
Sebenarnya Kiana sangat tidak ingin lagi menjadi Upik Abu karena bertemu lagi dengan Reyhan. Lelaki itu benar-benar membuat Kiana muak sekaligus kesal dengan semua kelakuan dan perangainya yang selalu bertindak seenak hatinya saja. Namun, Kiana telah terikat dengannya dan Kiana telah memiliki banyak hutang budi kepadanya, jadi Kiana tidak mungkin melawan keegoisan hatinya hanya karena perasaan semata. Apalagi beberapa hari lagi mereka akan ujian nasional, setidaknya Kiana harus menahan diri, sebab sebentar lagi mereka akan tamat dan tentu saja ia tidak perlu lagi bertemu dengan Reyhan setiap hari.
Kiana tahu kalau Reyhan tidak akan bisa apa-apa tanpa dirinya dan Kiana tidak mungkin bersikap egois hanya dengan kepentingannya sendiri.
"Nak, kenapa melamun?" tanya bi Iyem sekali lagi.
"Maaf, Bu," jawab Kiana gugup dengan sejuta kekhawatiran yang ia bawa bersamanya.
"Nak, apa yang kamu pikirkan?"
Bi Iyem menatap Kiana dengan tatapan kebaikan, tatapan cinta dan kasih sayang dari seorang ibu kepada anaknya.
"Kiana harus tetap bekerja, Bu, karena Kiana telah melakukan perjanjian kerja seumur hidup dengan Reyhan, kecuali lelaki itu sendiri yang memutuskan kontrak kerja kami," jelas Kiana.
Ya, apapun yang akan dilakukan oleh Kiana maka bi Iyem akan mendukung putri kesayangannya itu karena bi Iyem percaya semua yang dilakukan oleh Kiana adalah yang terbaik.
"Nak, kalau begitu kamu harus bersemangat!"
Itulah salah satu kata yang keluar dari lisan bi iyem yang membuat Kiana bersemangat bak semangat para pahlawan dalam merebut kemerdekaan.
Sebenarnya ada rasa canggunt yang mungkin saja akan terjadi antara Kiana dan Reyhan, karena lelaki itu baru saja mengutarakan isi hatinya, namun urusan pekerjaan sangat berbeda jauh dengan urusan hati dan perasaan.
"Bu, kita sudah sampai rumah!"
Taxi yang ditumpangi oleh Kiana dan ibunya akhirnya mendarat di halaman rumahnya. Namua ada pemandangan aneh yang lagi dan lagi mencengangkan Kiana.
"Silahkan turun, Kiana, Ibu," ucap Reyhan dan Rendi serentak ketika membuka pintu taxi dengan serentak juga dimana Reyhan di pintu sebelah kanan dimana Kiana duduk dan Rendi berada di pintu sebelah kiri dimana bi Iyem duduk.
"Pak, ini!"
Reyhan dan Rendi kembali mengulurkan uang untuk membayar Taxi ketika Kiana akan membayar taxinya.
Sungguh kedua lelaki itu terlihat sangat kompak sekali ketika akan bersaing, seperti dua sahabat yang sang berteman dekat.
Ya, kesempatan persaiangan dalam membayar uang taxi itu menjadi kesempatan untuk Tania dan ibunya bisa keluar dari Taxi tanpa mempedulikan dua orang yang tengah berkompetisi itu.
"Bu, ayo kita segera masuk ke rumah sebelum dua lelaki itu sadar kalau kita menghindarinya," ucap Kiana sembari membimbinga tangan ibunya.
Ya, yang namanya perasaan seorang lelaki kepada wanita memang tidak bisa dibohongi sama sekali, karena ia akan sadar jika wanita yang dicintainya telah keluar dari taxi dan keduanya kembali berkompetisi untuk membatu Kiana dan ibunya untuk membawa barang.
"Kiana, sini aku bantuin," ungkap Reyhan mengambil hati Kiana.
__ADS_1
"Ibu, sini Rendi bantuin," ucap Rendi dengan trik mendekati sang putri lewat mengambil hati ibunya.
Tali kedua lelaki itu tetap diacuhkan oleh Kiana karena Kiana sedang tidak ingin berdebat atau membuat dua orang itu bergaduh.
"Sudah malam, saya ingin istirahat!" ujar Kiana.
Kiana melangkahkan kakinya untuk melangkah memasuki rumahnya. Ia juga langsung masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di ranjang karena hatinya merasa lelah dan teramat sangat capek.
