
Mendengarkan teriakan Kiana, Reyhan langsung masuk ke rumah dan mendapati gadis yag sangat dicintainya itu memegang pisau untuk memotong kue dan pisau itu melukai tangannya.
"Kia, kamu terluka?" Dengan mata melotot dan wajah yang penuh dengan kekhawatiran, Reyhan langsung memegang tangan Kiana yang terluka.
Sementara Kiana hanya diam, dan perlahan air mata jatuh membasahi pipinya.
"Kia, apa lukanya terlalu sakit, hingga membuatmu menangis seperti ini?" tanya Reyhan lagi.
"Ibu, Ren. Ibu...," ucap Kiana sedih dengan uraian air mata yang membasahi pipi Kiana.
"Ibu kenapa, Kia?" tanya Reyhan yang masih menggenggam tangan gadis cantik itu.
"Bisa tolong, lepaskan dulu tangaku, Rey! Aku tidak menangis karena tangaku terluka tapi karena sekarang Ibu tengah terbaring lemah dengan wajah pucat tak berdaya, aku takut Ibu kenapa-kenapa, Rey!" tangis Kiana semakin menjadi jika menyangkut tentang ibunya.
"Yuk, kita bawa Ibu ke rumah sakit sekarang!" Reyhan dengan sigapnya langsung berdiri, wajahnya juga menggambarkan kekhawatiran yang teramat sangat mendalam.
"Baik, Rey, aku bawa ibu keluar dari kamarnya dulu," ucap Kiana dengan isakan tangis yang masih membasahi pipi cantiknya.
"Kia, tanganmu," mata Reyhan masih tertuju pada jari Kiana yang masih berdarah.
"Tidak apa-apa, Rey, nanti aku obati!"
Kiana langsung berlari ke kamar ibu. Sementara Reyhan masih terlihat membantu Kiana untuk membersihkan gelas kaca yang berserakan di lantai ruang tamu rumah Kiana.
Sejak mengungkapkan keinginan hatinya untuk menikahi Kiana, Reyhan menjadi dewasa dan selalu memuliakan Kiana, ia bahkan jadi sering berkunjung ke rumah Kiana untuk membuktikan rasa cinta dan sayangnya memang tulus adanya.
Reyhan memang belum bisa melepaskan Wilona atau mungkin membatalkan pertunanganan mereka, tapi Reyhan tengah berusaha semaksimal mungkin agar ia segera mendapatkan cara tepat untuk membatalkan rencana pertunanganan tanpa menyakiti Wilona dan keluarganya.
"Reyhan, Rey, tolong aku!"
Terdengar oleh Reyhan suara Kiana yang tengah manggil-manggil namanya.
Suara panik dan ketakutan itu terdengar bergetar, seolah ada sesuatu hal yang buruk yang terjadi kepada ibunya.
Dengan sigap, Reyhan langsung berlari menghampiri Kiana yang ada di kamar ibunya.
"Kenapa, Ki-,"
Reyhan tidak jadi melanjutkan kata-katanya karena ia melihat bi Iyem saat ini tengah terbaring di kamarnya dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Di sebelah bi Iyem ada Kiana yang saat ini tengah menangis dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
"Kiana, kita bawa Ibu ke rumah sakit!"
__ADS_1
Reyhan langung menggendong bi Iyem dan membawa wanita separuh baya itu menuju mobil untuk dibawa ke rumah sakit, sementara Kiana hanya bisa menangis, takut hal buruk menimpa ibunya.
Kiana tidak memiliki siapa-siapa lagi saat ini selain bi Iyem dan Reyhan, jika tidak ada bi Iyem mungkin hidup Kiana akan hancur lebur tidak berdaya karena ia baru saja kehilangan mama yang sangat dicintainya.
"Rey, Ibu tidak apa-apa 'kan?" ucap Kiana dalam isak tangisnya.
"Berdoa yang terbaik, Kiana."
Reyhan berusaha untuk menenangkan Kiana yang saat ini sedang panik dan sedih.
Sebenarnya Reyhan sangat tidak tega melihat Tania bersedih seperti itu, namun Reyhan harus kuat untuk Kiana.
"Rey, apakah rumah sakitnya masih jauh?"
Kiana terlihat menggoyang-goyangkan kakinya karena rasa takut dan khawatirnya yang teramat sangat.
"Kia, tarik nafas yang dalam dan hembuskan, sekarang kita udah di parkiran rumah sakit," ucap Reyhan.
Kiana teramat sangat panik sekali hingga ia tidak tahu kalau saat ini ia telah berada di rumah sakit.
Huft ...
Kiana mencoba menarik nafas panjang seperti apa yang disarankan oleh Reyhan.
Rethan membantu bi Iyem masuk ke ruangan rumah sakit agar mendapatkan perawatan terbaik dari dokter.
