
"Non belum makan, bukan? Makan yuk!" ucap bibi yang berusaha untuk menghibur Kiana seolah tidak ingin membahas mantan majikan yang tidak lain adalah paap Kiana.
“Nanti saja, Bi,” tolak Kiana lemah.
“Non harus makan ya! Bibi nggak mau Ibu kenapa-kenapa!”
“Kia belum lapar, Bi,” tolak Kiana lembut.
“Tapi kamu sedari siang belum makan apa-apa, aku nggak mau kamu sakit, Kia!” sambung Reyhan yang sedari tadi hanya memperhatikan Tania.
“Iya, Rey, nanti aku makan.”
“Kita makannya sekarang aja ya, Non! Biar Bibi suapin. Bibi juga udah membawakan makanan kesukaan, Non.”
Bi Iyem berusaha membujuk Kiana, karena beliau sangat tahu kepergian mama Windari adalah hal yang paling terberat untuk Kiana. Kiana adalah seorang anak yang sangat bergantung kepada mamanya begitu juga mama Windari, beliau sangat mencintai putrinya, mereka saling melengkapi satu sama lain dan saling mencintai karena Allah. Tak pernah Kiana dan mama Windari bertengkar hebat, mereka saling menyayangi dan melengkapi. Namun, kini Kiana kehilangan belahan jiwanya, separuh nafasnya, sudah pasti perasaan ia sangat remuk dan hancur.
"Yuk makan, Non!" ucap bibi sembari menyuapi Kiana.
“Nggak usah, Bi, Kia bisa makan sendiri kok. Nanti Kia makan ya."
“Kia, kamu harus makan, aku tidak mau kamu sakit!" Ucapan tegas mulai keluar dari lisan Reyhan bahkan saat ini ia terlihat seperti seorang kakak yang peduli dan mengayomi adiknya.
“Ya udah, mari kita makan.” Akhirnya Kiana pun mengalah dan mau makan.
“Setelah kita makan kita salat ya, Kia, udah masuk waktu magrib. Setelah itu kita mengaji bersama dan mengirimkan doa untuk Mama Windari.”
__ADS_1
“Iya, Rey,”jawab Kiana lemah.
“Bibi sayang banget sama Non Kiana.”
Bibi kemudian tersenyum dan memeluk Kiana dengan erat.
“Kia juga sayang banget sama Bibi," ucap Kiana sembari membalas pelukan bi Iyem.
Sementara Reyhan, ia terus memperhatikan Kiana, karena bagi Reyhan, Kiana adalah malaikat tanpa sayap yang ia miliki di dunia ini, tak akan ia biarkan seorang pun menyakiti Kiana, dan tak akan ia biarkan setetes air mata pun jatuh membasahi pipi Kiana lagi setelah ini. Reyhan bahkan berjanji pada dirinya sendiri, ia akan berusaha membahagiakan Kiana dan berusaha mewujudkan semua keinginan sahabatnya itu. Bahagia Kian adalah yang terpenting untuk Reyhan saat ini.
"Rey, apa kamu tidak pulang? Apa kekasihmu tidak akan merah jika kamu di sini?" tanya Kiana tiba-tiba disela-sela ia mengunyah makanannya.
Reyhan tidak tahu apa alasan Kiana mengatakan hal seperti itu kepadanya. Namun, Reyhan tidak peduli dengan Wilona karena yang terpenting bagi Reyhan adalah kebahagiaan Kiana, ia tidak mungkin meninggalkan Kiana dalam keadaan terpuruk dan bersedih seperti itu.
"Kia, jangan bicara seperti itu, aku tidak akan kemana-mana, aku akan tetap disini!" ujar Reyhan dengan nada suara kekeh dengan pendiriannya.
"Sudahlah, terserah kamu saja, aku capek!"
Kiana kemudian membalikkan badannya, ia baringkan tubuhnya dan ia tutupi dengan selimut. Kiana benar-benar ingin sendirian sekarang. Ia tidak ingin menatap Reyhan atau berbicara dengan lelaki itu.
***
Enam bulan sudah sejak kepergian mama Windari sebulan juga Kiana hidup sebatang kara. Ya, walaupun bi Iyem saat ini tinggal di rumah dan menemani Kiana, tetap saja tidak ada lagi mama Windari disini, disisi Kiana.
