
Reyhan terlihat kecewa dengan sikap Kiana yang tidak ingin mendengarkan dan menurut kepadanya sedikitpun.
Kiana diam sembari menatap wajah lelaki yang saat ini menatapnya dengan tatapan mengiba.
'Bagaimana aku bisa percaya kepadamu di saat kamu bersikap seenaknya kepadaku. Kamu bermesraan di depan mataku tanpa memikirkan bagaimana perasaanku.'
Kiana membatin, ia merasa heran dengan dirinya sendiri, entah mengapa ia merasakan ketidaksukaan terhadap sikap Reyhan. Kiana juga merasa heran dengan dirinya sendiri, kenapa ia harus kesal dengan Wilona dan Reyhan yang tengah bermesraan, padahal wajar saja hal itu dilakukan oleh pasangan kekasih yang sedang memadu kasih dan sayang, apalagi mereka akan bertunangan.
'Apa aku cemburu? Ah, tapi tidak mungkin!'
Kiana seolah menepis bahwa yang saat ini ia rasakan adalah kecemburuan.
Kiana menatap Reyhan kembali dengan sejuta pergejolakan di hatinya.
"Sekarang kamu nurut saja!"
Reyhan membaringkan tubuh Kiana di kursi mobilnya.
Lelaki itu kemudian menyetir mobilnya dengan kecepatan standar dengan harapan agar sahabat sekaligus sekretaris pribadinya itu merasa tenang dan nyaman.
Sementara itu Kiana saat ini hanya diam dalam kebisuan dengan sejuta tanda tanya di hati dan otaknya. Sesekali gadis cantik itu menatap Reyhan yang saat ini tengah serius menyetir mobil dengan wajah yang terlihat sangat panik dan khawatir.
'Rey, kenapa kamu mengacak-acak hatiku? Tidakkah kamu tahu kalau aku teramat sangat terluka ketika melihat kamu sedang tersenyum dan bermesraan dengan wanita lain. Apakah kamu sengaja melakukan semua itu di depanku?'
Ingin sekali Kiana memaki Reyhan dan mengatakan kepada Reyhan tentang apa yang dipikirkannya saat ini.
Ingin sekali Kiana membentak dan menghardik Reyhan serta mengatakan kepada lelaki itu ketidaksukaan Kiana dengan sikapnya. Namun, Kiana kembali disadarkan bahwa ia bukan siapa-siapa, ia tidak berhak mengatur dan melarang Reyhan untuk berhubungan dengan wanita manapun yang ia sukai.
"Kia, kenapa kamu terus menatapku seperti itu? Apakah aku terlalu tampan?"
Sontak, candaan Reyhan membuat Kiana salah tingkah dan langsung memalingkan wajahnya dari lelaki yang memang sangat tampan itu.
"Kamu tidak menyukaiku 'kan, Kia?" tanya Reyhan sekali lagi.
"Awas ...!" teriak Kiana sangat keras sembari menutup matanya secara spontan.
Teriakan Kiana membuat Reyhan kaget. Reyhan segera memijak pedal dan menghentikan mobilnya secara mendadak ketika ia hampir saja menabrak seorang pengendara motor yang tengah melintas.
"Kia kamu tidak apa-apa?"
Reyhan panik dan sangat ketakutan. Ia menatap Kiana yang saat ini masih menutup mata dengan kedua tangan menutupi telinganya.
"Kia, aku ada di sini!"
__ADS_1
Reyhan langsung membawa Kiana jatuh ke dalam pelukannya. Ia merasakan tubuh gadis cantik itu tengah dingin dan gemetaran karena panik dan ketakutan.
"Tenanglah, Kia!"
Reyhan menepuk-nepuk lembut pundak Kiana sembari membelai lembut rambut gadis cantik itu.
Reyhan ikut merasakan ketakutan yang Kiana rasakan, hingga lelaki itu terus mencium pucuk kepala Kiana dengan penuh cinta dan kehangatan.
"Rey ..., aku takut!"
Kiana merengek manja, dan hanya itu yang dapat ia lakukan saat ini. Ya, Reyhan memang menjadi tempat Kiana bermanja, berkeluh kesah dan menceritakan semua hal yang dialaminya. Begitu juga dengan Reyhan, baginya kebahagiaan Kiana adalah segalanya dan ia tidak akan pernah tega melihat gadis cantik itu menangis atau menitikkan air mata.
"Jangan takut! Bukankah aku ada di sini bersamamu?" ucap Reyhan.
Lelaki tampan itu berusaha menenangkan Kiana, berharap wanita yang ada dalam pelukannya itu merasa lebih tenang dan lebih baik.
