
Kiana penasaran dengan kesehatan sang papa karena sekarang ini papanya terlihat sangat kurus dibandingkan saat dulu ada mamanya disisinya.
"Nak, Papa tidak sakit apa-apa kok, Papa hanya kebetulan menjenguk teman Papa yang sedang dirawat di rumah sakit itu, Nak."
"Serius Papa tidak sakit? Tapi kenapa sekarang Papa terlihat sangat kurus sekali?"
Kiana menantap sang papa, memperhatikan tubuh sang ayah dengan seksama. Tubuh yang dulu kekar dan berisi itu sekarang terlihat kurus seperti kurang gizi padahal tidak mungkin sekali sang papa kurang gizi karena beliau adalah orang berkecukupan yang mana semua keingian bisa beliau dapatkan dan semua yang mereka ingin makan juga telah terhidang di meja makan.
"Nak, Papa kurus karena Papa berpikir saja, Papa takut hidup sendirian dan Papa kesepian, Nak."
"Tapi beneran kalau Papa tidak sakit 'kan, Pa?"
Kiana tidak ingin kehilangan orang yang ia sayang secara mendadak, karena ia belum siap kahilangan, selain itu ia juga ingin sekali berbakti kepada orang tua dengan cara merawat papanya dihari tua beliau.
"Nak, kalau kamu tidak percaya maka kamu tanya saja kepada Rasya, lagian 'kan kamu melihat kalau sekarang Papa baik-baik saja."
Jawaban yang keluar dari lisan papa Haris membuat kekhawatiran dan kecemasan di hati Kiana berkurang, namun ada sedikit rasa yang masih mengganjal di hati Kiana, ia takut sesuatu yang buruk terjadi kepada papanya dan ia tidak ingin menyesal karena terlambat mengetahuinya.
"Papa, serius Papa tidak apa-apa 'kan?" tanya Tania sekali lagi sembari menatap serius ke arah sang papa yang sangat ia cintai.
"Papa tidak apa-apa, Nak, serius!"
Senyum merekah yang terlihat indah itu membuat perasaan Kiana menjadi lebih tenang. Tania merasa bersyukur dan bahagia sekali karena ia bisa melihat senyum papanya, senyum yang beberapa tahun terakhir ini sudah tidak lagi ia lihat.
"Pa, kata Mama senyum Papa indah sekali, seperti bunda yang tengah mekar dan ternyata Mama benar, Papa adalah lelaki yang memiliki senyum terindah yang pernah Kiana kenal," ungkap Kiana sembari memberikan dua jempol kepada papanya.
__ADS_1
"Jadi senyum Reyhan nggak indah nih, Nak?" goda papa Haris.
Sejujurnya, Reyhan juga memiliki senyum indah yang sangat memikat hati, namun senyum papa dan senyum Reyhna adalah dua senyuman dari dua lelaki yang Kiana cintai yang memiliki keunikan tersendiri, jadi Kiana tidak bisa untuk membedakan keduanya dan Kiana juga tidak mungkin menilai salah satunya karena Kiana menyukai keduanya.
"Papa, sejujurnya Kiana tidak bisa memilih antara Papa dan juga Reyhan karena bagi Tania Papa dan Reyhan sangat berarti melebihi apapun di dunia ini jadi baik Papa maupun Reyhan memiliki tempat tersendiri di hati Kiana yang tidak bisa digantikan dengan apapun di dunia ini."
Kiana memang pandai sekali membuat orang-orang yang ia sayang tersenyum bahagia dengan wajah yang merekah indah karena kata-kata manis yang keluar dari lisan Kiana membuat orang-orang yang dekat dengan Kiana tidak bisa berkutik sedikitpun selain membalas dengan senyuman menawan. Ya, Kiana memang pelita bagi kedua orang tuanya dan malaikat bagi kekasihnya, kehadirannya dalam kehidupan orang lain memberikan ketenangan dan kedamaian yang tidak akan pernah dirasakan dari orang lain.
"Anak Papa memang pintar sekali ya ngelesnya," ucap sang papa sembari mencubit hidung Kiana dengan lembut.
