
“Kia!” Sontak Reyhan yang kaget langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Wilona.
Kiana membalikkan badannya, tanpa berkata apa-apa, ia melangkah pergi meninggalkan Reyhan dan Wilona.
Entah kekecewaan seperti apa yang ia rasakan, tapi Kiana memilih berlari sekencang yang ia bisa, ia kendarai motornya sekencang-kencangnya karena ia tidak ingin menatap Reyhan untuk saat ini dan sepertinya bumi mendukung Kiana saat ini. Langit pun ikut menangis bersama Kiana, seolah kristal-kristal bening itu menyatu bersama air mata Kiana yang tidak lagi bisa ia bendung karena rasa kecewa dan pilu. Ya sudahlah, setidaknya ia bisa menghapus semua luka ini bersama hujan yang menemaninya menangis. Kiana berharap setelah ini akan ada pelangi yang mewarnai hidupnya sehingga ia lupa pedihnya rasa kecewa ini.
"Dasar buaya, lo pikir gw budak lo! Lo suruh gw ngerjain semua tugas yang lo berikan layaknya kuda, sementara lo enak-enaknya pacaran. BRENGSEK!" ucap Kiana dengan emosi segunung.
'Tuhan, ini untuk yang kesekian kalinya hatiku dipatahkan oleh seseorang yang aku percaya. Apakah karena aku terlalu berharap kepada manusia? Hingga Engkau tunjukkan kepadaku pedihnya pengharapanku itu. Hatiku patah dan patah lagi, rasanya luka yang dulu pernah ada masih belum sembuh, sekarang luka itu diiris lagi dengan pisau yang teramat sangat tajam. Jadi aku harus bagaimana? Sampai kapankah aku harus merasakan sakit dan sakit lagi seperti ini, Tuhan? Kapankah hati ini akan sembuh? Kapankah aku merasakan kebahagiaan seperti orang lain? Apakah aku tidak pantas untuk bahagia? Apakah tidak ada cinta untukku? Apakah takdir hidupku memang seperti ini? Tuhan, sekarang aku tidak tahu lagi harus bagaimana, aku pasrah dan aku menyerah. Terserah Engkau saja, Tuhan!' batin Kiana protes dan melontarkan beribu pertanyaan yang membuat otaknya berputar hebat, rasanya seperti akan pecah. Air mata yang menyatu bersama hujan juga tidak bisa berhenti. Kiana kini meraung dan aku terisak.
“Bruk...,” sepeda motor Kiana menabrak tumpukan kerikil hingga ia terjatuh ke aspal dan ia tak lagi sadarkan diri.
Perlahan Kiana membuka matanya, ia pandangi sekeliling ruangan, tempat ini bukan kamarnya. Otaknya mulai kembali merangkai kepingan-kepingan ingatan yang menyadarkannya. Ternyatat ini Kiana tengah terbaring lemah di rumah sakit. Kepalanya terasa sangat pusing. Ia coba menggerakkan tubuhnya, namun rasanya seluruh badannya terlalu lemah. Hingga mata Kiana tertuju pada seorang wanita berusia senja dengan keriput yang menghiasi wajah cantiknya, terlihat sangat kelelahan dan tengah tertidur di kursi tunggu pasien. Dialah bi Iyem, wanita yang saat ini menjaganya dan sudah dianggap sebagai orang tua sendiri, separuh jiwa Kiana yang masih ia miliki saat ini.
__ADS_1
Kiana berharap Tuhan memberikan umur panjang untuk bi Iyem, agar ia bisa membahagiakan dan membuat wanita itu tersenyum bahagia. Kiana ingin membalas jasa beliau, walaupun yang ia lakukan mungkin tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikan beliau di dunia ini. Ya, saat ini peran mama Windari digantikan oleh bi Iyem, wanita yang kini dipanggil Kiana dengan panggilan ibu
“Maafkan Kia, Bu. Sampai hari ini Kia masih saja menyusahkan Ibu dan belum bisa membuat Ibu bahagia. Hanya Ibu yang Kia miliki saat ini, jadi Kia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membahagiakan Ibu,” batin Kiana lirih.
