
Reyhan ingin tahu alasan Haris ingin mengunjungi makam mama Kiana, karena Reyhan tidak ingin salah memberikan informasi hingga membuat Kiana marah besar kepadanya.
"Om sangat mencintai Mama Kiana, hanya saja Om melakukan kesalahan kepada Kiana dan Mamanya dengan berkhianat hanya untuk nafsu sesaat. Om menyesal telah mengusir anak dan istri hanya untuk seorang wanita yang tidak tahu diri sama sekali. Jadi, yang bisa Om lakukan sekarang adalah menebus semua kesalahan di masa lalu itu dengan menjadi manusia yang lebih baik. Om selama ini mencari tahu keberadaan Kiana dan Mamanya untuk meminta maaf atas apa yang telah terjadi tapi Om tidak bisa menemukan mereka hingga Om mendengar kabar dari Kiana kalau Mamanya telah tiada dan itu karena Om."
Wajah Haris terlihat sangat menyesal, matanya berkaca-kaca, tapi ia berusaha menahan air matanya dan tetap bersikap tegar karena harga dirinya sebagai seorang lelaki.
"Om, selama ini Mama Kiana dirawat di rumah sakit jiwa dan beliau membenci putrinya sendiri karena beliau mengira kalau Kiana adalah selingkuhan Om. Jadi, apakah Om bisa membayangkan bagaimana kehidupan yang Kiana hadapi?" ujar Reyhan.
Haris terlihat sangat paham, bagaimana kesedihan Kiana karena Kiana sangat dekat sekali dengan mamanya.
Hati Haris terlihat sangat hancur berantakan karena ia merasa sangat bersalah.
"Om, Om sangat paham dan tahu sekali bagaimana putri Om," ucap Reyhan.
"Sa-saya merasa sangat menyesal!"
Akhirnya air mata yang sedari tadi ditahan oleh Haris akhirnya tertumpahkan juga karena hatinya terasa sangat sesak sekali.
"Om, masalah dimana kuburun Mama, lebih baik Om tanyakan saja langsung kepada Kiana. Reyhan disini hanya meminta restu dari Om dan berharap Om mau menyerahkan putri Om untuk Reyhan nikahi," ucap Reyhan dengan keyakinan penuh seperti orang dewasa yang meminta restu menikah kepada calon mertuanya.
"Tentu saja Om sangat merestui hubungan kalian," ucap Haris dengan nada suara terbata-bata.
Reyhan kemudian mengulurkan tisu kepada Haris, agar lelaki separuh baya itu bisa menghapus air matanya.
Dengan tangan bergetar, Haris menerima tisu itu, kemudian menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
"Reyhan, dimana Kiana tinggal?"
Rasa penasaran dengan kehidupan putrinya membuat Haris ingin tahu banyak tentang kehidupan Kiana setelah diusir.
"Reyhan, apakah Kiana hidup dengan nyaman? Ia bahkan pergi tanpa membawa apa-apa," tanya Haris sekali lagi.
"Kiana sekarang hidup sederhana di kontrakan bersama Ibunya, ia hidup jauh dari kata mewah dan semua gaji yang ia terima hanya ia pergunakan untuk membiayai pengobatan Mamanya selama ini," jelas Reyhan.
"Om akan berusaha."
"Kalau begitu saya pamit, Om, saya tidak ingin membuat Kiana khawatir dan menunggu."
Reyhan berdiri dari tempat duduknya kemudian Haris juga melakukan hal yang sama. Reyhan mendekati Haris, menjabat tangan lelaki separuh baya itu kemudian Haris memeluk Reyhan dengan hangat seperti pelukan seorang ayah kepada anaknya. Haris juga berpesan kepada Reyhan untuk menjaga Kiana serta meminta Reyhan untuk mengangkat telpon jika ia menelpon untuk menanyakan keadaan Kiana.
"Om akan menelpon," ucap Haris pelan.
Bagaimanapun juga Haris akan menjadi ayah mertuanya, jadi Reyhan harus bersikap baik kepada Haris karena itu adalah tugasnya sebagai seorang anak.
Reyhan juga ingin sekali membantu hubungan Kiana dan Haris kembali membaik sebagai seorang anak dan ayah karena Kiana tidak memiliki siapa-siapa lagi.
