
Kiana penasaran dengan orang yang memberikan berbagai macam bunga yang sangat indah ini untuknya, namun ada rasa khawatir yang bercampur di hatinya, ia sangat takut jika ada orang lain selain Reyhan yang menyukainya.
'Ah, pasti orang yang aku temui sekarang adalah orang yang sangat menyukai keindahan,' batin Kiana.
Kiana memang sering sekali menemui berbagai macam orang dengan tingkah yang berbeda-beda, bahkan Kiana harus terbiasa menyesuaikan dirinya dengan apa yang klien minta agar perusahaan Reyhan bisa berkembang pesat dan bisa lebih maju lagi sehingga bisa disejajarkan dengan perusahaan besar lainnya suatu hari nanti.
'Tapi, kenapa ada klien yang meminta bertemu sepagi ini denganku di kafe kosong ini? Kenapa Reyhan uga mengizinkanku untuk bertemu dengan klien itu, apakah ia tidak cemburu? Atau apakah memang ia sengaja mempermainkan aku?'
Sejuta pertanyaan muncul dibenak Kiana, ia benar-benar berpikir panjang untuk menyelesaikan teka-teki yang terjadi.
"Nona, silahkan masuk!"
Sang pelayan menyadarkan Kiana dari lamunannya, ia kaget hingga jantungnya serasa akan copot.
"Eh, iya, ada apa, Mbak?" ungkap Kiana sembari meletakkan tangannya diatas dada.
"Maaf, Nona, maaf telah membuat Nona kaget," ungkap sang pelayan.
"Tidak apa-apa, memang saya yang melamun," ungkap Kiana.
"Kalau begitu silahkan masuk Nona karean tugas saya telah selesai dan saya hanya akan mengantarkan Nona sampai disini saja."
Heran yang teramat sangat menghantui Kiana kerena memang sedari tadi beberapa orang yang ia temui seperti mengerjakan sebuah perintah dari seseorang.
"Masuklah, Nona," ungkap sang pelayan sembari membungkukkan badannya untuk mempersilahkan Kiana masuk.
"Terima kasih, Mbak."
Dengan heran dan rasa penasaran di hati, Kiana melangkahkan kakinya memaski ruangan yang kali ini membuat Kiana takjub dan terharu hingga kristal-kristal bening mengalir membasahi pipinya.
Tertulis di dinding sebuah ungkapan perasaan dari Reyhan, "Sayang, maukah kamu menikah denganku?"
Reyhan berjalan menghampiri Kiana dengan penampilan yang sangat gagah. Jas hitam yang ia kenakan dengan senyum menawan dari wajahnya, membawa karangan bunga untuk diberikan kepada Kiana.
__ADS_1
Reyhan bersujud tepat di depan Kiana dan menengadahkan tangannya sembari menggenggam tangan Kiana, "Sayang, aku mencintaimu, teramat sangat mencintaimu, maukah kamu menjadi istriku, ibu dari anak-anakku?"
Reyhan menatap Kiana dengan keseriusannya, wajahnya memperlihatkan betapa saat ini ia gugup ketika melamar Kiana secara resmi sebagai calon istrinya.
"Sayang, bukankah aku sudah mengatakan kalau aku mencintaimu juga dan aku ingin menjadi istri serta ibu dari anak-anak kita, tapi kita belum lulus SMA, apakah orang tuamu mengizinkan kita menikah muda?" ungkap Kiana dengan air mata yang tidak henti-hentinya.
Kiana benar-benar berkaca-kaca, ia merasa teramat sangat senang dan terharu sekali karena kekasih yang sangat ia cintai dan sayangi dengan segenap hatinya tengah mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayangnya dengan cara melamarnya dengan cara yang teramat sangat romantis dan manis sekali.
"Sayang, aku sudah bicara sama Mama dan Papa, besok kita berdua akan menemui Mama dan Papa," jelas Reyhan kepada Kiana.
Air mata Kiana mengalir membasahi pipinya, ia benar-benar tidak menyangka akhirnya calon mertuanya itu mau bertemu dengannya, setidaknya ia mendapatkan lampu hijau dari hubungannya dengan Reyhan.
"Beneran Mama dan Papa kamu ingin bertemu denganku?"
"Iya, Sayang," ungkap Reyhan sembari mengacak-acak rambut kekasih yang sangai ia cintai dan sayangi itu.
"Tapi, apakah Mama dan Papa kamu mau menerimaku?"
