
Wilona adalah gadis manja yang sangat keras kepala. Ia akan melakukan apapun sesuai dengan keingina dan kehendak hatinya salah satunya adalah mendapatkan Reyhan. Kemarahannya akan semakin memuncak dan keinginannya untuk mendapatkan Reyhan akan semakin meningkat karena Reyhan menolaknya dan memilih bersama wanita lain dan wanita itu tidak lain adalah Kiana.
Wilona paling tidak suka jika ada yang merebut sesuatu yang ia sukai, maka dengan segenap hatinya ia akan berusaha mendapatkan kembali apa yang menurutnya menjadi miliknya. Ya, yang Wilona miliki sekarang bukanlah cinta melainkan obsesi berlebihan terhadap sesuatu dan Reyhan memahami sikap Wilona.
Sebagaimanapun Reyhan menjelaskan kepada Wilona, hati kecil wanita cantik itu belum sanggup untuk menerimanya karena dalam otaknya adalah keinginan yang harus menjadi kenyataan.
Wilona sangat cantik, ia sexy, pintar dan dari keluarga berada, tentu banyak sekali lelaki yang mengejar dan mengiginkannya, tapi tidak dengan Reyhan, ia tidak bisa menerima Wilona karena menurutnya tipe wanita yang ia ingin menjadi seorang istri bukan Wilona melainkan Tania.
Cinta memang tidak harus memiliki dan cinta memang tidak bisa dipaksakan karena cinta sejati itu dijalankan oleh dua orang insan yang saling mencintai bukan hanya salah satu pihak saja.
"Mas, tolong jangan batalkan pernikahan kita!" ungkap Wilona dengan mata yang berkaca-kaca.
Sebagai seorang lelaki yang telah menyakiti hati dan perasaan Wilona, Reyhan merasa sangat iba dan kasihan sekali kepada gadis yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri itu.
"Maaf, Mas harus pergi!"
Reyhan melepaskan tangan Wilona yang menggenggam tangannya, kemudian ia berlari cepat agar Wilona tidak bisa mengejarnya. Ia juga tidak menoleh sama sekali kebelakang karena ia tidak ingin memberikan harapan apapun kepada Wilona. Yang ingin dilakukan oleh Reyhan sekarang adalah cepat sampai di kamar inap bi Iyem dan memastikan keadaan wanita paruhbaya itu baik-baik saja. Reyhan juga ingin menghibur Kiana dan selalu ada untuk wanita yang sangat ia cintai dan sayangi itu.
"Assalamualaikum," sapa Reyhan dengan nafas ngos-ngosan.
"Waalaikumsalam."
Kiana dan sang ibu kaget melihat Reyhan datang dengan peluh di wajahnya dan nafas yang tidak stabil.
Kiana berjalan pelan menghampiri Reyhan, ada rasa khawatir yang bersemayam dalam otaknya, takut hal buruk terjadi kepada Reyhan.
"Rey, sebenarnya apa yang terjadi sama kamu? Kenapa kamu seperti ini?
'Apa aku mengatakan kepada Kiana kalau aku bertemu dengan papanya?' ungkap Reyhan di dalam hati.
Reyhan sangat tahu kalau ada kerinduan dan kebencian yang membaur menjadi satu dalam benak dan hati Kiana kepada sang papa, apalagi keduanya tidak bertemu selama bertahun-tahun. Namun, Reyhan takut jika Kiana marah kepadanya karena ia menemui papanya secara diam-diam.
__ADS_1
"Rey, kamu kenapa? Kok diam aja?" tanya Reyhan sekali lagi.
"Eh, iya, apa, tidak, ah maksudnya aku tidak apa-apa, aku hanya keluar sebentar dan liftnya rusak, jadi aku harus naik tangga kesini," ungkapan bohong yang keluar dari lisan Reyhan membuat ia gugup dan merasa tidak enak hati kepada Kiana. Namun, setidaknya cara itu adalah cara yang paling baik yang ia lakukan sekarang agar Kiana tidak marah kepadanya.
Tok ..., tok ..., tok ....
"Selamat sore," sapa ramah dokter Rasya dengan memberikan senyuman termanisnya.
"Silahkan masuk, Kak Rasya," ungkap Kiana manis dan terlihat sangat sopan.
"Kak Rasya? Kiana apa-apaan ini? Dia Dokter kenapa kamu memanggil namanya?" tanya Reyhan protes.
