
"Sudah ah, jangan banyak tanya, kamu makan aja dulu," balas Kiana mengalihkan pertanyaan Reyhan.
Kiana grogi ingin menemui calon mertuanya, apalagi ia belum persiapan.
"Sayang, aku pulang duluan! Kamu jemput aku di rumah, aku mau siap-siap!" ujar Kiana.
Gadis cantik itu berdiri dari tempat duduknya dan mengambil tasnya, ia berlari meninggalkan Reyhan yang sedang makan. Ia ingin pulang dan bersiap-siap untuk menemui calon mertua dengan pakaian terbaiknya.
"Sayang ..., tunggu!' teriak Reyhan yang tidak Kiana hiraukan.
***
"Ibu, bagaimana jika kedua orang tua Reyhan tidak merestui hubungan Kiana dan Reyhan?"
Kiana menatap wajah ibunya dengan sejuta kekhawatiran yang ia bawa bersamanya. Ia teramat sangat takut jika kehadirannya tidak diterima oleh kedua orang tua Reyhan.
Bi Iyem menggenggam tangan Kiana, kemudian menepuk nepuk-nepuk lembut tangan itu seolah mengisyaratkan kalau Kiana tidak usah merasa takut ataupun khawatir karena semua ketakutan Kiana tidak akan terjadi.
"Sayang, kedua orang tua Nak Reyhan pasti akan merestui hubungan kalian berdua," ungkap bi Iyem dengan senyum yang meneduhkan.
Kiana merasa sangat lega karena kata-kata yang keluar dari lisan bi Iyem membuatnya merasa lebih tenang dan lebih baik untuk sesaat.
"Kalau begitu Kiana ingin bersiap dulu sebelum Reyhan datang menjemput Kiana."
"Oke, Nak, Ibu akan menyiapkan makanan dulu untuk Tuan," ungkap sang ibu.
Kiana bergegas untuk mandi dan ia memilih pakaian terbaik yang akan ia kenakan untuk menemui calon mertuanya. Ya, Kiana memeriksa semua isi lemarinya dan mencoba semua pakaian terbaik yang ia miliki tapi ia tidak menemukan pakaian yang cocok dan pas untuk ia pakai menemui kedua orang tua Reyhan.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak tahu pakaian mana yang akan aku kenakan.'
Kiana membatin, dan terpikir olehnya, andai saja mamanya masih hidup pasti mamanya akan memilihkan pakaian terbaik untuk ia kenakan karena mamanya memiliki jiwa fashion yang sangat luar biasa dan tidak diragukan lagi sebab sebelum menikah dengan sang papa, mama Kiana bekerja di perusahaan fashion sebagai seorang desainer.
Tok ..., tok ..., tok ....
Kiana mendengar seseorang tengah mengetuk pintu kamarnya dan Kiana bergegas untuk membuka pintu kamarnya itu karena Kiana tahu kalau ibunya yang datang.
__ADS_1
'Ibu datang diwaktu yang tepat,' ungkap Kiana bersemangat.
"Ibu, untung Ibu datang, Kiana benar-benar membutuhkan bantuan Ibu," ungkap Kiana.
Kiana membimbing tangan ibunya untuk segera masuk kedalam kamarnya dengan sejuta permasalahan pakaian yang ia tumpahkan kepada ibunya.
"Nak, ada apa? Kenapa panik sekali?"
"Ibu, Kiana pusing, Kiana tidak tahu akan memakai pakaian mana, Kiana tidak mempunyai baju yang bagus untuk menemui kedua orang tua Reyhan."
Kiana merengek manja, mengadukan keluh kesahnya kepada ibunya, betapa saat ini ia membutuhkan saran dan masukan dari ibunya agar ibunya memilihkan baju terbaik untuk ia kenakan.
"Tidak punya baju terbaik? Lantas yang ada di atas kasur itu apa, Nak?"
Bi Iyem menunjuk ke ranjang Kiana, seluruh pakaian telah bertumpuk disana seperti barang obral yang sedang discon besar-besaran, sungguh terliat seperti kapal pecah saja.
"Ibu, semua pakaian itu telah pernah Kiana kenakan dan tidak ada lagi pakain baru, Kiana tidak punya pakaian baru karena sudah lama tidak berbelanja."
