7 Hari Bersama Althara

7 Hari Bersama Althara
Menjadi romantis


__ADS_3

Malam itu Althara izin untuk kembali ke Jakarta. Dan semalaman kita tidak berhenti telepon sampai aku tertidur.


Di pagi harinya,aku membuka mataku di kamar,aku masih linglung melihat sekitar ku yang asing namun tak asing ini. Biasanya aku terbangun di depan jendela kamar ku yang di Jakarta,sekarang aku terbangun di sebuah ruangan yang luas dan begitu banyak ornamen bintang di sekitanya. Aku terbangun seperti terlahir SMA kembali.


Ini the javu kembali,aku teringat terakhir kali aku terbangun dan tidak bisa menghubungi Althara. Tiba-tiba aku panik,nyawaku langsung terisi penuh mengingat semua itu,aku langsung mencari handphone ku di atas kasur,aku melihat handphone ku dan tidak ada notifikasi darinya,lalu dengan cepat aku mencari kontak Althara dan menelepon nya.


Nomor yang anda hubungi sedang sibuk mohon….


Lagi,nomor Althara tidak aktif. Aku kembali menghubunginya dan masih tidak aktif.


Tiba-tiba aku panik, aku teringat kembali kejadian 6 tahun lalu di saat aku di tinggalkan oleh nya begitu saja. Aku jadi overthinking, apa Althara sengaja memulangkan ku ke Bandung karena dia akan kembali ke Jerman dan meninggalkan ku. Seketika jantung ku berdebar hebat, rasa takut langsung mengantui ku. Fikiran negatif pun langsung berputar di dalam otak ku. Lalu terdengar suara mobil masuk ke dalam garasi rumah, aku melirik ke luar jendela, walaupun tak terlihat namun suara mobil begitu jelas terdengar masuk ke dalam garasi rumah.


Dengan cepat aku keluar kamar, berlari menuruni tangga. Bi Inah yang di dapur terheran melihat ku yang begitu panik dan tergesa-gesa.


“Non Alhena ada apa?” Tanya nya ketika aku melewati nya begitu saja.


Aku terus berlari ke arah ruang tamu dan membuka lebar pintu rumah ku.


Althara berdiri di depan pintu dengan kaos hitam dan celana jeans biru telur asin. Dia baru saja akan memijit bel ketika aku membuka pintu. Dia terkejut melihat aku yang masih memakai baju oversize abu, celana pendek, rambut tak di ikat, dan dengan wajah yang begitu panik.


“Kamu kenapa?” Tanya khawatir Althara.


Aku langsung memeluk nya memastikan jika ini tidak mimpi, dan Althara masih ada di hadapan ku. Aku memeluk dia begitu erat menghilangkan rasa takut yang menghantui ku.


“Alhena kenapa kamu berkeringat” ucap Althara memegang lengan ku.


“Kamu sakit?” Tanya nya melepaskan pelukan ku.


Aku kembali memaksa untuk memeluk nya.


Bi Inah melihat di ruang tamu dengan ikut khawatir.


“Kamu kenapa? Kenapa kamu ketakutan? Kamu mimpi buruk?” Tanya nya lagi, namun aku masih enggan untuk menjawab.


“Alhena ayo jangan bikin aku takut”


Lalu aku melepaskan pelukan nya dan menatap dia dengan kesal, mataku mulai berair merasa lega namun aku merasa sedih juga.


“Kamu yang bikin aku takut!” Ucap ku membuat Althara heran melihat ku begitu kesal.


“Kenapa hp kamu ga aktif?” Tanya ku.


“Aku lupa charge hp aku, chargeran ketinggalan di rumah, aku baru pinjem ke kamu”


“Kenapa pagi-pagi ga ngabarin aku dulu!” ucap ku dengan masih saja kesal.


Althara masih terlihat kebingungan.


“Aku minta maaf” ucap nya yang hanya bisa mengalah walaupun dia tidak mengerti dengan aku yang tidak biasanya se posesif ini.


