
S E D I H !
K E C E W A !
S A K I T !
S E N A N G !
B A H A G I A !
Semua rasa menyatu menjadi satu dan bergejolak di hati
Terkadang, Kiana berpikir tentang rasa yang muncul di hatinya, rasa yang membuat Kiana bimbang dan ragu. Entah apa yang dirasakannya, kadang ia merasa nyaman dengan Reyhan, terkadang ia juga merasa benci dengan sikap Reyhan yang berubah-ubah kepadanya.
"Kia, apakah kita kembali ke sekolah saja?" tanya Rendi sembari menatap Kiana yang saat ini hanya menatap lurus ke depan.
"Iya," ucap Kiana spontan.
"Eh, tidak, kita ke pantai saja!" ujar Kiana mengubah kata-katanya.
"Kia, aku bertanya serius, kita ke kantor atau ke pantai?" tanya Rendi meyakinkan.
"Ren, pikiranku benar-benar sangat kacau sekarang. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ku saat ini, aku ingin menjauhi Reyhan untuk saat ini, tapi aku juga memikirkannya, bagaimana pekerjaan dan tugas sekolah Reyhan tanpa aku. Reyhan tidak bisa mengendalikan emosinya tanpa aku, tidak akan ada pekerjaan dan tugas sekolahnya yang selesai jika aku tidak ada di sana."
Kiana akhirnya mengungkapkan semua yang terasa di hatinya. Rasa yang tersimpan di dalam hatinya selama ini akhirnya terluapkan juga.
"Kia, kamu menyukai Reyhan dan Reyhan juga mencintaimu. Kalian berdua saling mencintai, tapi kalian berdua tidak menyadari rasa itu."
Kata-kata yang keluar dari mulut Rendi
membuat Kiana terdiam untuk sesaat.
"Aku tidak menyukai Reyhan!" bantah Kiana.
Mulut Kiana membantah kalau ia tidak menyukai Reyhan, tapi hati Kiana meragukannya. Jika ia mengatakan mencintai, hatinya diam. Jika ia mengatakan kalau ia tidak mencintai hatinya juga ragu.
__ADS_1
D I L E M A !
Kiana sendiri tidak tahu perasaan apa yang saat ini dirasakan hatinya.
"Kia, kita tidak usah ke pantai karena hatimu pasti akan ke kantor. Bagaimana kalau sekarang kita makan saja dulu, kamu belum makan 'kan?" tebak Rendi.
Rendi sangat tahu kebiasaan Kiana ketika sedang bersedih, ia akan memakan apa saja yang ada di depannya. Membayangkan makanan yang dimakannya itu sebagai orang yang membuatnya kesal, hingga perasaannya menjadi lebih tenang dan damai.
"Kia, bagaimana kalau kita makan di pinggir-pinggir jalan? Sudah lama sekali rasanya kita tidak makan di sana," usul Rendi.
Tidak ada yang bisa dilakukan Kiana selain mengangguk pertanda kalau ia menyetujui usul Rendi.
Kiana juga menyadari, makan jauh lebih baik untuk saat ini dari pada ke pantai.
'Reyhan, kenapa kamu selalu saja menyakiti hatiku dengan kehadiran cewek yang bernama Wilona itu? Kenapa kamu mau sama wanita manja dan jahat seperti dia?' gumam Kiana di dalam hati kesal.
"Kia, aku sangat mengenalmu dan aku tahu kalau saat ini hatimu sedang mengutuk Reyhan 'kan?" tebak Rendi.
Kiana menatap Rendi, ia heran kenapa lelaki yang berada di depannya itu selalu bisa membaca hatinya. Bahkan, sejak dahulu semasa mereka berdua berpacaran, Kiana tidak pernah bisa berbohong dari Rendi karena lelaki itu pasti akan paham dan bisa membedakan gerak gerik dan mimik wajah Kiana.
Rendi tersenyum dengan sangat lepas sembari mengacak-acak rambut Kiana, gadis manja yang banyak tingkahnya. Gadis yang selalu membuat Rendi ingin membahagiakannya.
"Rendi, jangan! Rambutku rusak!" pekik Kiana.
