
"Kia, kalau Papa adalah satu-satunya lelaki yang kamu sayangi, bagaimana dengan Reyhan? Apakah kamu tidak menyukai Reyhan?" tanya sang papa.
"Ah, sudahlah!"
Sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan bisa membuat kemarahan di hati Reyhan. Kiana menepuk jidatnya, ia menatap ke arah Reyhan, lelaki tampan itu saat ini tengah cemberut, sebuah ekspresi yang menggambarkan betapa ia cemburu dengan papa Kiana.
"Aku tidak menyayangi Reyhan," ucap Kiana lantang dan keras.
Kiana memasang kuda-kudanya kemudian berlari sekencang yang ia bisa untuk menghindari Reyhan. Ia tahu kalau Reyhan akan protes dan marah kepadanya, jadi salah satu cara yang tepat untuk menghindari kemarahan Reyhan adalah dengan kabur.
"Kiana, jangan lari, berhenti di sana! Jangan kabur!"
Teriakan Reyhan tidak Kiana pedulikan dan hiraukan. Ia terus berlari hingga ke parkiran dan tidak mempedulikan kekesalan Reyhan. Bahkan kini Kiana dan Reyhan terlihat seperti sepasang kekasih dalam film-film India.
"Awas ya kamu!"
Reyhan mengumpulkan semua tenaga dan energinya, kemudian berlari sangat kencang mengejar Kiana, hingga ia berhasil memeluk gadis cantik kesayangannya itu.
Sementara itu sang papa hanya bisa tersenyum geli melihat anak dan calon menantunya tengah memadu cinta. Mereka terlihat sangat serasi seperti papa dan mama Kiana ketika masih muda.
"Sayang, katakan sekali lagi, apakah kamu benar-benar tidak menyayangiku?"
Reyhan memaksa Kiana untuk mengakui isi hatinya saat ini agar hati dan perasaannya menjadi lebih tenang.
"Maaf, Rey, tapi aku tidak menyayangimu!"
Kiana menatap Reyhan dengan tatapan serius bahkan wajahnya tidak menunjukkan kalau ia tidak bercanda sama sekali.
"Kiana, apakah kamu serius?"
Reyhan melepaskan tangannya dari pinggang Kiana, wajahnya yang tadi penuh dengan senyum dan tawa bahagia langsung berubah menadi gundah, ia terlihat tidak sanggup kehilangan Kiana, bahkan ia merasa kalau Kiana mempermainkan cintanya.
"Kia, apakah cuma aku yang mencintaimu?"
__ADS_1
Untuk pertama kalinya Reyhan merasakan sakitnya jika seseorang yang dicintai ternyata tidak memiliki perasaan yang sama dengannya, sama persis dengan apa yang mungkin Wilona rasakan. Mungkin perasaan Wilona lebih parah dari pada apa yang ia rasakan sekarang, karena selama ini ia selalu bersikap munafik, seolah-olah mencintai Wilona padahal kenyataannya tidak sama sekali, berbeda dengan Kiana, selama ini Kiana tidak pernah menunjukkan cinta dan kasih sayangnya kepada Reyhan karena Reyhan selalu merendahkan dan memperlakukannya seperti seorang budak di tempat kerja.
"Kia, apakah kamu benar-benar tidak mencintaiku?"
Mata Reyhan mulai berkaca-kaca, ia terlihat ingin menangis. Ya, lelaki yang selama ini selalu mebuat orang menagis itu ternyata tidak bisa menahan gejolak di dadanya, air mata itu tidak lagi bisa dibendungkan, Reyhan akhirnya menangis dan mengeluarkan air mata.
Kiana sungguh tidak tega melihat air mata yang jatuh membasahi pipi Reyhan, rasanya air mata itu melukai hati dan perasaannya juga.
"Sayang, maafkan aku! Aku hanya bercanda."
Kiana menggenggam tangan Reyhan, menatap wajah tampan lelaki yang sangat disayanginya itu, namun sepertinya Reyhan sudah terbawa perasaan sehingga ia sama sekali tidak menanta Kiana. Reyhan memalingkan wajahnya dari Kiana seolah tidak ingin menatap wajah cantik Kiana sama sekali.
"Sayang, apakah kamu tidak ingin menatapku?"
Kiana berbicara lemah, seolah tengah menahan air matanya. Niat hati ingin bercanda dengan Reyhan tapi Kiana malah terbawa perasaan.
