Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Kawin Lari?


__ADS_3

"Reyhan apaan sih, jangan becanda!'


Kiana mulai marah, ia tidak suka dengan sikap semena-mena yang melakukan sesuatu sesuka hatinya.


"Kiana, aku harus kamu diam dan menurut saja! Aku ini adalah atasanmu dan kamu sudah menandatangani perjanjian akan melakukan apapun yang aku perintahkan kepadamu," ucap Reyhan lagi.


Kiana tidak habis pikir melihat tingkah egois dan kekanak-kanakan Reyhan, bagaimana mungkin ia menggunakan ancaman perjanjian kerja untuk menculik Tania secara paksa.


"Rey, turunkan aku! Ibu sedang sakit," ucap Kiana kali ini dengan nada suara tegas.


Kiana selama ini selalu mengalah dan sabar ketika Reyhan bersikap semena-mena kepadanya, tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk diperlakukan seperti seorang pembantu karena ibunya saat ini sedang sakit dan ia harus ada di samping ibunya.


"Kiana, bukannya sudah kukatakan kalau kita akan kawin lari!"


Reyhan menjatuhkan tubuh Kiana di mobilnya, kemudian segera mengambil sesuatu di bagasi.


"Kawin lari? Apa maksud lo, Rey?"


Kiana tidak bisa menerima dan menebak jalan pikiran Reyhan, ia seperti lelaki egois yang selalu memaksakan kehendaknya tanpa peduli dengan hati dan perasaan orang lain.


"Jangan protes!"


Reyhan kembali datang dengan membawa kotak P3K.


"Kiana, maaf!"


Reyhan menyentuh kaki Kiana, Celana kulot yang ia kenakan sobek dibagian lututnya.


Kaki Kiana terluka dan berdarah, namun ia sama sekali tidak merasakan sakit karena ia memikirkan hal yang lebih sakit dari pada kakinya yaitu kesehatan ibunya.


"Kiana, jangan membandel! Aku harus mengobati kakimu terlebih dahulu. Sebagai Bos, aku bertanggung jawab atas kesehatan sekretarisku. Bagaimana kamu akan mengurus orang lain, kamu saja tidak bisa mengurus dirimu sendiri," ucap Reyhan sembari membersihkan luka Kiana.


"Aw, sakit!"


Kiana mengaduh karena alkohol yang digunakan untuk membersihkan lukanya membuat kakinya terasa sangat perih dan sakit sekali.


"Sekarang baru terasa sakit 'kan, Jelek?"


Reyhan mengacak-acak rambut Kiana, kebiasaan yang sedari dulu tidak pernah dihilangkannya sama sekali.

__ADS_1


"Iih, suka banget mengacak-acak rambut orang," protes Kiana.


Kiana merasa haru dengan sikap Reyhan, dibalik sifat kasarnya yang selalu membuat Kiana kesal, lelaki itu masih tetap sama, ia masih memperlakukan Kiana dengan perhatian dan cara yang berbeda.


"Rey, kamu tidak berubah, masih sama seperti dulu."


Ucapan lemah dan lembut yang keluar dari lisan Kiana tetap terdengar oleh Reyhan, hingga membuat lelaki itu punya topik baru untuk menjahili Kiana.


"Apa? Nggak denger!"


Reyhan mendekatkan wajahnya kepada Kiana, berharap gadis cantik itu akan mengulangi ucapannya.


"Apanya apa?" balas Kiana cuek.


Ya, Kiana dan Reyhan sama saja, mereka berdua cuek sekali dan sangat jaim, gengsi memuji atau mengakui perasaan masing-masing, makanya keduanya terjebak dalam friendzone yang membuat keduanya sampai hari ini masih tidak menyadari perasaan yang mereka miliki telah tumbuh sejak lama.


"Kiana, tolong jaga tubuhmu ini, karena aku tidak ingin calon istriku memiliki banyak luka di badannya," ucap Reyhan dengan keyakinan penuh.


Ya, Reyhan sepertinya punya cara tersendiri untuk menjaga dan meminta Kiana untuk tidak lagi terluka atau sakit, karena ia ingin Kiana menjadi gadis yang kuat.


"Siapa juga yang mau jadi istri lo!"


Kiana barusaha bangkit dan bergegas untuk kembali ke kamar ibunya. Namun, Reyhan menahan langkahnya.