Sebuah alasan klasik yang disampaikan oleh Kiana membuat bi Iyem geleng-geleng kepala. Ya, Kiana tidak berubah sama sekali, walaupun ia telah mandiri tapi tetap saja Kiana adalah gadis yang sangat manja, yang suka merengek dan membutuhkan saran dari orang-ornag terdekatnya untuk sesuatu hal.
"Nak, ini Ibu bawakan sesuatu, ambillah!"
"Bu, ini apa?"
"Tuan memberikannya kepada Ibu, katanya ini adalah pakaian terbaik dari nyonya yang sangat beliau sukai, kata Tuan pakaian ini sangat cocok sekali dikenakan oleh putrinya ketika akan menemui calon mertuanya."
"Apakah Papa berkata seperti itu, Bu?"
Bi Iyem mengangguk dengan senyuman, senyum yang menguatkan dan membuat Kiana bersemangat.
"Bu, Papa ada dimana?"
"Dibawah sama calon menantu kesayangannya."
"Ha? Jadi Reyhan sudah datang, Bu?"
__ADS_1
Kiana semakin panik dengan debaran jantung yang luar biasa karena tidak menyangka Reyhan akan datang secepat ini.
"Nak, gantilah pakaiannya."
"Baik, Bu."
Kiana bergegas mengganti pakaiannya dan hatinya merasa sangat merindukan mamanya ketika melihat gaun putih polos yang terlihat sangat indah sekali. Gaun yang mengingatkan Kiana kepada mamanya, sesuatu yang Kiana cari dan Kiana butuhkan karena tidak ada pakaian terbaik lagi yang Kiana lihat selain gaun ini.
"Mama, terima kasih banyak karena Mama telah mengirimkan gaun ini untuk menyemangati Kiana."
Kiana melihat dirinya di depan cermin sembari berputar-putar, ia melihat kalau ia terlihat sangat cantik seperti seorang bidadari, bahkan wajahnya terlihat sangat mirip sekali dengan mamanya ketika mamanya masih muda dan sangat cantik waktu itu.
Kiana kemudian menghias wajahnya dengan hiasan sederhana dan minimalis, ia mengenakan lipstik pink muda yang sesuai dengan warna bibirnya, kemudian mengikat rambutnya kebelakang agar terkesan lebih rapi dan sopan dihadapan calon mertuanya.
"Nak, kamu terlihat sangat cantik sekali, mirip sekali dengan Nyonya," puji bi Iyem.
Kiana memperhatikan wajahnya di cermin dan melihat sosok mamanya pada dirinya, sehingga kerinduannya kepada sang mama bisa sedikit terobati karena gaun yang ia kenakan ini.
"Bu, apakah Mama melihat Kiana sekarang?"
"Tentu, Nak, pasti saat ini Nyonya merasa sangat bangga sekali melihat putri yang sangat ia cintai akan menikah dengan lelaki yang teramat sangat baik seperti Nak Reyhan."
"Apakah kedua orang tua Reyhan akan merestui hubungan Kiana dan Reyhan jika Kiana pergi menemui beliau dengan pakaian seperti ini?"
Ada keraguan yang muncul di dalam hati ini, takut jika keberadaanku tidak diinginkan oleh calon mertua Kiana.
"Yakinlah, Allah akan memudahkan semuanya, Nak."
Bi Iyem berusaha menenangkan Kiana dan mencoba mengembalikan semangat Kiana agar gadis cantik itu tidak merasa minder dan takut untuk menghadapi sesuatu yang belum terjadi.
"Yuk keluar, Nak Reyhan telah menunggu lama."
Bi Iyem membantu Kiana berdiri dan ia merasakan seluruh tubuh Kiana begetar kedinginan, Kiana grogi dan merasa takut ditolak oleh calon mertuanya.
"Nak, jika Mama kamu melihat maka ia akan mengatakan seperti yang Ibu katakan sekarang, kalau tiak akan ada seorang pun yang akan berani menolak anak gadis yang teramat sangat cantik seperti kamu," ungkap bi Iyem sembari memeluk putri kesayangannya itu.
__ADS_1
Sebagai seorang anak, tentu saja Kiana mengharapkan pujian dari orang tuanya.
"Benarkah yang Ibu katakan?"