
Entah apa tang terjadi pada Kiana, ia menjadi salah tingkah ketika Rendi menyadari kalau ia tengah diperhatikan.
"Iih apaan sih, Ren!" ucap Kiana sembari memalingkan wajahnya dari Rendi. Kiana tidak ingin baper dan terjebak lagi pada cinta semu yang selama ini telah susah payah ia lupakan.
"Kiana, Kiana, kamu tidak berubah," balas Rendi dengan senyum tipis yang keluar dari wajahnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pak, pesan dua porsi bubur ayam dan es teh ya," ujar Rendi kepada penjual bubur ayam sembari duduk di bangku yang telah disediakan.
"Siap, Mas Rendi," jawab sang penjual yang terlihat akrab dengan Rendi.
"Ren, kamu seakrab itu sekarang sama Bapak yang jual bubur ayam?" tanya Kiana penasaran.
Ha ..., Ha ..., Ha ....
Rendi tertawa geli melihat tingkah Kiana yang dianggapnya sangat lucu dan menggemaskan.
Kiana heran dengan perubahan sikap Rendi akhir-akhir ini yang menjadi lebih ramah dan mudah bergaul dengan banyak orang.
"Selamat menikmati bubur ayamnya, Mas Rendi, semoga suka," ujar sang penjual sembari menghidangkan pesanan Rendi dan Kiana di atas meja.
"Terima kasih banyak, Pak," jawab Rendi dengan senyum menawan yang terlihat sangat ramah.
"Eh, Mas Rendi sekarang udah sama si Mbak lagi ya? Biasanya sendirian aja kesini."
Lelucon sang penjual bubur ayam membuat Rendi salah tingkah dan malu.
"Rendi sering makan di sini ya, Pak?" tanya Kiana mencoba bersikap ramah dan akrab kepada penjual bubur ayam.
"Iya, Mbak, tiap minggu pasti ke sini. Awal-awalnya dulu makan bubur ayam sambil nangis."
Penjelasan penjual bubur ayam membuat Rendi semakin salah tingkah karena semua rahasianya di ketahui oleh Kiana. Sementara Kiana merasa bersalah kepada Rendi karena telah membiarkan lelaki itu patah hati dengan penyesalan yang menyelimuti dirinya.
"Udah ah, Pak, saya jadi malu," ucap Rendi sembari menyendok bubur ayamnya dengan wajah tertunduk malu dengan muka yang merah merona.
"Selamat menikmati, Mas, Mbak," ujar penjual bubur ayam sembari berjalan meninggalkan Kiana dan Rendi.
"Kia, silahkan di makan, makan yang banyak ya, boleh nambah juga," ujar Rendi seolah ingin menghilangkan sikap malu dan salah tingkahnya.
"Iya, Rendi, selamat makan juga ya!" balas Kiana dengan senyuman.
__ADS_1
Kiana tidak ingin membuat Rendi malu dan salah tingkah karena sesuatu yang diketahuinya.
Kiana menyantap bubur ayam dengan lahap, ia membayangkan kalau bubur ayam itu adalah Reyhan, lelaki yang membuatnya kesal dan sangat marah hari ini. Bahkan Kiana sampai menambah 2 porsi bubur ayam lagi saking kesalnya.
"Kia, kamu kurus tapi kok makannya sebanyak itu?" ujar Rendi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Kiana yang makan dengan sangat lahap.
"Tapi setelah banyak makan perasaanku menjadi lebih baik," ucap Kiana sembari mencibir kepada Rendi.
"Syukurlah, Kia, aku senang melihat kamu tersenyum seperti itu. Kamu terlihat sangat cantik ketika tersenyum," ujar Rendi dengan hati yang sangat senang.
Bagi Rendi, bahagia Kiana adalah bahagianya juga. Sedihnya Tania adalah sedihnya juga.
"Ren, terima kasih banyak ya karena kamu telah membuatku tersenyum saat ini," ucap Kiana dengan memberikan senyum terbaiknya kepada Rendi.
"Kia, apakah tidak ada kesempatan lagi bagiku untuk menjadi kekasihmu?" tanya Rendi.
Rendi menatap Kiana dengan tatapan penuh harap. Ia menggenggam tangan Kiana dengan lembut.
