
Papa Haris sangat tahu dan paham sekali bagaimana perasaan putri yang sangat ia cintai dan ia sayangi sekarang karena ia juga merasakan kerinduan yang teramat sangat kepada seseorang yang telah tiada, namun sebagai seorang manusia mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena takdir dan jalan hidup yang telah Tuhan berikan adalah jalan terbaik untuk semuanya, jadi sebagai manusia yang perlu dilakukan hanya ikhlas menjalani ketetapan itu.
"Pa, andai Mama masih ada disini pasti kita akan sangat bahagia sekarang dan pastinya kebahagian keluarga kita akan lengkap dan sempurna," ujar Kiana.
Kiana mengingat moment masa kecilnya bersama mama dan papanya, dimana ia selalu dimanja dan disayang oleh kedua orang tuanya, bahkan apapun yang menjadi keinginan hatinya akan dituruti oleh kedua orang tuanya karena ia adalah anak semata wayang yang dimiliki oleh kedua orang tuanya.
"Sayang, Mama pasti sedang melihat kita sekarang dari atas sana dan Mama juga pasti akan sangat senang dan bahagia sekali karena kita bisa ada disini mengenang beliau. Apalagi sekarang kamu dan Papa sudah berbaikan, bukankah ini adalah harapan dan keinginan Mama waktu itu?" ungkap Reyhan menjelaskan sembari menggenggam tangan Kiana yang lembut.
"Sayang, sekarang kamu hapus air mata kamu, karena Mama pasti tidak suka melihat anak gadis kesayangannya menangis."
Papa Haris juga tidak mau kalah untuk menghibur putri kesayagannya itu. Ya, baik papa Haris maupun Reyhan, mereka berdua pasti tidak tega melihat air mata jatuh membasahi pipi Kiana, seorang wanita yang diratukan dan akan dibahagiakan selamanya oleh dua oran lelaki yang sangat baik hati itu.
"Sayang sekarang habiskan makanannya ya karena kita akan foto studio," ucap papa Haris dan Reyhan serentak.
Dua orang lelaki yang sebentar lagi akan menjadi mertua dan menantu itu terlihat sangat kompak sekali.
"Baik, Pa, Rey."
Kiana melahap dan menghabiskan semua makanannya kemudian ia dengan bergegas pergi ke parkiran karena merasa sudah tidak sabar lagi untuk ikut berfoto studio.
"Papa, Reyhan, cepat!" sorak Kiana yang sepertinya memiliki tenaga ekstra yang sangat luar biasa sekali hari ini.
Mobil Reyhan akhirnya melaju disebuat studio foto yang lokasinya sekitar sepuluh menit dari Restoran.
"Om Haris, Kiana, aku ikut!" ucap Rendi yang tiba-tiba datang menghampiri Kiana dan keluarganya.
Semua pandangan mata tertuju kepada sosok lelaki tampan dengan senyum sumeringah yang saat ini ada di depan studio foto dengan menggunakan baju berwarna merah muda dan persis sama dengan yang Kiana dan keluarganya kenakan.
__ADS_1
Entah apa yang terjadi pada seorang dokter yang berwibawa itu, ia tiba-tiba ada disini dan ingin ikut berfoto keluarga bersama Kiana, bahkan ia tahu pakaian yang Kiana dan keluarganya kenakan.
"Rendi apa lo seorang penguntit?" ungkap Reyhan dengan nada suara marah dan emosi tinggi.
Reyhan adalah lelaki yamg pencemburu, ia tidak pernah suka melihat ada lelaki lain yang mendekati Kiana apalagi sampai mengganggu Kiana.
Temperamen dan emosi yang sangat tinggi yang terlihat dari wajah Reyhan itu menunjukkan betapa ia sangat mencintai Kiana.
Wajah Putih yang sangat tampan itu memerah hingga Reyhan terlihat sangat lucu dan imut di mata Kiana.
"Ren, kebetulan kamu datang dan memakai baju yang sama dengan kita, yuk ikutan!"