Kenangan masa kecil bersama bi Iyem, saat kedua orang tua Kiana bekerja kembali muncul dalam benaknya. Betapa bi Iyem sangat menyayangi dan memanjakan Kiana layaknya putri sendiri. Apapun yang Kiana inginkan selalu dikabulkan, ketika Kiana sakit, selain kedua orang tuanya yang panik, bi Iyem pasti sangat panik dan khawatir juga. Beliau akan memperlakukan Kiana dengan sangat baik, seperti tuan putri yang sangat istimewa.
Lamunan Kiana dibuyarkan oleh seseorang yang membuka pintu kamar rumah sakit. Kiana tidak tahu siapakah yang datang di tengah malam seperti ini, bahkan ia tidak punya teman atan keluarga lagi selain bi Iyem.
“Assalamualaikum.” Suara itu terdengar tidak asing bagi Kiana, hingga ia langsung berpura-pura menutup mata kembali. Ia ingin tahu kenapa lelaki itu sekarang berada di sini.
“Kalau kamu cinta sama aku, kenapa kamu bersikap semena-mena kepadaku? Kenapa kamu menyiksaku dan meninggalkanku saat aku terpuruk? Kenapa kamu berpacaran dengan orang lain? Kenapa kamu tidak pernah mengatakan kalau kamu mencintaiku?” Ingin sekali Kiana segera membuka matanya dan menanyakan pertanyaan itu untuk Reyhan. Namun, Kiana masih menahannya. Ia seperti menunggu pengakuan Reyhan di saat lelaki itu tidak menyadari kalau saat ini Kiana hanya pura-pura tidur.
“Kia, aku tidak mencintai Wilona. Kami dijodohkan dan kami akan bertunangan setelah ujian selesai!” Pengakuan Reyhan membuat Kiana semakin terkejut, tapi ia tetap masih berusaha menahannya.
__ADS_1
“Kia, kedua keluarga telah sepakat kalau kami akan bertunangan sebulan yang lalu tapi aku terus mengulurnya karena aku tidak ingin menjalani pertunanganan bisnis. Itulah sebabnya, kenapa aku kabur ke luar negeri dan meninggalkanmu saat kamu terpuruk. Aku meninggalkan tumpukan pekerjaan dan tugas-tugas sekolah kepadamu, agar kamu tidak berlarut-larut dalam kesedihan karena fokusmu hanya akan teralihkan kepada pekerjaan. Kamu adalah Upik Abu sahabatku dan aku mencintai dan menyayangimu seperti saudaraku sendiri. Oh ya, kamu harus tahu satu hal, kedua orang tuaku mengancam tidak akan mengakuiku sebagai anak jika aku tidak menerima perjodohan ini." Dalam ketidaksadaran Kiana, Reyhan mencoba meluapkan semua perasaannya sembari mencium tangan Kiana.
“Kamu tahu, Kia, sampai hari ini hanya kamu seorang wanita yang spesial di hatiku dan kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cintai dengan sangat. Namun, sepertinya takdir kita bukan untuk bersama. Aku tidak mungkin melawan kedua orang tuaku hanya untuk bersamamu, bukankah kamu selalu bilang rida Allah ada pada rida kedua orang tua?” suara Reyhan terdengar lemah namun samar terdengar oleh Kiana. Air mata lelaki itu juga tengah keluar hingga tangan Kiana merasakan tetesan kristal bening membasahi kulitnya.
'Apa yang Reyhan katakan? Apakah dia mengatakan kalau ia mencintaiku?' Otak Kiana mulai memikirkan banyak hal.
"Kia, aku mencintaimu. Aku minta maaf untuk semuanya dan aku berharap kamu selalu sehat dan bahagia, apalagi sebentar lagi kita akan ujian. Bagunlah, Kiana!" Isak tangis Reyhan pun pecah.
"Rey ...," perlahan Kiana membuka matanya. Mata yang juga tengah berlumuran air mata. Suara Kiana parau dan terisak, tapi ia berusaha tegar dengan menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
"Kia ..., Kiana ..., kamu sudah sadar? Kamu tidak mendengar apa yang aku katakan, bukan?" Reyhan terlihat kaget karena tiba-tiba Kiana memanggil namanya.
"Ret, hapus air matamu!" pinta Kiana dengan wajah lemah.
__ADS_1
"Kamu benar-benar sudah sadar, Kia?" Reyhan kaget kemudian berusaha menghapus air matanya dan mendekat kepada Kiana.