Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

Ucapan lemah yang terdengar dari lisan Kiana membuat Reyhan berusaha menguatkan Kiana.


"Sayang, tunggu!"


Reyhan menghentikan langkahnya, kemudian mengambil sesuatu dari dalam saku jas berwarna hitam yang ia kenakan. Ia mengeluarkan sebuah permen coklat dan memberikannya kepada Kiana.


"Makanlah karena ini akan membuat perasaanmu menjadi lebih baik, Sayang."


Kiana mengambil permen coklat itu, setidaknya untuk membuat perasaannya menjadi sedikit lebih tenang sepeti yang dikatakan oleh Reyhan.


Reyhan kemudian menggandeng tangan Kiana untuk masuk ke dalam rumahnya dengan gagah perkasa, menemui kedua orang tuanya dengan rasa percaya diri yang terlihat sangat tinggi sekali.


"Pa, Ma, Reyhan datang bersama Kiana."


Itu adalah kata-kata pertama yang Reyhan lontarkan ketika ia membawaku menemui kedua orang tuanya yang saat ini tengah duduk di ruang tamu untuk menunggu kedatangan kami.


"Kalian sudah datang?"


Papa Reyhan menatap tajam ke arahku dan Reyhan terutama kepada tangan kami yang saat ini saling menggenggam.


Reyhan kemudian mengajakku menyalami dan mencium tangan kedua orang tuanya, memperlihatkan kepada keduanya kalau kami bukan anak pembangkang, kami masih akan tetap berbakti kepada  kedua orang tua meskipun kami telah menikah nantinya.


"Silahkan duduk!"


Papa Reyhan mepersilahkan kami duduk dengan nada suara datar, sementara mama Reyhan hanya diam menatap kami dengan tatapan yang penuh dengan sejuta tanda tanya.


"Reyhan, apakah gadis ini yang bernama Kiana?"


"Iya, Pa, ini adalah Kiana, gadis yang sangat Reyhan sayangi dan cintai," ungkap Reyhan dengan sangat yakin dengan tangan yang tidak pernah melepaskan ku bareng sedikitpun.

__ADS_1


"Apakah gadis ini yang membuatmu melawan orang tua dan memutuskan pertunangannya dengan Wilona?"


Kata-kata lembut yang keluar dari lisan papa Reyhan terdengar seperti sebuah ancaman untuk Kiana, karena ucapan itu terdengar sebagai amarah atas apa yang telah Reyhan lakukan kepada Wilona.


"Kiana, apakah itu namamu?"


Kini giliran mama Reyhan yang mengintrogasi Kiana hingga membuat Kiana semakin gugup.


"Benar, Tante, nama saya Kiana," ungkap Kiana lembut dan sopan.


"Apa yang membuatmu ingin menikah dengan Reyhan? Apakah kamu tidak sadar jika keegoisan hatimu membuat hati dan perasaan wanita lain sakit dan terluka? Apakah kamu tidak memiliki hati nurani sebagai seorang wanita? Apakah Mamamu tidak mengajarimu tentang perasaan yang tidak layak untuk kamu miliki?"


Kata-kata yang keluar dari lisan mama Reyhan membuat hati Kiana merasa sangat sakit dan iba, ia tahu dan memang sudah memersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk dan hinaan seperti ini, tapi ia tidak menyangka kalau rasanya akan sesakit ini.


Ingin sekali Kiana menangis dan mengeluarkan air matanya sekarang karena dadanya terasa teramat sangat sesak, karena ia merasa tidak sunggup direndahkan dan tidak diterima oleh keluarga Reyhan, tapi Reyhan menggenggam tangan Kiana seolah memberi isyarat kalau semua akan baik-baik saja.


Reyhan tidak ingin wanita yang sangat dicintai dan disayanginya merasa bersedih dan iba hatinya karena kedua orang tuanya tidak menyukainya.


Reyhan sangat yakin kalau kedua orang tuanya mengenal Kiana pasti beliau akan suka dengan sikap baik dan kesempurnaah hati yang dimiliki Kiana. Ya, Kiana tidak hanya cantik wajahnya tapi juga cantik hatinya, jadi siapapun yang akan mengenal Kiana pasti akan selalu menyukai dan menyayangi Kiana nantinya.