Kiana menggandeng tangan Rendi karena ia ingin membuat Reyhan cemburu, karena ekspresi wajah yang lucu yang Reyhan perlihatkan semakin membuat Kiana ingin mengganggunya, apalagi Kiana ingin sekali melihat seberapa jauh Reyhan mencintainya.
"Sayang, kenapa kamu malah mengajak cowok ini sih?"
"Sayang, Rendi adalah sahabatku dan aku ingin mengajak dia difoto keluarga."
Kiana menjawab dengan santai seolah tidak sadar dengan kecemburuan dan ketidaksukaan Reyhan.
"Dia sahabat bukan keluarga jadi aku tidak setuju Dokter ini ikut bersama kita!"
Ucapan tegas, keras dan sangat lantang yang keluar dari lisan Reyhan semakin membuat Kiana ingin mengerjainya.
Ingin sekali Kiana tertawa terbahak-bahak sekarang dan mengungkapkan kepada Reyhan kalau ia terlihat sangat lucu dan menggemaskan ketika sedang marah, namun Kiana masih ingin menjadi ratu hari ini, ia ingin dilayani dan ia ingin apapun keinginannya dikabulkan oleh Reyhan. Ya, Kiana ingin sekali menjadi bos untuk sesaat seperti saat Reyhan dulu sering memaki-makinya dan memperlakukan ia dengan tidak baik selama ini.
Kiana bukannya dendam kepada Reyhan ia juga bukannya ingin membalas Reyhan atas sikap yang dilakukannya selama ini, hanya saja Kiana ingin untuk hari ini saja ia dimanjakan dan diperlakukan baik oleh orang-orang yang sangat ia sayangi.
__ADS_1
"Rey, turutin saja maunya Kiana, yuk kita kita ke atas, Nak!"
Papa Haris menjadi penengah dari perdebatan dan kecemburuan yang tidak akan pernah usai itu, dan sebagai seorang anak yang tengah mencari restu calon mertua, tentu saja Reyhan akan menurut dengan apa yang papa Haris katakan, apalagi semua ini adalah demi kepentingan Kiana.
"Terima kasih, Papa."
Dengan bersemangat Kiana berlari memasuki studio foto dengan senyum semeringah yang tergambar jelas di wajah cantiknya, bahkan Kiana lebih mirip seperti seorang anak yang sedang berbaagia karena keinginannya dikabulkan.
Menjadi anak perempuan dan menjadi dewasa tetap membuat Kiana masih bertingkah seperti seorang anak bagi papanya.
Ia menginginkan foto keluarga bersama orang-orang yang ia sayang sehingga perasaannya menjadi senang dan bahagia karena mendapatkan sebuah momen kenangan yang diabadikan dalam sebuah foto dan tidak akan pernah dilupakan dari hati dan pikirannya.
Foto studio akhirnya selesai dengan sangat baik sesuai dengan keinginan Kiana, hingga kini Kiana kembali bersikap normal layaknya Kiana yang sudah mandiri dan tidak lagi manja. Namun, ada satu hal lagi yang sangat Kiana inginkan, yaitu bertemu dengan sang ibu yang saat ini sedang ada di kampung. Rasanya hidup Kiana terlalu sepi di rumah karena tidak ada sang ibu sebagai temannya untuk mengobrol.
"Pa, apakah kita jadi ke kampung Ibu?" tanya Kiana dengan memasang wajah manja yang penuh dengan pengharapan kepada papa yang sangat dicintainya.
"Iya, Nak, kita akan ke kampung Bi Iyem, beliau tinggal di Bandung dan kita bisa sekalian liburan di sana, jauh dari hiruk pikuk kota Jakarta."
"Benarkah kita akan kesana sekarang, Pa?"
Wajah Kiana benar-benar sangat merona ketika bertanya kepada papanya, seolah ia baru pertama kalinya pergi ke Bandung.
"Iya, Nak, kalua Nak Reyhan tidak ingin ikut bersama kita maka Papa akan meminta supir kita yang mengantarkan kita kesana."
"Reyhan mau kok, Pa."
"Rendi mau, Om."
__ADS_1