Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Apakah Ini Cinta?


__ADS_3

"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Tapi sebenarnya apa yang terjadi Rey, kenapa aku bisa berada disini?" tanya Kiana dengan wajah penasaran seolah ia tidak mendengar pengakuan Reyhan yang baru saja ia dengar.


"Kamu menabrak batu kecil di jalanan saat hujan, motormu terhempas ke aspal dan kamu tak sadarkan diri di tengah lebatnya hujan."


"Trus, siapa yang menemukan aku dan membawaku kesini?" tanya Kiana lagi karena ia yakin kalau Reyhan tidak mungkin meninggalkan Wilona demi dirinya.


"Aku mengikutimu karena aku takut kamu berkendara ketika hujan. Jadi aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja sampai di rumah. Tapi kamu malah jatuh dan itu membuatku semakin merasa bersalah kepadamu," jelas Reyhan dengan mata berkaca-kaca.


"Jadi kamu yang menyelamatkan aku dan membawa aku ke rumah sakit?"


"Iya, aku membawamu ke sini dan menghubungi Bi Iyem," jelas Reyhan.


"Terima kasih untuk itu. Lantas kenapa kamu masih disini? Tidakkah Wilona merasa cemburu dengan kehadiranmu di sini menemaniku? Aku tidak ingin dia datang kesini dan marah-marah kepadaku, aku muak dengan tingkahnya yang sesuja hatinya saja," ungkap Kiana yang keluar dari relung hati terdalam.


"Aku tidak tahu, yang aku tahu sekarang aku di sini karena aku sangat mengkhawatirkanmu."


"Lantas, apa benar kamu mencintaiku seperti yang kamu ungkapkan ketika aku tertidur?"


Dengan mata membelalak, Kiana kembali menanyakan perasaan Reyhan kepadanya. Namun, Reyhan tidak mengakuinya.


"Aku tidak ingin membuatmu terluka dan sakit karena aku."


"Kenapa?" tanya Kiana dengan nada tinggi dengan mata melotot.


"Maafkan aku, Kia!"


"Maaf? Maaf untuk apa?"


"Maafkan aku, Kia!" Tiba-tiba Reyhan bersujud dihadapan Kiana, hingga Kiana merasa sangat aneh dengan sikap bos bad boy itu.


"Sudahlah, aku sudah memaafkanmu jika itu menyangkut hilanganmu selama hampir sebulan ini. Sekarang kamu keluarlah! Aku ingin istirahat!"


Kiana memalingkan wajahnya dari Reyhan, seolah tidak ingin menatap wajah lelaki tampan itu.


"Jangan bicara seperti itu, Kia, kata-katamu melukai hatiku. A-aku ..., Aku menc-,"


Reyhan menghentikan ucapannya, seolah ia ragu menyampaikan apa yang ia rasakan saat ini.


"Pergilah! Aku ingin istirahat."


"Kia, kamu tidak membenciku 'kan?"


"Aku tidak membencimu, aku mendoakan kebahagianmu bersama Wilona, nikahilah dia dan jangan menunda-nunda lagi. Aku turut bahagia untuk kalian. Sekarang kamu berdiri, aku tidak butuh sujud darimu."

__ADS_1


"Kia, aku terima semua perlakuanmu kepadaku. Tapi tolong jangan membenciku!"


"Sudahlah, Rey, jangan mengkhawatirkanku lagi, aku capek!"


"Cepat sehat, Kia!"


"Sekarang kamu lebih baik pulang, aku tidak ingin melihatmu lagi di sini. Aku juga tidak ingin Ibu terbangun mendengar pertengkaran kita, aku juga tidak ingin kekasih kamu datang kesini dan menggangguku lagi."


"Izinkan aku menjagamu untuk malam ini saja, Kia! Please ...!" Mohon Reyhan.


"Maaf aku tidak ingin lagi melihatmu, aku ingin kamu pergi dan jangan pernah lagi datang menemuiku seperti ini, hubungan kita tidak lebih dari sekedar atasan dan bawahan. Jadi, jangan pernah menemuiku jika tidak berhubungan dengan pekerjaan?"


"Please, Kia, berikan aku kesempatan untuk menjadi sahabatmu lagi!"


"Ya sudah, terserah kamu saja, tapi kamu keluar dari kamar ini sekarang! Aku tidak ingin melihatmu di sini untuk saat ini."


"Baiklah, Kia, jika itu maumu. Aku akan menunggumu diluar. Kalau ada apa-apa hubungi saja aku, aku pasti akan segera datang."


