Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Dilema Hati


__ADS_3

Reyhan langsung melajukan motor besarnya dengan kecepatan tinggi, seperti seorang pembalap yang telah piawai mengendarai motornya.


Dalam tangis, Kiana melingkarkan kedua tangannya di pinggang Reyhan. Gadis cantik itu juga menyandarkan wajahnya di punggung Reyhan yang ia rasakan sangat nyaman untuk saat ini.


Selang 20 menit kemudian, Reyhan akhirnya mendaratkan motornya di rumah sakit yang seharusnya di tempuh dalam waktu 40 menit untuk kecepatan standar.


"Rey, terima kasih banyak!"


Kiana segera turun dari motor Reyhan dan berlari memasuki rumah sakit dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.


"Mama ...," teriak Kiana memanggil-manggil mamanya, namun tidak ada jawaban apapun kecuali suara pekikan yang terdengar sangat histeris dari kamar rawat inap mamanya.


Kiana panik dan dengan kekhawatiran memuncak.


Ia berlari dan membuka pintu kamar inap mamanya dan mendapati mamanya tengah berteriak-teriak seperti orang gila dengan kondisi kamar yang berantakan.


Terlihat perawat juga berusaha menenangkan Windari, akan tetapi wanita itu tetap menggila.


Entah apa yang disampaikan oleh pelakor itu kepada Windari, hingga keadaan wanita itu menjadi memburuk.


"Mama ...," ucap Kiana yang tidak lagi bisa membendung air mata yang jatuh membasahi pipinya.


Kiana teramat sangat kasihan melihat mamanya yang terlihat stres.


Kianw kemudian memeluk mamanya, dengan kelembutan, cinta dan kasih sayang yang sangat tulus.


Kiana membelai lembut rambut mamanya, sembari menepuk-nepuk lembut pundak mamanya untuk menenangkan mamanya tersayang itu.


Kiana, gadis itu harus bersikap layaknya seorang wanita dewasa yang akan menjaga dan melindungi mamanya.


"Ma, tenang ya!"


Ucapan lembur dari mulut Kiana membuat kesadaran mamanya kembali.


"Nak, kita akan kemana sekarang? Lelaki jahat itu telah mengusir kita!" ujar Windari dengan nada suara tersedu-sedu.


"Ma, Kiana punya uang dan sepertinya akan cukup untuk kita menyewa rumah kontrakan dan biaya hidup kita untuk beberapa bulan ke depan," ujar Kiana dengan penuh keyakinan.


Kiana merasa bersyukur karena Reyhan memberikan kartu kredit untuknya.


"Kamu dapat kartu dari mana, Nak?"

__ADS_1


Windari terlihat kaget mengetahui putrinya memiliki kartu kredit. Windari sangat paham sekali bagaimana suaminya, lelaki itu tidak akan membiarkan Kiana mengambil sesen pun uangnya.


"Kia bekerja, Ma!" jelas Kiana.


Kiana sangat tahu kalau mamanya sangat tidak suka Kiana meminta-minta, apalagi sampai meminta kepada papanya karena itu sangat melukai dan menjatuhkan harga diri mamanya.


"Kerja?" Mata Windari melotot, seolah mata itu mengisyaratkan sejuta tanda tanya.


Windari tidak mungkin dibohongi dengan kata-kata mustahil yang keluar dari mulut Kiana, mana mungkin orang bekerja dalam waktu sehari dan langsung mendapatkan kartu kredit tanpa batas.


"Kia, kamu kerja apa dan sama siapa? Bukankah ini adalah kartu kredit tanpa batas?"


Dalam sadar, Windari adalah seorang ibu yang sangat cerewet kepada putrinya. Orang tua protektif yang akan menanyakan banyak hal kepada putri kesayangannya.


"Ma, Kiana bekerja sebagai sekretaris pribadinya Reyhan, dan Reyhan menggaji Kiana di muka."


Kiana berusaha menjelaskannya dengan pelan serta dengan menggunakan kata-kata terbaik agar mamanya tidak histeris lagi.


"Sekretaris? Bukankah kalian masih SMA?"


"Iya, Ma, Reyhan meminta Kiana menggambar dan mendesain gambar untuk perusahaan Papanya," jelas Kiana.


"Sayang, kamu tidak berbohong 'kan?"


"Kia, pelakor itu datang dan mengancam Mama," ucap Windari dengan raut wajah ketakutan.


"Ma, kenapa dia bisa ada disini?"


Kiana penasaran kenapa wanita itu bisa tahu kalau mamanya di rawat di rumah sakit.