“Kamu ga boleh ngilang lagi kaya gitu Al, kamu ga boleh bikin aku panik, kamu ga boleh matiin hp kamu,”


Akhirnya Althara mengerti ketakutan ku, dia menghela nafas nya memandang ku yang penuh dengan ke khawatiran nya.


“Kamu harus bisa aku teleponin, kamu harus terus kabarin aku, kamu harus selalu ada buat aku, pokoknya kamu ga boleh ngilang lagi, aku gamau..”


lalu Althara memeluk ku dengan lembut dan mengelus punggung ku.


“It’s Oke” ucap nya terus menenangkan ku.


Pelukan nya begitu hangat dan menenangkan seketika membuat ku nyaman di dalam dekapan nya.


“Aku disini. Aku ga akan pergi lagi”


Terdengar suara langkah kaki di belakang ku namun dia tidak bersuara. Itu Mama yang baru bergabung dengan Bi Inah, mungkin Mama bertanya tanya kenapa aku berlari-lari dan kenapa aku dan Althara malah mengobrol di ambang pintu. Lalu Bi Inah menjelaskan kepada Mama apa yang terjadi.


Althara melepaskan pelukan nya dan memegang kedua pipi ku yang basah dengan tangisan ku, dia menyingkapkan rambut yang menghalangi wajahku ke belakang telinga.


“Aku minta maaf handphone aku mati. Aku janji ga akan bikin kamu khawatir lagi, aku juga janji bakalan terus ada untuk kamu”


Aku menganggukan kepala ku yang mulai tenang.


“Masuk ya”


Ajak Althara dengan menggandeng pinggang ku dan satu tangan menyeret koper nya, kami menghampiri Mama dan Bi Inah yang masih terlihat khawatir dan kebingungan menatap ku.


“Hallo Ma” sapa Althara.


Mama sama sekali tidak menyinggung dengan keadaan ku, karena dia tahu kalau aku sudah tenang seperti ini aku tidak ingin membahasnya.


“Hay Althara, gimana perjalanan nya?”


“Lancar Ma” jawab Althara sambil tersenyum.


“Papa udah pergi kerja?”


“Udah. Nanti sore dia ada janji ketemu kamu kan?” Ucap Mama mengingatkan.


“Iya Ma” jawab Althara.


Aku masih berdiri di samping Althara dengan diam.


“Kamu ke kamar mandi dulu, dan ganti baju, temani Althara sarapan” pinta Mama dengan manis sambil membelai lengan ku.


Aku masih terlihat ketakutan namun aku menatap Althara untuk memastikan dia tidak akan kemana mana.


“Aku tunggu di ruang makan” ucap Althara meyakinkan ku.


Aku menganggukan kepala ku dan berjalan menuju kamar ku yang ada di lantai atas.


“Mama mau bicara” ucap Mama kepada Althara.


“Baik Ma”


Lalu Althara mengikuti Mama ke ruang keluarga yang berada tepat di dekat tangga, sambil memastikan aku belum keluar kamar.


Mereka duduk berdua disana.


“Althara. Ini pertama kali lagi Mama Liat Alhena seperti ini”


Lagi?

__ADS_1


Tanya Althara dalam hati.


“Udah cukup lama Mama ga pernah liat Alhena sepanik ini dan setakut ini. Saat Alhena di tinggalin kamu dulu, Alhena jadi pemurung, pendiam dan kadang suka keliatan sedih ngurung diri di kamar”


“Alhena pernah tiba-tiba nangis di dalam kamar dan keliatan panik banget cek cek hp nya, bahkan beberapa kali dia pernah bangun tidur terus keliatan ketakutan liat keluar jendela dan cek handphone nya terus menerus coba hubungi kamu”


Althara terlihat begitu bersalah mendengar aku yang ternyata separah itu.


“Tiap malem mama suka nemenin Alhena di kamar, tapi dia tetep aja sering tiba-tiba panik dan sedih kaya gitu lalu dia nangis. Mama ga tau kalo dia masih kaya gini walaupun udah ketemu kamu”


“Aku ga tau ternyata separah itu Alhena dulu?” Ucap Althara masih saja termenung menyesali semua perbuatan nya.


