
Reyhan merasa malu dengan sikap Wilona yang tidak sopan sama sekali.
"Maafkan saya, Bi, Kia." Reyhan menarik tangan Wilona keluar kamar rawat inap, terlihat sangat kasar sekali.
"Ibu ...," isak tagis Kiana menggambarkan betapa hatinya saat ini benar-benar sangat hancur dan sakit.
"Iya, Nak. Tidak apa-apa, ada Ibu disini, semua akan baik-baik saja. Sabar, Sayang." Pelukan bi Iyem terasa sangat hangat dan benar-benar menenangkan. Kiana merasakan kenyamanan dan perlahan hatinya menjadi terasa damai dan lega.
"Kia sayang banget sama Ibu. Hanya ibu yang Kia miliki sekarang dan Kia nggak mau kehilangan Ibu." Kiana memeluk bi Iyem dengan semakin erat.
Kiana merasa sangat bersyukur bisa memiliku seseorang yang sudah kuanggap seperti ibu sendiri.
"Ibu, apakah Ibu sayang sama Kiana?"
"Jangan ditanya lagi, Nak, tentu saja Ibu sayang sama anaknya," ujar bi Iyem dengan senyum yang menawan.
"Terima kasih, Bu."
Kiana langsung memeluk bi Iyem dengan sangat erat.
"Allah punya rencana yang lebih indah untuk Nak Kia. Tuan Reyhan bukan lelaki yang tepat untukmu, Nak. Kelak akan ada orang yang akan dikirimkan Allah untuk menggantikan posisi Nak Reyhan di hatimu." Bi Iyem menghapus air matak Kiana, kemudian membelai lembut rambut Kiana yang terurai panjang
"Ya udah, jangan nangis-nangis lagi ya, Sayang. Ibu nggak mau air mata membasahi wajah cantik anak Ibu. Anak ibu adalah gadis tercantik dengan senyum termanis. Ibu yakin, Allah akan mengirimkan seorang malaikat yang akan menghapus air matamu, Nak." Bi Iyem memang malaikat tanpa sayap yang selalu memberikan energi positif untuk Kiana.
"Aamiin ya Allah," ucap Kiana dengan khusuk dan penuh harap.
"Makan dulu yuk, Nak. Setelah itu minum obat dan istirahat ya, Sayang." Bujuk bi Iyem.
"Sebentar lagi ya, Bu. Kia belum lapar."
"Sekarang aja ya, Nak. Biar ibu suapin." Bujuk bi Iyem yang tidak bisa lagi ditolak karena suapan bi Iyem adalah obat terbaik untuk Kiana saat ini.
__ADS_1
"Tapi Ibu juga makan ya, Bu."
"Iya, Sayang." Senyum bi Iyem terlihat tegar namun Kiana teramat sangat tahu, saat ini hati beliau masih sangat terluka karena sakit Kiana juga menjadi beban pikiran beliau.
Kiana dan bi Iyem makan bersama sembari bercengkrama. Bi Iyem memperlakukan Kiana layaknya putri kecilnya dan Kiana juga bertingkah seperti anak-anak yang belum beranjak dewasa. Bi Iyem saat ini adalah pelita kala gelap gulita, beliau adalah malaikat tak bersayap yang dikirimkan Tuhan untuk menghapus semua gundah dan air mata Kiana di dunia menggantikan mama Windari yang sudah ada di surga. Bagi Kiana saat ini bi Iyem adalah segalanya, Kiana akan bertahan karena ada bi Iyem disisinya dan Kiana percaya Allah punya rencana indah dan terbaik untuknya.
"Ibu, terima kasih telah menjadi Ibunya Kiana," ujar Kiana dengan senyum menawan.
***
Sementara itu, Reyhan menarik tangan Wilona secara paksa menuju taman rumah sakit. Reyhan merasa sangat malu melihat tingkah Wilona yang sangat tidak sopan dan tidak memiliki rasa malu itu.
"Sayang, lepasin tangan aku. Aku kesakitan," ucap Wilona merengek manja kepada Reyhan.
"Sakit? Kamu bilang sakit? Sakit mana sama Tania sekarang, ha?" Reyhan memaki Wilona dengan raut wajah marah dan emosi.
