Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Janji Saling Setia


__ADS_3

Kiana mengangguk, ia ingin memberitahu Rendi kalau hubungannya dengan Reyhan sekarang bukan lagi hubungan yang tidak ada ikatan, mereka berdua akan menikah dan Kiana ingin Rendi tidak lagi berharap dan menunggu cintanya.


"Ren, carilah wanita lain dan hiduplah bahagia bersama wanita yang kamu cintai kelak. Jangan mengharapkan apa-apa lagi dariku karena aku dan Reyhan akan menikah nanti."


Kiana tahu kalau kata-kata yang keluar dari lisannya bisa saja menjadi sebuah pisau tajam yang menusuk hingga ke hati Rendi, namun satu hal yang Kiana ingin sampaikan kalau ia lebih baik mengatakan kejujuran agar Rendi juga bisa move on dan melanjutkan hidupnya tanpa mengharapkan Kiana lagi.


"Kiana, bukankah kita masih SMA?" tanya Rendi seolah tidak percaya dengan apa yang Kiana sampaikan.


"Sebentar lagi kita juga akan tamat," jawab Kiana simpel.


"Kamu tidak ingin kuliah dulu, Kia?"


"Kan tidak ada larangan menikah untuk urang kuliah, Ren."


"Kia, apakah kamu yakin lelaki seperti dia bisa membahagiakanmu? Apakah kamu percaya kalau Reyhan bisa lepas dari ketiak kedua orang tuanya?"


Rendi sangat tahu bagaimana keluarga Reyhan karena mereka adalah sepupu jauh. Rendi juga sangat tahu bagaimana Reyhan sangat penurut dan tidak berani melawan kedua orang tuanya karena ia tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu. Rendi juga takut jika Kiana nantinya terluka karena harapannya sendiri yang mungkin saja tidak akan bisa menjadi kenyataaan.


Ya, begitu banyak kemungkinan yang membuat Rendi takut jika trauma di hati Kiana bukan malah sembuh tapi semakin parah dan terluka.


"Kia, kalau Reyhan menyakitimu maka jangan segan-segan mengatakannya kepadaku karena lelaki itu akan berhadapan langsung denganku! Aku tidak akan membiarkan seorangpun menyakitimu termasuk Reyhan."


Rendi mengungkapkan betapa ia sangat mengkhawatirkan Kiana dan tidak ingin ada seorangpun lelaki yang menyakiti hati dan perasaan Kiana.


"Lo tenang saja karena gw tidak akan memberikan kesempatan buat lo untuk mendekati Kiana karena selama gw hidup gw akan menjaga Kiana dan tidak akan pernah menyakitinya."


Reyhan menatap Rendi dengan kesungguhannya. Ia mengungkapkan betapa ia serius dengan apa yang ia sampaikan dan ia sama sekali tidak ingin menyakiti hati dan perasaan Kiana lagi karena ia sangat mencintainya.


'Baiklah, jika lo bisa membahagiakan Kiana maka gw akan mengikhlaskan Kiana buat lo, tapi awas ya lo!"

__ADS_1


Rendi melayangkan tinju tepat di depan wajah Reyhan, sebuah ancaman yang tidak main-main, karena Rendi tidak akan pernah membiarkan seorangpun menyakiti Kiana. Ya, dulu Rendi pernah menyakiti hati dan perasaan Kiana, bahkan ia meninggalkan Kiana saat keadaan gadis cantik itu tengah terpuruk dan terluka parah, tapi kini Reyhan menyesal karena setelah berpisah dengan Kiana ia baru menyadari kalau ia sangat mencintai Kiana dengan segenap hati dan perasaannya.


Rendi juga sanga ingin sekali kembali kepada Kiana dan berharap bisa membahagiakan Kiana, tapi cinta Kiana untuknya telah hilang dan Kiana telah meberikan cintanya untuk lelaki lain. Jadi salah satu cara bagi Reyhan untuk membahagiakan Kiana adalah merelakan Kiana pergi dan bahagia dengan lelaki pilihannya.


"Ren, lo tenang aja, sekarang lo lebih baik bantuin kita. Lo pilih jagain Ibu atau menebus obat untuk Ibu?"


Reyhan memberikan pilihan kepada Rendi padahal saat ini mereka sedang tidak berada di kantor, tapi Rendi tetap saja diperlakukan seperti bawahan oleh Reyhan.


"Gw jaga Ibu saja, sekarang kalian pergilah menebus obat, sekalian belikan gw makanan karena gw sangat lapar!"


