Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Bersyukur Memiliki Ibu


__ADS_3

Reyhan berjalan pergi menuju musala untuk menghadap sang Pencipta.


Entah kapan terakhir kali Reyhan salat dengan sekhusuk ini, ia benar-benar mengadu dengan berurai air mata.  Selama ini Reyhan salat hanya karena Kiana yang sangat rajin mengingatkannya akhir-akhir ini. Ia hanya salat agar Kiana bersimpati dengannya. Namun, hari ini ia benar-benar sangat ingin mengadu kepada Tuhannya.


"Ya Allah, sudah lama sekali aku tidak berdoa dengan tulus kepada-Mu, aku adalah manusia munafik yang tidak pernah tulus beribadah kepada-Mu, hamba juga manusia munafik yang mulutku mengatakan mencinta Wilona, namun hatiku yang sesungguhnya sebenarnya sangat mencintai Kiana. Kiana adalah wanita baik dan saleh yang selalu aku bikin kesel. Mungkin Engkau menghukumku karena aku telah menyia-nyiakan wanita baik itu, atau mungkin dia adalah wanita baik yang tidak pantas disandingkan denganku, Tuhan? Namun, aku masih berharap Engkau selalu memberikan kebahagiaan untuknya dan memberikan pasangan hidup terbaik untuknya. Ya Allah, berikanlah kesembuhan dan kesehatan untuk Kiana, tolong jaga dia. Tidak ada yang lebih hamba inginkan saat ini selain kesehatan dan kebahagiaan Kiana, Ya Allah. Aamiin ...," Reyhan bedoa dengan berlinang air mata. Ia merasa semua beban di hatinya terasa berkurang dan ia merasa lega karena bercerita menumpahkan segalanya dengan cara mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.


Setelah salat malam, ia kembali melangkahkan kakinya menuju kamar inap Kiana. Sejujurnya, entah berapa kali ia melakukan hal ini, yang jelas ia ingin menikmati malam-malam terakhirnya untuk menjaga Kiana. Ia teramat sangat merindukan Kiana, gadis yang tidak bisa lagi ia temui sesuka hatinya. Ingin sekali saat ini ia berada disisi Kiana untuk menjaga gadis cantik itu. Namun, apa daya tidak ada lagi kesempatan untuknya.


***


Matahari bersinar sangat cerah pagi ini, Kiana terbangun karena silau mentari pagi menyengat matanya. Kiana merasa pagi ini keadaannya sudah sangat membaik.


"Selamat pagi, Nona Kiana," sapa dokter dengan senyum teduh yang memancarkan cahaya dan memberikan aura positif serta kebaikan untuk pasiennya.


"Pagi Dokter," balas Kiana dengan senyum merekah walaupun wajahnya masih terlihat pucat.


"Bagaimana perasaannya pagi ini, Nona?" tanya dokter ramah.


"Alhamdulillah, saya merasa lebih baik, Dokter."


"Mohon maaf, permisi Nona, saya izin memeriksa Nona, ya."


"Iya, Dokter. Silahkan!" jawab Kiana sembari mengangguk dalam pembaringannya.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?" tanya bi Iyem dengan wajah khawatir.


"Alhamdulillah, Ibu. Keadaan Nona Kiana jauh lebih baik." Dokter tersenyum sehingga mengurangi sedikit duka di hati bi Iyem.

__ADS_1


"Berarti hari ini saya udah bisa pulang, Dokter?" tanya Kiana dengan penuh harap.


"InsaAllah udah bisa, tapi saran saya sebaiknya untuk hari ini istirahat di sini saja dulu, besok pagi saja pulangnya, karena saya yakin nih, orang seperti Nona Kiana pasti kalau udah di rumah nggak bakalan bisa diam." Tebak dokter.


"Benar sekali, Dokter, nih anak emang nggak pernah bisa diam, Dok. Ibu juga setuju banget Nak Kiana pulangnya besok, hari ini Kiana tidur di sini aja, Dok." Ocehan bi Iyem penuh semangat ketika mengadukan perihal Kiana kepada dokter. Beliau benar-benar bersikap seperti mama Windari.


