
Ujian selesai, Reyhan dan Kiana berlari menuju parkiran dimana papa Haris dengan setia menunggunya. Ya, dua insan itu saling berpegangan tangan dengan hati dan perasaan berbunga-bunga.
"Yuk berangkat!"
Reyhan kemudian memutar arah mobilnya menuju makam mama Kiana yang berjarak sekitar 30 menit dari rumah yang Kiana tempati saat ini.
Selang beberapa saat setelah mereka sampai disana, semuanya terbawa suasana hening dan diam, suasana syahdu penuh dengan kerinduan terhadap seseorang yang telah tiada.
"Assalamualikum, Mama, Kia datang!" sapa Kiana dengan lembut serta mata berkaca-kaca.
"Mama, kali ini Kiana tidak sendirian, Kiana datang bersama Papa dan Reyhan, dua orang lelaki yang sangat Kiana dan Mama cintai."
Kiana menatap ke arah papanya dan juga Reyhan secara bergantian. Terlihat sekali dua orang lelaki yang ada di samping kiri kananya itu juga ikut terbawa suasana sedih dalam kerinduan yang tidak bisa dilepaskan.
"Assalamualaikum, Sayang, Papa datang. Maaf karena datang terlambat dan maaf sekali untuk semua hal yang telah terjadi."
Papa Kiana memegang batu nisan mama Kiana dengan deraian air mata kesedihan dan penyesalan. Ia meluapkan semua yang ia rasakan dalam tangisan air mata itu.
Kiana dan Reyhan membiarkan saja karena mereka ingin memberikan ruang dan jeda kepada papanya untuk bisa melepaskan sesak yang dirasakan di dada serta kerinduan yang memuncak.
'Mama, lihatlah! Lelaki yang sangat Mama cintai dan rindukan akhirnya datang mengunjungi Mama. Cinta suci Mama memang tidak pernah bertepuk sebelah tangan, Ma.'
Kiana membatin karena ia menjadi bukti nyata kalau ketulusan hati dan cinta mamanya memang membuat papanya menyesal.
"Sayang, apakah kamu mau memaafkan kesalahan Papa? Atau haruskah Papa menyusulmu kesana biar mendapatkan maaf dari mu?" ucap papa KianKiana dalam isak tangisannya.
Air mata tidak henti-hentinya bercucuran membasahi pipi papa Kiana, rasa bersalah yang berlebihan membuat sang papa ingin mendengarkan kata maaf dari sang putri kesayangan.
"Papa, sudahlah, jangan menangis! Lupakanlah segala yang terjadi di masa lalu dan kita mulai lagi hari baru yang lebih baik ya, Pa," ungkap Kiana sembari memeluk sang papa.
__ADS_1
Kiana merasakan kembali pelukan hangat sang papa yang sudah bertahun-tahun tidak dirasakannya, ada kerinduan dan cinta mendalam yang ia rasakan di hatinya yang membuat air mata terus mengalir membasahi pipi Kiana. Sama halnya dengan sang papa, beliau juga menumpahkan kerinduan yang sama terhadap sang putri sehingga hari ini penuh dengan lautan air mata.
"Kia, Papa senang sekali bisa bertemu dengan Mama disini," ungkap sang papa dengan isak tangisan.
Papa mengungkapkan betapa ia sangat merindukan istri yang sangat ia cintai, walaupun sang istri telah tiada namun nama beliau tetap ada di dalam hati papa dan tidak akan pernah tergantikan sama sekali oleh siapa pun. Ya, walaupun sang papa dulu pernah melakukan kesalahan tapi itu tidak akan membuat cinta sang papa kepada sang mama berubah.
"Pa, Mama pasti sangat senang Papa ada disini, bagaima kalau sekarang kita berdoa untuk Mama, Pa?"
"Iya, Nak, yuk kita berdoa untuk Mama."
"Ya Allah, ampunilah, rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta suami yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnahnya dan dari siksa api neraka, Aamiin."
