
Kini Kiana tidak lagi bisa melepaskan kerinduannya kepada mamanya karena wanita yang sangat disayanginya itu sudah tidak lagi ada di dunia ini, tapi Kiana bisa mengulang kembali semua momen kenangannya bersama sang mama dengan mama mertua yang memiliki sifat yang hampir sama dengan mamanya.
"Kiana, kenapa melamun, Nak? Yuk perawatan."
Ajak mama Reyhan yang memang sudah tidak sabar lagi dipijit dan dimanjakan oleh petugas yang ada di salon.
"Baik, Ma."
Kini Kiana dan mama Reyhan melakukan perawatan tubuh terbaik di salon ini dengan hati dan perasaan yang bahagia, dan untuk sesaat Kiana berusaha melupakan semua beban pekerjaan dan beban pikirannya, karena saat ini ia menikmati memanjakan dirinya yang sudah lama sekali tidak ia rawat.
'Mama, apakah Mama melihat Kiana sekarang? Kia bertemu dengan calon mertua yang teramat sangat baik yang mencintai Kia dengan sangat tulus seperti anak sendiri. Bukankah harapan Mama sudah menjadi kenyataan?"
Mama Kiana pernah mengungkapkan kepada Kiana kalau ia mengharapkan Kiana suatu saat nanti memiliki suami yang baik dan mertua yang baik pula karena bagi seorang wanita hubungan dengan mertua haruslah baik karena surga suami tetap pada ibunya, jadi seorang istri juga harus akur dengan mertuanya agar rumah tangga mereka aman dan diridai oleh sang pencipta.
Kiana merasa sangat bersyukur karena semua yang ia dapatkan sekarang atas berkat doa mamanya dan Kiana juga sangat bahagia karena ia bisa mewujudkan keinginan dan harapan mamanya agar sang mama bisa tenang dan ikut bahagia ketika melihat Kiana dari atas sana.
"Kia, terima kasih banyak ya, Nak, karena kamu Mama merasa terhibur dan tidak lagi kesepian."
__ADS_1
Ucapan lemah lembut dan terdengar tulus keluar dari lisan mama Reyhan walaupun beliau saat ini tengah menutup mata karena sedang asyik di spa.
"Harusnya Kia yang berterima kasih kepada Mama karena Mama telah mengizinkan Kia masuk kedalam kehidupan Mama dan memberikan anak kesayangan Mama kepada Kia."
Ucapan yang juga tidak kalah tulusnya keluar dari lisan Kiana, karena ia tidak menyangka akan diperlakukan dengan sebaik ini oleh calon mertuanya. Awalnya Kiana sangat takut untuk bertemu dengan kedua orang tua Reyhan, karena Kiana berpikir kalau ia tidak akan bisa menggantikan posisi wilona di keluarga Reyhan, tapi semua anggapan itu akhirnya bisa ditepiskan karena Kiana diperlakukan sangat baik sekali, bukan lagi sebagai calon menantu tapi lebih seperti anak sendiri.
"Kia, Mama tahu kalau Reyhan sangat jahat kepadamu dan sering menyiksamu di sekolah untuk melakukan pekerjaan sekolahnya, bahkan ia memintamu bekerja dengannya untuk kerjaan dan tantangan yang diberikan oleh Papa kepadanya. Ya, dengan tumpukan pekerjaan yang ia berikan, tapi satu hal yang harus kamu tahu kalau itu adalah cara Reyhan mengungkapkan cinta, kasih sayang dan perhatiannya untuk orang yang ia cintai. Bahkan Reyhan selalu bersikap berbeda kepada orang yang sangat ia cinta, karena ia tidak ingin menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya kepada seseorang yang ia cintai."
"Kia paham kok, Ma. Awalnya Nia memang sangat membenci Reyhan dengan sikapnya yang berubah-ubah seperti bunglon, tapi jika menuruti amarah saja mungkin Kiana akan meninggalkan Reyhan sejak lama, atau bahkan tidak ingin mengenal Reyhan dan sampai berpacaran dengannya, namun Kiana berpikir dari hati kalau Reyhan adalah orang yang sangat tulus mencintai dan menyayangi Kiana, bahkan semua yang terlihat kejam bagi orang lain itu jusru menghibur Kiana dan membuat Kiana lupa dengan masalah yang sedang Nia hadapi."
"Ternyata Mama kamu berhasil mendidik kamu dengan sangat baik, Kia," ungkap mama Reyhan.
"Mama kenal dengan mama Kiana?"
Rasa penasaran menyelimutiku dan ingin sekali aku mengetahui banyak hal tentang mama Reyhan yang seolah mengenal mamaku, sehingga sedikit kerinduanku kepada mamaku terobati dengan menceritakan dan mengenang beliau.
"Ya, kami dulu adalah teman dekat semasa SMA, tapi karena sebuah salah paham kami berantem dan tidak lagi berteman sampai saat ini. Namun, terkadang Mama sangat merindukan Mamamu karena ia adalah wanita yang sangat baik persis seperti dirimu dan Mama merasa sangat menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan menjadi sahabatnya."
__ADS_1
Mama Rendra mengatakan kalau aku sangat mirip sekali dengan mamaku ketika beliau muda, makanya mengajakku ke salon dan shopping seolah mengobati kerinduan mama Reyhan kepada masa lalu yang dulu sering mereka berdua lakukan semasa SMA.
"Kalau boleh tahu, kenapa Mama berantem dengan Mama Kiana?"
"Karena Mama sangat egois, menginginkan lelaki yang saat itu adalah kekasih Mama kamu, tapi sayangnya lelaki yang kami perebutkan itu tidak menjadi jodoh salah seorang dari kami."
Mama Reyhan seolah mengingat kembali seua kenangan masa lalunya bersama dengan mama Kiana, kenangan yang beliau rindukan dan kenangan yang tidak bisa lagi beliau ulang karena saat ini Mama Kiana sudah tidak ada lagi di dunia ini. Ya, sepertinya hubungan Kiana dan Reyhan direstui karena campur tangan mama Kiana dari atas sana, karena kerinduan mama Reyham kepada mama Kiana serta rasa bersalah akan persahabatan yang rusak di masa lalu membuat mama Reyhan langsung ingin memperbaiki kesalahannya kepada Kiana yang sangat mirip sekali dengan mamanya.
"Mama, apakah Mama sangat rindu kepada Mama Kia?"
"Iya, Nak, Mama sangat merindukan Mama kamu, bahkan 2 tahun terakhir Mama mencarinya untuk memulai kembali persahabatan kami tapi Mama hanya melihat mayat beliau sedang terbaring lemah dibaliti kain kafan di rumah sakit. Bodohnya Mama, Mama tidak menyapa Mamamu saat itu karena Mama melihat ada Reyhan di sana."
"Jadi Mama mengetahui kalau Kiana dan Reyhan dekat sejak saat itu?"
"Iya, Nak dan Mama merasa sangat senang karena anak kesayangan Mama menyukai gadis seperti kamu."
"Kenapa, Ma?"
__ADS_1