
Ucapan serenyak yang terdengar sangat lancang itu keluar dari bibir Kiana dan mama Reyhan, bahkan keduanya juga serentak mencubit Reyhan hingga lelaki tampan itu mengaduh karena merasa kesakitan.
"Mama, Kiana sayang, jangan dong! Aku lagi menyetir."
Reyhan akhirnya protes, namun Kiana dan mama Reyhan tetap mencubit Reyhan hingga terjadilah canda tawa di atas mobil yang membuat suasana di dalam mobil menjadi hidup. Sungguh, tidak ada lagi suasana canggung diantara Kiana, Reyhan dan sang mama padahal mereka baru saja bertemu.
"Ma, terima kasih ya karena Mama telah merestui hubungan Reyhan dan Kiana," ungkap Reyhan di sela-sela perjalanan menyenangkan mereka.
"Mama belum merestui kalian kok, Mama hanya mengajak Kiana shopping karena Mama udah lama nggak shopping, lagi pula Mama nggak punya teman jadi Mama bersyukur ada Kiana yang menemani Mama."
Ya, Reyhan persis sekali seperti mamanya, ternyata sifat yang tidak mau mengakui perasaan itu menurun dari mamanya.
"Tapi Reyhan senang karena Mama dan Kiana menjadi dekat," ungkap Reyhan.
Ya, walaupun mamanya tidak mengakui kalau ia telah memberikan restu untuk Reyhan dan Kiana tapi Reyhan tahu isi hati mamanya dan ia juga merasa sangat senang sekali ketika kekasih hati yang sangat ia cintai dekat dengan mamanya.
Sungguh, tidak ada yang lebih membahagiakan dari seorang lelaki selain melihat orang-orang yang ia sayang bisa akur dan hidup bahagia bersama-sama.
"Reyhan, menyetir aja, jangan banyak omong!"
Sang mama tidak suka diganggu kebahagiaannya oleh Reyhan karena baginya adalah suatu kebahagiaan tersendiri bisa memiliki seorang anak gadis perempuan.
"Mama, anak sendiri dilupakan gara-gara dapat calon mantu."
Ocehan dan celotehan Reyhan membuktikan kecemburuannya kepada calon istrinya yang dekat dengan mertuanya.
"Kiana, nggak usah peduliin Reyhan, Nak, kita ngobrol aja ya, Nak."
"Iya, Ma."
Kiana tersenyum, kemudian menggenggam tangan mama Reyhan, seolah ia menggenggam tangan mamanya sendiri. Ia merasa sangat senang bisa merasakan cinta dan kelembutan dari mama yang sangat ia rindukan.
"Mama, tangan Mama sangat lembut, mengingatkan Kiana pada Mama Kiana."
__ADS_1
Kiana terus mengelus-elus lembut tangan mama Reyhan dengan cinta dan kasih sayang yang teramat sangat tulus.
"Kia, Mama kamu pasti sangat bangga sekali memiliki anak seperti kamu, Nak."
Mama Reyhan menatap dengan tatapan penuh haru, tatapan yang sama dengan tatapan mama Kiana sebelum ia meninggal sehingga kerinduan kepada sang mama bisa sedikit terobati.
"Mama, Reyhan juga pasti sangat beruntung memiliki Mama seperti Mama."
Kiana mendekati mama Reyhan kemudian menggenggam tangan wanita yang kini menjadi salah satu orang yang sangat dicintai dan disayanginya itu dengan segenap hatinya.
"Sayang, jangan sedih-sedih, Mama Reyhan dan Mama kamu juga."
Mama Reyhan membelai lembut pipi Kiana sembari tersenyum manis, mengungkapkan betapa ia sangat mencintai dan menyayangi Kiana dengan setulus hatinya.
"Terima kasih, Ma."
"Iih, Mama sama Kian so sweet banget, seolah dunia milik berdua aja," oceh Reyhan yang merasa iri karena tidak dipedulikan oleh Kiana dan namanya.
Ya, tetap saja Reyhan tidak dipedulikan oleh Kiana dan mamanya.
"Ih, Mama, pake ngadu-ngadu segala," ungkap Reyhan.
