
Ada rasa senang dan bahagia yang tergambar dari wajah Kiana dan keluarganya karena ini adalah makan malam terbaik setelah sekian lama. Ia senang karena bisa menikmati makan malam lagi bersama papanya walaupun tanpa mamanya.
"Pa, terima kasih banyak ya."
Kiana tersenyum kepada papanya, dan terlihat sekali kalau tidak ada lagi dendam dan amarah di hati keduanya, mereka kembali menjadi ayah dan anak yang saling mencintai dan menyayangi karena Allah.
"Nak, andai ada Mama disini, pasti kebahagiaan kita akan lengkap dan sempurna," ungkap sang papa. Ya, ternyata sang papa benar-benar sangat merindukan mama. Rasa rindu yang bercampur dengan rasa bersalah membuat dada terasa teramat sangat sakit sekali karena kerinduan itu harus dipendam hingga menyesakkan dada, karena seseorang yang dirindukan tidak lagi bisa ditemui di dunia.
Suasana makan malam itu penuh dengan kerinduan mendalam kepada sang mama, tapi Kiana yakin kalau Mamanya pasti mendengar dan melihat kalau saat ini keluarga mereka kembali harmonis dan bahagia seperti dulu, seperti beberapa tahun yang lalu sejak sang mama masih ada.
"Nak Reyhan terima kasih banyak karena kamu telah menjaga dan mengantikan tugas Papa untuk menjaga Kiana, dari beberapa tahun yang lalu sampai setelah nanti kalian menikah dan menjadi keluarga bahagia suatu hari nanti, tolong jangan pernah menyakiti hati Kiana dan bahagiakanlah ia seperti seorang lelaki sejati, Nak."
Papa Haris menatap Reyhan, menyampaikan harapan dan keinginan seorang ayah untuk calon menantu yang sangat dicintainya itu. Ia berharap putrinya akan bahagia dan tidak lagi merasakan kesedihan lagi setelah ini di dalam hidupnya karena bagi seorang ayah kebahagiaan putrinya adalah yang paling utama. Beliau tidak akan rela ada seorang yang menyakiti putri kesayangannya.
"Papa, jangan khawatir, Reyhan berjanji akan menjaga dan melindungi Kiana dan akan berusaha membahagiakan Kiana sampai akhir hayat memisahkan kami kelak. Hiduplah yang lama, Pa, agar Papa bisa melihat kami bahagia, memiliki anak-anak yang akan menemani Papa setiap hari," ujar Reyhan seperti orang dewasa padahal ia masih delapan belas tahun.
Reyhan memang pandai sekali mebuat suasana menjadi haru, bahkan Kania dan sang Papa merasa tidak lagi bisa membendung air mata mereka. Kristal-kristal bening itu akhirnya jatuh membasahi pipi keduanya karena mereka bersyukur memiliki seorang lelaki yang sangat baik seperti Reyhan dalam kehidupan mereka.
"Sayang, terima kasih banyak."
Kiana menggenggam tangan Reyhan yang duduk di sampingnya, tersenyum dan menangis dalam wajtu bersamaan. Mangungkapkan rasa cinta dan rasa syukurnya atas nikmat yang telah Tuhan berikan kepadanya.
"Sayang, jangan menangis! Kamu lebih cantik dan terlihat seperti seorag bidadari ketika kamu sedang tersenyum, bukankah begitu, Pa?"
__ADS_1
Reyhan menatap sang papa, dan beliau tersenyum dan mengangguk, setuju dengan apa yang disampaikan oleh Reyhan.
Sebagai seorang lelaki sejati, tidak ada seorang pun lelaki yang menginginkan air mata jatuh membasahi pipi wanita yang disayanginya.
"Jadi selama ini aku tidak cantik, begitu maksudnya?"
Kiana memanyunkan bibirnya dan memasang wajah masam karena seorang wanita tidak suka jika seseorang yang disayanginya memanggilnya jelek. Bagi wanita, pujian cantik akan membuatnya melambung ke udara, dengan kebahagiaan yang tidak terhingga.
"Cantik kok, Sayang, cuma lebih cantik kalau lagi tersenyum," ucap Reyhan menggoda.