Kiana benar-benar sangat rindu sekali kepada sang mama, ia juga ingin mengajak sang papa untuk mengunjungi makam mama karena ia sangat yakin kalau papanya sangat merindukan mama dan begitu sebaliknya. Ya, cinta papa dan mamanya memang abadi walaupun pernah ada luka dan batu sandungan dalam pernikahan itu, tapi kini papanya telah membuktikan kalau hanya mama Kiana yang ia cintai.
Setelah selesai mendoakan mama, hati Kiana dan Papanya menjadi lebih tenang dan lebih damai.
Kiana dan keluarganya sering sekali singgah di restoran Jepang untuk menikmati momen kebersamaan dan kedekatan keluarga mereka, bahkan hanya untuk melepaskan penat dari kesibukan di kantor dan restoran yang disukai oleh mama Kiana karena beliau sangat suka sekali dengan ramen orang Jepang.
"Papa juga setuju, Nak, tapi apakah Nak Reyhan mau mengantarkan kita?"
Papa menatap ke arah Reyhan yang sedari tadi hanya diam dan membiarkan saja Kiana menghabiskan waktu bersama dengan papanya dan mamanya yang kini tengah berada di surga.
"Papa, tentu saja Reyhan mau."
Reyhan tersenyum sebagai tanda kesedian hatinya untuk mewujudkan apapun yang diinginkan oleh orang-orang yang ia sayangi.
"Terima kasih, Sayang, kamu memang kekasih yang teramat sangat baik yang kumiliki di dunia ini, tidak ada seorang pun yang baik kepadaku selain kamu," ungkap Kiana.
Kiana kemudian menggandeng tangan Reyhan dan papanya dengan tangan kiri dan kanannya, ia tersenyum dan merasa paling cantik diantara dua lelaki tampan yang sangat menyayangi dan mencintainya dengan segenap hati.
__ADS_1
"Kia, bolehkan Papa bertanya?"
"Tentu boleh, Papa, apa yang ingin Papa tanyakan?"
Kiana menoleh ke arah sang papa dengan wajah tersenyum dan mata yang terlihat sangat berbinar sekali.
"Kia, apakah kamu menyayangi Papa?"
Walaupun sang papa sangat tahu kalau putri kesayangannya itu sangat mencintai dan menyayanginya tetap saja sebuah pengakuan sangatlah penting bagi beliau.
"Pa, tanpa Kiana katakan Papa juga sudah tahu jawabannya, kalau Kia sangat mencintai dan menyayangi Papa dengan segenap hati dan perasaan Kiana. Kia mencintai Papa karena Allah."
Kiana mengentikan langkahnya, begitu juga dengan Reyhan dan sang Papa. Kiana melepaskan tangannya dari gandengan Reyhan ia menatap sang papa kemudian menggenggam kedua tangan papanya dengan lembut.
"Papa, coba tatap Kia, Pa!"
Sang Papa menatap wajah cantik sang putri, matanya yang besar itu terlihat berbinar, senyum mengembang terlihat indah di wajah cantik itu, kemudian Kiana mencium tangan kanan sang Papa.
"Pa, tidak ada lelaki lain yang Kiana cintai di dunia ini seperti Kiana mencintai Papa."
Jawaban yang keluar dari lisan Kiana membuat air mata jatuh membasahi pipi sang papa. Kristal-kristal bening itu tidak kuasa lagi untuk ditumpahkan. Sang papa merasa sangat beruntung dan bersyukur sekali memiliki anak seperti Kiana.
"Papa, jangan lagi menanyakan hal yang tidak-tidak ya!"
Kiana mengangkat tangannya, menghapus air mata sang papa dengan jari-jemari tangannya, kemudian Kiana memeluk sang papa dengan segenap cinta dan kasih sayang yang ia miliki.
"Terima kasih banyak, Sayang."
Papa kembali tersenyum dan hatinya merasa sangat lega sekali karena semua beban yang ada di hatinya selama ini tertumpahkan, hubungan ayah dan anak kembali membaik karena memang darah lebih kental dari pada air
__ADS_1