Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Penasaran Dengan Papa


__ADS_3

Rasa sayang di hati Kiana tidak akan pernah tergantikan kepada sang papa karena bagaimanapun juga lelaki itu adalah ayahnya, dalam diri Kiana mengalir juga darah ayanya dan tidak bisa dipungkiri kalau Kiana pasti memiliki ikatan batin dengan ayahnya.


Hati kecil Kiana mengatakan kalau saat ini sang ayah sedang sakit dan Kiana tidak tahu bagaimana caranya agar ia bisa mengetahui tentang penyakit yang papanya alami.


"Kak Rasya, iya, rasya pasti bisa membantuku,' ungkap Kiana di dalam hati.


Kiana yakin kalau dokter Rasya pasti tahu informasi tentang papanya walaupun sedikit, karena dokter Rasya lumayan dekat dengan sang papa.


Kiana berencana menemui dokter Rasya diam-diam tanpa sepengetahuan Reyhan karena Kiana tidak ingin Reyhan cemburu dan malah membuat keributan nantinya.


Kiana matap Reyhan yang saat ini tengah berinteraksi dengan dokter, terlihat sekali kalau Reyhan sangat serius sekali membantu Kiana dalam merawat ibu.


"Sepertinya Reyhan masih lama, aku harus pergi sebentar menemui Kak Rasya."


Kiana bangkit dari tepat duduknya, berjalan pelan menuju ruang kerja dokter Rasya tanpa diketahui Reyhan.


Tok ..., tok ..., tok ....


Kiana mengetuk pintu ruangan kerja dokter Rasya dan memastikan sahabatnya itu ada disana.


Dalam beberapa detik suster datang menghampiri Kiana dengan senyum yang terlihat baik dan ramah sekali.


"Suster, apakah Dokter Rasya ada?"


"Kebetulan sedang istirahat, ada perlu apa ya, nanti bisa saya sampaikan, Nona."


"Saya hanya ingin bertemu dengan Dokter Rasya sebentar saja!"


Kiana memohon sembari mengaitkan kedua telapak tangannya, berharap sang suster memberikannya kesempatan sebentar saja untuk bertemu dengan dokter Rasya.


"Maaf, Nona, Dokter Rasya sedang tidak bisa diganggu, kalau Nona ingin menemui beliau Nona bisa datang lagi nanti."


Kiana tahu mungkin bagi seorang dokter waktu istirahat adalah waktu yang sangat berharga sehingga sang dokter membatasi dirinya dari menemui siapapun, tapi bagaimanapun juga dokter adalah pelayan masyarakat, harusnya ia tetap melayani pasien meski apapun keadaannya.


"Ya sudahlah, Dokter juga manusia," ungkap Kiana sembari berjalan pergi meninggalkan ruangan kerja dokter Rasya.

__ADS_1


Kiana berjalan pelan dan perlahan, membayangkan banyak hal hingga rasa takut kehilangan pun muncul dalam benak Kiana.


Kehilangan mama di usianya yang sekarang masih menyisakan kesedihan mendalam untuk dirinya, bahkan rasanya Kiana masih merasa tidak sanggup dan tidak mampu untuk kehilangan beliau. Namun, satu hal yang membuat Kiana kuat, ia punya bi Iyem dan Reyhan yang setiap hari selalu menghiburnya dan membantunya dalam menyelesaikan masalah hidup yang tegah ia hadapi. Kiana bahkan tidak pernah membayangkan bagaimana hidupnya jika dua orang malaikat itu tidak ada dalam kehidupannya.


"Kiana, Kia, tunggu!"


Seseorang yang tengah memanggil nama Kiana membuat langkah kaki Kiana terhenti. Ia membalikkan badannya dan melihat ada dokter Rasya datang menghampirinya.


'Apakah ini mimpi?'


Kiana mengucek-ngucek matanya, memastikan lagi bahwa yang ia lihat memang benar dokter Rasya. Ya, jas putih yang merupakan kebanggaan dokter itu tengah dikenakan oleh dokter tampan yang bernama Rasya itu.


"Kia, apa kamu mencariku? Apa yang terjadi? Apa ada hal buruk yang terjadi pada Ibu?"


Dengan nada ngos-ngosan da nafas cepat, dokter Rasya terlihat sangat khawatir bercampur penasaran tentang kedatangan Kiana menemuinya.


"Sya, apa kamu sibuk?" tanya Kiana.


