahak.


"Itulah kamu, Nak. Dibilangin malah ngak percaya. Awas aja ya nanti nanya-nanya sama Ibu." Bi Iyem memainkan trik manyunnya, trik yang beliau dapatkan dari Kiana.


"Jadi Ibu nggak mau ngajarin Kiana ya, Bu?" Kalau gitu nanti kita nggak jadi dong makan puding coklat yang enak."


"Kamu bisa aja, Nak. Kalau gitu Ibu bantuin bikin ya!" Ibu melangkahkan kaki mendekati Kiana yang sedang asik di dapur, sedangkan bi Iyem hanya memperhatikan dari ruang makan.

__ADS_1


"Ibu, Stop!" Ucap Kiana dengan gerakan tangan ke depan, karena Kiana hanya kngin memasak sendiri kali ini.


"Apaaan sih, Nak. Ngagetin aja, tanggung jawab kalau jantung Ibu copot."


"Maaf Ibu, maaf, Kiana nggak ada maksud ngagetin Ibu, Kok. Kiana cuma minta Ibu duduk manis saja disana, biar chef Kiana yang bereaksi. Ibu cukup perhatikan saja dari jauh."


"Gayamu lagi, Nak. Udah kayak chef beneran aja." Ibu geleng-geleng kepala melihat tingkahku putri bungsunya yang tengah bereaksi membuatkan cemilan untuk kami nikmati bersama.


"Hehehehe, Ibu percaya aja sama Kiana." Senyum Kiana merekah sembari memasak dan mengaduk adonan puding coklatnya.


Begitulah Tuhan mengatur jalan hidup terbaik untuk hamba-Nya, dalam sesaat air mata bisa berganti senyuman karena Tuhan menciptakan bi Iyem sebagai ibu menggantikan peran mama Windari yang telah tiada, seseorang yang hadir sebagai malaikat pelindung yang akan selalu ada dalam suka dan duka, seseorang yang menjadi garda terdepan dalam segala hal, seseorang yang menjaga, melindungi dan menghapus air mata Kiana. Tuhan juga menciptakan ibu sebagai malaikat tempat mengadu dan berkeluh kesah, seperti sandaran yang menopang setiap duka lara. Begitu juga dengan Reyhan, lelaki yang menjadi pelangkap dari semua pelindung yang dikirimkan Tuhan ke dunia. Tidak salah pepatah yang mengatakan, "harta yang paling berharga adalah keluarga," karena memang keluarga adalah segalanya. Bahkan, disaat seluruh dunia meninggalkan kita maka keluarga akan tetap ada bersama kita.


"Alhamdulillah, akhirnya masak juga," ujar Kiana sembari menyalin puding coklat ke dalam cetakan untuk didinginkan dan diletakkan di kulkas.


"Nak, Ibu ke kamar dulu, siap-siap gih! Sebentar lagi Nak Rendi pasti datang," ujar bi Iyem.


"Baik, Bu."


Kiana juga bersiap dan memeriksa lemari pakaiannya, ia ingin mengenakan dress cantik miliknya.


Namun, ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran Kiana saat ini, perkara pakaian yang sesuai syariat islam.


"Apakah aku harus mengenakan hijab?" batin Kiana.


Kiana mulai terbersit untuk mengenakan jilbab, namun ia tidak memiliki jilbab untuk dikenakan.


'Ibu, apa Ibu punya jilbab yang pas untuk ku kenakan?' batin Kiana.


Kiana mendatangi kamar ibunya, hatinya saat ini keleh ingin sekali menggenakan jilbab, karena ia teringat akan pesan-pesan mamanya yang memintanya menjadi wanita saleha. Ya, salah satu cara menjadi wanita saleha adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya, salah satunya adalah mengenakan jilbab untuk menutupi kepala.


"Ada, Nak, Ibu punya pasmina."

__ADS_1


Bi Iyem mengeluarkan sebuah kotak dan memberikannya kepada Kiana.


"Apa ini, Bu?"


__ADS_2