Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Restu Dengan Syarat?


__ADS_3

Orang tua Reyhan hanya diam melihat tingkah putranya, namun tidak ada yang bisa beliau lakukan selain diam karena syok melihat tingkah putranya yang membuat ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi.


"Ma, Pa, Wilona telah Reyhan anggap sebagai adik sendiri sudah sejak pertama kali kami bertemu, jadi Reyhan tidak bisa mencintai Wilona. Bahkan Reyhan sudah mencoba menjalani beberapa lama dengan Wilona tapi tetap saja rasa itu tidak pernah muncul di hati Reyhan."


Reyhan kemudian melepaskan tangan Kiana yang ia genggam, ia kemudian bersujud di kaki kedua orang tuanya, dan Kiana juga mengikuti Reyhan melakukan hal yang sama.


"Anak-anak, apa yang kalian lakukan? Cepat bangun!" ucap papa Reyhan.


Namun, Reyhan dan Kiana tetap bersujud di kaki kedua orang tuanya demi mendapatkan restu.


"Ma, Pa, Reyhan tidak ada maksud melawan kepada Mama dan Papa, hanya saja Reyhan ingin memperkenalkan Kiana, dia adalah gadis yang sangat baik dan sangat cocok sekali menjadi pendamping Reyhan, jadi tolong restuilah hubungan kami."


Reyhan mengungkapkan semua isi hatinya, sementara Kiana merasa terharu dan sangat dicintai oleh lelaki sebaik Reyhan. Kiana bahkan mengeluarkan air mata, karena lelaki yang ada di sampingnya itu adalah lelaki terbaik dan tersempurna yang Tuhan berikan untuknya.


"Om, Tante, saya suka sama Reyhan, saya sangat mencintai dan menyayanginya, jadi tolong restuilah hubungan kami!"


Kiana akhirnya berbicara dan mengatakan kalau ia sangat mencintai Reyhan dan sangat ingin sekali Reyhan menjadi suaminya, ia juga meminta restu kedua orang tua Reyhan dengan tulus dan penuh dengan pengharapan.


"Reyhan, Kiana, angkat wajah kalian dan duduklah kembali di sofa!"


Suara lantang dan penuh dengan ketegasan itu keluar dari lisan papa Reyhan, hingga Kiana dan Reyhan menurut, keduanya kembali duduk di sofa dengan wajah tertunduk karena bagi keduanya semua yang dikatakan oleh orang tua harus didengarkan dan dituruti.


"Apakah kalian berdua benar-benar ingin menikah?" tanya sang papa sekali lagi.


"Iya, Pa, kami berdua ingin menikah dan kami berdua sudah yakin dengan keputusan kami."


Jawaban lantang yang keluar dari lisan Reyhan membuat Kiana semakin yakin dan mantap hatinya kalau Reyhan benar-benar sangat mencintai dan menyayanginya dengan sepenuh hati.


"Apakah orang tua Kiana telah merestui?" tanya sang mama.


Kiana dan Reyhan mengangguk karena memang mereka berdua datang ke rumah Reyhan dengan mengantongi restu dari papa dan Ibu Kiana.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kalian bedua sudah yakin untuk menikah maka menikahlah! Tapi kalian harus tetap kuliah nanti."


Terdengar lembut dan samar tapi Kiana dan Reyhan yakin kalau papa Reyhan ternyata memberikan restunya kepada keduanya.


Senang dan bahagia!


Kedua insan yang sedang jatuh cinta itu saling menatap dengan senyum merekah yang terpancar jelas dari keduanya.


Ya, usaha mereka benar-benar tidak sia-sia sama sekali karena mereka akhirnya mereka mendapatkan restu yang sangat mereka harapkan.


"Pa, beneran Reyhan boleh menikah dengan Kiana?"


Seolah ingin memastikan kalau yang mereka dengar itu nyata dan bukan ilusi belaka.


"Jadi kalian berdua tidak ingin menikah?" tanya papa Reyhan dengan wajah tegang.


"Mau, Pa."


Ungkap Reyhan dan Kiana serentak.


"Ok, kalau kalian mau menikah ada syaratnya," ungkap papa Reyhan lagi.


"Syarat?"


