
Cinta memang buta, bahkan sesalah apapun pasangan seseorang tetap saja ia akan membela pasangannya itu sebagai bukti cinta dan kasih sayang yang sangat tulus yang diberikannya, karena di dalam hatinya telah ada satu nama.
"Kia, kama malah membela Reyhan sih, padahal Papa udah belain kamu, Nak."
Kali ini papa Haris yang terlihat manyun dengan wajah masam karena anaknya malah membela sang kekasih. Ya, ini adalah salah satu resiko ketika seorang ayah harus merelakan anak gadis kesayangannya mulai mencintai lelaki lain selain dirinya dan kelak sang gadis kesayangan harus direlakan pergi bersama suaminya dan meninggalkan sang ayah untuk keluarga barunya.
"Papa, Reyhan minta maaf karena meperlakukan Kiana dengan buruk selama ini. Reyhan mengaku salah dan sekarang Reyhan janji akan meperlakukan Kiana seperti seorang ratu dan satu-satunya ratu di hati Reyhan, jadi Papa percayakan semuanya pada Reyhan, Pa."
Reyhan memang lelaki yang sangat luar biasa sekali ia sangat pandai dan sangat ahli sekali mengambil hati calon mertua.
"Nak Reyhan, Papa ingin kalian berdua segera menikah tapi kalian harus kuliah dulu, namun jika kamu serius ingin menjadikan Kiana sebagai istrimu maka Papa menunggu pertemuan dengan kedua orang tuamu."
Tiba-tiba saja papa Haris meminta Reyhan membuktikan cintanya kepada sang anak, karena bukti keseriusan seorang lelaki mencintai sang wanita adalah dengan menikahinya. Namun, pernikahan mereka mungkin tertunda sampai keduanya dinyatakan lulus SMA dan keluarga dari pihak Reyhan juga telah menyetujui pernikahan mereka.
"Pa, Kiana dan Reyhan baru saja jadian, jadi jangan memaksa Reyhan seperti itu, Pa, beri Reyhan waktu," ucap Kians lagi membela sang kekasih yang sangat dicintai dan disayangi dengan segenap hati dan perasaan itu.
Kiana sangat tahu kaau butuh waktu bagi Reyhan untuk meyakinkan orang tuanya untuk menjadikan Kiana sebagai menantu, karena Reyhan juga harus berhadapan dengan Wilona dan juga keluarganya yang sampai hari ini seolah masih belum bisa menerima apa yang telah terjadi, yaitu batalnya pertunangan sedari kecil dan perjodohan bisnis antara Reyhan dan Wilona.
"Sayang, kalian berdua sudah dewasa, kalian sudah 18 tahun, kalian bukan anak-anak lagi, kalian telah remaja, jadi bepikirlah dengan matang dan putuskan segera namun jangan tergesa-gesa. Jika Reyhan tidak melamar Kiana juga dalam waktu dekat maka kalian berdua harus fokus kuliah dan menikahlah saat kalian berdua sudah benar-benar sudah dewasa. Jika dalam waktu itu Reyhan juga belum bisa memberikan kepastian pada Kiana maka Papa akan menerima lamaran Dokter Rasya karena lelaki sejati adalah ia yang berani melamar dan menikahi seorang gadis yang ia sukai dengan memintanya kepada orang tuanya."
Papa Haris benar-benar bersikap tegas, karena sebagai seorang ayah tentu saja beliau memiliki hak untuk melakukan hal seperti itu kepada Reyhan karena sebelum seorang anak perempuan menikah maka ia masih tanggung jawab ayahnya dan ayahnya juga berhak memilih pasangan yang ia rasa cocok untuk putrinya.
"Papa, Reyhan janji akan segera mengatur pertemuan keuarga kita," ucap Reyhan dengan sangat yakin dan bersemangat sekali.
__ADS_1
Bagi seorang lelaki, apapun kata-kata yang keluar dari lisannya adalah janji yang harus ia tepati, karena seorang lelaki yang bertanggung jawab adalah ia yang bisa dipercaya ucapan dan perkataannya yang nantinya dibuktikan lewat tindakannya.