"Ren, maaf, saat ini aku tidak ingin berpacaran atau memiliki hubungan apapun dengan siapapun, karena saat ini fokus diriku hanyalah kesehatan Mama. Tidak ada yang lebih penting dari pada Mama," jelas Kiana sembari melepaskan tangannya dari Rendi.
Kiana telah berjanji kepada dirinya sendiri, kalau ia hanya akan fokus untuk merawat mamanya, bekerja untuk memenuhi kebutuhan mamanya dan ia menyerahkan hidupnya hanya untuk mamanya.
Rendi sangat tahu sekali kalau alasan Kiana menolaknya adalah Reyhan. Hati dua orang insan itu saling terikat dan tertaut walaupun tidak satupun dari mereka yang menyadarinya.
"Ren, aku harap kamu mengerti," ujar Kiana.
Kring ..., Kring ..., Kring ....
Kiana dikejutkan oleh suara ponselnya yang berbunyi dengan nada dering berbeda dari yang lainnya. Tentu saja Kiana sangat tahu kalau Reyhan-lah yang menghubunginya. Lelaki itu pasti saat ini sedang panik mencari Kiana dengan sejuta tumpukan pekerjaan yang akan diberikannya kepada Kiana. Mungkin juga Reyhan akan berteriak dan marah-marah kepada Kiana karena ia tidak bisa bekerja tanpa ada Kiana di sampingnya.
"Kia, kok nggak diangkat?"
Rendi sedari tadi menatap Kiana yang terlihat panik dan terus saja menutup panggilan teleponnya.
"Aku ...," Kiana terlihat gagap dan tidak bisa menjawab pertanyaan Rendi.
Hati Kiana saat ini terus berkecamuk dengan kepala yang berputar-putar seolah ingin pecah.
"Kia, apakah kita kembali ke kantor saja?"
__ADS_1
Rendi sebenarnya tidak ingin Kiana kembali ke kantor karena dokter menyarankannya untuk beristirahat dengan tenang di rumah. Namun, melihat bagaimana paniknya Kiana saat ini makanya dengan terpaksa Rendi menyarankan kepada Kiana untuk kembali ke kantor menemui Reyhan yang saat ini juga sedang panik dan tidak bisa apa-apa tanpa Kiana.
"Kia, apa kita kembali ke kantor?" ulang Rendi sekali lagi ketika Kiana tidak menjawab pertanyaannya.
Kiana mengangguk dengan menaruh wajah yang penuh dengan kekhawatiran, berharap Rendi akan menuruti keinginannya.
"Baiklah, Kia, kita akan kembali ke kantor!" ujar Rendi.
Rendi menggendong Kiana kembali menuju parkiran mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di kantor.
Sementara Kiana, terus menggoyang-goyangkan kakinya pertanda ia sedang khawatir dan gelisah. Hatinya tengah galau, badannya di sini tapi hatinya di kantor.
"Kia, apakah kamu sekhawatir itu sama Reyhan?" ujar Rendi.
"Tentu saja, Reyhan tidak akan bisa bekerja tanpa aku," ujar Kiana dengan tatapan tetap ke depan berharap segera sampai di kantor.
"Kia, tenanglah! Jika kamu terus-terusan seperti ini maka kaki kamu akan semakin sakit. Sabar! Sebentar lagi kita juga akan sampai di kantor," ucap Rendi lembut.
Selang beberapa menit kemudian akhirnya Rendi memarkirkan mobilnya di parkiran perusahaan.
Kiana yang kakinya sakit segera bergegas ingin ke luar dari mobil dengan hati dan perasaan yang berkecamuk.
"Ren, terima kasih," ujar Kiana.
"Kia!"
Rendi menggenggam tangan Kiana dan menatap lembut mata wanita cantik yang sangat dicintainya itu.
"Ren, lepaskan tanganku!" hardik Kiana marah dengan mata yang membelalak.
"Kia, kamu belum kuat berjalan sendiri, kakimu masih cedera, kamu lupa kata Dokter kamu harus beristirahat," jelas Rendi.
Kiana terdiam, kepanikan membuat ia lupa kalau kakinya saat ini sedang terluka.
"Kia, apa aku boleh membantumu?" tanya Rendi meminta dengan tulus.
Kiana mengangguk pertanda setuju karena Kiana memang membutuhkan bantuan Rendi saat ini.
"Ren, tapi aku jangan di gendong ya?" pinta Kiana.
__ADS_1