Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Menerima Takdir


__ADS_3

"Bukankah sejak lama kamu sudah jatuh cinta pada Kiana? Bukankah kamu jatuh cinta padanya pada pandangan pertama sejak kalian baru masuk SMA? Bukankah kamu tidak bisa memalingkan matamu darinya?"


"Iya, aku jatuh cinta karena keelokan rupa dan pancaran cahaya iman yang begitu bersinar dari wajah cantiknya. Kiana adalah gadis yang sempurna menurutku, bukan hanya cantik wajahnya akan tetapi juga cantik hatinya."


Reyhan tidak henti-tentinya memuji Kiana, wanita yang sudah ia kagumi sejak lama.


"Setelah semua yang aku katakan, kamu pun masih tetap saja memujanya?" Mata Wilona memerah dan berkaca-kaca.


"Lantas aku harus bagaimana? Haruskah aku menjelekkannya dihadapanmu? Tidakkah kamu tahu wanita itu yang merubahku menjadi manusia yang lebih baik?"


"Iya, aku sangat tahu itu. Kiana memang wanita berhati malaikat. Dia juga telah banyak merubah hidupmu dan memajukan perusahaanmu. Tapi maaf, perihal cinta, aku tidak bisa merelakanmu untuknya, kamu milikku selamanya."  Wilona memeluk Reyhan dengan sangat erat namun Reyhan hanya terdiam tanpa membalas pelukan Wilona. Ia hanya merasakan kehampaan tanpa cinta sama sekali.


"Tolong jangan manja seperti ini, Wilona."


Kata-kata lemah, namun itu adalah sebuah penolakan dari Reyhan untuk Kiana.


"Aku tidak mau kehilanganmu, Sayang. Pernikahan kita pasti akan tetap terjadi. Ya, walaupun kamu tidak mencintaiku, tidak masalah bagiku. Yang terpenting aku bisa bersamamu selamanya." Pelukan Wilona semakin erat.


"Tolong lepaskan aku, Wilona! Setidaknya izinkan aku untuk menemani Kiana sampai ia sembuh. Setelah itu aku berjanji akan bersamamu selamanya."


"Janji?" Wilona menatap tajam mata Reyhan yang masih dipeluknya itu.


"Iya, aku janji. Tapi kamu juga harus janji satu hal padaku."


"Apa?" ucap Reyhan serius.


"Apa, Rey?"


"Kamu harus meminta maaf kepada Kiana dan menjelaskan semuanya. Tidakkah kamu mengerti betapa hancurnya perasaan dia saat ini?"


"Iya, aku janji akan meminta maaf kepada Kiana."


"Syukurlah, aku senang mendengarnya."


"Tapi, bolehkah aku meminta satu hal lagi kepadamu?"

__ADS_1


"Mau apa lagi Wilona?"


"Setelah kita menikah, cintailah aku. Lupakanlah Kiana, karena dia bukan jodohmu. Lihatlah aku karena aku begitu tulus mencintaimu."


"Iya, aku akan berusaha secara perlahan namun jangan memaksaku karena itu akan membuatku semakin kesal kepadamu."


"Iya Sayang, aku janji akan menunggu sampai hatimu menjadi milikku seutuhnya."


"Terima kasih, Sayang, untuk pengertianmu," Reyhan membalas pelukan Wilona sembari mencium kening tunangannya itu.


"I love you, Sayang." Wilona selalu mengucapkan kata-kata itu dengan tulus dari hati terdalam.


"I love you too, Sayang." Ungkapan palsu itu juga selalu diungkapkan oleh Reyhan kepada Wilona. Walaupun palsu, Wilona tetap merasa terbuai dalam lautan cinta yang menggelora.


"Yang, kamu tungguin aku disini ya!" pinta Wilona manja.


"Iya, aku akan nungguin kamu tapi kamu harus janji jangan bikin gara-gara lagi sama Kiana, kasihan dia."


Reyhan bersikap jujur tentang perasaannya tanpa mempedulikan perasaan Wilona sama sekali.


"Iya Sayang, aku ke kamar inap Kiana dulu ya. Awas aja kalau kamu ninggalin aku, aku nangis."


"Sayang, apa salahnya sih manja sama suami sendiri, eh calon suami maksudnya, hehehe." Wilona mencubit manja Reyhan hingga membuat Reyhan tersenyum sangat lepas melihat tingkah Wilona.


