Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Taubat


__ADS_3

Kiana heran melihat kotak itu, ia hanya meminjam jilbab dan hari ini bahkan bukan ulang tahunnya. Tapi, bi Iyem sepertinya memberikan sebuah kado yang sangat mahal untuk Kiana.


"Bukalah, Nak!"


Kiana menatap ibunya dan dengan penuh rasa penasaran ketika membuka kotak itu. Kotak kado yang berisi pakaian muslimah langkah dengan kartu ucapannya.


Air mata Kiana akhirnya jatuh membasahi pipinya, ketika melihat kartu nama dari yang memberikannya kado. Ya, kado dari mama Windari untuk putri kesayangannya. Kado berharga yang membuat air mata Kiana tidak bisa lagi ia bendung.


Kiana merasa sangat bahagia karena kado itu melepaskan sedikit kerinduannya kepada mamanya. Ia juga tidak menyangka sama sekali kalau mamanya telah mempersiapkan hadiah terbaik yang sangat berharga untuk dirinya.


Kiana membaca kartu ucapan yang dikirimkan mamanya. Sungguh, kata-kata yang membuat haru yaitu jadilah wanita saleha yang dirindukan surga.


"Pakailah, Nak!" ujar bi Iyem dengan senyuman.


Kiana mencoba gamis merah muda dengan pasmina berwarna putih bersih yang dihadiahkan oleh mamanya.


"Masyaallah Tabarakallah, cantik sekali putri kesayangan Ibu," puji bi Iyem sembari menatap takjub kepada Kiana yang memang terlihat sangat cantik.


Kiana juga merasakan dirinya terlihat berbeda dari biasanya, dan ia merasakan kenyamanan dari pakaian yang ia kenakan. Kiana akhirnya menyadari kalau agama islam adalah agama yang sangat memuliakan kaum wanita, seperti firman Allah dalam Al-Qur'an yang artinya: "Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang," (QS. Al-Ahzab ayat 59).


Kiana bertaubat, kembali kepada Rabb dan berusaha merubah dirinya menjadi manusia yang lebih baik dengan memulai dengan menutup auratnya. Kiana berharap ia akan berubah menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya karena ia percaya kalau Allah akan mempermudah jalannya dalam berhijrah.


"Assalamualaikum," terdengar suara Rendi yang mengetuk-ngetuk pintu rumah Kiana."


"Waalaikumsalam," jawab Kiana dan ibunya serentak.


"Ibu, Rendi sepertinya sudah datang." Kiana bersemangat, ia berlari membukakan pintu, dan melihat Rendi tengah duduk di kursi teras rumah Kiana.


Rendi menatap takjub dengan mata yang tidak berkedip melihat Kiana dengan penampilan barunya.


"Rendi, Rendi!"


Kiana memanggil-manggil nama Rendi beberapa kali, namun lelaki itu tetap menatap Kiana dengan takjub.


"Rendi!"


"Eh iya, aku punya sesuatu untuk kamu, tapi kamu tutup mata dulu ya!" Rendi langsung berlari menuju mobilnya karena ia salah tingkah saat ini.

__ADS_1


Kiana heran melihat tingkah Rendi, namun ia memilih untuk menurut saja, ia menutup mata dan duduk sembari menunggu Rendi kembali datang menghampirinya.


"Udah, silahkan buka matanya, Kia!" ucap Rendi dengan rona wajah yang memancarkan kebahagiaan.


Perlahan Kiana membuka matanya dengan senyum yang menawan.


"Surprise...!" Rendi membawa sebuah boneka Hellokitty berukuran besar yang dipersembahkan untuk Kiana.


"Ini untukku?" tanya Kiana dengan mata berbinar.


"Iya dong, buat siapa lagi, hehehe." Senyum Rendi terlihat tulus.


"Terima kasih, Rendi, aku senang banget dikasih boneka Hellokitty segede ini."


Kiana mengambil dan memeluk boneka kesukaannya ini dengan hati yang teramat sangat bahagia. Senyum menawan tergambar jelas di wajah cantik Kiana.


"Sama-sama, Kia."


Rendi bahagia melihat senyum di wajah Kiana.


"Kia, kamu terlihat berbeda hari ini."


Kiana hanya tersenyum tanpa menjawab atau memberikan penjelasan apa-apa kepada Rendi.


"Nak Rendi sudah datang?"