"Nak, salat isya dulu sebelum tidur."
Terdengar sorak sang ibu dari luar kamar yang selalu memperhatikan ibadah Kiana.
"Baik, Bu," jawab Kiana pelan.
"Kia, kamu besok harus ke kantor, banyak yang harus kamu kerjakan!"
Terdengar lagi oleh Kiana suara Reyhan dari luar kamarnya yang meminta ia untuk kembali ke kantor esok hari.
"Kiana, besok aku akan menjemputmu!"
Kini Rendi yang bersikap tidak mau kalah.
"Kalian berdua pulanglah! Sudah malam dan aku ingin istirahat!" sorak Kiana dengan nada suara tinggi dan tegas.
Ya, Kiana menutup matanya hingga tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu. Bahkan saking lelahnya, Kiana terbangun ketika azan subuh telah berkumandang.
"Astagfirullahalazim, sudah pagi!"
Kiana tersintak dan langsung bangkit dari tempat tidurnya, segera mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
Kiana tidak ingin datang terlambat karena Reyhan akan sangat marah kepadanya, diluar pekerjaan Reyhan memang sangat baik tapi ketika bekerja di kantor, Reyhan tetaplah atasanya yang teramat sangat kejam sekali kepadanya.
Kiana mengenakan rok plisket berwarna hitam panjang dengan kemeja panjang berwarna merah muda yang membuatnya terlihat sangat cantik sekali. Hanya saja Kiana masih belum bisa mengenakan hijabnya karena hatinya belum siap. Namun, setidaknya Kiana sudah mulai memakai pakaian sopan dari biasanya, semua serba panjang dan tidak lagi terbuka.
"Nak, sarapan dulu!"
Ibu membawakan roti bakar dengan slai coklat serta susu putih kesukaan Kiana.
"Iya, Bu, sebentar lagi," ucap Kiana lembut.
Kiana memang sangat jarang sarapan dan ia akan melewati waktu sarapan jika ibunya tidak menyuapinya maka Kiana tidak akan sempat memakan makanannya.
__ADS_1
Kring ..., Kring ..., Kring ....
Ponsel Kiana berdering beberapa kali. Ya, iu artinya Reyhan sedang mengharapkan ia segera datang ke kantor yang ada di sekolah.
"Ibu, Kia harus segera ke sekolah, Reyhan sedang mencari Kiana," ucap Kiana sembari memasang high heels berwarna hitam yang menunjamg penampilannya agar terlihat lebih cantik.
"Nak, minum dulu susunya!" ucap bi Iyem sembari menyodorkan susu putih kepada putrinya.
Ya, jika ibu telah menyodorkan sarapan, itu artinya Kiana harus meminumnya.
"Nak, ini makan dulu rotinya!"
Bi Iyem juga langsung menyuapi roti itu di mulut Kiana, hingga mau tidak mau Kiana harus memakannya sembari berlari keluar dari rumahnya.
"Ayo naik!"
Kiana terpana ketika melihat mobil Reyhan telah parkir di depan rumahnya.
Ya, lelaki tampan yang tidak lain sahabat dan bosnya itu telah ada di depan rumahnya untuk menjemputnya.
Sejujurnya Kiana tidak ingin pergi ke kantor dengan Reyhan, tapi Reyhan telah menarik tangannya dan membawa Kiana masuk ke mobilnya.
"Rey, apa-apaan sih! Pemaksaan tahu!" protes Kiana.
"Kita ada rapat pagi ini ke luar kota jadi kita harus segera berangkat dari sini agar bisa cepat sampai!" jelas Reyhan.
"Luar kota kemana?" tanya Kiana heran.
Ya, Reyhan memang selalu melakukan sesuatu semaunya saja tanpa mempedulikan perasaan Kiana, apalagi ini jam sekolah.
"Aku belum meminta izin kepada Ibu," protes Kiana lagi.
"Sedari malam aku sudah meminta izin kepada Ibu, jadi jangan khawatir!"
Reyhan menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di lokasi dengan waktu rapat yang telah ditentukan.
"Rey, kita mau kemana sih?"
Kiana tidak habis pikir dengan jalan pikiran Reyhan yang membuat Kiana kesal.
"Kita akan ke Bogor."
__ADS_1
"Bogor? Berapa hari? Ini 'kan jam sekolah, Rey!"