
'Sakit!' Pekik Kiana di dalam hati ketika ia Wilona semakin kasar kepadanya.
"Lo bisa nggak sih pergi aja dari perusahaan ini? Gw udah mecat lo!"
Wilona menyeret Kiana untuk keluar dari perusahaan dengan kasarnya.
Semua mata memandang ke arah mereka, kata-kata yang dilontarkan oleh Wilona di sepanjang jalan juga membuat Kiana merasa direndahkan dan dihina.
"Tolong lepaskan aku!"
Kiana akhirnya angkat bicara, suaranya yang lembut dan bergetar membuat Wilona semakin ingin menyiksanya.
Wilona menghempaskan tubuh Kiana dengan sangat kasar ke depan pintu keluar perusahaan hingga gadis cantik itu tersungkur ke tanah.
'Aw ..., sakit!' Kiana hanya bisa mengaduh di dalam hati.
Rasanya Kiana sudah tidak kuat lagi menahan air matanya. Butiran kristal-kristal bening itu akhirnya tertumpahkan juga, deras mengalir di pipi.
'Tuhan, kapankah semua ini akan berakhir?' ucap Kiana di dalam hati.
"Scurity, jangan biarkan gadis ini memasuki wilayah kantor milik Reyhan!" ucap Wilona dengan sangat kejam, wajahnya memang sangat cantik namun terlihat sangar sekali, ia juga tidak punya sopan santun dan tata krama sebagai seorang wanita.
'Rey, bagaimana kamu bisa berpacaran dan ditunangankan dengan gadis kasar itu,' batin Kiana.
Kiana mencoba bangkit, namun rasanya kakinya terlalu sulit untuk diangkat. Namun, dengan sisa-sisa tenaganya ia masih berusaha untuk berdiri.
"Aww ...," Kiana terjatuh lagi.
Tiba-tiba tubuh mungilnya dipapah oleh Rendra yang berlumuran luka dan memar di wajahnya. Kiana pasrah, ia hanya melingkarkan kedua tangannya di leher Reyhan sembari menutup matanya. Saat ini ia hanya malu dan ingin segera melarikan diri dari tempat ini.
Reyhan langsung membawa Kiana kembali ke ruang kerjanya. Semua mata menatap ke pada mereka, ada yang menatap iri, ada yang menatap takjub ada juga yang memandang rendah Kiana dengan mengatakan kalau Kiana telah menggoda bosnya.
Sakit!
Tapi Kiana memilih untuk bodo amat.
Ya, satu hal yang pasti, orang yang paling sakit melihat pemandangan ini terjadi adalah Wilona, gadis manja yang merupakan kekasih Rethan. Wanita yang selalu saja mengganggu Kiana dan mengusik kehidupan Kiana hampir setiap saat.
"Sayang!" ucap Wilona yang tidak dihiraukan oleh Reyhan.
Wilona berjalan mendekati Reyhan yang saat ini menggendong Tania dengan wajah masam dan mata memerah.
Ya, semua wanita juga akan berlaku sama, jika tunangannya menggemdong wanita lain termasuk Wilona.
__ADS_1
"Sayang, kenapa sih kamu selalu saja perhatian sama Kiana? Kiana, Kiana dan selalu Kiana!" bentak Wilona dengan raut wajah penuh dengan emosi dan kebencian.
"Rey, tolong turunkan aku!" pinta Kiana lemah lembut namun Reyhan hanya diam, terus berjalan maju tanpa memperhatikan Wilona atau menuruti keinginan Kiana.
"Woi, cewek nggak tahu diri! Kenapa lo nggak pergi aja sih dari sini? Lo nggak lihat tulisan bahwa lo dipecat?" teriak Wilona sembari terus mengikuti langkah kaki Reyhan menuju ruang kerjanya.
SEDIH!
KESAL!
MARAH!
TERHINA!
Berbagai macam perasaan membaur menjadi satu di hati Kiana, namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain bersabar dengan semua hinaan yang ditujukan kepadanya.
Saat ini Kiana sudah tidak lagi mempedulikan hinaan dan ocehan orang lain, karena yang terpenting baginya adalah mencari uang untuk hidup.
Rasanya ingin sekali Kiana menangis dan berteriak sekeras-kerasnya kalau ia juga manusia biasa yang punya perasaan, rasa malu dan sakit hati, tapi ia memilih untuk diam dan menelan semuanya sendiri agar masalah tidak menjadi berbelit-belit.
