Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Piknik Terindah


__ADS_3

"Sudahlah, Rey, aku lapar!"


Kiana bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Reyhan karena ia tidak ingin lagi membahas perasaan atau apapun yang berhubungan dengan cinta dan apapun yang berhubungan dengan cinta itu.


Reyhan kini pasrah dan tidak lagi memaksakan dirinya, ia memilih diam dan mengikuti Kiana saja, karena jika ia memberontak atau protes lagi maka Kiana akan semakin marah kepadanya.


Kiana berjalan sembari menatap jejeran warung sederhana yang meyajikan masakan khas tepi pantai yang menggugah selera. Ikan yang dididapatkan nelayan dari hasil menjaring ikan di laut menjadikan cita rasa masakan yang dihidangkan di pantai ini khas. Ikan segar yang langsung di olah menjadi masakan rasanya jauh lebih enak karena dagingnya terasa lebih manis dari pada ikan yang telah didiamkan di lemari pendingin. Nasi putih yang disajikan dengan berbagai jenis hidangan sungguh menambah selera makan.


Sementara Reyhan, ia hanya mengikuti langkah kaki Kiana dari belakang.


"Sayang, sini Nak! Yuk makan!"


Bi Iyem memanggil Kiana dari kejauhan karena ia sangat tahu kalau saat ini putri kesayangannya itu pasti lapar.


Kiana tersenyum kepada ibunya dan ia merasa sangat senang melihat kedekatan Rendi dengan ibunya.


Rendi memang telah banyak berubah, ia menjadi lebih peduli kepada Kiana dan keluarganya, terlebih lagi saat ini. Kiana memang sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orang-orang terdekat setelah kepargian mama yang sangat dicintai dan disayanginya.


"Nak, sini!" teriak bi Iyem lagi.


Kiana sadar Reyhan mengikuti langkah kakinya, hingga ia balikkan badannya untuk mengajak Reyhan karena bagaimanapun juga Reyhan pasti akan berhenti jika ia tidak mengizinkan lelaki tampan itu makan bersamanya.


"Yuk makan!"


Kiana menarik tangan Reyhan yang saat ini sedang kikuk dan cemburu melihat bi Iyem dan Rendi tengah akrab layaknya seorang ibu dan anak.


"Ibu lagi makan apa?" tanya Kiana yang melihat Ibu tengah asik menikmati makanan pembuka sembari memandang bahagia ke arah lautan lepas.


"Kiana mau apa, Nak?" tanya bi Iyem kepada Kiana dengan sangat lembut.


"Rendi mau semua makanan yang Ibu makan," sela Rendi.


Ya, lelaki itu kini memanggil bi Iyem dengan panggilan ibu juga, hingga membuat mereka terlihat semakin akrab.


Rendi terlihat seperti tipe menantu idaman, ia adalah pria yang baik, wajahnya tampa dan meneduhkan.

__ADS_1


"Nak, Ibu ingin anak-anak Ibu kuliah, dapat pekerjaan kemudian melihat anak-anak Ibu segera memiliki pendamping hidup, biar ada yang jagain, Nak." Ibu menatap Kiana sembari menyampaikan harapan yang tersimpan di lubuk hati terdalam.


"Iya, Bu, Rendi juga memikirkan hal yang sama. Tapi sepertinya Allah belum mempertemukan Rendi dengan belahan jiwa Rendi," sela Rendi, dengan nada berbicara sopan agar tidak menyakiti perasaan bi Iyem.


Sementara itu, Kiana dan Reyhan hanya diam tertunduk.


"Kamu nggak punya teman di sekolah yang cocok untuk pasanganmu, Nak? Mungkin kamu juga bisa membantu Kiana untuk menemukan tambatan hatinya!" usul bi Iyem yang disambut baik oleh Rendi


"Atau Mungkin nanti Tuan Reyhan bisa minta bantuan siapa gitu untuk mencarikan pasangan untuk Kiana."


Bi Iyem menatap ke arah Rendra yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan bi Iyem dan Rendi


"Bagaimana Tuan?" tanya bi Iyem dengan mata kecewa ketika memandang Reyhan.


"Bagaimana kalau saya saja yang mencarikannya, Bu?" sela Rendi lagi yang sepertinya tidak memberikan kesempatan kepada Reyhan untuk berbicara.


Namun bi Iyem sepertinya tidak mengacuhkan Rendi karena mulai fokus pada Reyhan.


