
Kiana berlari sekencang yang ia bisa, ia kemudian menaiki lift menuju rooftop.
Ya, rooftop adalah tempat pelarian Kiana ketika ia kesal dengan Reyhan. Tempat di mana Kiana menangis dan mengumpat Reyhan sesuka hatinya tanpa diketahui atau didengar oleh orangnya.
"Dasar lelaki buaya darat, cowok sok perhatian, sok baik, gw benci sama lo!"
Kiana selalu mengeluarkan sumpah serapah untuk Reyhan agar hatinya merasa lega dan lebih baik.
"Kiana, kamu ngapain?"
Kiana terkejut ketika mendengar suara seseorang yang dikenalnya.
"Rendi!"
Kiana salah tingkah dan malu, ia menghapus air mata yang mengalir di pipinya kemudian membalikkan badannya dari lelaki yang bernama Rendi itu.
Kiana berniat untuk kabur dan pergi menghindari Rendi, akan tetapi Rendi buru-buru menggenggam tangannya.
"Kiana, kamu mau ke mana?" ucap Rendi lembut.
"Ren, tolong lepaskan aku!" pinta Kiana sopan.
"Kenapa kamu selalu menghindar dariku, Kia?" tanya Rendi.
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan antara kita, semua telah berakhir!"
Dengan tegas Kiana berusaha menolak Rendi, ia juga berusaha untuk melepaskan tangan Rendi yang menggenggam tangannya, akan tetapi genggaman tangan itu terlalu kuat, hingga Kiana merasa kesakitan.
"Ren, tolong lepaskan aku! Hubungan kita telah berakhir!"
Kiana membentak Rendi kemudian menangis sejadi-jadinya. Seolah ingin meluapkan semua kekecewaan dan kesedihan hatinya yang teramat sangat menyayat hati saat ini.
Rendi adalah kekasih hati yang telah mencampakkan Kiana dengan sangat kejam ketika ia mengetahui orang tua Kiana bercerai dan mama Kiana yang mengalami gangguan jiwa. Ya, jangankan membantu meringankan beban Kiana, lelaki itu malah semakin melukai hati dan perasaan Kiana.
"Kia, aku minta maaf untuk semua yang terjadi antara kita di masa lalu, aku benar-benar sangat menyesal. Tapi, sebagai rekan kerja di perusahaan yang sama, apakah kita tidak bisa menjadi teman? Kamu bisa bercerita banyak hal dan berkeluh kesah apapun kepadaku."
__ADS_1
Entah apa yang merasuki Rendi, sejak sebulan terakhir, lelaki itu selalu mengganggu Kiana dengan modus menjadi teman padahal lelaki itu sengaja mengikuti Kiana karena ia menyesal telah menyia-nyiakan Kiana, gadis yang sangat baik untuk ukuran seorang wanita.
"Ren, apa sebenarnya yang kamu inginkan? Tolong! Tolong jangan pernah lagi muncul dihadapan aku lagi"
Kiana membentak Rendi, ia sungguh tidak ingin lagi berurusan dengan lelaki yang bernama Rendi. Lelaki yang membuatnya hancur berkeping-keping di saat ia benar-benar membutuhkan sandaran jiwa. Ibarat jatuh, tertimpa tangga pula, Rendi menghancurkan hati Kiana di saat keluarganya berantakan.
"Kia, aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin menjadi temanmu!"
Rendi berusaha meyakinkan Kiana tentang niatnya, namun tetap sudah tidak ada lagi ruang di hati Kiana untuk Rendi.
"Kia, maafkan aku!"
Rendi memeluk Kiana dengan paksa, ia juga terlihat memaksa Kiana untuk menerima permintaan maafnya.
"Lepaskan aku, Rendi!" Kiana berusaha melepaskan diri dari Rendi, akan tetapi tenaga Rendi jauh lebih besar dari pada Kiana.
"Woi ..., lepaskan Kiana!" terik keras Reyhan yang tiba-tiba saja datang dengan wajah memerah, penuh emosi dan kebencian.
Sebuah pukulan mendarat di punggung Rendi.
Reyhan marah besar melihat Kiana diperlakukan semena-mena oleh lelaki yang telah menyakiti hati dan perasaan Kiana.