"Reyhan, apakah kamu tidak tahu malu? Kenapa kamu mengejar wanita lain saat kamu telah memiliki tunangan?"


Papa Reyhan merasa malu dan jatuh harga dirinya ketika ia mengetahui kalau bukan Kianalah yang menggoda Reyhan tapi Reyhanlah yang mengejar-ngejar cinta Kiana.


"Pa, Reyhan dan Wilona belum bertunangan, kami hanya dijodohkan!"


"Ya apapun itu namanya tetap saja kalian berdua akan menikah nantinya," ujar sang papa.


"Pa, bukankah Papa mengatakan kalau kita mencintai seseorang maka kita harus mengejarnya? Bukanlah lelaki sejati adalah ia yang memperjuangkan cintanya?"

__ADS_1


Reyhan menyakinkan papanya kalau cintanya untuk Kiana tulus dan suci, ia juga mengatakan kalau Kiana adalah gadis yang sangat pantas sekali untuk diperjuangkan.


"Om, Tante, saya minta maaf jika saya membuat Reyhan jatuh cinta pada saya padahal saya tidak pernah bersikap baik kepadanya, saya juga berusaha untuk tidak jatuh cinta kepada Reyhan, tapi semakin saya mencoba membohongi perasaan saya maka saya semakin mencintai Reyhan."


Dengan keberanian, Kiana mengungkapkan isi hatinya di depan keluarga Reyhan, namun nada suaranya tetap lembut dan tetap menghormati kedua orang tua Reyhan. Ya, Kiana adalah gadis yang sangat berkelas dengan kehormatan yang sangat tinggi.


"Kiana, kenapa kamu membuat anak saya mengejar-ngejar mu?"


Seolah tidak terima karena mendengar putra semata wayanglah yang mengejar-ngejar Tania, mama Reyhan mengorek semua yang telah terjadi.


"Ma, Kiana adalah gadis yang sangat baik, jadi Reyhan jatuh cinta kepada Kiana karena kebaikan hatinya, bahkan Kiana adalah satu-satunya wanita yang Reyhan sukai, sejak zaman pertama kali masuk SMA sampai sekarang."


Reyhan bersikap layaknya seorang lelaki dewasa yang sangat mencintai dan menyayangi kekasihnya, ia melakukan apa saja demi membela Kiana dan ia tidak membuat Kiana merasa terpojokkan oleh kedua orang tuanya.


"Nak, apa-apaan kamu? Kenapa kamu bisa sebucin ini sama wanita? Kenapa kamu hanya setia pada satu wanita saja?"


Papa Reyhan juga merasa tidak terima karena putra kesayangannya seolah gila dengan satu cinta yaitu Kiana.


Kedua orang tua Reyhan mengakui kalau Kiana adalah gadis yang sangat cantik, bahkan perangai dan sopan santunnya patut sekali diacungi jempol, ia ramah dan terlihat sangat baik sekali, namun kedua orang tua Reyhan merasa tidak enak kepada sahabat, rekan bisnis dan mantan calon besannya yang sangat membantu bisnisnya selama ini, apalagi Wilona adalah gadis yang sangat mencintai dan menyayangi Reyhan dengan segenap hati dan perasaannya.


"Ma, Pa, hanya Kiana seorang gadis yang ada di hati Reyhan dan tidak ada gadis lain lagi yang ingin Reyhan nikahi selain Kiana."


Reyhan menggenggam tangan Kiana di depan kedua orang tuanya, memperlihatkan kepada keduanya kalau ia sangat serius dengan gadis cantik bernama Kiana itu. Sementara kedua orang tua Reyhan hanya menatap sinis kepada anaknya yang sangat tergila-gila akan cinta.


Kiana, gadis cantik itu hanya diam membisu, ia mematung dan tidak bisa melakukan apapun selain menunduk dan mengikuti apapun yang dilakukan oleh Reyhan.


Kiana sangat percaya kepada Reyhan, ia yakin kalau Reyhan akan memperjuangkan cinta mereka.


"Pa, Ma, bukankah cinta itu tidak bisa dipaksakan?"

__ADS_1


__ADS_2