"Ibu, makan ini," ucap Kiana sembari menyuapi ibunya.


"Sama-sama ibu, ibu jangan sungkan begitu. Kan ibu adalah orang tuanya Kiana sekarang. Kiana sudah lama sekali tidak merasakan kasih sayang seorang ibu, tapi Kiana sangat bahagia memiliki ibu seperti ibu yang menganggap dan memperlakukan Kiana seperti anak sendiri."


Kiana memeluk bi Iyem dengan cinta dan kasih sayang.


"Sayang, terima kasih banyak ya, kamu sudah menyayangi ibu seperti ibumu sendiri." Bi Iyem juga tidak mau kalah memuji Kiana.


"Tapi sayangnya kebahagian kita kurang lengkap karena kamu belum menikah ya, Nak," ucap bi Iyem yang sepertinya membayangkan sebuah keluarga kecil untuk Kiana.


"Iih, Ibu, kan Kiana masih SMA," celoteh Kiana protes.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke rumah Kak Widia, Bu?" usul Kiana.


Ya, Widia adalah anak kandung bi Iyem yang telah menikah dan memiliki keluarga sendiri.


"Nanti kita ajak Widia, Herman dan Sindi jalan-jalan lagi ya, Bu. Kalau Sindi udah agak besar sedikit lagi," ucap Kiana yang sangat mengerti perasaan ibunya saat ini.

__ADS_1


"Bagaimana kalau setelah pulang dari sini kita ke rumah Widia aja, Bu!" usul Rendi.


"Benar juga Nak. Ibu kangen sama cucu Ibu." Raut wajah bi Iyem terlihat merona.


"Iya, Nak, apa benar? Rasanya Ibu sudah sangat rindu sama anak dan cucu Ibu," ucap bi Iyem dengan bersemanga.


"Baiklah kalau begitu nanti kita kesana."


Rendi berusaha mewujudkan keinginan ibu dari wanita yang sangat dicintainya itu.


"Permisi Bu,  kapan makanannya dihidangkan?" ucap salah seorang pelayan.


"Sekarang aja," ucap Rendi bersemangat dan sudah tidak sabar lagi untuk menyantap hidangan makan malam.


"Cocok sekali, semua makanannya baru saja masak," balas pelayan sembari mempromosikan hidangan andalannya.


"Nasinya panaskan?" tanya Rendi yang tidak kalah bersemangat.


"Pasti, Mas," jelas pelayan sembari berlalu pergi untuk menyipkan hidangan terbaiknya yang akan disajikan kepada Tania dan keluarga.


"Rasanya sudah lama sekali Ibu tidak makan di pinggir pantai seperti ini," ungkap bi Iyem.


"Alhamdulillah, Kiana senang melihat ibu tersenyum lepas seperti itu." Kiana menatap wajah malaikat tanpa sayapnya itu dengan seksama. Kiana sangat tahu Ibu sangat kesepian karena selama ini sering sendirian


"Makasih ya, Nak. Udah ajak ibu piknik menikmati surga dunia yang tersembunyi di ujung kota kita ini." Senyum Ibu merekah .


"Kebahagian ibu adalah kebahagiaan Kiana juga, karena surga Kiana kini ada di bawah telapak kaki Ibu. Rida Allah ada pada rida kedua orang tua dan murka Allah ada pada murka kedua orang tua. Selama Kiana hidup dan masih bernafas Tania akan selalu membahagiakan Ibu sebagai bentuk bakti Kiana kepada Ibu." Mata Kiana mulai berkaca-kaca.


"Terima kasih, Nak." Peluk Ibu, sembari mencium kening Kiana, putri kesayangannya.


Ya, Kiana berhasil menjadi anak yang baik dan berbakti kepada orang tuanya meskipun bi Iyem bukanlah ibu kandungnya tapi ia menghormatinya layaknya ibu kandungnya sendiri. Bi Iyem bukan menggantikan mamanya yang telah tiada tetapi sebagai pelita dan pelindungnya, saat hatinya tengah gundah gulana, seorang yang dikirimkan Tuhan untuk menjadi malaikatnya.


"Ibu, makan yang banyak ya!"


Kiana mengambilkan makanan dan menghidangkannya untuk ibunya.

__ADS_1


"Aku tidak diambilkan?" celoteh Reyhan protes dan merasa tidak diperhatikan oleh Kiana.


__ADS_2