"Rey, lo pilih gw apa Kiana?"
Pernyataan Wilona membuat Reyhan menghentikan langkah kakinya.
"Sayang, kamu tunggu aku di sini! Aku harus mengantarkan Kiana dulu kita perlu bicara!" ucap Reyhan kepada Wilona.
"Sayang? Huft ..., dasar lo buaya, Rey. Lo perhatian sama gw, memperlakukan gw layaknya seorang ratu, tapi lo manggil cewek lain dengan panggilan sayang di depan mata kepala gw sendiri!" batin Kiana.
T E R I R I S !
S A K I T !
Batin Kiana seperti di panah oleh anak panah yang sangat tajam, hingga membuatnya terluka parah dan hampir saja mati.
'Kia, apa yang loe pikirkan? Reyhan bukan siapa-siapa lo, kalian tidak punya hubungan apa-apa! Kenapa lo malah nyalahin Reyhan untuk semua yang terjadi?'
Pergolakan batin Kiana membuat ia marah dan muak kepada dirinya sendiri.
Rey, tolong turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri, kamu temuilah Wilona, ia sepertinya sangat marah sama kamu," ucap Kiana lembut.
"Kiana oh Kiana," balas Reyhan dengan senyum tipis yang tergambar di wajah tampannya.
Reyhan kemudian membaringkan Kiana di sofa yang ada di dalam ruang kerjanya.
__ADS_1
Lelaki tampan itu juga mengambil sebuah selimut dan bantan untuk Kiana.
"Kamu istirahatlah! Aku tahu kamu capek dan banyak pikiran. Aku pergi sebentar, jadi tolong tunggu aku!"
Reyhan menyelimuti Kiana dengan kelembutan, kemudian mengacak-acak poni gadis cantik itu.
"Rey," ucap Kiana sembari menatap tajam mata lelaki yang saat ini begitu perhatian kepadanya.
Separuh hati Kiana merasa sangat senang karena perhatian yang diberikan oleh Reyhan kepadanya, namun separuh hati Kiana ingin menonjok wajah lelaki tampan itu agar ia tidak menjadi buaya yang ramah dan perhatian kepada semua wanita.
"Iya, kenapa, Kia?" tanya Reyhan lembut sembari menatap wajah cantik Kiana yang terlihat sangat lelah itu.
"Tidak apa-apa, jangan lupa kunci pintunya!"
Kiana kemudian menutup matanya dan membalikkan tubuhnya dari Reyhan.
Ya, saat ini hati Kiana ingin mengatakan kalau Reyhan tidak boleh pergi, dan harus tetap berada di sini menemaninya. Namun, ia kembali disadarkan kalau ia tidak bisa melakukan apa-apa dan tidak bisa juga melarang apapun karena Reyhan bukanlah siapa-siapanya.
"Iya, Kia, kamu istirahatlah!"
Reyhan melangkahkan kakinya ke luar dari ruangan itu dan meninggalkan Kiana untuk beristirahat.
Sejujurnya ada perasaan yang aneh yang dirasakan oleh Reyhan, ia tidak tega meninggalkan Kiana seorang diri di ruangan itu, ia juga ingin menanyakan banyak hal kepada Kiana salah satunya tentang Rendi, mantan kekasih Kiana yang selalu saja muncul dimanapun Kiana sedang sendirian.
"Sayang ...!"
Wilona langsung menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Rendra hingga lamunan Rendra akan Tania langsung terbuyarkan.
"Sayang, aku sangat rindu kepadamu!"
Wilona menengadahkan wajahnya, kemudian membelai wajah Reyhan dengan jemarinya yang lembut.
Wanita cantik dan seksi itu menjinjit kakinya, seolah ingin melakukan serangan mendadak kepada Reyhan. Namun, Reyhan mengelak dengan memalingkan wajahnya.
"Sayang, kenapa?" tanya Wilona dengan sedikit rasa kecewa yang dirasakannya.
"Aku hanya lelah!" ucap Reyhan datar.
"Tapi, aku sangat merindukanmu!"
Wilona kali ini memaksakan dirinya untuk tetap melakukan serangan mendadak kepada Reyhan, namun pesawatnya tetap tidak berhasil mendarat di wajah Reyhan.
"Ini kantor di sekolah!" ucap Reyhan dengan singkat.
__ADS_1