“Aku minta maaf. Tapi tadi mungkin karna dia coba hubungi aku dan hp aku mati Ma dia jadi takut aku pergi lagi”


Mama memegang lembut bahu Althara.


“Nak. Kamu ga akan tinggalin lagi Alhena kan?” Tanya Maka yang juga takut anak semata wayang nya kembali depresi.


“Mama ga bisa liat Alhena sedih lagi kaya gitu. Dia sayang banget sama kamu, dia kayanya ga bisa hidup tanpa kamu”


Althara mengambil tangan Mama di bahu nya dan menggenggam nya seperti dia menggenggam tangan Bunda nya untuk bisa mempercayai nya.


“Mah. Aku janji, akan selalu ada untuk Alhena, dan aku akan menebus semua kesalahan aku selama ini sama kalian. Aku janji akan terus ada untuk Alhena” ujar Althara dengan penuh keyakinan.


Setelah aku mandi dan mengganti pakaian ku, aku menatap diriku di cermin dan mengingat kejadian yang baru saja terjadi.


Kenapa aku bisa sepanik itu dan setakut itu saat bangun tidur tadi, aku menyesali perbuatan ku, dan aku menyesali sifat ku yang sudah memarahi Althara seperti itu sampai membuat Althara kebingungan.


Aku jadi malu turun ke bawah dan menemui dia, tapi aku harus menemani dia sarapan aku takut dia marah.


Dengan terpaksa aku keluar dari kamar dan menemui Althara juga Mama yang sudah duduk di meja makan.


“Hay” sapa Althara dengan manis.


“Hay” balas ku yang sudah jauh lebih baik dan lebih sadar.


“Pagi sayang” sapa Mama seolah tidak terjadi apa-apa tadi.


“Duduk, temani Althara sarapan”


Aku mengangguk dan berjalan ke samping Althara lalu duduk di kursi nya.


Aku dan Althara segera mengalas sarapan kami yang ada di atas meja. Aku melirik Althara dan Mama yang bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa padaku, bahkan aku melihat Bi Inah yang menyediakan jus untuk ku terlihat begitu tenang, padahal Bi Inah menyaksikan sendiri bagaimana ketakutan aku tadi. Mungkin mereka tidak ingin membuat ku tidak nyaman.


Kami mulai menyantap nasi goreng beserta lauk pauk nya ini dengan tenang.


“Oh iya Althara. Kamu bawa koper mau kemana?” Tanya Mama di sela sela sarapan kami.


“Aku mau pindah ke rumah ku yang lama Mah”


“O iya?” Tanya Mama begitu bahagia mendengarnya.


“Kemarin aku sama Alhena beresin rumah nya, dan sekarang Bunda sendiri yang minta aku untuk tempati rumah itu”


Mama kembali tersenyum mendengarnya, namun tidak dengan aku yang berpura-pura fokus makan. Aku tau mereka melirik ku namun aku berusaha untuk tak menghiraukan nya.


“Kamu mau kesana sekarang?” Tanya Mama lagi.


Aku langsung melirik Althara dengan cepat dan menatap dia dengan tajam.


“Kenapa ? Dari tadi kamu diem aja, kamu sakit kan?” Tanya nya seolah tidak tahu ada apa dengan aku.


“Aku..” jawab ku yang mulai mau berbicara namun terlihat canggung.


“Aku ga apa-apa,aku sehat, aku mau ikut kamu” ucap ku dengan kikuk tanpa melihat wajah nya, dan kembali ke piring di hadapan ku.


Althara tersenyum.


“Ya udah, selesai sarapan kamu juga bekal baju ya aku mau ajak kamu jalan-jalan”


Aku melihat Althara lalu memandang pakaian ku yang terlihat baik-baik saja dengan kemeja polos berwarna browny dan celana berwarna chestnut.


“Kenapa emang baju yang ini?” Tanya ku takut jika aku salah kostum.