Reyhan sangat tahu dan sangat paham kalau Kiana sangat kesepian, gadis cantik itu juga sering menangis dalam kesendiriannya, makanya Reyhan selalu membebani Kiana dengan banyaknya pekerjaan berat agar Kiana tidak sempat memikirkan kesedihan sebab kesibukan pekerjaan yang ia jalani setiap harinya.
Reyhan dan Haris berjalan berdampingan sampai keluar coffeshop kemudian keduanya berpisah arah, Reyhan kembali ke rumah sakit untuk menemui Kiana karena ia tahu kalau saat ini Kiana sedang gelisah.
Namun langkah Reyhan terhenti karena ia bertemu dengan Wilona di jalan.
__ADS_1
Hahaha ...
Wilona tertawa terbahak-bahak sembari bertepuk tangan. Dengan mulut miringnya, Wilona berjalan memutari Reyhan dengan sejuta amarah dan kebencian yang ia bawa bersamanya.
"Inikah balasan dari kebaikan yang selama gw berikan sama loe dan keluarga lo?"
Itulah kata-kata pertama yang keluar dari lisan Wilona yang tidak dibantah oleh Reyhan.
Reyhan tidak menyukai Wilona, tapi ia tetap dianggap seperti adik yang sangat ia jaga dan ia lindungi.
Reyhan tidak ingin menyakiti Wilona dan ia sedang memikirkan cara terbaik untuk melindungi gadis cantik itu, namun ia tidak tahu cara menghadapi gadis manja seperti Wilona yang emosinya naik turun dalam sekejab.
"Wilo, maaf, Mas benar-benar meminta maaf atas apa yang terjadi. Mas juga tidak bisa berbuat banyak, kalaupun kita paksakan menikah tetap saja kita tidak akan bahagia."
Reyhan tahu kalau perasaan seorang wanita sangat halus, bakhan lebih halus dari kapas dan lebih lembut dari pada salju. Ia juga sangat tahu jika seorang wanita seperti Wilona telah mencintai seorang lelaki maka ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya karena keinginan itu akan menjadi tujuan utamanya. Namun, cinta tidak bisa dipaksakan, cinta juga tidak harus memiliki dan cinta sejati itu adalah cinta dua insan manusia yang saling mencintai, bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan, dimana cinta suci itu terikat dari dua orang yang memiliki tujuan dan cita-cita yang sama dan berlayar dalam biduk rumah tangga yang sama.
"Mas, kamu hanya bisa meminta maaf tanpa memikirkan perasaanku, karena yang kamu pedulikan hanya perasaan Kiana."
Wilona berputar mengelilingi Reyhan, menatap Reyhan dengan tatapan yang penuh dengan amarah, emosi dan kebencian yang teramat sangat. Bahkan, ia terlihat ingin sekali mencakar Reyhan dengan kedua tangannya karena kebenciannya kepada Reyhan.
"Kiana, kelak kamu akan mendapatkan lelaki yang mencintai kamu apa adanya dengan segenap cinta dan kasih sayang yang ia miliki. Maaf, sekarang Mas harus pergi karena Kiana dan ibunya sedang membutuhkanku sekarang."
Reyhan ingin berjalan menghindari Wilona, ia tidak ingin mencari masalah dan gara-gara dengan gadis cantik itu, apalagi sampai melawannya karena Reyhan sangat sadar kalau ialah yang membuat Wilona hancur dan merasa tersakiti seperti itu, tapi bukan Wilona namanya jika ia membiarkan Reyhan pergi dengan mudah.
Tanpa aba-aba dan pemberitahuan, Wilona langsung memeluk Reyhan dengan pelukan yang teramat sangat heran sekali, ia juga mengungkapkan kerinduan dan betapa ia sangat mencintai Reyhan. Bahkan, Wilona mengatakan kalau ia tidak masalah mencintai sendirian karena ia percaya seiring dengan berjalannya waktu maka cinta Reyhan kepadanya akan tumbuh jika mereka berdua sama-sama memupuknya. Namun, Reyhan tidak bisa melakukan itu, karena semakin hubungan ini dilanjutkan maka semakin ia menyakiti hati dan perasaan Wilona.
__ADS_1
"Wilo, tolong lepaskan Mas!"