"Iya Sayang, udah jalan gih!" Reyhan melambaikan tangan ke Wilona.


Reyhan menunggu Wilona dengan perasaan tak karuan, ia berjalan mondar -mandir di taman, ia teramat sangat takut Wilona berulah lagi dan ia juga masih sangat mengkhawatirkan keadaan Kiana saat ini.


Dari kejauhan Wilona melihat lelaki impiannya dengan raut wajah tak karuan. Khawatir, cemas dan gelisah membaur jadi satu.


"Sayang." Wilona memeluk Kiana dari belakang.


"Sayang, ngagetin aja kamu." Reyhan mulai merasakan ketenangan dan kedamaian dari pelukan itu, mungkin ketulusan cinta Wilona kepada Reyhan akhirnya mampu merubah hati lelaki itu.


"Sayang, lihat aku dong?" Pinta Wilona manja.

__ADS_1


"Boleh ngak kamu lepasin pelukannya, malu tahu sama orang-orang disini. Kita di taman lo ini tempat umum." Reyhan berusaha melepaskan pelukan Wilona, karena semua mata terlihat tertuju kepada mereka.


"Habis kamu kelihatan gelisah gitu, makanya aku pelukin aja, biar lebih tenang," ungkap Kiana.


"Iya, aku tahu niat kamu baik tapi jangan diulang lagi ya, kan malu sama orang-orang."


"Iya, siap bos. Btw, kenapa kamu terlihat gelisah gitu, Sayang?" tanya Wilona lembut. Ya, sebagai seorang gadis, Wilona juga memiliki sifat lembut.


"Kamu kok lama? Aku panik nungguin kamu." Reyhan berbalik menghadap Wilona.


"Aduh Sayang, aku baru pergi setengah jam, tapi kok udah panik gitu? takut kehilangan aku ya?"


"Iya bukannya gitu, ih kamu becanda aja. Aku serius nih." Reyhan mulai bertingkah seperti anak kecil. Entah sejak kapan Reyhan menjadi semanja itu kepada Wilona, sepertinya Reyhan mulai merasakan kenyamanan bersama Wilona.


"Duduk dulu yuk, biar aku ceritain. Jangan ngambek gitu dong Sayang, lucu tahu. Nanti akunya makin cinta sama kamu."


"Apan sih." Reyhan berjalan duluan menuju salah satu caffe yang letaknya tidak jauh dari taman rumah sakit sembari tersenyum. Ia merasa terhibur dengan keberadaan Wilona disini bersamanya, seolah sejuta beban pikirannya hilang seketika.


"Sayang, tungguin dong." Wilonaa menyusul Reyhan yang berjalan cepat.


"Oh iya, kamu mau makan apa?" tanya Reyhan sinis tapi sebenarnya hatinya mulai merasakan kedamaian ketika bersama Wilona.


"Terserah kamu saja, asalkan sama kamu makanan apapun pasti rasanya enak."


"Hahaha, bisa aja kamu." Reyhan tertawa dengan sangat lepas.


"Aku senang banget lihat kamu tertawa lepas seperti itu dan yang paling membuat aku senang kamu tertawa karena aku." Wilona menatap mata Reyhan dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Makasih ya Sayang, makasih karena kamu udah begitu sabar ngadepin aku, udah sayang sama aku, udah cinta sama aku dan hari ini kamu udah menghiburku dan membuat aku tertawa." Reyhan juga menatap mata Wilona dengan perasaan yang berbeda kali ini.


"Aku bahagia." Air mata Wilona tiba-tiba saja menetes membasahi pipinya.


"Ajari aku mencintaimu." Tangan Reyhan mendarat di pipi Wilona, ia menghapus butiran-butiran kristal bening yang bercucuran di pipi tunangannya itu.


"Apa?" ungkap Wilona Penasaran.

__ADS_1


"Terima Kasih, Sayang. Aku tidak pernah salah dalam memilih cinta." Wilona tersenyum bahagia, ia merasa seolah rasa yang 10 tahun terakhir ditahannya mulai terbalaskan.


"O Iya, tadi ngapain aja sama Kiana?" tanya Reyhan mencairkan suasana yang penuh harus biru itu.


__ADS_2