"Kamu jahat!"
Kiana melepaskan dirinya dari pelukan Reyhan, kemudian meninju dada bidang lelaki tampan itu. Kiana seolah meluapkan semua amarah yang menyesakkan dadanya.
Sementara itu Reyhan terlihat sangat pasrah dengan perlakuan Kiana kepadanya, ia menerima semua pukulan-pukulan yang Kiana layangkan tanpa protes sedikitpun.
"Kamu jahat!"
"Kia!"
Reyhan langsung menarik tangan gadis cantik itu dan mendekapnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Seolah ia ingin ikut merasakan kesedihan Kiana dan menyatu bersama gadis cantik itu.
"Lepaskan aku!" rengek Kiana.
Akan tetapi, semakin Kiana merengek maka semakin kencang pula pelukan Reyhan kepadanya. Reyhan seolah tidak ingin melepaskan pelukannya dari Kiana.
"Kia, jangan menangis lagi! Jangan pergi lagi dengan lelaki lain! Jangan pernah lagi mengatakan untuk berhenti bekerja! Jangan pernah pergi dariku dan meninggalkanku!"
Semua kata-kata itu berisi semua pengharapan Reyhan untuk Kiana. Sungguh, Reyhan terlihat tidak bisa jauh dari Kiana. Seperti sepasang sepatu, mereka berdua saling melengkapi.
"Rey, apa kamu cemburu sama Rendi?"
Kiana menatap wajah Reyhan dengan tatapan serius, ia merasa sikap Reyhan terlalu berlebihan sebagai sahabatnya.
"Rey, kamu tidak menyukaiku 'kan?" tanya Kiana sekali lagi.
Dua bola mata Kiana terus menatap tajam kepada Reyhan hingga membuat lelaki itu salah tingkah dan langsung tertunduk.
__ADS_1
"Ma-maaf, Kia, a-a-aku ...,"
Kaku dan terbata-bata, Reyhan benar-benar salah tingkah dan tidak bisa mengatakan apa-apa.
Suasana salah tingkah dan menegangkan ini benar-benar membuat Reyhan stres, karena ia tidak tahu akan menjelaskannya dari mana.
"Reyhan!"
Kiana terus menggoda Reyhan dengan terus menanyakan hal yang sama kepada lelaki tampan itu.
"Kia, jangan godain aku kayak gitu dong, 'kan kamu tahu sendiri kalau aku sudah bertunangan dan akan segera menikah!" ujar Reyhan tanpa menatap Kiana sedikitpun, seolah ia tengah menyembunyikan perasaannya.
"Apa Reyhan salah tingkah?"
Kianasangat tahu dan paham sekali dengan sikap Reyhan, sikap yang sama persis dengannya kalau ia sedang salah tingkah, wajahnya akan sangat memerah, ia juga tidak akan konsen melakukan kegiatan apapun.
'Ah, tidak mungkin Reyhan menyukaiku, ia sebentar lagi akan bertunangan dan apapun yang terjadi ia akan menjadi dengan Wilona, lelaki itu hanya kasihan kepadaku, aku hanya Upik Abu. '
Kiana berasumsi dan menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu percaya diri untuk sesuatu yang tidak mungkin.
"Rey, cepat antarkan aku pulang!" ucap Kiana.
"Pulang? Bagaimana kalau kita makan dulu?"
Reyhan memang sangat bergantung dengan Kiana. Sejak Kiana menjadi sekretaris pribadinya, ia akan makan kalau Kiana yang membawakan makanan untuknya.
"Rey, kakiku sedang tidak baik-baik saja, aku tidak bisa memesankan makanan atau menghidangkannya untukmu," jelas Kiana.
"Hari ini aku yang akan melayani mu!"
Reyhan mencubit hidung Kiana yang minimalis itu.
"Iih, apaan sih, Rey!"
Kiana meletakkan kedua tangannya di dada dan memanyunkan bibirnya.
"Jelek!"
Reyhan tersenyum merekah ketika menatap wajah Kiana yang dianggapnya lucu.
Suasana yang semuanya beku dan penuh dengan salah tingkah itu akhirnya berganti dengan canda tawa, senyum bahagia dan gelak tawa di sepanjang perjalanan.
Tidak terasa akhirnya Reyhan dan Kiana sampai di sebuah cafe yang letaknya dekat dengan SMA Bangsa, tempat sekolah keduanya. Cafe sederhana namun penuh kenangan dan momen berharga untuk keduanya, di mana tempat ini adalah tempat favorit mereka, mulai dari makan sampai mengerjakan tugas jika Reyhan merasa bosan di kantornya yang ada di sekolah.
__ADS_1