"Makanya jangan pernah menangis lagi ya, Nak. Papa sudah tidak ingin lagi ada air mata yang jatuh membasahi pipimu. Papa hanya ingin anak Papa tersenyum bahagia," ucap sang papa.
"Udah ah, Kiana ingin makan saja, Kiana lapar!"
Kiana menyantap stek yang ada di depannya, rasanya sudah lama sekali ia tidak makan seenak ini di rumahnya, rumah yang setiap hari ia rindukan dan rumah yang setiap hari selalu ada dala hatinya.
"Pa, apakah Kiana dan Reyhan masih boleh bekerjasama sembari kuliah nanti?" tanya Kiana serius karena saat ini ia membutuhkan izin papanya untuk melakukan sesuatu.
"Nak, walaupun Papa sangat ingin kamu mengurus perusahaan kita, tapi sekarang Papa masih hidup dan sehat, jadi kamu tidak usah bekerja dengan Reyhan, fokuslah belajar, nanti setelah kalian menikah kalian berdua bisa mengurus perusahaan Papa dan juga perusahaan Papa Reyhan secara bersama-sama."
"Tapi Kiana ingin belajar, Pa, tolong izinin Kiana, Pa," pinta Kiana dengan nada suara manjanya, hingga sang papa tidak akan bisa menolak.
"Ya sudah, asalkan tidak menganggu kuliah kalian berdua."
__ADS_1
Setelah masalah yang dihadapi selama ini, akhirnya sang papa memberikan kebebasan kepada sang putri untuk bisa bekerja dimanapun yang ia inginkan sembari tidak mengganggu kuliah, apalagi ia bekerja dengan calon suaminya, jadi sang papa tidak perlu lagi khawatir.
Bekerja di perusahaan papa ataupun perusahaan Reyhan sama-sama akan memberikan pengalaman kerja untuk Kiana dalam menjalankan bisnis keluarga kelak. Ya, sebagai seorang pewaris tunggal dari perusahaan yang dimiliki oleh sang papa, Kiana tidak akan bisa mengelak lagi untuk bisa melanjutkan usaha yang dimiliki oleh orang tuanya, sama halnya dengan Reyhan yang juga akan mewarisi perusahaan papanya.
"Terima kasih banyak, Pa,'" ucap Reyhan dengan senyum yang sangat menawan sekali.
"Tapi ada syaratnya, Nak," ungkap sang papa.
"Apa syaratnya, Pa?" tanya Kiana dan Reyhan serentak.
"Reyhan, kamu jangan lagi menyiksa anak Papa dan memperlakukannya seperti seorang Babu, karena Papa tidak ingin kamu menyakiti anak Papa!"
Sebuah ultimatum yang keluar dari lisan seorang papa untuk atasan sang anak yang tidak lain adalah calon menantunya.
"Pa, apa selama ini Papa memperhatikan dan mencari tahu keberadaan Kiana?" tanya Kiana heran.
Kiana tidak menyangka sang papa tahu kalau ia sering disiksa dan diperlakukan secara tidak baik oleh Reyhan, karena selama ini ia bahkan tidak pernah menceritakan apapun kepada papanya.
"Reyhan yang mengaku dan meminta maaf sendiri kepada Papa, katanya ia meminta maaf karena sering menyiksa anak gadis kesayangan Papa," jelas sang papa sembari menatap ke arah Reyhan.
Reyhan terlihat malu, ia menunduk dan tidak berani menatap Kiana dan sang papa, karena memang benar kalau ia yang telah menyiksa dan memperlakukan Kiana secara tidak baik di kantor.
"Papa, Reyhan memperlakukan Kiana dengan sangat baik kok, hanya saja sesekali ia sering memberikan tumpukan pekerjaan kepada Kiana, karena semua yang ia lakukan agar Tania tidak memikirkan hal yang aneh-aneh," ujar Kiana membela sang kekasih.
__ADS_1
Kiana sekarang benar-benar sangat mencintai Reyhan hingga apapun yang pernah dilakukan oleh lelaki itu menjadi baik dimatanya.
"Yakin Reyhan tidak nyakitin kamu, Nak?"