
Ucapan dan kata-kata serentak yang keluar dari lisan Reyhan dan Rendi benar-benar membuat Kiana merasa muak dengan keduaya. Mereka terlihat bersaing berlebihan dan persaingan itu jelas-jelas bukan sebahai bahan leluconan lagi bagi Kiana tapi lebih kepada ketidaknyamanan sekarang.
"Rendi, kamu akan kuliah diluar negeri, bukan saatnya bagi kamu untuk liburan dan mengikuti kami seperti ini karena kamu harus bersiap dan belajar lebih keras untuk tes!"
Kiana kini bersikap tegas, karena waktunya sebagai seorang Cinderella telah berakhir sehingga ia kembali ke dirinya yang sebelumnya.
"Kiana, kenapa si brengsek Reyhan boleh ikut sedangkan aku tidak?" protes Reyhan.
Rendi benar-benar lelaki yang senang sekali membuat Reyhan cemburu. Reyhan bahkan ingin berkelahi dan melayangkan tinjunya di tubuh dokter Rendi. Namun, sebagai seorang perempuan yang tengah diperebutkan Kiana merasa harus bisa mengambil jalan tengah dari apa yang sedang terjadi saat ini.
"Ren, bukankah sudah aku katakan kepadamu kalau kamu adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki walaupun nanti kita berdua jarang bertemu karena kamu memutuskan untuk belajar diluar negeri setelah tamat SMA. Berbeda dengan Reyhan, dia adalah sahabatku sejak SMA dan kami adalah kekasih sekarang. Ya, awalnya aku membencinya karena ia selalu menggangguku, tapi ia banyak membantuku saat aku sakit dan hampir menyerah, bahkan sampai saat ini ia juga menjadi malaikat terbaik bagiku, hanya saja aku memiliki rasa sayang dan rasa cinta sebagai pasangan kepadanya, setelah tamat SMA kami berdua juga akan menikah, jadi aku meminta tolong kepadamu untuk tidak lagi berdebat dengan Reyhan, karena cintaku hanya untuk Rendra."
Setelah panjang lebar menjelaskan hubungannya dengan Reyhan kepada Rendi sang mantan kekasih yang telah menjadi sahabat, lelaki itu akhirnya menjadi mengerti dan bisa menerima apa yang dijelaskan oleh Kiana dengan lapang dada.
Kini Rendi adalah lelaki yang mencintai dengan tulus dan ikhlas, cintanya tanpa paksaan dimana ia akan bahagia melihat wanita yang sangat ia sayangi dan cintai juga bahagia bersama orang lain. Walaupun hati kecilnya masih sangat menginginkan Kiana.
"Kia, kalau lelaki itu menyakitimu katakan kepadaku karena aku tidak akan segan-segan untuk memukulnya."
Dengan suara lantang dan tegas, Rendi melayangkan sebuah tinju di depan wajah Reyhan. Bukan karena ia ingin mencari gara-gara dengan Reyhan, bukan juga memberikan ancaman untuk Reyhan, tetapi ia memberikan sebuah peringatan agar lelaki tampan itu tidak menyakiti dan melukai hati Kiana kelak.
"Aku tidak mengenal kamu Ren, walaupun kita saudara tapi kamu tidak paham dengan isi hati saya, tapi satu hal yang harus anda ketahui, kalau saya tidak akan pernah menyakiti Kiana."
__ADS_1
Dengan penuh keyakinan juga, Reyhan menjelaskan kepada Rendi kalau ia tidak akan pernah menyakiti Kiana sedikitpun dan janjinya adalah janji seorang lelaki yang sangat mencintai dan menyayangi kekasihnya.
"Reyhan, bagaimana jika kamu menyakiti Kiana suatu hari nanti?" timpal papa Haris.
Papa menatap Reyhan , beliau seolah khawatir jika Reyhan menyakiti anak kesayangannya. Dirinya pernah menyakiti sang istri yang tidak lain adalah mama Kiana hanya karena tergoda dengan wanita yang sama sekali tidak baik, padahal ia sangat mencintai dan menyayangi mama Kiana sebelumnya. Namun, cobaan dalam pernikahan memang tidak mudah dijalani jika seseorang memiliki iman yang lemah, bahkan rumah tangga yang dibentuk selama bertahun-tahun pun akan rusak dan hancur dalam seketika hanya perkara penghianatan. Jadi, sang papa merasa sangat takut jika karma untuk dirinya harus menimpa anaknya kelak.