Bi Iyem datang menghampiri dengan membawa bekal yang telah beliau siapkan untuk dinikmati kala mereka piknik.


"Iya, Bi, saya datang."


Rendi menyalami dan mencium punggung tangan bi Iyem dan memperlakukan beliau layaknya orang tua sendiri.


"Berangkat yuk!" ajak Kiana.


"Yuk!" Ajak Rendi yang juga tidak kalah bersemangat.


***

__ADS_1


Suara angin sepoi-sepoi dengan deburan ombak yang menghempas di jejeran batu yang tersusun rapi ditepi pantai. Pasir putih yang lembut dengan pemandangan langit biru diselimuti awan putih menambah keindahan jajaran pohon di tepi pantai.


Sudah lama sekali rasanya Kiana dan keluarga tidak bersantai dan piknik seperti ini. Sejak memasuki usia gadis dewasa, Kiana lebih sering menghabiskan waktu bersama pacar dan teman-temanknya. Apalagi sejak kedua orang tuanya berpisah, mereka semakin jarang menghabiskan waktu bersama karena Kiana sibuk membating tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Kini akhirnya Kiana bisa piknik lagi bersama keluarganya, namun bukan lagi bersama mama dan papanya akan tetapi bersama ibunya dan Rendi, mantan kekasih yang saat ini telah menjadi sahabatnya.


"Bu, temenin Kiana main pasir!"


Kiana bersikap manja layaknya anak kecil, ia menarik tangan ibunya dan mengajak wanita paruh baya itu berlari di bawah pasir putih yang lembut menuju tepi pantai untuk bermain ombak.


"Iya, Sayang. Sabar dulu, jangan lari-larian, Nak, nanti jatuh." Bi Iyem tersenyum melihat putri kesayangannya yang benar-benar bersemangat ingin main pasir dan mandi air laut.


"Kia udah nggak sabar, Bu, Hehehehe."


Kiana terlihat teramat sangat bahagia dengan senyum semeringah yang terpancar di wajahnya.


"Kia, Bibi, tungguin!." Suara Rendi terdengar samar namun masih tetap bisa didengar.


Rendi berlari mengejar Kiana dan bi Iyem menuju tepi pantai.


"Rendi, sini!" Kiana memanggil Rendi dengan senyum bahagia.


Rendi terus berlari mengejar wanita yang masih ia sayangi itu dengan hati riang gembira.


"Ren, kita main pasir yuk!" ajak Kiana.


"Boleh," ujar Rendi yang terlihat ingin membahagiakan Kiana dengan menuruti semua keinginan Kiana.


"Aku mau nggak kita bikin rumah-rumahan dari pasir, rasanya aku ingin kembali ke masa anak-anak."


Kiana mengenang masa kecilnya bersama kedua orang tuanya dengan mengulang kembali masa indah itu kembali. Ya, setidaknya Kiana bisa bernostalgia kembali kedua orang tuanya lewat memori-memori indah masa kecil.


Untuk sesaat, Kiana ingin menikmati hidupnya tanpa memikirkan pekerjaan dan Reyhan yang selalu menyakiti hati dan perasaannya.


Surga dunia, begitulah perasaan yang menggambarkan hati Kiana saat ini. Pantai adalah salah satu tempat wisata yang sangat Tania suka. Bagi Kiana pantai adalah surga yang sangat memanjakan dan menyejukkan mata dan raga, berbagai kuliner khas tepi pantai juga begitu memanjakan lidah ketika dinikmati bersama udara sepoi-sepoi di bawah pohon cemara yang rindang. Dunia serasa di surga bukan? "Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?" betapa ia sangat bersyukur atas semua nikmat yang Tuhan berikan.


Sementara Rendi, lelaki tampan itu terlihat sangat peduli dengan Kiana, ia menuruti semua keinginan Kiana. Baginya senyum Kiana adalah bahagianya dan sedih Kiana adalah sedihnya. Ia tidak ingin setetes air matapun jatuh membasahi pipi Kiana. Baginya berada di sisi Kiana dan membuat gadis cantik itu bahagia sudah jauh lebih dari cukup dari pada dibenci oleh Kiana. Rendi ingin memperbaiki kesalahannya di masa lalu yang telah melukai hati dan perasaan Kiana.

__ADS_1


"Kia, apakah kamu mau menjadi kekasihku lagi?"


__ADS_2