“Ga apa-apa, tapi aku mau kamu ganti baju pakai pakaian tebal, hari ini mau ujan soalnya”


Aku memutar kepalaku, menatap keluar jendela dan melihat matahari pagi yang begitu cerah menyinari halaman rumah ku. Aku tidak menyangkal nya, karena aku takut jika Althara benar nanti akan turun hujan, lalu aku kembali melirik Althara dengan diam.


“Oke” jawab ku akhirnya.


Selesai sarapan kami berpamitan kepada Bunda dan segera menjalankan mobil menuju rumah lama Althara. Sepanjang perjalanan aku masih kaku diam karena canggung, namun Althara tak terganggu dengan sikap ku, dia mengerti aku dan membiarkan ku terus diam seperti ini.


Setelah sampai dia menurunkan koper nya dan membawa tas baju ku. Dia membawa nya masuk ke dalam kamar nya.


Aku membantu Althara melipat pakaian nya dan menaruh nya ke dalam lemari pakaian dia yang berwarna hitam.


Aku mulai hangat kembali. Aku mulai mau berbicara kepadanya, bahkan aku sudah mulai bawel kembali.


“Ini di gantung aja?” Tanya ku sambil menunjukan kemeja dia.


“Iya” jawab nya singkat.


“Ini belum ada TV kamu ga kesepian?” Tanya ku melihat sekeliling Althara yang tidak ada barang elektronik sama sekali selain handphone.


“Nanti malem furniture baru aku dateng” jawab nya sambil mengeluarkan laptop di dalam tas gendong nya.


“Yang baru?” Tanya ku.


“Kenapa ga yang di Jakarta aja di bawa?” Tanya ku lagi.


“Aku ga akan rubah posisi kamar ku yang di Jakarta. Biar nanti kalo aku pulang posisi kamar masih kaya gitu”


Aku menganggukan kepalaku.


Ya memang begitu sama seperti kamar ku di Bandung, Mama sama sekali tak mengurangi barang-barang yang ada di kamar ku, jadi ketika aku pulang, aku merasakan benar-benar pulang.


Setelah selesai membereskan pakaian dan kamar nya. Althara berkecak pinggang dan melirik sekitar.


“Kamu suka sama cat nya?” Tanya Althara meminta penilaian ku.


Aku melihat tembok kamarnya dengan menyelidik dengan teliti.

__ADS_1


“Suka. Warna putih bikin kamar kamu jadi luas, cuma tinggal perlu di cat ulang aja” jawab ku.


Althara mengangguk.


“Apa yang kurang di kamar ku selain TV?” Tanya nya lagi.


“Apa ya?” Aku coba berfikir.


“Gantungan handuk mungkin, karena kamu sering simpen handuk kamu beres mandi dimana aja kan?” Tanya ku mengingat hal yang menyebalkan darinya.


Althara tertawa.


“Apalagi?” Tanya nya lagi.


“Udah mungkin”


“Di kamar kamu ga ada meja rias?” Tanya Althara yang padahal dia tau isi kamar ku ada meja rias berwarna tosca pucat.


“Ya ada. Masa di kamar kamu mau di adain meja rias juga?”


Althara menggedikan bahu nya membuat ku kembali bingung.


“Ganti pakaian kamu” pinta Althara sambil dia juga membuka baju nya.


“Kenapa?”


“Kita jalan-jalan”


“Kemana?”


“Milky way” jawab Althara membuat mata ku membulat begitu bahagia.


Lalu aku membawa tas berisi baju ku ke dalam kamar mandi.


Aku mengganti keatasan ku memakai bahan rajut oversize berwarna kuning pudar, dan celana jogger yang lebih tebal berwarna baby denim. Althara memakai kaos dalam berwarna hitam dan di padukan dengan outer kemeja kotak kotak berwarna coklat, dia juga memakai celana jeans berwarna hitam. Dia begitu tampan dengan memakai baju casual nya.


Kita sampai ke Milky Way tepat di jam 19.00 malam ketika lampu-lampu kota sudah bertaburan di bawah sana.