"Baiklah, Papa tunggu janji kamu. Sekarang kamu pulanglah, sudah malam."
Papa Haris tidak bermaksud mengusir Reyhan bahkan ia sangat berterima kasih karena Reyhan telah melakukan banyak hal hari ini untuk Kiana dan keluarganya, namun tidak baik dua orang yang belum menikah sering-sering bertemu apalagi sampai malam hari karena takut terjadi fitnah nantinya.
"Papa, kok Reyhan diusir."
Kiana manyun dengan wajah manjanya ia merengek kepada sang papa. Ia merasa pertemuannya dengan Reyhan terlalu singkat, ia juga masih ingin malam ini Reyhan berada di rumah ini untuk menemaninya, walaupun ia tahu kalau apa yang disampaikan oleh papanya memang benar adanya. Tapi, rasa rindu di hati keduanya tetap menggebu dan menggelora apalagi keduanya baru saja jadian sebagai sepasang kekasih.
"Sayang, jangan manja! Sebentar lagi kalian berdua juga akan menikah, jadi nanti kalian akan punya banyak waktu untuk bersama setelah ini," jelas sang papa.
"Iya, Pa, tapi Kiana masih ingin Reyhan disini, Pa," rengek Kiana dengan manjanya. Ya, suatu senjata yang membuat sang papa biasanya luluh.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya Kiana mengizinkan Reyhan untuk pulang. Ya, bukan hanya Reyhan yang BUCIN (Budak Cinta) kepada Kiana, tapi Kiana juga sangat BUCIN sekali kepada Reyhan sang kekasih hati.
"Sayang, besok 'kan kita ketemu lagi di kantor, jadi jangan nagis ya!" ujar Reyhan dengan senyuman.
Reyhan merasa sangat senang sekali karena Kiana bersikap manja kepadanya, karena ia merasa kalua ia akan melindungi Kiana.
"Sayang, nanti sampai rumah video call," rengek Kiana lagi.
"Iya, Sayang, nanti aku kabari."
__ADS_1
Reyhan mengacak-acak rambut kekasihnya itu sementara sang kekasih masih terlihat tidak ingin ditinggalkan sama sekali.
Reyhan berpamitan dengan sang papa, sementara Kiana mengikuti sang kekasih sampai ke parkiran. Ia ingin melepaskan sang kekasih pergi dari rumahnya.
"Sayang, besok aku jemput, jadi jangan khawatir dan tidurlah dengan nyenyak malam ini," ucap Reyhan di sela-sela perjalanan mereka menuju parkiran.
Di bawah sinar rembulan, Kiana dan Reyhan saling berpegangan tangan, mengungkapkan cinta dan kasih sayang mereka, persis seperti remaja SMA seusianya yang baru saja jadian.
"Janji akan menjemput ku besok?"
Kiana mengulurkan jari kelingkingnya untuk dikaitkan dengan jari kelingking Reyhan.
"Janji, Sayang, tapi dengan satu syarat," ujar Reyhan.
Reyhan membawa pinggang langsing Kiana ke dalam pelukannya, hingga Kiana merasakan debaran jantung yang tidak biasa menjadi satu.
"A-apa, sya-ratnya, Sayang?" ucap Kiana dengan nada suara lembut dan malu.
Wajah Kiana memerah, namun tertutupi oleh gelapnya malam, tapi debaran jantungnya benar-benar sangat kencang sekali.
Reyhan mendekatkan wajahnya kepada Kiana seolah ingin mendaratkan pesawatnya di bandara sang gadis cantik. Kiana juga terlihat tidak mengelak, seolah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Reyhan kepadanya.
Wajah itu dekat dan semakin dekat, hingga mata Kiana mulai ia pejamkan. Kini dua nafas itu menyatu dan pelukan semakin erat. Di bawah rembulan malam, dunia serasa seperti milik berdua. Kiana dan Reyhan terhanyut dalam lautan cinta yang menggelora yang membuat keduanya lupa kalau mereka sedang berada di halaman rumah papa Haris. Ya, itulah ciuman pertama mereka.
__ADS_1