Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Akhirnya Kembali ke Rumah Masa Kecil


__ADS_3

Selangkah demi selangkah, Kiana memasuki rumahnya. Setiap detik juga terbayang kenangan bersama mamanya, kenangan yang membuat Kiana merindukan mamanya.


'Assalamualaiku, Mama, apa kabar? Mama, akhirnya kita bisa kembali ke rumah ini, rumah kenangan kita, rumah yang memang rumah milik kita bertiga. Apakah Mama senang?'


Keadaan rumah yang sama sekali tidak berubah, persis sama dengan saat mamanya masih tinggal di rumah ini. Papa Haris ternyata meminta asisten rumah tangganya untuk tetap mempertahankan dan merawat rumah seperti saat ada Kiana dan mamanya di rumah ini, agar ia mengenang kerinduan dan merasakan kalau masih ada Kiana dan mamanya di rumah ini.


"Pa, terima kasih banyak."


Kiana memeluk sang papa dan mengungkapkan betapa ia bersyukur kembali ke rumah masa kecilnya.


"Harusnya Papa yang berterima kasih karena kamu mau kembali ke rumah kita, Nak."


Papa haris membelai lembut rambut sang putri sembari mencium kening kepala putri kesayangannya itu. Beliau merasa sangat senang dan bersyukur kembali karena bisa membawa anaknya ke rumah. Ya, tidak ada kebahagian yang terhingga bagi seorang ayah kecuali bisa berkumpul kembali dengan keluarga yang sangat dicintainya.


"Sayang, kembalilah ke kamar, ganti pakaiannya, karena kita akan makan malam bersama," jelas sang papa.


"Baik, Pa," ucap Kiana dengan senyuman terbaik yang ia berikan.


"Sayang, aku ke kamar sebentar ya, kamu ngobrollah sama Papa."


"Iya, Sayang, dandan yang cantik ya," ucap Reyhan dengan memberikan senyum terbaiknya.


Kiana tidak terlalu mempedulikan sang kekasih karena ia terlalu berbahagia bisa kembali ke rumahnya.

__ADS_1


Perlahan Kiana melangkahkan kakinya menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Selangkah demi selangkah, Kiana berjalan pelan karena Kiana ingin mengingat kembali momen-momen terbaik yang ada di rumah ini bersama mama dan papanya.


Kiana kemudian membuka pintu kamarnya, secara perlahan ia melangkahkan kakinya memasuki kamarnya, kamar yang masih terlihat sama seperti beberapa tahun yang lalu, kamar yang telah ia tinggalkan dulu kini ia masuki kembali.


Rindu!


Rasa rindu yang teramat sangat yang dirasakan oleh Kiana membuat air matanya tiba-tiba saja jatuh membasahi pipinya. Kiana membaringkan tubuhnya di ranjang, menatap ke samping, seolah merasakan ada mamanya disini. Ya, dulu Kiana dan sang mama sering menghabiskan waktu berdua di kamar ini ketika mereka menunggu sang papa yang belum pulang dari kantor.


'Mama, Papa akhirnya kembali kepada kita, Papa telah berubah menjadi lelaki yang sangat baik sekarang, seperti Papa yang kita kenal dulu, Ma. Disini juga ada Reyhan, lelaki yang dulu membawa kita pergi dari rumah ini, kemudian hari ini ia mengantarkan Kiana lagi kesini. Dulu ia adalah sahabat Kiana, tapi sekarang ia telah menjadi kekasih Kiana, malaikat yang akan menjaga Kiana selamanya dan Kiana merasa sangat bersyukr sekali untuk semua nikmat yang Tuhan berikan.'


Kiana kemudian bangkit dari pembaringannya, ia mandi dan membersihkan tubuhnya karena hari ini ia akan makan malam di ruang tamu keluarganya setelah sekian lama.


Kiana membuka lmarinya, semua pakaian yang ia punya masih tertata rapi. Ia kemudian memilih gaun putih yang merupakan hadiah dari sang mama ketika Kiana berulang tahun yang ke 18 tahun.