"Ibu ..., Kiana udah pengen pulang, Bu" rengek Kiana manja dengan raut wajah mengiba dan penuh harap kepada bi Iyem.


"Istirahat aja deh, Nak!" Pinta bi Iyem.


"Baik, Ibu, Nona, saya permisi dulu. Selamat istirahat!" Senyum Dokter yang terlihat sangat ramah sekali.


"Terima kasih, Dokter," jawab Kiana dan bi Iyem serentak.


"Ibu, Kia pengen pulang. Kia udah kangen banget sama rumah, kita pulang hari ini aja ya, Bu," pinta Kiana dengan penuh harap sembari tersenyum ke arah bi Iyem.


"Sabar, Nak, besok kita pulang ya, Sayang," jawab bi Iyem dengan senyum penuh kekhawatiran yang tergambar dari wajahnya yang kini sudah keriput dan sudah tidak muda lagi.


"Kenapa menangis, Nak?" Bi Iyem mendekati Kiana sembari menghapus air mata yang mengalir dipipinya.


"Ibu ...," Kiana langsung memeluk bi Iyem dengan sangat erat.


"Ada apa, Nak? Ibu jadi khawatir." Suara bi Iyem terdengar bergetar karena khawatir.


"Kia nggak apa-apa, Bu. Nia hanya terharu dan bahagia karena sampai hari ini Ibu masih ada di sini menemani Kia. Andai Mama Windari juga ada disini pasti kebahagiaan kita menjadi lengkap. Kia kangen sama Mama, Bu."  Kiana memeluk bi Iyem dengan semakin erat.


"Jangan menangis, Nak, semua yang terjadi atas kehendak dan kuasa-Nya, kita doain saja semoga Mama Windari aja ya, Nak. Semoga Mama Windari dilapangkan kuburnya dan ditempatkan di surga Allah." Kata-kata yang keluar dari mulut bi Iyem memang selalu menenangkan.

__ADS_1


"Iya, Bu."


"Assalamualaikum," ucap seseorang yang membuka pintu kamar inap Tania sehingga Kiana langsung menghapus air matanya.


"Waalaikumsalam," jawab Kiana dan bi Iyem serentak.


"Bibi, Kiana," sapa Reyhan dengan senyum takut dan khawatir.


Kiana menatap tajam Reyhan, karena terbesit dihatinya kalau Reyhan mungkin saja akan menyuruhnya mengerjakan pekerjaan kantor.


"Iya, Tuan, ada apa?" tanya bi Iyem dengan nada suara datar namun masih ramah. Akan tetapi, terlihat sekali bi Iyem tidak suka dengan keberadaan Reyhan disini.


"Saya hanya ingin melihat keadaan Kiana, Bi," ucap Reyhan dengan nada bergetar, sementara Kiana hanya diam dan menatapnya saja.


"Bukannya Bibi sudah meminta Tuan untuk tidak lagi datang menemui Nak Kiana?"


Raut wajah bi Iyem sepertinya sangat marah.


"Maaf, Bi, sa ...," belum selesai Reyhan melanjutkan ucapannya tiba-tiba Wilona datang dengan wajah penuh emosi dan amarah.


"Jadi kamu di sini, Sayang." Wilona datang dengan muka masam sembari menghardik Reyhan.


"Hai, Kiana, Bibi," sapa Wilona dengan gaya yang tidak memiliki sopan santun sama sekali.


"Kamu ngapain ke sini?" nada suara Reyhan sedikit bergetar dengan rona wajah yang berubah seperti suami-suami takut istri.


"Harusnya aku yang nanya, kamu ngapain disini? Bukannya kamu bilang sama aku kalau kamu lagi nginap di rumah teman, jadi ini rumah teman kamu?" teriak Wilona ke Reyhan dengan mata merah dan raut wajah kejam.

__ADS_1


"Mohon maaf, disini rumah sakit bukan rumah kalian. Sekarang saya minta kalian keluar dari ruangan ini. Anak saya mau istirahat." Usir Bi Iyem sembari menunjuk ke arah pintu keluar, menyuruh Wilona dan Reyhan keluar dari ruangan, karena Wilona bersikap tidak sopan sama sekali.


"Pembantu aja belagu lo!" cibir Wilona tidak sopan.


__ADS_2