"Papa, sakit ...!"
Kiana merengek manja dengan wajah cemberut yang terlihat sangat lucu sekali. Dulu waktu sang mama masih hidup, Kiana sering mengadu kepada mamanya jika sang papa membuatnya kesal, tapi sekarang kemana ia akan mengadu karena tidak ada lagi mamanya disini dan tidak bi Iyem dan juga Reyhan yang akan membantunya.
"Mama, Papa jahat sama Kiana," ungkap Kiana sembari menatap ke arah langit yang terlihat indah dengan cahaya rembulan.
"Mama, apakah Mama bahagia disana karena kekasih hati yang sangat mama sayangi dan cintai ini sekarang telah kembali kepada kita," ungkap Kiana.
Rasanya Kiana tidak henti-hentinya bersyukur karena ternyata perasaan sang mama kepada sang papa terbalaskan karena ternyata sang papa jauh lebih mencintai dan manyayangi sang mama.
"Sayang, sudah malam, kita istirahat yuk!"
Papa mengajak Kiana kembali ke kamar masing-masing karena hari sudah larut malam. Rasanya hari ini berjalan begitu cepat karena kerinduan telah lama tidak bertemu dan saling bercengkrama membuat keduanya menjadi lupa waktu.
Kiana dan Papanya bergandengan tangan memasuki rumah, seperti seorang anak kecil yang begitu manja kepada papanya, begitulah Kiana sekarang.
__ADS_1
"Sayang selamat istirahat, jangan telpon-telponan sampai pagi sama Reyhan!"
Itulah ultimatum yang keluar dari lisan sang papa ketika Kiana akan memasuki kamarnya.
Kiana tersenyum dan mengangguk karena ia sangat yakin sekali kalau saat ini telah banyak panggilan video call dari Reyhan untuknya.
Kiana melangkahkan kakinya memasuki kamarnya, kemudian langsung merebahkan tubuhnya di ranjang empuk yang selama ini menjadi miliknya. Kamar yang sudah lama tidak ia tempati itu ternyata masih sama, belum berubah sama sekali bahkan rasanya terasa teramat sangat nyaman, mungkin karena Kiana telah lama tidak tidur di sana.
Kiana menatap ke arah dinding, dimana foto keluarganya terpampang nyata dan jelas, ada mama dan papanya tengah tersenyum bahagia di sana.
"Mama, Kiana merasa sangat bahagia sekali karena bisa akur dengan Papa dan sebentar lagi akan menikah dengan Reyhan," ucap Kiana sembari tersenyum kepada foto itu.
Kiana merasakan kehadiran mamanya disana dan ia juga merasakan kalau saat ini sang mama tengah memeluknya, membelai rambutnya serta mencium keningnya.
Kring ..., kring ..., kring ....
Ya, ternyata ponsel Kiana memang berbunyi sedari tadi. Panggilan video call dari sang kekasih hati yang tidak akan berhenti menghubungi sampai Kiana mengangkatnya.
[Sayang]
Sapa Kiana lembut dan ramah, serta tidak ketinggalan senyum manis yang menawan yang membuat emosi dan amarah Reyhan yang awalnya memuncak akan langsung mereda.
Memang Kiana pandai sekali membuat Reyhan tidak jadi marah kepadanya, apalagi sejak mereka berdua resmi menjadi sepasang kekasih, maka Reyhan tidak berani sedikirpun memarahi Kiana walaupun terkadang sikap Kiana membuatnya kesal dan marah.
[Sayang, kamu dari mana saja? Kenapa lama sekali mengangkat panggilannya? Apakah kamu sudah melupakanku?]
__ADS_1
Pertanyaan lebay dan terdengar seperti anak baru gede itu membuat Kiana tertawa geli, ia tidak menyangka kalau lelaki garang seperti Rendra ternyata bermental Hello Kitty yang sangat bucin kepadanya.
[Sayang, aku baru saja mengobrol dengan Papa, kami mengenang Mama, apakah salah? Apakah aku tidak boleh menghabiskan waktu dengan Papa? Bukankah aku dan Papa baru saja berbaikan?]