Ada kecemburuan dan ketidaksukaan di hati Reyhan dimana Kiana memanggil dokter Rasya dengan namanya.
"Ibu apa kabar?"
Dokter Rasya bersikap sangat ramah kepada bi Iyem bahkan lebih ramah dari pada kepada pasien-pasien lainnya, karena bi Iyem adalah ibunya Kiana.
"Kia, kenapa aku dicuekin? Siapa Dokter itu, kenapa kamu terlihat sangat dekat dengannya?" bisik Reyhan yang masih terdengar oleh dokter Rasya.
Reyhan tidak menyangka Kiana akan membawa ibunya ke rumah sakit mantan kekasihnya dan Reyhan tidak suka jika Kiana dekat-dekat dengan mantan kekasihnya.
"Kiana, kenapa kamu tidak menceritakannya kepadaku?" protes Reyhan.
Kiana tidak menghiraukan Reyhan karena baginya tidak ada yang perlu dijelaskan kepada Reyhan. Bahkan kecemburuan yang sekarang dirasakan Reyhan sekarang tidak sebanding dengan kecemburuan yang dulu Kiana alami setiap hari karena Reyhan selalu bermesraan dengan Wilona di depannya.
"Kiana, kenapa kamu diam dan tidak menjawab ku sama sekali?"
Reyhan bertingkah seperti anak kecil yang ingin dilawan dan diperhatikan, tapi Kiana tetap bersikap cuek kepadanya karena bagi Kiana kesehatan ibu adalah yang terpenting sekarng dan ia tidak punya banyak waktu untuk berdebat dengan Reyhan masalah kecemburuan.
"Kak Sya, bagaimana keadaan Ibu?"
__ADS_1
"Ibu hanya kelelahan, butuh istirahat total dua atau tiga hari disini. Aku akan memberikan vitamin dan obat agar Ibu cepat pulih, jadi kamu tidak perlu khawatir."
Dokter Rasya menepuk-nepuk lembut pundak Kiana hingga api kecemburuan makin menggelora di dada Reyhan.
Ingin sekali Reyhan mengusir dokter Rasya sekarang juga dari ruangan ini, karena hatinya terlalu sakit dan cemburu melihat kedekatan Kiana dengan dokter Rasya, namun ini rumah sakit dan sebagai orang yang berpendidikan ia tidak mungkin melakukan hal-hal yang memalukan hanya perkara cemburu.
"Terima kasih banyak, Kak Sya."
"Kamu mau ikut ke apotik denganku?"
"Oke, aku ikut."
Kiana dan dokter Rasya akan berjalan keluar dari kamar inap bi Iyem, tapi Rethan tiba-tiba ada di depan pintu menghalangi jalan keduanya, seperti seorang anak kecil yang tengah merajuk.
"Rey, apa yang kamu lakukan di depan pintu? Aku ingin keluar, cepat minggir!"
Tania memarahi Reyhan, namun lelaki tampan itu tetap bertingkah kekanak-kanakan karena kecemburuannya.
"Kia, siapa lelaki itu?"
Dokter Rasya yang tadinya tidak mempedulikan keberadaan Reyhan, akhinya penasaran dengan lelaki yang menjadi budak cinta Kiana itu.
"Dia atasanku di kantor, dia datang kesini untuk menjenguk Ibu."
"Atasan? Kia, aku calon suamimu!"
Apa yang dikatakan oleh Reyhan tidak dipedulikan oleh Kiana, ia hanya ingin keluar untuk mengambil obat ibu.
"Nak Reyhan, bisa tolong bantu Ibu?" ucap bi Iyem dengan nada suara lemah dengan wajah yang menatap ke arah Reyhan.
"Baik, Bu."
__ADS_1
Dengan bergegas Reyhan langsung menghampiri sang ibu untuk mempertanyakan apa yang menjadi kebutuhan sang ibu, karena ia sangat tahu kalau menghormati orang tua apalagi orang tua yang meminta pertolongan, tentu saja Reyhan tidak bisa menolaknya. Namun, pada kesempatan itu Kiana dan dokter Rasya berjalan keluar menuju apotek tanpa Reyhan sadari.
"Kia, siapakah lelaki itu?" tanya dokter Rasya sekali lagi disela-sela perjalanan mereka menuju apotik. Ada rasa penasaran yang terlihat yang membuat Kiana menatap ke arahnya.