"Dokter, tolong berikan perawatan terbaik untuk Ibu saya," ucap Kiana sembari menggenggam tangan dokter dengan wajah yang terlihat mengiba dan sorot mata yang menggambarkan harapan.
"Baik, Nona, sekarang mohon tunggulah diluar, kami akan memerikasa pasien," ucap dang dokter dengan senyuman.
Sebenarnya Kiana terlihat enggan untuk meninggalkan ruangan itu karena ia ingin memastikan keadaan ibunya dalam keadaan baik-baik saja, tapi tidak ada yang bisa Kiana lakukan sekarang selain mendengarkan apa yang dikatakan oleh dokter.
"Kiana, kita tunggu diluar ya! Serahkan semua kepada Dokter," ucap Reyhan sembari membawa Tania keluar dari ruangan.
Reyhan menggenggam tangan Kiana yang terasa sangat dingin dan bergetar itu karena Reyhan paham apa yang saat ini dirasakan oleh gadis cantik itu.
"Rey, aku takut hal buruk terjadi pada Ibu," ucap Kiana dengan nada suara terisak.
Kiana menangis dan hanya menangis yang saat ini bisa ia lakukan.
"Sabar, Kiana."
Reyhan memeluk Kiana dan menenangkan gadis cantik yang teramat sangat ia cintai itu. Ia tidak ingin Kiana merasakan kesedihan yang berlebihan walaupun kesedihan itu tidak bisa ia hindarkan.
__ADS_1
"Ibu tidak apa-apa 'kan, Ren?"
Kiana menatap Reyhan dengan mata berkaca-kaca dengan harapan lelaki yang sangat ia cintai itu memberikan jawaban yang dapat menenangkan hatinya.
"Ibu a-,"
Belum selesai Reyhan melanjutkan ucapannya, dokter datang menghampiri mereka.
"Keluarga pasien," ucap dokter ketika keluar dari kamar tempat bi Iyem di rawat.
"Apa yang terjadi kepada Ibu saya, Dokter?"
Kiana berlari menghampiri dokter dengan sejuta kekhawatiran yang ia bawa bersamanya. Ada rasa takut hal buruk terjadi pada ibunya.
"Sepertinya Ibu Nona kelelahan karena diusianya yang sudah senja beliau seharusnya tidak boleh bekerja atau memikirkan hal-hal yang berat lagi," jelas dokter.
Kiana tidak pernah meminta ibunya untuk melakukan pekerjaan berat, apalagi sekarang mereka hanya tinggal berdua, jadi untuk urusan rumah tangga juga dikerjakan berdua. Kiana juga selalu membuat ibunya tersenyum bahagia sehingga senyum merekah selalu terpancarar di wajah ibunya itu, jadi Kiana tidak menyangka ibunya akan sakit karena kelelahan atau memikirkan sesuatu.
"Jadi apa yang harus saya lakukan untuk Ibu saya, Dokter?" tanya Kiana dengan mata berkaca-kaca.
"Nona, keadaan seperti ini memang sering terjadi untuk orang tua, jadi Nona lebih baik berdoa dan membahagiakan hati orang tuanya. Oh iya, pasien ingin bertemu dengan keluarganya," ucap sang dokter sebelum berjalan meninggalkan ruang rawat inap pasien.
"Kia, yuk masuk! Ibu sudah menunggu!"
Reyhan menarik tangan Kiana untuk masuk menemui ibunya karena Reyhan tahu kalau saat ini hati Kiana sedang tidak kuat untuk menghadapi kenyataan ibunya yang tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit yang dingin.
Reyhan merasakan tangan Kiana bergetar dan terasa teramat sangat dingin karena sebuah kekhawatiran dan trauma yang menghantuinya, sebab ia baru saja kehilangan mama yang sangat ia cintai.
"Kia, aku percaya kamu adalah wanita yang sangat kuat," ucap Reyhan yang memang menjadi kekuatan untuk Kiana.
Kiana dan Reyhan menemui bi Iyem sembari berpegangan tangan, seperti sahabat dan sepasang kekasih yang saling menguatkan.
"Nak Kia," ucap bi Iyem dengan senyum menawan yang tergambar di wajahnya yang sudah mulai keriput dan menua.
"Ibu, Ibu baik-baik saja 'kan?"
Kiana langsung melepaskan tangan Reyhan dan berlari kedalam pelukan ibu yang sangat disayanginya itu.
"Nak, kamu menangis?"
Bibi tahu kalau saat ini Kiana sedang bersedih dan ia ingin menghapus air mata putrinya itu.
"Ibu, jangan sakit ya! Kiana tidak bisa melihat Ibu sakit seperti ini," ucap Kiana dalam rengeknya.
__ADS_1
"Nak, Ibu tidak apa-apa, tapi Ibu punya satu permintaan untukmu, Nak," ucap bi Iyem yang terdengar penuh harap.