
Namun, ada sedikit kebahagiaan di dalam hati Kiana, karena dokter mengatakan kalau kondisi mamanya membaik. Kata Dokter setelah menjalani beberapa proses pemeriksaan, beliau mungkin akan diperbolehkan untuk pulang dan kembali berkumpul dengan Kiana, sang putri.
"Kia, kita mau kemana?"
Pertanyaan Reyhan membuyarkan lamunan Kiana. Ia lupa ternyata lelaki itu sedari tadi terus mendorong kursi roda Kiana saja tanpa berkata apa-apa.
"Rey, aku ingin salat, apakah kamu mau mengantarkan aku ke musala rumah sakit ini?"
Kiana tengadahkan wajahnya menatap Reyhan dan berharap lelaki itu mengabulkan keinginannya.
Reyhan tersenyum tipis, pertanda ia setuju. Ya, bagaimana mungkin Reyhan menolak keinginan Tania yang ingin beribadah dan menghadap sang pencipta.
Mereka berjalan menyusuri setiap sudut rumah sakit, hingga sampailah mereka di musala, rumah Allah yang kini menjadi tempat favorit untuk Kiana kunjungi
Ya, sekarang Kiana hanya berada di titik pasrah, pasrah dengan semua takdir dan ketetapan dari-Nya. Karena semakin ia memikirkan beban hidup dan masalahnya, maka semakin ia tidak menemukan solusi apa-apa untuk masalah itu. Dalam setiap sujud dalam salat, sampai sujud di sepertiga malam, selalu Kiana langitkan doa-doa untuk merayu Tuhan, agar Allah membantunya dan menyelesaikan semua persoalan hidup Kiana. Namun, ini diluar kendali Kiana, ia tidak bisa berbuat apa-apa dan ia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya pasrah dan ikhlas menjalani hidup sesuai dengan ketetapan-Nya, meskipun terkadang hati Kiaba pun bertanya kapan kebahagiaan itu kembali datang menghampirinya, atau setidaknya ia bisa membahagiakan mamanya.
Entah apa yang saat ini Kiana pikirkan, akan tetapi tiba-tiba saja memori dan kenangan masa kesil bersama mama Windari membuat air mata Kiana tak bisa lagi bisa di bendung, ia takut usia sang mama tidak lagi lama dan Kiana sampai saat ini masih belum bisa mewujudkan keinginan terakhir beliau.
Perlahan Kiana hapus air matanya, ia kenakan mukena dan ia menemui Sang Pencipta dan berdoa dengan penuh pengharapan hanya kepada-Nya.
“Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hamba tahu, hamba adalah hamba-Mu yang penuh dengan dosa, yang selalu lalai dengan perintah-Mu, jarang sekali datang bersimpuh kepada-Mu. Namun, kali ini hamba benar-benar tidak tahu lagi harus kepada siapa hamba akan mengadu dan meminta pertolongan kecuali hanya kepada-Mu. Ya Allah, hamba tidak tahu siapakah jodoh yang telah Engkau persiapkan untuk hamba dan hamba juga tidak tahu dimanakah belahan jiwa itu sekarang, hamba juga tidak tahu ke mana hamba akan mencarinya. Tapi hamba ingin sekali mewujudkan keinginan Mama hamba, walaupun hamba tidak tahu bagaimana caranya. Namun, hamba percaya Engkau sebaik-baiknya perencana. Ya Allah, berilah hamba petujuk dan tolonglah hamba.” Kali ini Kiana berdoa sangat khusuk dan kutumpahkan semua beban yang selama ini tertumpuk di kepalanya sembari menangis dengan penuh isak dan pengharapan. Ya, Kiana benar-benar berharap Allah mendengar dan mengabulkan keinginannya.
Setelah menumpahkan semua beban di dada, hati Kiana merasa lebih tenang dan damai. Namun, pikirannya kembali diganggu pada satu pertanyaan tentang Reyhan.
'Reyhan, apakah lelaki itu mau menjadi suamiku?'
Tiba-tiba pikiran seperti itu terbesit di benak Kiana.
Kiana kemudian meraih HP-nya dan berusaha untuk menghubungi Reyhan. Namun, nomornya tidak bisa dihubungi, mungkin saja karena ia masih salat.
Dengan menarik nafas panjang Kiana meletakkan kembali ponselnya, namun ponsel itu kembali berbunyi.
Kring ..., Kring ..., Kring ....