Reyhan pergi meninggalkan Kiana dengan tetesan air mata penyesalan, sementara Kiana tetap memalingkan wajahnya dari Reyhan. Kiana berusaha menahan butiran-butiran air mata dan sesak di dadanya. Ia tidak tahu kenapa ia kecewa dengan sikap Reyhan kepadanya, padahal mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Kiana juga heran, mengapa ia menangisi lelaki itu.


'Aku tidak mungkin suka sama Reyhan 'kan?' batin Kiana.


"Ah sudahlah, tidak mungkin aku suka sama Reyhan, dia tidak lebih dari seorang sahabat dan atasanku."


Sementara itu, Reyhan keluar dari kamar Kiana dengan perasaan hancur, semua kata-kata yang keluar dari mulut Kiana benar adanya, dan anehnya itu malah melukai hati dan perasaannya. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan yang sangat berkecamuk. Rasa cintanya yang terlalu besar untuk Kiana yang tidak pernah bisa ia ungkapkan, membuat ia berada pada dilema yang sangat rumit. Ia tidak mungkin melawan kedua orang tuanya. Namun, hatinya belum bisa mengikhlaskan cintanya.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' batin Reyhan.


Malam itu bulan bersinar sangat terang dihiasi oleh gugusan bintang-bintang. Untuk sesaat Reyhan mengingat kembali masa-masa sepuluh tahun yang lalu, dimana pertama kali ia mengungkapkan cintanya kepada Kiana, semasa mereka duduk di bangku SMA.


"Kia," Reyhan menatap tajam mata Kiana yang terlihat sangat berbinar.


"Iya, Rey, kenapa?" Kiana menatap Reyhan dengan perasaan penasaran.


"Aku ..., Aku ...," Reyhan gugup, seolah ragu untuk mengungkapkan isi hatinya.


"Aku, apa Reyhan?" tanya Kiana memastikan.


"Aku ..., aku mencintaimu, Kia."


Reyhan mengucapkan kata-kata itu secepat kilat, wajah Reyhan terlihat gugup dan pucat. Ketika Kiana menatapnya, ia langsung menundukkan pandangannya karena malu.


"Rey," senyum Kiana terlihat lepas dan sangat mempesona.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah ketawa, Kiana, kamu mengejek ya, Kia?" Reyhan mulai memasang wajah cemberut.


"Aku juga mencintaimu," balas Kiana lembut sembari tersenyum manis ke arah Reyhan.


"Kamu bilang apa, Kia?" tanya Reyhan memastikan.


"Aku mencintaimu, Rey, sebagai sahabat!" Kiana mengulang ucapannya namun jawaban Kiana membuat Reyhan kecewa.


"Kenapa, Rey?"


"Aku mencintaimu, Kia!" Reyhan mengulang ungkapan cintanya sekali lagi.


"Iya, Ret, aku juga tahu kamu mencintaiku sebagai seorang sahabat," ujar Kiana sembari tersenyum bahagia.


Lamunan Reyhan akan Kiana dibuyarkan oleh bunyi telepon genggamnya. Terlihat di layar HP bertuliskan Wilona. Reyhan pun akhirnya bergegas mengangkatnya.


[Hallo, Sayang] sapa Reyhan seperti seorang munafik.


[Hallo, Sayang, kamu dimana?] tanya Wilona mastikan.


[Aku lagi diluar sama teman-teman, aku ingin menikmati masa-masa terakhirku melajang sebelum menjadi tunangannu]


[Kamu nggak boong 'kan, Sayang?]


[Enggak lah, Sayang, aku mencintaimu.]


[Aku juga mencintaimu, Sayang. Ya udah aku percaya sama kamu, tapi kamu harus ngabarin aku ya kalau udah di rumah.]


[Iya, Sayang, tapi sepertinya malam ini aku tidak pulang ke rumah, Sayang.]


[Kenapa?]


[Aku nginap di rumah temanku, Sayang.]


[Kamu nggak lagi di rumah sakit 'kan? Kamu nggak jagain si Kiana atau apalah itu 'kan?]


[Aku mencintaimu, Sayang. Aku adalah kekasihmu dan sebentar lagi kita akan segera menikah.  Aku harap kamu percaya kepadaku.]


Reyhan mengelak dan tidak ingin membahas perihal Kiana dengan Wilona.


[Iya, Sayang. Aku percaya kok sama kamu.]


[Ya udah, kamu tidur gih. Ini udah tengah malam, jangan begadang nanti cantiknya ilang karena mata panda, jadi jelek. Aku nggak suka punya calon tunangan jelek ih!] ungkap Reyhan bercanda hingga senyum Wilona mengembang.

__ADS_1


[Iih ..., jadi kamu nggak terima aku apa adanya dong?]


__ADS_2