Kiana merasakan debaran jantung Reyhan dan jantungnya sama, kencang dan tidak beraturan karena jarak mereka berdua saat ini sangat dekat.


"Awas!"


Kiana mendorong tubuh Reyhan tepat di dadanya yang bidang dengan kedua tangannya, agar ia bisa segera pergi meninggalkan lelaki tampan itu, karena Kiana tidak ingin Reyhan melihat wajahnya memerah seperti kepiting rebus karena tidak bisa menahan gejolak di hatinya saat ini.


"Kia, hati-hati, bedoalah untuk kelancarah hubungan kita," teriak Reyhan dari kejauhan.


Kiana tidak berbalik atau menatap ke arah Reyhan, ia memilih tetap melanjutkan langkah kakinya dan berharap segera sampai di kamar ibunya.


Dak ..., Dik ..., Duk ....


Begitulah bunyi jantung Kiana saat ini, dan ia juga tidak tahu bagaimana jantungnya bisa berdebar sangat kencang saat ini padahal sebelumnya ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini kepada Reyhan.


'Kiana, sadar! Hubunganmu dan Reyhan hanya sebatas sahabat dan rekan kerja. Jangan berharap lebih karena kalian berdua tidak akan bisa bersama. Reyhan telah bertunangan!'

__ADS_1


Kiana berbicara kepada dirinya sendiri, berusaha menolak apa yang saat ini ia rasakan.


Kiana melangkah cepat, berharap cepat sampai di kamar ibunya. Dan entah mengapa rasanya kamar ibu terlalu jauh bagi Kiana saat ini.


"Assalamualaik, Ibu, maaf telah menunggu lama, Reyhan mengatakan hal yang tidak-tidak kepada Kiana," ucap Kiana dengan nada suara cepat dan ngos-ngosan.


Kiana juga tidak bisa membedakan debaran yang ia rasakan di hatinya saat ini, entah karena jatuh cinta atau mungkin karena ia berjalan cepat.


"Nak, kamu kenapa? Kok pucat begitu? Apa yang dikatakan oleh Reyhan?" tanya ibu yang khawatir melihat tingkah berbeda putrinya.


"Ibu, kenapa Ibu meminta Reyhan melamar Kiana sekarang? Kan kami masih SMA."


Rasa dek-dekan ini masih tidak bisa dihindari, hingga semua pembahasan Kiana kali ini hanya menyangkut dengan Reyhan.


"Nak, jangan panik seperti itu. Ibu yakin kalau Nak Reyhan akan datang melamarmu, Nak. Lelaki itu teramat sangat mencintaimu dan kamu juga memiliki perasaan yang sama kepadanya, hanya saja kalian berdua tidak menyadari perasaan masing-masing," ucap bi Iyem dengan senyum menawan di wajah pucatnya.


"Ibu, jangan membahas yang tidak-tidak, istirahatlah, Ibu harus cepat sehat!"


Kiana merapikan selimut ibunya dan mencium kening ibunya. Namun, seketika bi Iyem menggenggam tangan Kiana dengan lembut.


Tatapan mata bi Iyem mengisyaratkan kalau ia ingin menyampaikan banyak hal kepada Kiana.


"Ibu, kenapa?"


"Nak, duduklah! Ibu mau berbicara."


Kiana menurut, ia duduk di kursi yang ada di depan ibunya, kemudian menggenggam tangan ibunya dengan hangat.


"Ibu, apa yang ingin Ibu katakan?"


Kiana menatap wajah ibunya dengan seksama, memperhatikan dengan serius sebagai bentuk penghargaan dan rasa hormat Kiana kepada ibunya.


"Nak, Ibu merasa umur Ibu sudah tidak lagi lama."


Bi Iyem berhenti sejenak, seolah memberikan jeda untuk melanjutkan kembali apa yang ingin dikatakannya.


"Nak, sama seperti Mamamu, Ibu juga sangat ingin sekali melihatmu menikah," ucap bi Iyem dengan penuh harap.


Kata-kata yang keluar dari lisan bi Iyem memang mengingatkan Kiana kepada mamanya. Ada rasa takut yang mengganggu hati dan perasaan Kiana, hingga air mata tiba-tiba jatuh membasahi pipinya.

__ADS_1


"Ibu, jangan mengatakan hal yang tidak-tidak seperti itu," ucap Kiana dengan nada suara terbata-bata dan tangis yang terisak.


"Nak, Ibu berkata serius!"


__ADS_2