__ADS_1
“Halo, Rey,” sontak Kiana langsung mengangkat panggilan telepon yang bergetar.
“Assalamualaikum, Mba Kiana, maaf sebelumnya ini bukan Rey,” terdengar suara seorang wanita yang tidak familiar di telinga Kiana.
“Waalaikumsalam, siapa ya?” tanya Kiana penasaran.
“Maaf, Mba, saya Suster yang merawat Mamanya Mbak. Dokter meminta saya menghubungi Mba.”
“Iya ada apa, Suster? Apa terjadi sesuatu dengan Mama saya?" tanya Kiana dengan penuh rasa cemas.
“Dokter hanya meminta Mba untuk segera ke sini.”
“Baik, Suster."
Tanpa pikir panjang, Kiana langsung menutup panggilan telepon itu dan bergegas keluar dari musala.
Kiana berlari sekencang yang ia bisa, tidak peduli lagi kakinya yang terluka karena yang ada dalam otaknya hanya agar cepat sampai di ruang inap mama Windari.
Kiana berusaha berlari dengan stok tenaga yang ada, namun ia tersandung. Ia terjatuh dan lututnya terluka lagi, hingga membuat air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya bercucuran juga. Kiana berusaha kembali bangkit dan kembali berlari agar segera sampai di ruang rawat inap mamanya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
Kiana akhirnya sampai di depan kamar mama Windari dirawat. Ia buka pintu dan ia lihat dokter tengah berdiri di samping mamanya yang sedar terbaring tak berdaya.
“Mama ..., Mama!” isak tangis Kiana semakin pecah melihat separuh nafasnya terbujur tak bernyawa.
Kiana langsung berlari menghampiri mamanya.
“Mama ..., bangun, Ma! Ini Kiana, anak kesayangan Mama. Mama jangan pergi! Kia belum sempat membahagiakan Mama.” Kiana memeluk mama dengan isak tangis yang semakin memuncak.
Dada Kiana terasa sangat sesak dengan seluruh tubuh gemetaran, mata Kiana juga tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
“Kia, Kia apa yang terjadi?"
Reyhan yang baru saja memasuki kamar ini, melepaskan pelukan Kiana dari mama Windari.
__ADS_1
Reyhan menatap wajah mama Windari yang kini terlihat pucat hingga ia paham apa yang membuat Kiana menangis.
"Kia ..., sabar, jangan seperti ini!”
Lelaki itu langsung memelukku erat sembari mencium kepala Kiana.
Kiana merasakan pelukan Reyhan terasa menenangkan dan hangat.
“Aku belum sempat membuat Mama bahagia, aku hanya bisa merepotkan beliau selama ini.”
Dalam pelukan Rethan yang terasa hangat itu, Kiana tumpahkan semua yang ia rasakan dengan air mata yang semakin mengalir deras.
“Sabar, sabar, ikhlaskanlah! Mama sekarang telah bahagia dan nggak merasakan sakit lagi." Ucapan yang keluar dari lisan Reyhan sungguh membuat hati ini teriris.
“Innaillaihiwainnaillaihirojiun, semuanya milik Allah dan akan kembali kepada Allah,” suara Dokter akhirnya menyadarkan Kiana dari isakan tangisan itu.
“Dokter, maaf, Dokter, maksudnya apa membacakan hal seperti itu kepada Mama saya?"
Dengan mata berkaca-kaca, Kiana tantang mata dokter dengan suara lantangnya.
“Mba Kiana, ikhlaskanlah kepergian Mama anda. Mendoakan jauh lebih baik dari pada menangisi bukan?” Dokter terlihat berusaha menenangkan dan menghibur Kiana dengan kata-kata beliau yang tenang.
“Iya Dokter, terima kasih banyak, Dokter," jawab Reyhan mewakili Kiana yang saat ini tengah histeris.
"Kia, kita akan membawa Mama pulang, kita harus menyelesaikan administrasi terlebih dahulu," ujar Reyhan.
Kiana diam, tidak menjawab pertanyaan Reyhan, tangisnya tanpa suara dengan tetesan air mata dan sejuta gundah yang ia bawa.
'Apa gunanya aku hidup?' ucap Kiana di dalam hati ketika berjalan menuju meja administrasi.
Setelah menyelesaikan administrasi, jenazah mama Windari dibawa pulang ke rumah kontrakan.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' ujar Kiana sembari memukul-mukul dadanya.
__ADS_1