Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Menata Hati


__ADS_3

"Nggak ada apa-apa, aku cuma berbicara dengannya. Sepertinya keadaan Kiana sudah lebih baik dari sebelumnya, ia juga bersikap tenang dan mulai menerima semua yang terjadi. Tapi sepertinya dia masih menaruh kecewa kepadaku. Aku sudah berusaha meminta maaf kepadanya, tapi sepertinya saat ini dia masih kecewa kepadaku. Aku paham, mungkin kalau aku yang berada di posisi dia, aku tidak akan sanggup. Kiana wanita saleha yang hebat." Puji Wilona.


"Aku sangat yakin Kiana pasti menyimpan sejuta luka di hatinya saat ini karena ia mengalami luka dari orang yang sangat dia percaya dan dia sayang. Tapi, takdir memang tidak bisa ditebak, kita hanya bisa berencana namun tetap Tuhan yang menentukan segalanya."


"Sayang." Wilona menatap mata Reyhan seolah ingin menyampaikan sesuatu.


"Iya Sayang, kenapa lagi?" tanya Reyhan penasaran.


"Bagaimana kalau kita cepat waktu pernikahan kita? Setelah nikah kita bantu ngurusin perusahaan yang sekarang dipegang sama papa." Wilona menawarkan pilihan yang membuat Reyhan menjadi berpikir.


Bagaimana mungkin ia akan menikah dan melanjutkan perusahaan milik papa Wilona, sementara ia punya perusahaan sendiri yang ia bangun bersama Kiana. Ya, Reyhan berusaha menjadi pribadi yang mandiri san tidak ingin merepotkan orang tuanya, hingga ia tidak ingin bekerja di perusahaan milik orang tuanya.


"Beri aku waktu untuk memikirkannya," jawab Reyhan ragu.


"Setidaknya kalau kita pindah, kamu busa ngasih perusahaanmu untuk Kiana, biarkan dia yang mengurus perusahaan, Sayang."


Wilona menawarkan pilihan yang membuat hati kecil Reyhan merasa sangat ragu. Reyhan tidak mungkin meninggalkan Kiana sendirian dalam kesepian dan kepedihan hidupnya.


"Sayang, aku mohon!" ujar Wilona sembari memohon.


"Aku fikirin dulu sekalian diskusi sama Mama dan Papa juga, kamu juga sebaiknya di diskusikan sama Mama dan Papamu."


Wajah Reyhan terlihat ragu karena hati kecilnya sangat tidak ingin pergi dengan Wolona.


"Iya, Sayang. Ya udah makan yuk. Nanti makanannya keburu dingin."


"Iya mari kita makan dulu."


"Makan yang banyak ya, Suami, hahahaha." Wilona terbahak-bahak.


"Makan yang banyak juga Wilona Sayang," jawab Reyhan cool, sehingga membuat jantung Wilona semakin berdetak sangat hebat, ia bahkan merasa sangat kenyang saat ini, walau hanya dengan memandang wajah Reyhan saja.


"Hei, Sayang. Sayang, Kiana," Reyhan kali ini salah menyebut nama sehingga lamunan Wilona yang tadinya bahagia langsung menjadi drama.

__ADS_1


"Tania?" Mata Wilona terbelalak.


"Sayang, Kia eh Wilona maksudku." Reyhan mulai gugup, hati kecilnya masih tetap bertuliskan nama Kiana.


"Aku jadi nggak selera makan," Wilona membanting sendok yang ada ditangannya ke atas meja dengan kasar.


"Maafkan aku, Sayang."


"Makan tu maaf lo, gw capek sama maaf lo." Wilona menarik tasnya dan berlalu pergi meninggalkan Reyhan.


"Ah sudahlah, capek ngadepin wanita itu," batin Reyhan.


"Iih...Kok tu cowok nggak ngejar gw sih." Wilona semakin kesal, ia berjalan menuju parkiran dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimal.


Sementara Reyhan masih duduk dan menikmati makanannya, makanan ini adalah makanan favorit Reyhan dan Kiana, yaitu spagetti seafood dan machalatte, itu adalah makanan wajib yang hampir setiap mereka jalan berdua selalu mereka pesan.


"Kia, aku rindu. Izinkan aku merindukanmu sampai hati ini berlabuh pada cinta yang lain," batin Reyhan sembari memandang potret Kiana yang disimpannya di dompetnya.


