
Dalam pikiran Kiana saat ini hanya rasa takut dan khawatir, ia juga tidak ingin akan terjadi kesalahpahaman Reyhan kepada nantinya.
"Kia, tenang saja, aku sudah membelikanmu tongkat karena aku tahu hal ini akan terjadi. Juga ada kursi roda," jelas Rendi.
"Terima kasih, Ren," balas Kiana dengan tulus. Kiana sangat bersyukur sekali kalau saat ini ia memiliki Rendi di sisinya, seseorang yang menjadi teman dan sahabat bagi Kiana di saat ia benar-benar tengah terpuruk dan membutuhkan orang lain untuk menguatkannya.
"Sekarang kamu pake kursi roda dulu, nanti setelah berada di depan ruang kerjamu, kamu baru pakailah tongkat ini," ujar Rendi dengan sejuta kekhawatiran di wajahnya.
Rendi kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Kiana, memperlakukan Kiana layaknya seorang ratu di hatinya yang ia manjakan dan ia layani dengan sepenuh hatinya.
"Terima kasih, Ren."
Hanya terima kasih yang bisa dikatakan oleh Kiana untuk Rendi, lelaki yang membantunya dengan sangat tulus dan ikhlas itu.
Rendi kemudian mendorong kursi roda Kiana sampai ke ruangan kerjanya.
"Kiana ..., kamu dari mana saja!"
Bentak dan teriak Reyhan, hingga membuat telinga Kiana menjadi sakit dan berdengung.
Reyhan berjalan menghampiri Kiana dengan emosi memuncak dan mata memerah tanpa menyadari bahwa gadis itu saat ini tengah kesakitan.
"Reyhan , kenapa lo marah-marah tidak jelas seperti itu? Apakah lo tidak melihat kalau Kiana saat ini sedang duduk di kursi roda?"
Rendi tidak suka Reyhan bersikap kasar kepada Kiana, karena bagaimanpun juga Kiana saat ini sedang sakit dengan kaki yang terluka, tidak sepantasnya Reyhan memperlakukan Kiana dengan sangat kasar itu.
"Rendi, lo memang sepupu gw, tapi di sekolah ini gw tetap anak pemilik yayasan, lo paham!"
Reyhan semakin emosi dan sangat marah melihat Rendi dekat dengan Kiana dan membela Kiana.
"RENDI, REYHAN, DIAM!" teriak Kiana.
Kiana muak melihat pertengkaran dua lelaki yang ada di depannya. Lelaki yang membuat kepala Kiana meledak, ingin pecah.
"Ren, tongkat!"
Kiana mengangkat tangannya dan meminta Rendi memberikan tongkatnya.
__ADS_1
Tanpa bersuara Rendi langsung memberikan tongkat itu kepada Kiana.
Kiana berdiri dan berjalan dengan menggunakan tongkatnya menuju ruang kerjanya tanpa mempedulikan kedua pria yang tengah meributkannya.
"Kia, tunggu!" Reyhan mengejar Kiana tapi Kiana tidak mempedulikannya.
Reyhan baru menyadari kalau kaki Kiana di perban dan jalannya terlihat pincang. Ada rasa iba, kasihan dan menyesal di diri Reyhan, namun ia sudah terlanjur membentak Kiana tanpa mempedulikan bagaimana perasaan gadis cantik itu, terluka atau tersinggung nantinya.
"Kia, kamu kenapa?"
Reyhan berjalan di samping Kiana sembari memandang gadis cantik itu dengan penuh perhatian dan rasa khawatir yang terpancar di wajahnya.
Kiana diam, membisu dan tidak mempedulikan Reyhan sama sekali.
Kiana ingin memberikan pelajaran kepada Reyhan, lelaki yang emosinya selalu naik turun ketika melihatnya pergi bersama lelaki lain, lelaki yang emosinya tidak terkontrol ketika tidak ada Kiana di sampingnya.
"Kia, jawab aku!"
Reyhan berdiri di depan Kiana untuk menghalangi langkah kaki gadis cantik itu.
Kiana mengangkat wajahnya, menatap Reyhan dengan tatapan mata sendu, ingin sekali Kiana menangis tapi ia memilih untuk tidak meluapkan kesedihannya, karena Kiana tidak ingin membuang-buang waktu untuk menangisi orang lain selain mamanya.
