
Kiana tidak suka jika Reyhan mempertanyakan dimana keberadaan papanya, apalagi sampai ingin menemui lelaki itu. Namun, entah apa yang dipikirkan Reyhan saat ini, ia kekeh ingin tahu dimana keberadaan papa Kiana.
"Kia, izinkan aku bertemu dengan Om Haris, sebentar saja!"
Reyhan mengaitkan kedua tangannya agar Kiana bisa mengizinkannya.
"Dia tadi disana!" tunjuk Kiana ke salah satu sudut lorong dimana papanya saat ini masih duduk di lantai dengan sejuta penyesalan yang tergambar jelas di wajahnya.
"Kia, masuklah! Temuilah Ibu."
Reyhan menggenggam tangan Kiana kemudian membawanya masuk menemui ibunya, kemudian Reyhan pergi menemui Haris yang saat ini masih meneteskan air mata.
"Om, bangunlah!"
Reyhan mengulurkan tangannya kepada Haris dan membantu lelaki separuh baya itu bangkit dari tempat duduknya.
Reyhan melihat wajah Haris sangat pucat sekali seolah sedang sakit saat ini, hingga muncul rasa iba di hati Reyhan. Namun, tujuan Reyhan saat ini adalah meminta izin kepada Haris untuk menikahi Kiana jika keduanya telah tamat SMA.
Bagaimanapun juga masalah antara Kiana dengan papanya, Haris teteplah papanya dan Reyhan harus meminta restu dari Haris untuk mempersunting Kiana.
"Rey-" ungkap Haris ragu.
"Rendra, Om, saya Reyhan," jelas Reyhan dengan senyuman.
"Kamu teman SMA Kiana bukan?" ucap Haris sembari mengingat-ingat kembali memori masa lalu tentang Reyhan.
"Iya, Om, saya teman Kiana dan saya adalah calon suami Tania," ungkap Reyhan dengan keyakinan penuh.
Haris tampak terkejut dan tercengang dengan apa yang disampaikan oleh Reyhan namun satu hal yang pasti, ia akhirnya mengadari kalau putrinya sekarang bukan lagi seorang anak kecil yang suka merengek dan manja kepadanya melainkan seorang gadis yang beranjak dewasa yang bisa protes dan yang jelas sebentar lagi akan menikah.
Ya, bagi seorang ayah, menikahkan anaknya dengan lelaki baik yang bertanggung jawab serta mencintai putrinya adalah sebuah tugas terakhir baginya, dimana tanggung jawab sebagai seorang ayah dan wali akan diserahkan kepada menantunya, tapi tetap saja tidak ada pikiran untuk menikahkan Kiana pada usia muda, apalagi Kiana adalah pewaris satu-satunya.
"Om, bangunlah! Kalau boleh Reyhan ingin berbicara sama Om," ucap Reyhan lembut dengan senyum menawan yang ia tunjukkan.
__ADS_1
Ya, akhirnya harus meraih genggaman tangan itu, kemudian berbicara dengan Reyhan tentang putrinya.
Haris sangat penasaran dengan putri yang telah ia telantarkan sehingga beliau merasa sangat bersalah sekali.
'Om, apa kita ngobrol diluar saja sembari ngopi?" Ajak Reyhan ramah dan sopan.
Haris mengangguk, hingga keduanya berjalan menuju sebuah coffe shop yang ada di seberang jalan rumah sakit.
Awalnya keduanyanterlihat canggung karena keduanya sudah lama tidak salin bertemu, namun Reyhan berusaha mencairkan suasana hingga hilanglah kecanggungan di antara keduanya.
"Om, bagaimana kabarnya, Om?"
Kata-kata pembuka yang Reyhan lontarkan kepada Haris.
Haris terlihat mencium aroma kopi yang ia pesan, seolah ingin mencari kedamaian dari aroma itu hingga perasaannya menjadi lebih baik dan pikirannya menjadi lebih jernih.
"Saya dalam keadaan tidak baik mungkin ini karma karena telah menelantarkan anak dan istri," ucap Haris dengan tatapan mata lurus ke depan, seolah ia mengingat kembali kesalahan yang ia perbuat di masa lalu.