Reyhan senang karena mamanya merasa terhibur dengan adanya Kiana di sisi mamanya, bahkan mamanya terlihat tersenyum bahagia dan ceria sekali bahkan sudah lama sekali Reyhan tidak melihat mamanya seceria itu.
"Reyhan, Sayang, besok harus lebih baik sama Mama ya, jangan pernah bikin Mama kesepian ya," ujar Kiana lembut dan terdengar sangat sopan sekali.
"Sayang, 'kan udah ada kamu jadi Mama tidak akan kesepian lagi."
"Udah ah, Kiana, biarin aja Reyhan nyetir, kita ngobrol lagi yuk."
Mama Reyhan meminta Kiana fokus kepadanya dan menatap hanya kepada dirinya saja.
"Iya, Ma."
__ADS_1
"Nak, mau ke salon 'kan, nemenin Mama?" tanya mama Reyhan sekali lagi.
"Iya, Ma."
Kiana memang sudah lama sekali tidak ke salon dan memanjakan dirinya karena Reyhan selalu memaksanya bekerja keras hingga lupa dengan dirinya sendiri.
"Kia, apa Reyhan menyiksamu ketika bekerja dengannya?"
Seolah paham dengan kelakuan anak semata wayang kesayangannya yang memang suka sekali memberikan banyak pekerjaan kepada Kiana.
"Iih, Mama kenapa nanyain hal-hal yang aneh-aneh sih, mana mungkin Reyhan membuat calon istri yang sangat Reyhan cintai bekerja berat."
Reyhan berusaha membela dirinya agar mamanya tidak marah kepadanya.
"Yakin kamu memperlakukan aku dengan baik, Sayang?"
Kiana sangat tahu bagaimana perlakuan Reyhan kepadanya di kantor, bahkan ia diperlakukan lebih dari seorang pembokat oleh Reyhan, mulai dari membatu pekerjaan rumah, tugas sekolah, hingga rencana kerja mereka untuk membuat perusahaan baru, tapi Kiana sadar kalau semua perlakuan Reyhan itu hanya untuk menghibur dirinya, agar keseibukan pekerjaan membuat Kiana tidak sempat lagi memikirkan masalah dan hal-hal menyedihkan yang dialaminya dalam hidupnya. Ya, cara Reyhan menghibur dan menyayangi seseorang memang sangat berbeda sekali dengan yang lainnya, tapi satu hal yang Kiana tahu kalau Reyhan sangat mencintai dan menyayanginya dengan tulus dan sepenuh hatinya.
"Ma, Reyhan sangat baik sama Kiana, ia yang membantu Kiana saat Kiana sedang sakit dan terluka, saat Kiana sedang hilang arah."
Kiana memuji calon suaminya di depan calon mama mertuanya, mengatakan hal-hal yang memang benar adanya, Kiana memang sangat bersyukur sekali memiliki seorang malaikat yang sangat baik yang dikirimkan oleh Tuhan kepadanya. Jika tidak ada Reyhan, Kiana tidak akan tahu lagi bagaimana hidupnya saat ini karena ia dalam keadaan terpuruk dan hancur berantakan saat itu.
Kiana pernah merasakan sakit dan sangat hancur sekali karena cobaan berat yang dialaminya, namun Reyhan datang dikehidupannya untuk merubah rasa sakit itu menjadi sebuah senyum kebahagiaan. Memang, Reyhan terkadang memperlakukan Kiana dengan cara yang sangat tidak manusiawi ketika di sekolah, tapi paham kalau semua yang dilakukan Reyhan karena ia sayang kepada Kiana.
"Sayang, apa kamu sangat mencintaiku?"
Hahaha ....
Reyhan tersenyum geli karena ia merasa sangat terpuji dan tersanjung ketika wanita yang sangat dicintainya itu memujinya di depan mamanya.
"Ih, PeDe banget kamu!"
Kiana sama saja dengan Reyhan, ia gengsi mengungkapkan rasa itu secara langsung padahal tidak bisa dipungkiri kalau mereka berdua saling mencintai dan menyayangi. Namun, sangat tidak ingin mengakui.
__ADS_1
"Kiana, terima kasih banyak ya, Nak," ungkap mama Reyhan sembari mengelus-elus lembut tangan Kiana.
"Mama, kenapa sih hanya peduli sama Kiana sedari tadi? Anak Mama itu Reyhan, Ma!"