Reyhan, entah apa yang terjadi dengan lelaki itu, seminggu setelah mama Windari meninggal, ia berubah drastis. Bahkan sudah sebulan ia seolah menghilang juga dari peredaran. Ia meninggalkan semua tumpukna pekerjaan kepada Kiana dengan alasan ada urusan penting di keluarganya, padahal beberapa minggu lagi mereka akan ujian akhir sekolah. Namun, sejak hari itu tidak ada pesan dan kabar apapun lagi darinya. Kania juga telah berusaha menghubungi dan memberikan kabar kepadanya tentang ujian sekolah yang akan diselenggarakan walaupun Reyhan adalah anak pemilik yayasan, akan tetapi tidak ada balasan apapun dari Reyhan.
__ADS_1
"Ini orang kemana sih? Ninggalin sekolah hampir sebulan lamanya," gumam Kiana dengan nada suara geram dan kesal karena tidak bisa menghubungi Reyhan sama sekali.
Kiana tidak mungkin menjadi Reyhan untuk membantu lelaki itu pada ujian sekolah walaupun ia telah berjanji akan melakukan apapun untuk Reyhan karena ia bekerja untuk lelaki itu.
'Apakah aku harus ke rumahnya?' ucap Kiana di dalam hati.
Kiana akhirnya memutuskan untuk mengendarai sepeda motor miliknya dengan kecepatan standar. Pikiran Kiana terganggu dan semakin terganggu dengan misteri Reyhan yang tiba-tiba menghilang, padahal sebelumnya ia sangat setiap menemani Kiana dalam setiap suka dan duka Kiana. Banyak hal yang ingin Kiana tanyakan, banyak hal yang ingin Kiana ungkapkan kepada Reyhan. Namun, kenapa ia pergi hanya dengan meninggalkan sebuah surat saja? Hati Kiana semakin penasaran dan terus merasa penasaran, hingga ia memutuskan berhenti di salah satu taman yang biasanya mereka kunjungi ketika mereka capek dengan urusan sekolah. Ya, tepat sekali lokasinya tidak jauh dari sekolah.
Kiana berjalan dengan langkah pelan menyusuri setiap sudut taman, kemudian duduk di kursi yang biasa ia dan Reyhan tempati.
Kiana meraih telepon genggam dari dalam tasnya, ia berusaha menghubungi Reyhan. Namun, Reyhan tetap tidak menjawab panggilan telepon dari Kiana.
'Rey, kenapa kamu menghindariku? Kenapa kamu menghilang? Kenapa kamu mengabaikanku? Kenapa kamu bersikap sombong dan semena-mena kepadaku? Kenapa kamu malah pergi saat hatiku tengah sakit dan terluka. Kamu tahu bagaimana rasanya hidup sebatang kara? Kamu tahu nggak rasanya separuh jiwaku hilang? Kenapa kamu menyiksaku dengan tumpukan pekerjaan?' batin Kiana dengan sejuta umpatan dan protes yang ia ungkapkan untuk Reyhan.
Andai Reyhan ada di sini saat ini pasti Kiana sudah meluapkan semua umpatan kepada Reyhan, lelaki yang mempekerjakannya seperti kuda.
Tiba-tiba pandangan Kiana tertuju pada dua sejoli yang tengah bercanda tawa, jarak mereka sekitar satu meter dari tempat duduk Kiana. Sosok itu seperti orang yang sangat ia kenal, tapi apakah ia tidak salah lihat? Kiana ingin memastikannya, perlahan ia langkahkan kakinya dengan rasa penasaran memuncak dan dada yang sangat bergetar hebat. Beribu pertanyaan muncul dari benaknya, "Apakah itu Reyhan? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Perlahan jarak ini semakin dekat, Kiana melihat dengan mata kepalanya sendiri, sahabat karibnya tengah bermesraan dengan tunangannya. Kiana mendengar percakapan mesra mereka, hingga membuat hati Kiana semakin terkoyak-koyak.
Kecemburuan!
Mungkin saja saat ini Kiana sedang cemburu, tapi hati kecilnya tidak mengakui atau mungkin saja Tania dan Reyhan masih belum menyadari perasaan mereka masing-masing. Namun, bagaimanapun hati Tania saat ini, ia tetap berusaha tetap tenang, ia tidak ingin emosi dan kemarahannya ini membuat mereka semakin tertawa di atas penderitan Kiana. Lagian Kiana tidak punya hak apa-apa atas hubungan Reyhan dan Wilona.
Kehadiran Kiana membuat Reyhan terjut, hingga membuat bola mata mereka terbelalak.
__ADS_1