Kiana menatap wajahnya di cermin, ia juga merasakan kehadiran mamanya disini. Ia juga membayangkan sang mama menyisir rambutnya, kegiatan yang dulu memang biasa dilakukan oleh mamanya untuk putri kesayangannya itu. Kiana ingin sekali mamanya ada disini sekarang dan mengatakan kepada sang mama kalau ia merasa sangat bahaha atas kehidupan yang ia jalani sekarang, namun tidak ada mama disini, dunia Kiana dan mamanya telah berbeda, jadi hanya momen-momen yang bisa diingat untuk melepaskan kerinduan yang tertahan di dada.


Kiana menyisir rambutnya dan membiarkan rambut itu tetap terurai panjang, karena mamanya selalu mengatakan kalau Kiana terlihat sangat cantik sekali dengan rambut yang dibiarkan terurai.


Kiana memasang jepitan rambut di rambutnya kemudian memasang sedikit pelembab bibir agar wajahnya terlihat segar dan cantik.


"Kiana, kamu sudah sangat cantik dan sempurna, Mama pasti mengatakan hal itu," ucap Kiana menghibur dirinya sendiri.


Kiana kembali melangkahkan kakinya ke ruang keluarga dimana sang papa dan sang kekasih tengah menantinya.

__ADS_1


"Selamat kembali ke rumah, Kiana," ucapan selamat yang tertulis di dinding dengan banyakya bunga dan balon yang menjadi hiasannya.


Kiana terharu, ketika semua orang yang bekerja di rumahnya menyambutnya dengan sebaik ini, bahkan semuanya berkumpul dan mengelilingi Kiana untuk memberikan bunga-bunga kepada Kiana.


Mata Kiana berkaca-kaca, ia tidak menyangka akan diperlakukan sangat baik oleh semua orang yang berkerja di rumahnya, dan ia juga sangat yakin semua ini pasti dipersiapkan oleh papanya dan juga Reyhan selama ia mandi dan berdandan.


"Sayang, selamat datang kembali di rumah kita, ini adalah rumahmu dan selamanya akan menjadi rumahmu. Maafkan Papa untuk semua kesalahan yang pernah Papa lakukan, Papa sangat menyayangi dan mencintaimu, Nak."


Papa melebarkan kedua tangannya, menunggu sang putri menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk sang papa, dan dalam keadaan berkaca-kaca itu Kiana langsung berlari dan menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk sang papa yang sangat dicintai dan disayanginya itu. Mereka berdua berpelukan erat dan saling mengungkapkan rasa sayang dan kerinduan mendalam sehingga tidak ada lagi dendam dan kesalahan masa lalu, karena mereka memilih untuk melanjutkan hidup dan membuat hidup baru yang lebih baik.


"Nak, jangan menangis lagi ya, Papa tidak sanggup melihat air mata mengalir membasahi pipimu, Nak!"


Papa Haris menghapus air mata yang ada di pipi sang putri karena ia tidak ingin lagi ada kesedihan yang menghampiri Kiana karena ia hanya menginginkan kebahagiaan untuk putri yang sangat dicintai dan disayanginya dengan segenap hatinya.


"Papa, Sayang, sekarang udah ya nangis-nangisannya, kita makan dulu yuk!"


Reyhan membimbing tangan papa Haris dan Kiana menuju meja makan dan menghidangkan makanan terbaik untuk dua orang yang disayanginya itu.


"Sayang, kamu duduklah, ikut makan, jangan malah menghidangkan,' ucap Kiana.


Kiana sadar kalau ia tidak terlalu memperhatikan Reyhan dalam beberapa saat ini karena ia fokus kepada dirinya sendiri dan kerinduannya kepada kedua orang tuanya. Namun Reyhan terlihat mengerti dan paham dengan kekasih hatinya.


Kiana, papa Haris dan Reyhan, makan malam keluarga dengan menu makanan spesial yang memang sengaja dihidangkan untuk menyambut kedatangan Kiana kembali ke rumah papa Harus. Rumah yang sangat Kiana rindukan karena rumah itu menyimpan sejuta kenangan dengan mamanya yang telah tiada, kenangan masa kecil yang tidak akan pernah lagi bisa diulangi kembali.

__ADS_1


__ADS_2