
Kiana berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan untuk membuka pintu kamarnya untuk menemui pelayan yang ada di rumahnya.
"Bi, siapa yang datang pagi-pagi sekali ke rumah, Bi?" tanya Kiana dengan sejuta rasa penasaran yang ia bawa bersamanya.
"Bibi juga tidak tahu, Non, Bibi tidak mengenalnya. Ia meminta Non segera menemuinya karena ada hal penting yang akan ia bicarakan dengan Non," jelas sang pelayan.
"Bi, laki-laki tau perempuan?"
Sejujurnya Kiana sangat penasaran dengan seseorang yang mencarinya karena ia tidak pernah berjanji kepada siapapun apalagi di pagi hari.
Kiana segera berjalan cepat menuju lantai satu rumahnya untuk menemui seorang tamu yang dikatakan oleh sang pelayan.
"Ren-di, ngapain kamu pagi-pagi sekali kesini?"
Dengan tatapan heran dan kaget, Kiana melihat sosok Rendi dengan pakaian rapi dan senyum menawan ada di depan rumahnya. Kiana bahkan tidak pernah meminta Rendi untuk ke rumahnya.
"Selamat pagi, Kiana, kamu terlihat sangaat cantik sekali pagi ini seperti bunga yang tengah bermekaran," ucap Rendi dengn gombalan yang membuat Kiana tidak suka.
"Rey, kenapa kamu ke rumahku sepagi ini? Tidakkah kamu paham kalau ini sangat tidak sopan sama sekali," ujarku lembut namun menanggung sejuta tanda tanya di hatinya.
"Kia, Reyhan yang memintaku untuk datang kesini dan menjemputu," ujar Rendi dengan keyakinan penuh.
"Reyhan? Kenapa ia yang menyuruhmu? Kenapa tidak ia sendiri saja yang datang menemaniku?"
Rethan bukanlah lelaki yang suka sekali mengingkari janji apalagi harus menyuruh orang lain. Ia bahkan memiliki ponsel, tidak mungkin rasanya ia tidak bisa menghubungiku.
"Kiana, aku hanya menjalankan perintah atasan!"
Ya, Rendi juga bukan orang yang ingin disuruh-suruh atau diperintah oleh orang lain kecuali orang itu adalah atasannya. Walaupun ia memiliki hubungan keluarga dengan Reyhan, tetap saja Reyhan adalah atasannya. Namun, satu hal yang membuat Tania merasa heran, kenapa Reyhan berjanji akan menjemputnya tapi malah menyuruh orang lain menjemput.
"Rey, maaf, aku tidak bisa pergi denganmu, biar aku berangkat sendirian saja!"
Kiana kekeh tidak ingin mengikuti Reyhan karena menurut Kiana semua ini tidak masuk akal. Kiana juga mencoba menghubungi Reyhan, tapi lelaki yang sangat ia cintai dan sayangi itu tidak mengangkat sama sekali.
"Rey, kenapa sih kamu tidak mengangkat teleponku?"
__ADS_1
Kiana terlihat panik sekaligus kesal dengan sikap Reyhan yang tidak biasa, tapi jam dinding telah menunjukkan pukul 07.00 pagi, jadi mau tidak mau suka tidak suka, Kiana harus ikut dengan Rendi karena Rendi membawa perintah langsung dari atasan.
Kiana dan Rendi berjalan menuju parkiran, dan mereka berdua hanya diam membisu.
Rendi membukakan pintu mobil untuk Kiana seperti seorang supir yang memperlakukan tugas kepada majikannya.
"Silahkan masuk, Kiana," ungkap Rendi ramah dan terdengar sangat sopan.
"Terima kasih, Rey," ucap Kiana lembut.
Kiana melangkahkan kakinya memasuki mobil dengan sejuta tanda tanya di hatinya. Hari ini benar-benar aneh untuknya, mulai dari Reyhan yang tiba-tiba menghilang hingga Rendi yang tiba-tiba berubah menjadi orang asing untuk Kiana, karena sikapnya yang sangat formal, tidak seperti Rendi sahabatnya.
Didalam mobil suasana juga tenang, Rendi fokus menyetir sedangkan Kiana hanya diam dalam kebisuannya. Tatapan keduanya hanya lurus kedepan menatap jalan raya, seolah mereka berdua adalah orang asing yang belum pernah mengenal sama sekali.
"Rey, ini bukan jalan ke kantor! Kita mau kemana?"