Kini, Kiana menata kembali kepingan-kepingan hatinya yang telah hancur, ia tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan.  Sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan ibu, semua hal yang akan menghancurkan dan merusak pikiran akan ia buang jauh-jauh, ia ingin menjalani hidup dengan penuh semangat dan senyuman.


"Alhamdulillah, akhirnya Kiana bisa pulang ke rumah lagi, Bu. Rasanya bahagia banget bisa kembali tidur di kamar ini, walaupun sederhana tapi kamar ini adalah kamar terbaik yang Ibu hias untukku."


Kamar berwarna putih, dengan berhiaskan langit biru dengan awan putih yang menghiasinya. Hiasan dinding berwarna senada beserta karakter Hellokitty kesukaan Kiana menghiasi setiap furniture di kamarnya.


Terbayang dalam ingatanku sekitar 1 bulan yang lalu, ibu menyisihkan uang tabungan yang beliau dapatkan selama bekerja di rumah papa Kiana, untuk digunakannya merehab kamar Kiana untuk menghibur Kiana yang baru saja ditinggalkan oleh mamanya.


Perlahan Kiana baringkan tubuhnya ke tempat tidur yang paling nyaman sedunia. Ia pandang potret mama Windari yang terpajang dengan seksama, ia merindukan mama Windari yang kini telah bahagia di surga.


"Nak, Mama sangat sayang sekali sama Kia, Mama ingin Kia menjadi orang yang sukses. Namun, tetap saleha ya, Nak." Itulah pesan-pesan terakhir mama Windari yang selalu terngiang-ngiang di benak Kiana.


"Iya, Ma, Kiana janji akan bikin Mama bangga," jawab Kiana sembari tersenyum kepada mamanya.


"Nak, Mama ingin sekali suatu hari nanti kamu menikah dengan lelaki saleh yang bisa menjadi imam dan bisa membimbingmu menuju surga. Lelaki yang mencintaimu apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kamu miliki, lelaki yang mencintaimu karena Allah bukan lelaki yang mencintaimu karena fisik saja, Nak." Mama Windari terlihat menjelaskan dengan penuh harap.

__ADS_1


"Iya, Ma, Kiana ingin memiliki seorang pendamping hidup seperti yang menyayangi Kia dan anak-anaknya kelak."


Kiana ingin suaminya kelak tidak seperti papanya yang penghianat.


"Nak, sebaik-baiknya wanita adalah wanita saleha. Jadilah wanita yang memiliki rasa malu dan memiliki harga diri yang tinggi, jangan mudah terjebak dalam bujuk rayu laki-laki karena tidak ada cinta yang tulus sebelum menikah, Nak." Ungkapan penuh makana yang mama Windari ucapkan sangat benar adanya.


"Jadi, bagaimana jika ada lelaki yang mengatakan kalau dia mencintai Kiana, Ma?" tanya Kiana dengan raut wajah penasaran, sembari menatap mamanya yang duduk di ranjang rumah sakit dalam keadaan pucat.


Tok ..., Tok ..., Tok ....


"Assalamualaikum, Ibu boleh masuk, Nak?"


Terdengar oleh Kiana suara ibunya tengah mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.


Bi Iyem yang kini menjadi ibu Kiana, memasuki kamar dengan membawakan hidangan makanan untuk putri kesayangannya.


"Serius banget, lagi kangen sama Mama ya, Nak?"


Bi Iyem duduk di ranjang Kiana sembari meletakkan goreng pisang di meja.


"Hehehe, Ibu." Kiana tersenyum tipis.


"Apa Kia memikirkan Mama windari? Atau teringat pesan-pesan beliau?"


Bi Iyem sangat pandai sekali menebak apa yang ada dalam pikiran Kiana.


"Ayah ...," rengek Kiana.


"Iya, Nak."


Bi Iyem memeluk Kiana, ia paham apa yang dirasakan putrinya saat ini. Lamunan akan mama Windari, membuat air mata Kiana menetes membasahi pipi. Semua yang dikatakan mamanya memang benar. Mama Windari selama ini dibutakan oleh cinta hingga cinta itu menghianatinya, cinta yang menghancurkan hingga berkeping-keping dan mama Windari tidak ingin putri kesayangannya mengalami hal yang sama seperti yang beliau rasakan.


"Maafkan, Kiana, Ma."

__ADS_1


__ADS_2