7 Hari Bersama Althara

7 Hari Bersama Althara
Hari ke tiga


__ADS_3

Sudah ketiga kalinya aku pergi kesekolah namun tak bertemu dengan ketiga sahabat ku. Dan hari ini akhirnya bu Renatha memberikan waktu istirahat kepada kami bersamaan dengan jam istirahat kedua sekolah,jadi aku bisa berisitirahat dengan ketiga teman ku di kantin.


Kita duduk dikantin dan segera memesan masakanan favorit kita, yaitu batagor kuah pedas dengan minum lemon tea.


“Duh gue kangen banget nge gosip bareng kalian” ucap ku sambil memajukan bibir ku menatap rindu ketiga teman ku.


“Mmhhh kita juga kangen banget sama lo al”


“Iya biasanya di dalem kelas tuh rame ada yang ngerecokin, sekarang kelas jadi sepi banget” ujar Tata.


“Hmm masa?” Ledek ku tak percaya.


“By the way gimana latian lo ?” Tanya Tata


“Menyebalkan” jawab ku jadi ketus.


“Lo masih di antar jemput Althara ?”


Aku mengangguk tak bersemangat.


“Hebat lo al, lumayan tuh Althara bisa di jadiin ojek pribadi kan?” Ujar Venna membuat kita semua kembali tertawa.


“Ojek gratisan,ganteng lagi” ujar Ghea.


“Wuuu ujung ujung nya muji dia lagi lu”


“Loh emang ganteng kan dia?”


Aku hanya diam tak membenarkan ucapan nya.


“Tapi lo bener ga pernah ngobrol apa-apa sama dia ?” Tanya Tata tak percaya.


“Gak pernah ta, gue sama dia tuh ga pernah basa basi ngobrol kayak yang lain tuh ga ada,selama di motor kita cuma diem-diem an, sekalinya dia ngomong ya hal yang nyebelin buat gue. Gue juga heran kenapa ada makhluk kayak dia”


“Dia kayak nya punya kelainan deh al” ucap Venna membuat kita semua berfikir.


“Jangan jangan dia ga suka sama cewe” lanjut nya.


Ucapan Venna membuat kita mencerna sejenak dan lalu tertawa.


“Hahahhahah sialan lo , ya kali Althara ga suka cewe”


“Loh bisa jadi kan ?”


Tidak lama seorang laki-laki menghampiri meja kami.


“Hay Alhena hay semua”


“Hay ka Devan” aku hanya tersenyum begitu melihat nya.


Entah kenapa aku selalu merasa risih jika melihat dia ada di sekitarku.


“Kamu apa kabar?”


“Baik kak”


“Sibuk banget ya akhir-akhir ini sampai ga pernah sempet balesin chat aku lagi”


Aku teringat beberapa pesan yang di kirim Devan ke handphone ku. Sesekali memang aku sempat membalasnya namun ketika ku merasa bosan aku membiarkan pesan nya begitu saja di handphone ku.

__ADS_1


“Aku bales kan kak”


“Ya kamu emang pernah bales, tapi jarang banget”


“Aku cape ka,aku perlu istirahat” ucapku yang sudah mulai risih dengan nya.


“Oke, kalo gitu hari ini aku antar kamu pulang ya aku mau ajak kamu makan di luar sebentar doang kok langsung pulang”


Aku melirik kanan kiri ku meminta pertolongan kepada teman teman ku. Aku benar-benar begitu tidak ingin bersama nya, justru aku ingin begitu jauh darinya namun ketika ku melirik teman teman ku, mereka semua menganggukan kepala dengan semangat. Bahkan Ghea sampai memeloti ku seolah dia berkatak ‘awas aja kalau lo ga mau’


Aku menghela nafas sebelum menjawab ajakan nya.


“Oke” singkat ku begitu tak bersemangat, lalu terdengar teman-teman ku bersorak kegirangan seolah mereka lah yang telah berbahagia.


Kak Devan pun ikut menghela nafas lega mendengar jawaban ku.


“Oke kalo gitu nanti aku jemput kamu ke ruang musik ya”


Aku menganggukan kepalaku, Devan mengusap kepalaku lalu pergi dari hadapan ku.


“Oh my god al akhirnya lo mau di ajak nge date sama dia”


“Apaan sih cuma makan doang heboh banget” ketus ku kepada Tata.


“Iya itu nge date namanya” keukeuh Nya.


“Ih seneng deh gue, gue doain lo cepet-cepet jadian sama Devan ya biar gue ada temen” perkataan Ghea sontak menarik perhatian kita semua.


Kita semua terdiam dan menatap Ghea begitu tajam dan menyeramkan.


“Lo punya pacar?” Tanya ku sinis.


“Hehe belum sih, someday maksud nya kalo gue kan gampang nyari cowo” tangkis Ghea terlihat sangat mencurigakan.