"Om, mungkin ini adalah penebusan kesalahan yang Tuhan berikan untuk membersihkan kesalahan dan dosa di masa lalu, mungkin juga ini karena nikmat yang telah Tuhan berikan. Jadi, Om harus menerima semua resiko atas sesuatu yang Om lakukan, karena apa yang Om tanam itu jug yang akan Om tuai," ucap Reyhan mencoba mengingatkan.
"Rey, Om tidak tahu ternyata Mama Kiana telah meninggal."
Haris menungguk dengan wajah yang terlihat sangat sedih sekali karena ia menyesal dan mengakui kesalahan yang telah ia lakukan di masa lalu.
"Om, Kiana pasti senang karena Papanya sekarang telah berubah menjadi manusia yang lebih baik," ucap Reyhan memberikan semangat kepada Haris.
Ya, tidak ada manusia yang sempurna karena setiap manusia adalah mahkluk yang tidak akan luput dari dosa dan kesalahan. Namun, manusia yang sadar akan kesalahannya dan mau memperbaiki kesalahannya itu adalah manusia yang lebih baik.
"Kiana sudah tidak ingin lagi bertemu dengan Om, Reyhan. Kiana sangat benci sama Om."
Raut wajah sedih itu terlihat seperti sebuah penyesalan dan kerinduan yang membaur menjadi satu dimana seorang ayah sangat ingin sekali memperbaiku semua yang telah terjadi hingga mendapatkan maaf sari ayahnya.
"Om, setiap harinya Kiana sangat merindukan Papanya."
__ADS_1
"Kiana merindukan Om?"
"Iya, Om, Kiana setiap harinya merindukan Papanya tapi rindu itu bercampur dengan kecencian. Jadi saya selalu membuat Kiana sangat sibuk sehingga ia tidak punya waktu lagi untuk bersedih dan mengingat hal-hal yang melukai perasaannya."
Ya, Reyhan akhirnya jujur kepada Haris kalau ia selalu membuat Kiana fokus bekerja hingga tidak memikirkan hal lain.
"Bagaimana kehidupan Kiana sekarang, Rey?"
"Kiana hidup berkecukupan, Om. Saya memintanyan bekerja dengan saya seumur hidupnya agar ia tidak berniat kabur dan pergi jauh, saya juga memberikan jadi sesuai keinginan hatinya. Tapi sekarang Kiana telah berubah, ia tidak lagi Kiana yang akan menghabiskan uang untuk membeli barang branded, ia lebih memilih membeli sesuatu yang penting dan menabungkan uangnya," jelas Reyhan.
Percakapan antara Haris dan Reyhan membuat Haris semakin simpati dan salut kepada Reyhan. Ia juga merasa sangat yakin menitipkan anaknya untuk lelaki bertanggung jawab seperti Reyhan yang mencintai dan menyayangi putrinya dengan tulus.
"Rey, jagalah dan lindungilah Kiana, Om merestui hubungan kalian tapi bukan sekarang tapi saat kalian berdua sudah sukses," ucap Haris penih keyakinan dengan susulan senyum lega dan kebahagiaan.
"Terima kasih banyak, Om, saya berjanji akan membahagiakan Kiana dan tidak akan menyia-nyiakannya," ucap Reyhan yang juga tidak kalah bersemangat.
"Sama-sama, Rey, tapi kalau Om boleh tahu, kenapa Kiana ada di rumah sakit?"
"Ibunya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit ini, Om."
"Ibu-nya, mak-sudnya?" tanya Haris heran dan ragu.
"Bi Iyem yang dulu bekerja di rumah Om, beliau sekarang sakit dan dirawat di rumah sakit ini. Beliau sudah seperti Ibu untuk Kiana sejak ia ditinggalkan oleh Mamanya," ujar Reyhan.
Haris terlihat mengangguk-anguk, karena ia bersyukur jika masih ada orang yang menjaga putrinya, itu artinya putrinya sendirian dan tidak merasakan kesepian karena kehilangan mamanya. Ya, Kiana adalah gadis manja yang tidak suka sendirian. Ia suka ditemani dan didengarkan cerita dan keluh kesahnya.
"Rey ada satu hal lagi yang ingin Om tanyakan!" ucap Haris dengan tatapan yang kini terlihat sangat serius sekali.
"Apa, Om?"
"Apakah kamu tahu dimana Mama Kiana dimakamkan?"
"Saya tahu, Om, tapi kenapa Om ingin tahu dimana Mamanya Kiana dimakamkan?"
__ADS_1