Reyhan dan Kiana lagi-lagi berbicara serentak dan keduanya juga saling menatap, menunggu apakah syarat yang akan diberikan oleh sang papa.


"Kalian berdua harus membuktikan kepada Papa kalau kalian bisa mengalahkan perusahaan Papa dalam berebut investor yang akan menanamkan saham di perusahaan."


Ya, perusahaan milik Reyhan tengah bersaing dengan perusahaan papanya sendiri dalam mendapatkan simpati investor.


"Baiklah, Pa!"

__ADS_1


Tanpa ragu Reyhan langsung menyetujui syarat yang diberikan oleh papanya, karena apapun yang ia lakukan dengan Kiana pasti akan sukses selama ada Kiana yang mendampinginya. Ya, walaupun perusahaan papanya adalah perusahaan yang sangat besar sekali dan sangat ahli sekali dalam menaklukkan investor, tapi Reyhan yakin kalau kali ini ia bisa mengalahkan papanya.


"Baiklah, kalau kalian berdua berhasil maka Papa dan Mama akan merestui pernikahan kalian."


Janji papa Reyhan adalah janji seorang lelaki yang mana perkataannya adalah harga mati, dan sekali beliau mengatakan iya maka beliau akan menepatinya.


"Kiana, apakah kamu mau menemani Mama shopping?"


Mama Reyhan sepertinya sangat tertarik dan suka sekali dengan Kiana, beliau bahkan meminta Kiana memanggilnya mama agar terlihat lebih dekat dan terdengar akrab, bahkan Kiana juga diajak berbelanja karena selama ini mama Reyhan adalah wanita yang sangat ingin sekali memiliki anak perempuan untuk menemaninya kemanapun, dan beliau tidak mendapatkan itu dari Wilona, karena Wilona adalah gadis manja yang suka sekali merengek dan mengadukan hal-hal yang tidak penting sehingga terkadang membuat beliau muak dan bosan.


Kiana tidak serta merta menjawab iya, ia menatap ke arah Reyhan lagi seolah mengisyaratkan tanda persetujuan kepada Reyhan.


Reyhan mengangguk, karena menemani mamanya berbelanja adalah salah satu cara untuk mendapatkan restu beliau, apalagi mama Reyhan adalah wanita kesepian yang biasanya ditemani oleh pelayan dan sekretaris pribadinya saja untuk berbelanja. Setidaknya dengan berbelanja dengan Kiana maka mama Reyhan akan merasakan memiliki seorang anak perempuan yang sangat ia harapkan, seperti impiannya selama ini.


"Baiklah, Tan eh Mama," ungkap Kiana dengan wajah yang masih ragu.


Kiana bukannya tidak senang menemani mama Reyhan, hanya saja ia teringat dengan mamanya yang dulu sangat senang sekali shopping ditemani oleh dirinya.


"Reyhan, kamu temenin Mama dan Kiana shopping, jagain dan ikuti kemana Mama kamu mau karena Papa mau meeting sekarang!"


"Baik, Pa," ungkap Reyhan bersemangat dengan penuh kebahagiaan yang teramat sangat.


Papa Reyhan kemudian beranjak dari ruang tamu karena beliau mendapatkan pesan dari sekretaris pribadinya kalau beliau harus segera ke kantor karena ada urusan mendadak.


"Kiana, Reyhan, kalian makanlah dulu, Mama mau mau siap-siap dulu."


Mama Reyhan dengan bergegas menuju kamarnya untuk bersiap-siap karena sudah tidak sabar ingin shopping bersama anak dan calon menantu, sementara Kiana dan Reyhan kini tengah menunggu di ruang tamu dengan hati dan perasaan yang berkecamuk sekarang.


"Sayang, apakah itu artinya orang tua kamu merestui hubungan kita?" tanya Kiana sembari memegang dadanya yang kini masih bergetar hebat.


Ada rasa syok dan kaget di hati Kiana karena ia masih tidak percaya jika hubungan mereka sudah mendapatkan lampu hijau dari kedua orang tua kedua belah pihak. Walaupun keduanya harus menikah dengan syarat.

__ADS_1


"Sayang, aku juga tidak menyangka kalau Papa dan Mama akan selembut ini perasaannya, aku juga merasa sangat kaget sekarang, Sayang!"


__ADS_2