Kiana baru menyadari kalau Reyhan mengajaknya pergi ke tempat yang lokasinya berlawanan dengan kantor mereka.
"Kita harus menemui klien atas perintah Bapak Reyhan," ucap Rendi dengan formal dan terdengar sangat lembut sekali.
Kiana tidak suka dengan sikap Rendi yang canggung bahkan lelaki itu membawanya ke tempat yang tidak ia ketahui kemana tujuannya.
"Rey, bisa tolong hentikan mobilnya sekarang!"
Kiana berbicara dengan nada suara tinggi, ia tidak suka kesemena-menaan Rendi kepadanya, ia juga tidak ingin pergi kemana-mana kecuali ke kantor.
"Maaf, Kiana, tapi Bapak Reyhan meminta saya untuk mengajak kamu kesuatu tempat," ujar Rendi dengan wajah datar tanpa ekspresi atau rasa bersalah sama sekali.
"Kemana?" tanya Kiana dengan hati yang masih penuh dengan rasa khawatir dan penasaran.
"Kita sebentar lagi juga akan sampai," ungkap Rendi.
Kiana menatap sekeliling jalan, ia merasa tidak tenang dan tidak nyaman sama sekali, bahkan ia ingin sekali keluar dari mobil saat ini juga, namun ia masih menahan diri karena Rendi mengatakan kalau semua ini atas permintaan atasan. Hingga sampailah mereka di sebuah kafe yang sama sekali belum berbuka karena masih terlalu pagi.
"Rey, kita ngapain kesini? Ini belum buka!"
__ADS_1
Kiana menatap Rendi yang saat ini hanya diam tertunduk, bahkan Rendi sama sekali tidak menatap Kiana sama sekali seolah sedang menjaga pandangannya.
"Rey, kamu kenapa bersikap berbeda seperti ini sih?"
Kiana benar-benar merasa tidak nyaman sekali dengan sikap Rendi yang menurutnya sangat aneh sekali.
"Kiana, tugas saya hanya sampai disini, kamu masuklah kedalam karena ada seseorang yang harus kamu temui didalam sana berdasarkan perintah Bos," jelas Rendi.
"Apa maksudnya?"
Masih heran dengan sikap dan tingkah Rendi yang aneh, Kiana sama sekali tidak berajak dari tempat duduknya. Pandangannya terus menatap ke arah Rendi.
Rendi tidak acuh sama sekali kepada Kiana, ia membuka pintu mobil dan keluar dari mobil itu untuk membukakan pintu untuk Kiana.
"Kiana, turunlah karena kamu harus masuk sendirian kedalam kafe itu," ungkap Rendi dengan senyum tipis yang terlihat sangat manis yang keluar dari bibirnya.
"Rey apa yang sebenarnya kamu katakan?"
"Intinya kamu masuklah kedalam kafe itu maka kamu akan tahu apa yang terjadi."
Kiana akhirnya menurut, ia keluar dari mobil kemudian melangkahkan kakinya dengan pelan menuju kafe. Namun, masih ada keraguan di dalam hatinya, hingga Kiana menoleh ke belakang, memastikan kalau Rendi berkata benar.
Rendi hanya tersenyum seolah memberikan isyarat kalau Kiana tidak perlu takut karena ia hanya harus pergi kedalam tanpa kekhawatiran dan kecemasan, dan setelah memastikan Kiana memasuki kafe itu maka Rendi kembali ke mobilnya.
Sementara itu Tania tercengang melihat begitu banyak bunga yang terpajang indah dan berwarna-warni di kafe, bahkan bunga itu juga bertaburan di lantai hingga aroma kafe itu tercium sangat wangi dan harum sekali.
"Nona, silahkan masuk, saya akan mengantarkan Nona ke tempat Tuan berada, ungkap sang pelayan dengan senyum manis yang terlihat sangan sempurna sekali.
"Tuan? Maksudnya Tuan siapa?" tanya Kiana dengan sejuta rasa penasaran yang ada dalam dirinya.
"Saya hanya bertugas untuk mengantarkan Nona kesana dan Nona bisa melihat sendiri siapa yang telah menunggu Nona di sana," ungkap sang pelayan.
Kiana masih tercengang dengan apa yang terjadi, seolah tidak percaya dan merasa kalau ini hanya mimpi.
'Siapa sebenarnya orang yang akan aku temui sekarang?' ungkap Kiana di dalam hati dengan sejuta rasa penasaran yang ia bawa bersamanya.
__ADS_1