Ada rasa khawatir juga di hati Kiana karena ia benar-benar takut jika hubungan mereka tidak direstui.
Reyhan memegang perutnya mengisyaratkan kalau ia sangat lapar sekarang dan itu membuat Kiana merasa tidak tega sama sekali kepadanya.
Tentu saja Kiana tidak akan tega melihat kekasih yang sangat dicintainya itu kelaparan, walaupun sebenarnya Kiana juga merasakan hal yang saa, tapi selama ini Kiana selalu lebih mendahulukan Reyhan dari pada dirinya sendiri.
Kiana menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya kemudia ia menarik tangan Reyhan menuju meja yang telah dihias dengan dipenuhi bunga-bunga yang harum semerbak.
"Duduklah, aku akan mengambilkan makanan untukmu."
Kiana bersikap sebagai seoang sekretaris yang memenuhi segala kebutuhan atasannya, padahal sebenarnya sebagai seorang kekasih ialah yang harus dimanjakan.
"Sayang, Sayang, kamu yang duduk! Hari ini aku yang mengajakmu kesini, jadi aku yang akan memanjakan dan melayani mu," ungkap Reyhan.
Reyhan bertukar balik melakukan hal yang biasanya dilakukan oleh Kiana kepadanya.
__ADS_1
Hari ini dan untuk seterusnya Reyhan akan memperlakukan Kiana sebagai seorang ratu yang ingin ia lindungi, ia manjakan dan ia cintai dengan segenap hati dan perasaan yang dimilikinya. Ia ingin membahagiakan Kiana dan ingin membuat Kiana menjadi wanita beruntung yang pantas untuk dibahagiakan.
"Sayang, sekarang kamu duduklah," ungkap Reyhan dengan senyum menawan yang tergambar jelas di wajah tampannya.
Kiana menengadahkan wajahnya menatap wajah tampan yang terlihat seperti seorang pangeran dari negeri dongeng yang selama ini hanya ia khayalkan.
"Sayang, ini beneran kamu?"
Kiana memegang pipi Reyhan dengan kedua tangannya secara lembut dengan mata yang masih terus menatap takjub seolah tidak percaya, seolah Kiana merasa kalau seseorang yang ada di depannya adalah ilusi yang diciptakan oleh pikirannya.
"Sayang, ini aku, aku adalah Reyhan dan aku adalah lelaki yang teramat sangat mencintai dan menyayangimu dengan segenap hati dan perasaanku."
Reyhan mencium kening Kiana, sebagai bentuk pembuktian kalau saat ini Kiana tidak sedang bermimpi karena lelaki yang ada di depannya benar-benar adalah dirinya yang sesungguhnya.
"Terima kasih, Sayang," ungkapan Kiana dengan mata berkaca-kaca.
Kiana benar-benar merasa sangat bahagia dan bersyukur sekali karena sedikit demi sedikit Allah mengganti duka dan kesedihannya menjadi sebuah kebahagiaan yang membuat ia lupa kalau selama ini ia pernah bersedih dan menangis karena rasa sakit dan penderitaan yang dialaminya.
"Sayang, jangan menangis seperti itu, aku menyiapkan semua kejutan dan lamaran rahasia iini bukan untuk membuatmu menangis tapi untuk membuatmu tersenyum dan berbahagia," ungkap Reyhan.
Reyhan mencubit pipi Kiana dengan lembut, hingga gadis cantik itu merasa kesakitan.
"Sakit!" rengek Kiana manja.
"Siapa suruh cantik dan bikin gemes," ujar Reyhan.
Reyhan tersenyum tipis kemudian berjalan ke kursinya, hingga 2 orang pelayan datang untuk melayani Kiana dan Reyhan.
Mereka berdua diperlakukan seperti raja dan ratu yang dilayani dengan memberikan segala kebutuhan apapun yang diinginkan.
"Sayang, katanya lapar, yuk makan!"
Kiana meminta Reyhan untuk mencicipi berbagai macam hidangan makanan yang tertata dan terhidang rapi di meja. Namun, tetap saja pilihan Reyhan yang pertama kali adalah susu putih yang memang menjadi kesukaannya, bahkan saking sukanya, Kiana selalu memberikan susu putih itu setiap pagi di kantor karena Reyhan hanya ingin sarapan jika Kiana yang menyiapkannya.
__ADS_1
"Sayang, apakah kamu mencintaiku?" tanya Reyhan.