"Pa," ucap Reyhan sembari menatap ke arah sang papa dengan tatapan yang penuh dengan sejuta keseriusan yang ia bawa bersamanya.
"Pa, Reyhan berjanji akan menjaga dan melindungi Kiana. Reyhan juga berjanji tidak akan membuat Kiana menangis dan terluka. Reyhan akan menjadikan Kiana satu-satunya ratu di hati Reyhan yang akan Reyhan perlakukan layaknya seorang ratu yang sesungguhnya," jelas Reyhan dengan tatapan serius dan janji seorang lelaki.
"Rey, tolong jangan pernah menyakiti dan melukai Kiana, Papa mohon kepadamu, Nak!"
"Pa, bangun! Apa yang Papa lakukan?"
Kiana dan Reyhan berbicara serentak dan membantu sang papa berdiri, karena tidak pantas seorang ayah bersujud kepada anaknya, karena seharusnya seorang anaklah yang harus bersujud kepada ayahnya.
"Nak, Papa menitipkan Kiana kepadamu, Nak!"
Dengan tetesan air mata kesedihan, papa Haris menggenggam tangan Reyhan, menatap Reyhan dengan rasa harap yang teramat sangat kepadanya.
"Pa, Rendi menjadi saksi kalau Reyhan tidak akan pernah menyakiti dan melukai Kiana. Andai Reyhan melakukan hal itu maka Rendi adalah orang pertama yang membunuh Reyhan, Pa."
__ADS_1
Reyhan memeluk sang papa dengan segenap cinta dan perasaan yang ia miliki, ia berjanji akan membahagiakan Kiana sehingga sang papa tidak perlu khawatir lagi.
"Pa, Kiana tidak akan membiarkan Reyhan menyakiti Kiana. Bahkan jika Reyhan berniat menyakiti Kiana maka Kiana yang lebih dahulu akan membunuhnya," ujar Kiana menenangkan sang papa.
Kiana sangat sadar sekali kalau sang papa sangat mengkhawatirkannya, karena sebagai seorang ayah anak perempuan adalah harta berharga yang akan dijaga dengan segenap hati dan raganya.
"Om, jangan khaawatir ya, Rendi pasti akan menjaga Kiana!" ujar Rendi penuh keyakinan.
"Terima kasih banyak, Nak Reyhan, Nak Rendi. Papa merasa sangat beruntung bisa mengenal dua lelaki yang sangat baik seperti kalian berdua."
"Pa, sudah ya, jangan menangis lagi, sekarang kita berangkat yuk ke kampung Ibu karena Kiana sudah rindu sama Ibu," jelas Kiana.
Kiana menggandeng tangan sang papa menuju parkiran, bahkan Kiana meminta sang papa untuk duduk di belakang bersama dirinya karena ia ingin bermanja-manja dengan sang papa. Sementara Reyhan, lelaki tampan itu saat ini menjadi seorang supir dan membiarkan dua orang yang sangat dicintainya itu bisa saling melepaskan kerinduan karena keduanya baru berbaikan.
"Sayang, apa tidak apa-apa jika aku dan Papa duduk di belakang?"
"Tidak apa-apa, Sayang," ungkap Reyhan dengan senyum menawan.
Reyhan kemudian melajukan mobilnya menuju Kabupaten Bandung untuk menemui bi Iyem yang sudah seminggu lebih pulang kampung karena ada keluarganya yang sedang sakit.
Kalaulah ada jaringan internet dan ponsel, mungkin saja Kiana bisa menghubungi dan berkomunikasi dengan sang ibu lewat panggilan video call dan telepon, tapi daerah sang ibu sangat jauh sekali dari kota karena dekat dengan pegunungan, jadi untuk mendapatkan jaringan beliau harus mencari jaringan ke tempat tertentu dulu.
__ADS_1