Kiana ragu untuk bertanya panjang lebar kepada dokter Rasya, bahkan Kiana takut ia akan mengganggu waktu dokter Rasya yang sangat berharga, namun rasa penasaran dan keingintahuan mendalam membuat Kiana memberanikan diri untuk mengajak dokter Rasya mengobrol.


Kiana sangat mengenal dokter Rasya. Ia adalah lelaki yang memiliki rasa empati dan kepedulian yang sangat tinggi kepada orang lain, bahkan Kiana juga sangat paham kalau dokter Rasya tidak akan bisa menolaknya walaupun sesibuk apapun ia.


"Sya, apakah kita boleh berbicara secara pribadi di ruangan mu?"


Kiana tidak ingin ada kesalahpahaman antara ia dan Reyhan karena lelaki itu saat ini sedang sensitif dan cemburuan, jadi Kiana menghindari resiko pertengkarannya dengan Reyhan.


"Baiklah, yuk kita ke ruangan ku."


Kiana dan dokter Rasya berjalan berdampingan menuju ruang kerjanya. Keduanya hanya diam dalam kebisuan seolah takut memulai pembicaraan karena tidak ingin menyinggung satu sama lain jika salah bertanya, hingga sampailah mereka berdua di depan pintu.


"Silahkan masuk, Kiana."


Dengan ramah dan sangat sopan, dokter Rasya meminta Kiana masuk kedalam ruangannya.


Ruangan dengan design modern berwarna putih bersih itu mencirikan kalau Reyhan memang seorang dokter yang sangat rapi dan memiliki selera yang sangat tinggi. Ya, maklum saja, semua pasien yang dirawat di rumah sakit ini adalah dari kalangan elit dan menengah ke atas.

__ADS_1


"Kia, silahkan duduk!"


Dokter Rasya memperlakukan Kiana dengan sangat baik, bahkan ia meminta suster yang tadi menolak kedatangan Kiana untuk menghidangkan minuman dan makanan kecil agar kami berdua bisa berbicara dengan nyaman dan santai.


"Kia, apa ada hal yang ingin kamu ceritakan kepadaku?"


Paham dengan Kiana, dokter Rasya akhirnya memulai pembicaraan terlebih dahulu diantara mereka.


"Sya, apakah kamu pernah bertemu dengan Papaku?"


Untuk sesaat dokter Rasya kaget dengan pertanyaan yang Kiana lontarkan, karena sedikit banyaknya dokter Rasya telah mendengar cerita tentang keluarga Kiana.


"Kia, apa sebenarnya yang ingin kamu ketahui dariku?"


Dokter Rasya langsung kepada intinya karena ia sangat yakin kalau Kiana ingin menanyakan sesuatu tentang papanya.


"Sya, aku melihat Papa beberapa saat yang lalu datang ke rumah sakit ini, kami berpapasan."


Kiana terdiam, seolah sedang mengumpulkan energi untuk menanyakan tentang papanya, karena bagi Kiana mengenang papanya sama halnya dengan menngukir kembali rasa sakit dan kesedihannya di masa lalu yang selama ini sudah berusaha ia lupakan.


"Kak Sya, apakah Papa sakit? Dia sakit apa dan kenapa ia sendirian ke rumah sakit? Dimana keluarganya?"


Pertanyaan beruntun itu sebagai bukti kalau Tania benar-benar merasa sangat penasaran tentang kehidupan papanya.


Selama beberapa tahun terakhir Kiana memang membatasi dirinya dari papanya, bahkan ia tidak pernah berkomunikasi atau mencari tahu tentang apapun, tapi setelah bertemu dengan sang papa, muncullah keingintahuan di hati Kiana.


"Kia, untuk beberapa hal aku tidak bisa memberitahukan tentang rahasia pasien kepadamu apalagi beliau adalah salah satu pasien VVIP disini. Jika kamu ingin mempertanyakan sesuatu, silahkan bertanya langsung kepada papamu," jelas dokter Rasya dengan nada suara lembut namun penuh dengan ketegasan disana.


"Tapi lelaki yang kamu katakan pasien itu adalah Papaku, Kak Sya!"


"Maaf, Kia, maaf karena aku tidak bisa menjawab pertanyaan menyangkut itu, lebih baik sekarang kamu kembali ke kamar Ibu karena Ibu pasti mengkhawatirkanmu. Kamu bilang Ibu akan pulang besok 'kan? Jadi tolong jaga beliau agar tidak banyak berpikir."


"Kak Sya, apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"


"Kia, pergilah! Reyhan juga pasti sedang mencarimu sekarang."

__ADS_1


__ADS_2