"Reyhan, kenapa lo mukul gw dari belakang?" protes Rendi yang seolah tidak terima dengan perlakuan Reyhan kepadanya.
Rendi akhirnya melepaskan pelukannya dari Kiana, ia membalikkan badannya dan melawan Reyhan dengan emosi yang menggelora di dadanya. Sementara itu Kiana berusaha menjauh dari Rendi yang dianggapnya psikopat dan Reyhan yang dianggapnya sok malaikat.
Kiana muak dan pusing melihat perkelahian dua lelaki yang selalu saja bertengkar ketika mereka bertemu.
"Kenapa lo masih mengganggu Kiana? Bukannya lo udah buang dia kayak sampah!" ucapan yang keluar dari mulut Reyhan benar-benar membuat Rendi marah. Ia tahu ia memang salah, namun saat ini ia ingin menebus semua kesalahan di masa lalu dengan meminta maaf kepada Kiana.
"Eh, lo! Sadar nggak sih udah bikin Kiana nangis?" tunjuk kiri Rendi mendarat di kening Reyhan.
Reyhan terdiam, ia sadar kalau Kiana memang akan bersedih karena tulisan yang ditempel oleh Wilona di pintu masuk ruang kerja mereka.
"Kenapa lo diam? Lo baru sadar?" celoteh Rendi sekali lagi.
__ADS_1
Reyhan masih saja diam, yang masih berpikir bagaimana mungkin ia membuat Kiana menangis karena ia merasa tidak melakukan apa-apa kepada Kiana.
B R U K !
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah tampan Reyhan.
Reyhan geram, tidak terima atas perlakuan kasar Rendi kepadanya, hingga ia pun membalas dengan sebuah pukulan keras di pipi Rendi. Untuk beberapa detik kedua lelaki itu saling adu kekuatan hingga keduanya babak belur dan terbaring di lantai rooftop.
"Apa kalian sudah puas?" teriak Kiana dengan mata melotot penuh dengan amarah.
Kiana geram!
Kiana mendekati dua lelaki yang sama-sama babak belur itu dengan kesedihan di wajahnya.
Ia menatap wajah tampan Reyhan penuh dengan penyok, luka dan berdarah.
'Rey, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu malah bersikap kekanak-kanakan seperti ini?' ujar Kiana di dalam hati.
"Kia, maafkan aku!" Hanya itu kata-kata lemah dan bergetar yang ke luar dari mulut Reyhan seolah ia paham dengan amarah yang terpancar di wajah Kiana.
H A N C U R !
Hati Kiana merasa sangat sakit dan terluka, ingin sekali ia menangis dan meluapkan semua kesedihan dan perih di hatinya dengan air mata. Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya karena air mata itu akan membuat Reyhan kasihan kepadanya.
"Kia ...," panggil Reyhan lemah.
Namun, Kiana memilih untuk tidak menjawab Reyhan, ia memalingkan wajahnya, membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Reyhan dan Rendi di rooftop dengan hati yang berkecamuk di dadanya.
Kiana berlari sekuat yang ia bisa dengan menggunakan tangga darurat menuju ruang kerjanya. Ia sangat ingin sekali sampai di ruangan itu untuk meletakkan surat pengunduran dirinya dan membereskan semua barang-barangnya.
Namun, hal tidak terduga terjadi, Kiana kembali dihadapkan pada masalah baru yang membuatnya semakin terluka.
"Eh, lo, cewek yang nggak tahu diri, kenapa sih loe selalu dekat-dekat sama Rendra? Lo sadar nggak sih kalau Reyhan itu adalah pacar gw?" Lagi dan lagi Wilona bersikap semena-mena kepada Kiana, hingga Kiana merasa sangat kesal kepadanya.
Dengan kasar Wilona menarik rambut Kiana hingga membuat gadis cantik itu merasa kesakitan.
__ADS_1
S A B A R !
Hanya itu yang bisa dilakukan oleh Kiana saat ini, ia tidak ingin membalas apapun dan memilih untuk diam meski ia di hina dan direndahkan. Bagi Kiana, yang terpenting saat ini adalah hidup dengan mencari nafkah untuk dirinya dan mamanya dan semua hambatan yang mengganggu tidak Kiana pedulikan.