"Sayang, aku sangat mencintaimu, teramat sangat. Rasa sayangku kepadamu berbeda dengan rasa sayang dan cintaku kepada Papa. Papa adalah orang tuaku sedangkan kamu adalah calon imamku kelak, jadi bagaimana mungkin aku akan menyebutkan berapa banyak cinta dan kasih sayangku kepadamu."
Kiana berbicara mengungkapkan isi hatinya dengan air mata yang terus jatuh membasi pipi. Kiana berteriak sangat kencang agar Reyhan memahaminnya. Ya, dalam sepersekian detik, Reyhan langsung memeluk Kiana dan terjadilah romantisme sepasang kekasih di sana.
Rendra menghapus air mata yang mengalir membasai pipi Tania, mencium kening gadis cantik yang sangat dicintainya itu. Ya, seorang lelaki tidak akan pernah tega melihat air mata mengalir di pipi wanita yang sangat dicintainya.
"Habis kamu malah membuatku ma-lu!" rengek Kiana.
Kiana malu karena ia mengungkapkan isi hatinya kepada Reyhan, karena seorang wanita kodratnya adalah untuk mendengarkan pembuktian cinta bukan mengatakan cinta.
"Aduh, anak Papa kenapa? Apa Reyhan menyakitimu, Nak?"
Papa datang menghampiri Kiana dan Reyhan, kemudian beliau memberikan layangan tinju kepada Reyhan.
"Reyhan, kamu tidak boleh membuat anak Papa menangis, kalau kamu melakukan itu maka kamu akan berlawanan dengan Papa," ungkap Papa Haris yang terlihat tegas dan serius.
Seorang ayah tidak akan pernah tega jika sang anak perempuannya disakiti oleh orang lain, karena sang anak adalah mutiara dan harta berharga bagi orang tuanya.
__ADS_1
Walaupun sang papa tahu, Reyhan tidak membuat Kiana menangis, tapi ini adalah kesempatan yang tepat untuk membuat Reyhan tidak menyakiti hati dan perasaan Kiana kelak.
"Maaf, Pa, Reyhan berjanji tidak akan pernah membuat Kiana menangis lagi karena Reyhan sangat mencintai dan menyayangi Reyhan dengan segenap hati dan perasaan Reyhan."
"Papa percaya kok, sekarang kita berangkat yuk! Papa sudah sangat lapar."
Papa menggandeng tangan Kiana dan Reyhan dengan tangan kanan dan kirinya. Mereka berjalan dengan hati dan perasaan yang teramat sangat bahagia.
"Pa, Kiana ingin beli baju pasangan untuk kita, boleh kan?"
Tiba-tiba Kiana ingin sekali membeli baju keluarga untuk dipakai oleh ia, papa dan Reyhan, karena sewaktu mama mereka masih hidup Kiana sering sekali meminta kedua orang tuanya untuk memakai baju keluarga seperti itu.
"Nak, Papa udah tua, masak Papa harus memakai pakaian seperti itu?" tolak sang papa.
"Ayo dong, Pa, Kiana ingin sekali memakai baju keluarga setelah itu kita berfoto di studio," ucap Reyhan merengek manja.
Ya, ketika Kiana sudah merengek manja maka tidak ada yang bisa menolaknya termasuk Reyhan dan papanya.
"Ayo, Pa!"
Kini Reyhan yang menggandeng tangan papa untuk memasuki mobil, ia ingin membawa sang papa ke toko untuk membeli pakaian sebelum mereka makan.
"Ayo masuk, Pa!"
Reyhan membukakan pintu mobil agar sang papa masuk dengan nyaman duduk di sampingnya, setelah itu Reyhan membukakan pintu untuk kekasih yang sangat dicintai dan disayangi dengan sepenuh hati.
Ya, Reyhan memang sangat mencintai Kiana, tapi orang tua sangat pantas dihormati dan disayangi, karena tanpa orang tua sang anak tidak akan pernah ada.
"Pa, Kiana, kita berangkat ya!
Reyhan melajukan mobilnya dengan kecepatan standar menuju sebuah toko seperti keinginan Kiana.
Walaupun sang papa mengatakan lapar, tapi demi memenuhi keinginan sang anak maka rasa lapar pun akan hilang.
__ADS_1
"Kia, apalagi yang kamu inginkan, Nak?"