Kiana tidak suka ketika papanya dan pelakor itu memata-matai kehidupan Kiana dan mamanya. Kiana ingin hidup tenang dan tidak lagi di ganggu oleh siapapun.


"Mama takut, Kia!"


Tangan Windari bergetar sangat hebat dengan wajah yang terlihat sangat pucat sekali. Seolah ada trauma yang tidak bisa beliau lupakan.


Sungguh, Kiana merasa sangat kasihan dengan mamanya, karena wanita yang selama ini terlihat ceria dan seperti seorang bidadari itu, tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.


Rasa penyesalan juga menghantui Kiana, ia merasa bersalah karena meninggalkan mamanya sendirian di rumah sakit dan pergi berjalan-jalan dengan Reyhan.


"Nona Kiana, Dokter ingin anda menemui beliau sekarang," ujar salah seorang perawat yang datang menghampiri Kiana.

__ADS_1


Kiana terlihat tidak tega meninggalkan mamanya dalam keadaan ketakutan dan histeris seperti ini, lagian Kiana juga telah berfirasat kalau dokter pasti memintanya lagi untuk membawa mamanya ke rumah sakit jiwa.


Tidak mungkin!


Tidak ada anak yang akan tega mengantarkan orang tuanya ke rumah sakit jiwa, apalagi ia saat ini hanya tinggal seorang diri.


Bagi Kiana, mamanya adalah harta satu-satunya yang ia miliki yang tidak mungkin tega ia bawa ke rumah sakit jiwa.


"Kiana, pergilah! Aku akan menjaga Tante Windari."


Reyhan baru saja masuk ke kamar inap Windari dan mendapati Kiana tengah berpikir dan terlihat kebingungan.


"Rey, aku tidak ingin bertemu dengan Dokter, aku sudah tahu apa yang akan beliau sampaikan. Sebagai seorang anak, aku tidak mungkin memasukkan Mama ke rumah sakit jiwa!"


Kiana menatap Reyhan dengan mata berkaca-kaca dengan menanggung sejuta kesedihan yang ia bawa bersamanya.


"Bagaimana kalau aku saja yang menemui Dokter?" usul Reyhan.


Kiana terdiam, sorot matanya terlihat ragu, namun Kiana akhirnya setuju dengan Reyhan, setidaknya Kiana bisa tetap berada di sini menjaga mamanya.


"Kalau begitu aku akan ke Dokter dulu, aku akan menelponmu ketika sampai di sana, kamu bisa mendengarkan percakapan kami," jelas Reyhan.


Reyhan akhirnya menemui dokter dan tidak ada solusi terbaik untuk Windari selain membawa beliau ke rumah sakit jiwa.


Terpaksa!


Mau tidak mau, suka tidak suka, Kiana harus membawa mamanya ke rumah sakit jiwa dengan ketidakikhlasannya. Ya, hanya itu satu-satunya cara agar Windari mendapatkan perawatan terbaik agar cepat pulih dan bisa berkumpul kembali bersama Kiana.


Berbulan-bulan, Kiana hidup sendirian di sebuah kontrakan sederhana dan ia bekerja bagaikan kuda untuk menghilangkan kesedihan hatinya mulai dari mengerjakan tugas sekolah Reyhan sampai melakukan apapun yang disuruh Reyhan. Berharap mamanya segera pulih dan bisa berkumpul kembali dengannya, akan tetapi semua keinginannya belum bisa menjadi kenyataan.


'Mama, Kia rindu,' ucap Kiana di dalam hati.


"Kiana ...!"


Teriakan Reyhan membuat lamunan Kiana akan mamanya membuyar. Lelaki yang beberapa bulan yang lalu teramat sangat baik dan selalu membantunya, saat ini bersikap kasar dan semena-mena kepadanya.


Reyhna mendekati Kiana kemudian menyerahkan tumpukan kertas yang harus dikerjakan oleh Kiana. Kali ini bukan tugas sekolah tapi seperti tumpukan kertas yang berisi dokumen penting perusahaan.


"Upik Abu, ini jam kerja, kenapa lo melamun? Gw menggaji lo mahal-mahal bukan buat malas-malasan gini!"


Kata-kata tajam dan kasar selalu keluar dari mulut Reyhan kepada Kiana ketika mereka berada di salah satu ruangan yang memang tersedia untuk Reyhan seorang. Ya, Reyhan seperti bunglon, sikapnya selalu berubah-ubah, terkadang sangat kasar namun menjadi sangat baik jika tidak berhubungan dengan pekerjaan.

__ADS_1


"Dasar bunglon!" ucap Kiana pelan namun masih bisa di dengar oleh Reyhan.


"Lo bilang apa?"


__ADS_2