Reyhan terdiam, ia tahu saat ini Kiana tengah marah dan kecewa kepadanya. Hati Reyhan mulai panik, ia tidak ingin Kiana marah kepadanya dan ia tidak suka kalau Kiana bersikap cuek kepadanya.
"Kia, maafkan aku!"
Reyhan bersujud di depan Kiana, karena rasa penyesalan yang berkecamuk di hatinya.
Reyhan sangat paham, diam Kiana tidak akan membuat ia tenang, ia pasti akan panik seharian sampai Kiana memaafkannya.
"Pak, tolong jangan bersikap kekanak-kanakan, saya ingin bekerja!"
Kiana berjalan menuju meja kerjanya tanpa mempedulikan Reyhan yang tengah bersujud di depannya.
Kiana sudah tidak bisa lagi mengontrol dirinya, amarah yang selama ini ditahannya saat ini sudah tidak lagi bisa dibendungnya, semua memuncak dan semua akan meluap.
Kiana sudah tidak sanggup lagi menerima perlakuan kasar Reyhan yang bersikap seenak jidatnya saja ketika mereka berada di kantor. Bahkan, Reyhan selalu membuat hati Kiana sakit saat Wilona datang mengunjungi Reyhan di kantor. Ya, wanita bernama Wilona itu adalah gadis dengan bodi seksi yang tidak malu bermesraan dengan Reyhan di kantor.
__ADS_1
Kiana muak dan benar-benar sangat jernih dengan semua kejadian yang terjadi saat ini.
C A P E K !
Kiana sudah tidak kuat lagi diperlakukan seperti boneka dan robot oleh Reyhan.
"Kia, lo serius ingin ke luar dari perusahaan yang akan kita bangun dan kita besarkan bersama?" ujar Reyhan yang tidak terima Kiana tidak bekerja lagi dengannya padahal mereka berdua sedang merancang ingin membuat perusahaan baru dimulai dari nol.
"Iya!" jawab Kiana dengan teriakan yang terdengar lantang.
Kiana menarik nafas panjang, dadanya terasa sangat sesak. Ia ingin sekali berteriak saat ini dan memaki-maki Reyhan, namun ia tidak memiliki hak apapun atas lelaki itu.
'Apakah aku cemburu kepada Wilona?' batin Kiana sengan otak yang serasa ingin pecah karena memikirkan banyak hal.
Sampai detik ini, Kiana masih belum menyadari rasa yang miliki untuk Reyhan itu bukan hanya sebatas teman biasa, namun lebih kepada sayang yang tulus.
"Kia, kenapa lo bersikap keras kepala seperti ini?"
Reyhan mencoba meletakkan tangannya di bahu Kiana dan berusaha untuk membujuk gadis cantik itu.
"Sudahlah, Rey, aku muak!" ujar Kiana.
Kiana menepis tangan Reyhan yang ada di bahunya kemudian membalikkan tubuhnya dari Reyhan karena saat ini ia tidak ingin menatap Reyhan.
Ya, hati Kiana serasa semakin sakit dan hancur karena setiap menatap Reyhan, ia teringat dengan Wilona.
"Kia, lebih baik sekarang lo pulang dan beristirahatlah! Gw akan mengantarkan lo pulang!'
Tanpa meminta persetujuan Kiana, Reyhan langsung menggendong tubuh langsing Kiana dan membawa gadis cantik itu menuju parkiran mobil.
"Turunkan aku!" teriak Kiana protes sembari menggoyang-goyangkan kakinya.
Reyhan tidak peduli dan ia juga tidak mau tahu dengan teriakan dan protes Kiana, yang saat ini ingin ia lakukan adalah membawa Tania untuk segera ke rumah sakit agar mendapati penanganan dokter.
"Reyhan, kenapa sih lo suka bersikap seenak jidat lo?" ucap Kiana.
Kiana merasa bosan dan sangat muak dengan sikap Reyhan yang tidak menghargai dirinya. Ia memang Upik Abu yang bekerja dengan Reyhan tapi ia tetap manusia yang punya hati dan perasaan. Reyhan bersikap seenak jidatnya saja dan selalu melakukan sesuatu tanpa meminta persetujuan Kiana. Kiana sudah sangat muak dan bosan dengan sikap Reyhan. Kiana ingin bebas dan melepaskan diri dari Reyhan.
__ADS_1
"Kia, apa kamu tidak percaya kepadaku?"