Aku merasa ada yang aneh dari Ghea, aku yakin ada yang di sembunyikan nya namun aku membiarkan nya saja, aku yakin suatu saat jika Ghea siap bercerita dia pasti akan mengatakan nya sendiri.


Latihan pun selesai, begitu berat sekali aku mengakhiri latihan hari ini, aku berharap sesuatu terjadi. Berharap latihan akan di perpanjang,atau tiba-tiba papa menjemputku di depan atau terjadi sesuatu apa saja yang bisa membuatku dan Devan tidak pernah pergi bersama.


“Oke semua thank you untuk hari ini” ucap bu Renatha sambil pergi dari ruangan.


Semua tengah bersiap untuk pergi.


“Gue cabut duluan yaa” pamit Edo sambil melambaikan tangan nya di ikuti Kevin dan Rizal di belakang nya berpamitan.


Althara masih sibuk memebereskan piano nya,aku begitu berat berbicara kepadanya, ada rasa tidak enak di dalam hatiku tapi aku fikir lagi,untuk apa aku tidak enak kepadanya?


Aku berjalan mendekati nya.


“Althara”


Althara hanya memandangku sebentar untuk menyauti ku dan kembali sibuk memebereskan barang-barang nya.


“Gue hari ini pulang bareng Devan”


Althara terpatung sejenak mendengar ucapan ku, seperti sedang mencerna perkataan ku. Lalu dia kembali membereskan piano nya yang sudah di simpan nya di tempat yang aman.


“Lalu?” Tanya nya begitu dingin, seolah olah dia tak peduli.


“Ya gue gak pulang bareng sama lo hari ini”jelasku.

__ADS_1


“Ya oke bagus” jawaban nya sungguh membuat ku merasa malu.


Entahlah aku malah mengharapkan Althara untuk menahan ku atau memaksa ku untuk pulang dengan nya, namun itu sungguh tidak akan mungkin.


Althara melangkah pergi meninggalkan ku dan aku mengikuti nya dengan perasaan yang begitu tak karuan.


Tiba-tiba Althara berhenti di ambang pintu, tatapan dia begitu sinis melihat sosok di samping nya dan entah apa yang di lihat nya sampai setajam itu. Ketika ku mendekati Althara, barulah aku melihat apa yang membuat Althara terdiam seperti itu


Devan


Althara melirik ku dengan dingin, entah apa maksud dari pandangan nya itu dia selalu membuatku bertanya tanya. Namun Devan pun terlihat sama, tatapan tajam nya tak lepas memandang Althara begitu penuh arti. Sampai Althara pergi pun Devan terus menatap nya penuh dendam. Aku yakin ada sesuatu di antara mereka. Tapi mereka kan teman satu kelas, mana mungkin mereka bersikap dingin seperti ini.


“Kak Devan” panggil ku berusaha menyadarkan nya, barulah wajah nya berubah menjadi manis.


“Udah selesai?” Tanya nya, aku mengangguk dan segera pergi mengikuti nya.


Sebenarnya aku begitu penasaran ada apa antara Devan dan Althara,kenapa mereka terlihat tidak akur ? Tapi aku takut di katakan terlalu ingin tahu urusan orang, alias kepo.


Devan membawaku ke sebuah restaurant jepang, dan kita segera memesan makanan dan aku segera menghabiskan makanan ku ketika makanan datang agar bisa segera juga pulang dari sini.


“Besok kamu pergi bareng papa kamu, dan pulang aku lagi yang antar ya” ucap Devan sambil memasukan makanan ke mulutnya.


“Aku ga di anter papa kok selama ini” ucap ku sambil terus menyantap makanan ku tanpa menoleh nya.


“Terus sama siapa ? Mama ?”


“Althara” singkat ku tanpa merasa berat mengakui nya.


“Althara ?” Dia terlihat terkejut sampai menaruh kembali makanan nya.


“Ngapain bareng sama dia?” Tanya nya terdengar kesal.


“Emang kenapa ?” Tanyaku sinis.


“Emang ga ada alternatif lain?” Tanya nya yang semakin membuatku tak nyaman.


“Ga ada” sinis ku dengan tatapan yang begitu kesal.


“Seengganya kamu bisa kan minta tolong siapa kek, satpam kamu atau pembantu kamu, atau kamu masih bisa kan naik angkutan umum ?” terdengar begitu menyebalkan sekali Devan ini.


“Kakak suruh aku naik angkutan umum ? Kakak tahu sendiri kan jarak dari rumah aku ke jalan raya itu jauh” ucapku begitu tegas.


“Ya tapi seengganya bisa kan,jangan Althara”


“Apa alasan nya?”


“Kamu ga akan pernah tau sebenarnya dia seperti apa”


“Kak, yang aku tahu sekarang sifat asli ka Devan. Egois”


“Bukan gitu al”


“Cukup kak aku mau cepat pulang,aku udah cape mau istirahat”


“Al”


“Kak please stop!” Aku menatap nya begitu sinis.


Dan perasaan ku kepadanya malah semakin memburuk.

__ADS_1


__ADS_2