Sebagai seorang wanita, rambut adalah bagian terpenting yang merupakan mahkota wanita, jadi tidak ada wanita yang rela rambutnya di acak-acak termasuk Kiana. Dan laki-laki, adalah makhluk yang sangat suka sekali mengacak-acak rambut orang yang disayanginya. Semakin seorang wanita marah maka pria akan tersenyum-senyum geli melihatnya.
"Kia, kamu cantik!" puji Rendi menatap mata Kiana yang saat ini tengah kesal sembari merapikan rambutnya yang berantakan, hingga tidak mempedulikan Rendi yang memujinya.
"Kia, apa kita makan di tempat biasa kita datangi?" ujar Rendi yang merasa tidak diacuhkan oleh Kiana.
"Baiklah."
Hanya itu kata-kata singkat yang keluar dari lisan Kiana kalau ia setuju dengan Rendi.
Ya, begitulah Kiana, tingkahnya selalu dirindukan, bahkan sikapnya yang manis bisa menghibur orang-orang terdekatnya. Jika seseorang telah mengenal Kiana, maka ia tidak akan dengan mudahnya bisa melupakan Kiana.
__ADS_1
"Kia, setidaknya nikmatilah waktumu untuk memikirkan dirimu sendiri, jangan pikirkan Reyhan lagi!"
Rendi sangat tidak suka ketika melihat Kiana lebih memilih memikirkan orang lain dari pada dirinya sendiri.
"Ren, aku tidak tahu dan aku juga tidak ingin memikirkan Reyhan, tapi ia selalu muncul di benakku," ucap Kiana lirih.
"Kia, semoga kalian berdua saling menyadari perasaan masing-masing, karena masalah yang kalian hadapi saat ini hanya kalian berdua yang bisa mengobatinya," ujar Rendi menghibur dan meyakinkan Kiana.
Percakapan di motor akhirnya berakhir ketika Kiana dan Rendi sampai di sebuah warung kecil pinggir jalan yang menjual bubur ayam kesukaan Kiana dulu, tempat yang menjadi favorit Kiana dan Rendi ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih.
"Ren, sudah lama banget kita nggak ke sini, aku kangen banget makan bubur ayam di sini," ungkap Kiana bersemangat.
Terlihat jelas di wajah Kiana keceriaan, seolah ia tidak memiliki masalah apapun sama sekali. Hati yang terluka dan kecewa saat ini bisa disembunyikan dengan kebahagian dan nostalgia mengenang masa-masa saat Kiana dan Rendi menjadi pasangan kekasih.
"Kia, aku juga sangat senang bisa ke sini denganmu lagi," ucap Rendi dengan memberikan senyuman terbaiknya.
Ya, setelah Kiana dan Rendi putus, Rendi masih tetap mengunjungi warung pinggir jalan ini sendirian ketika ia merindukan Tania, sehingga sedikit kerinduannya bisa terlepaskan dengan mengenang memori saat mereka masih bersama.
"Ren, kamu masih sering ke sini?" tanya Kiana penasaran.
Rendi hanya diam dan tidak menjawab apa-apa, dan diamnya Rendi bisa diartikan oleh Kiana.
"Kia, apa boleh aku membantumu turun dari motor?"
Dengan sopan, Rendi meminta izin untuk menggendong Kiana, karena Rendi tidak ingin Tania kesakitan ketika harus berjalan sendiri.
Kiana mengangguk pertanda setuju, karena Tania merasa saat ini Rendi bersikap tulus dengan niat baik untuk membantunya.
Kiana melingkahkan kedua tangannya di leher Rendi dan menatap lelaki tampan yang saat ini hanya menatap lurus ke depan.
Kiana merasakan debaran jantung Rendi yang masih sama seperti mereka masih menjadi kekasih dahulu.
'Ren, ternyata kamu tidak berubah, kamu masih tetap baik dan tulus. Ya, mungkin saat itu kamu khilaf makanya kamu memutuskan untuk meninggalkanku. Maaf, karena selama beberapa tahun terakhir aku salah menilai mu,' ujar Kiana di dalam hati.
Sungguh, Kiana merasa haru dan memuji Rendi yang tetap bersikap baik kepadanya meski selama beberapa bulan terakhir tidak pernah lagi diacuhkan oleh Kiana.
__ADS_1
"Kia, jangan menatapku, aku mungkin saja tidak akan melepaskanmu!"