"Kiana lagi, Kiana lagi, aku muak mendengar nama itu," bentak Wilona sembari memberontak melepaskan genggaman tangan Reyhan yang membuat tangannya memerah dan kesakitan.
"Kenapa kamu selalu saja membela Kiana, bukannya aku ini tunangan kamu?"
"Iya, kamu memang tunanganku. Tapi, Kiana adalah wanita yang sangat aku cintai dan aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti Kiana, termasuk kamu!"
"Oh, jadi kamu masih sangat mencintai Kiana?" Mata Wilona terbelalak dan memerah.
"Tentu saja aku sangat mencintai Kiana, sampai hari ini belum ada yang bisa menggantikan posisinya di hatiku, termasuk kamu, paham!"
"Lalu kenapa setiap hari kamu berkata kalau kamu mencintaiku?" hati Wilona semakin meledak.
"Apa susahnya mengucapkan aku mencintaimu," jawab Reyhan pelan sembari tersenyum tipis.
"Jadi kenapa kamu mau menikah denganku?"
__ADS_1
"Udah deh, jangan berlagak bodoh. Kamu juga tahu alasanku menerima perjodohan kita."
"Tapi aku benar-benar mencintaimu, Sayang." Wilona mencoba memegang tangan Reyhan namun lelaki tampan itu menepisnya.
"Sayang? Mudah sekali mulutmu mengatakan sayang dan cinta, bukannya kamu juga sama sepertiku? Kamu menikah denganku karena terpaksa juga kan?" bentak Reyhan dengan mata membelalak dan merah.
"Bukan," jawab Wilona pelan sembari menundukkan wajahnya.
"Bukan? Maksudnya apaan nih?" Reyhan mulai penasaran.
"Aku benar-benar mencintaimu, jauh sebelum kita dijodohkan. Aku menyukaimu pada pandangan pertama, sejak pertama kali kita bertemu 10 tahun yang lalu."
"10 tahun yang lalu?" Reyhan semakin merasa penasaran dengan ucapan Wilona yang menurutnya mustahil. Dalam otak Reyhan, ia dan Wilona bertemu 2 tahun yang lalu dalam pertemuan bisnis keluarganya.
"Kamu ingat tidak, ketika aku bersama Mama dan Papa berkunjung ke rumahmu 10 tahun yang lalu? Bukankah waktu itu kita sama-sama tinggal di Bandung? Bukankah Papamu bekerja di perusahaan Papaku?" Wilona menjelaskan.
"Maaf, aku sudah tidak ingat dengan kejadian di masa lalu," ucap Reyhan cuek.
"Kamu bisa dengan mudahnya melupakanku, tapi tidak denganku. Aku tidak bisa melupakanmu begitu saja. Kamu cinta pertamaku dan aku sangat ingin memilikimu. Aku meminta Papa dan Mama menjodohkanmu denganku ketika kita telah dewasa. Papa danĀ Mamaku mengabulkan keinginanku. Kedua orang tuaku mengabarkan niat baiknya kepada kedua orang tuamu dan kedua orang tuamu pun akhirnya menyetujui perjodohan kita. Hingga setahun kemudian aku bersama keluargaku pindah ke Jakarta dan kedua orang tuamu diamanatkan oleh Papa untuk menjalankan perusahaan kita di jakarta." Wilona menjelaskan secara terperinci.
"Tapi kenapa kamu tidak pernah mengatakan semua ini dari awal?"
"Karena sekali pun kamu tidak pernah melihatku." Wilona menunduk dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Maksudnya?"
"Bukankah sejak awal kamu sedikitpun tak pernah melihatku? Kamu tahu tidak, kalau aku sengaja meminta Papa untuk memindahkanku ke Jakarta agar aku bisa dekat denganmu. Ya, walaupun kita tidak satu komplek, tapi kita satu kota. Jadi aku merasa sudah cukup hanya dengan melihatmu saja, toh nanti juga kamu bakalan jadi suamiku." Wilona mengungkapkan apa yang terbersit di hati dan pikirannya.
"Wah ..., ternyata pikiranmu benar-benar sangat picik, Wilo,"
"Iya, aku picik, namun ini semua juga gara-gara kamu." Wilona mengangkat tangan kanannya dan menunjuk Reyhan dengan tangan kirinya.
__ADS_1
"Kenapa gara-gara aku?"