"Enak aja lo main perintah-perintah gw!" ungkap Reyhan kesal.


Kiana menggenggam tangan Reyhan, menenangkan lelaki yang sangat dicintainya itu, karena Kiana tahu kalau Reyhan bisa saja menonjok kepada Rendi karena lelaki itu memerintahnya.


"Reyhan, kita sekarang di rumah sakit bukan di kantor, jadi kalau lo ingin memerintah gw ya di kantor!"


Rendi mencibir kemudian berjalan meninggalkan Reyhan dan Tania menuju kamar inap ibu dengan perasaan puas. Ya, Rendi akhirnya bisa melihat ekspresi kesal Reyhan yang memang sangat kekanak-kanakan sekali.


"Awas lo!" teriak Reyhan sembari mengepalkan kedua tangannya untuk menonjok Rendi. Namun, emosi Reyhan akan terkenalikan karena ada Kiana disana yang akan membuat api itu seperti tersiram air.


"Sayang, yuk kita tebus obat Ibu!"


Kiana membimbing tangan Reyhan untuk berjalan menuju apotik, dan dengan perasaan yang masih kesal Rethan terpaksa menuruti keinginan kekasih hati yang teramat sangat dicintainya itu karena kebahagiaan Kiana adalah yang terpenting saat ini bagi Reyhan.


"Sayang, beliin ice cream," rengek Kiana dengan nada suara manja.


Ya, tentu saja Reyhan tidak akan bisa menolak keinginan hati Kiana karena baginya kebahagiaan Kiana adalah kebahagiaannya juga dan apapun yang Kiana inginkan akan ia turuti karena ia benar-benar telah menjadi budak cinta sekarang.


"Iya, Sayang, setelah menebus obat kita akan membeli ice cream sekalin membelikan makanan untuk si jelek Rendi itu."

__ADS_1


Kiana tersenyum lepas dan terlihat sangat manis sekali karena kekasihnya itu sekarang terlihat seperti seorang bayi yang sangat manja sekali.


'Papa, apa kabar?'


Kiana tiba-tiba teringat dengan papanya karena ia dahulu sering sekali merengek kepada papanya untuk dibelikan ice cream. Namun, sekarang semuanyaa telah berubah, hubungannya dengan sang papa tidak baik sama sekali bahkan mereka tidak lagi saling berkomunikasi satu sama lain.


Kiana berharap suatu hari nanti ia dan papanya bisa mengulang kembali momen kebahagiaan mereka ketika dahulu. Kiana juga ingin sekali bermana kepada papanya, ingin bercerita tentang hal-hal receh kepada beliau bahkan mengadukan betapa lelahnya hidup Kiana ketika ia dewasa.


'Ah, sudahlah, lelaki itu sudah meninggalkanku dan Mama, jadi aku tidak perlu lagi memilirkannya.'


Kebencian kepada sang papa juga ikut menyelimuti Kiana hingga kerinduan yang ia rasakan itu berubah menjadi kebencian dan rasa sakit.


"Sayang, Sayang, kamu kenapa? Kok bengong?


"Eh, iya, Sayang, kenapa?"


Kiana kikuk, ia tidak sadar kalau ternyata Reyhan telah memanggil-manggil namanya sedari tadi karena ternyata mereka berdua telah sampai di depan apotek.


"Sayang, mana resep obat untuk Ibu?"


"Oh, resepnya sudah diberikan oleh Dokter Rasya, kita tinggal menyebut nama dia saja nanti apoteker akan memberikan obat untuk Ibu," ungkap Kiana.


"Baiklah, kalau begitu kamu duduklah, biar aku yang menebusnya."


Kiana menurut kepada Reyhan, ia berjalan dan duduk di kursi tunggu karena perasaannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Tidak bisa dipungkiri kalau Kiana sangat merindukan sang papa, namun kerinduan itu sama banyaknya dengan kebencian, hingga Kiana merasa sakit sendiri akibat kerinduan dan kebencian itu.


Kiana kemudian teringat dengan sang papa yang ia temui beberapa saat yang lalu di rumah sakit ini, wajahnya terlihat sangat pucat dan beliau juga terlihat lebih kurus dari pada dahulu, bahkan beliau terlihat menderita dan tidak ada kebahagiaan sama sekali.

__ADS_1


'Apakah sebenarnya yang terjadi kepada Papa? Kenapa Papa terlihat tidak bahagia? Apa Papa sakit?' tanya Kiana di dalam hatinya.


__ADS_2