Aku masih selalu terpesona melihat keindahan nya.


“Kamu rindu suasa ini?” Tanya Althara.


“Tentu saja” ucap ku dengan penuh bahagia. Althara membawa ku duduk di meja yang seperti biasa kita tempati. Tepat di ujung jurang dan di halangi pagar besi.


Meja dan kursi tampak berbeda. Meja nya berbentuk bulat ada lilin kecil di dalam gelas dan ada hiasan seperti vas bunga di samping nya. Aku mengkerutkan kening ku.


“Waw” ucap ku takjub.


“Penampilan baru milky way begitu berbeda ya, kok malam inu kaya lebih romantis” ucap ku kepada Althara.


Althara hanya tersenyum.


“Kamu ingat dulu kita pernah disini dan kita bicara tentang bintang” ucap Althara mengingatkan ku dengan perbincangan kita sebelum akhirnya dia pergi.


“Ya dan setelah itu kamu hilang” ledek ku menatap nya kesal.


“Alhena” Althara menatap ku dengan sinis. Seolah dia tidak ingin membahas kesalahan itu.


“Oke, aku minta maaf” ucap ku dengan takut.


“Kamu ingat dulu kita cerita tentang Dhruva atau lebih di kenal dengan polaris?”


“Ya” jawab ku begitu jelas.


“Bintang itu tidak pernah kemana mana dan akan menjadi poros untuk setiap bintang yang mengitari nya” ujar Althara kembali menjelaskan nya lagi.


“Aku tahu itu Althara” ketus ku dengan sedikit tersenyum.


“Aku mau berterimakasih sama kamu Alhena karna kamu sudah mau menjadi Drhuva untuk aku. Aku selalu ada di sekitar kamu,aku berkeliling tapi kamu ga pernah kemana mana, kamu selalu di situ dan tetap menjadi poros untuk aku” ujar Althara begitu membuatku haru.


Dia meraih tangan ku dan menggenggam nya di atas meja.


“Dari dulu kamu selalu tanya ke aku, apa yang aku mau kan ? Dan aku selalu jawab kalau aku hanya mau kamu, aku hanya butuh kamu, aku hanya ingin Alhena yang seperti ini,yang tetap mencintai aku apapun yang terjadi,dan kamu melakukan nya” aku mulai sedih mendengar hal itu di ucapkan Althara.


“Kamu adalah pilihan bintang yang aku mau Alhena. Aku ga pernah mau bintang lain, aku cuma mau kamu” ucap nya membuat ku terharu. Mata ku mulai berair begitu tersanjung dengan ucapan romantis nya.


“Sejak awal aku bertemu dengan siswi bernama Alhena Reva Amara,aku sudah merasa jika dia adalah bintang yang istimewa yang pernah aku tahu. Aku ga pernah sangka jika perkenalan kita yang di awali dengan menyebalkan bisa semenyenangkan seperti ini. Kamu terlalu bisa membuat aku jatuh cinta tanpa kompromi Alhena. Kamu terlalu bisa meyakini aku jika kasih sayang yang aku punya untuk kamu begitu tulus” air mata mu mulai menetes dan mengalir di pipi mendengar semua kalimat Althara yang menyentuh hati ku.


Dengan semua situsi yang amat mendukung membuat ku terus menangis bahagia.


“Aku ingin bintang ini selama nya untuk aku”ucap Althara.


Aku masih diam tak bisa berbicara.


Althara keluar dari tempat duduk nya, dan dia berlutut dengan satu kaki di hadapan ku. Althara mengeluarkan sesuatu dari saku celana nya. Lalu dia menyodorkan sebuah kotak kecil dan dia membuka nya di hadapan ku. Kotak itu berisi cincin indah yang di tancapkan di busa berwarna merah. Mata ku berbinar, menatap nya masih dengan tak percaya.


“Will you marry me?” Tanya Althara menatap ku penuh harap.


Aku masih terpaku dan diam. Aku begitu tak percaya dia melamar ku dengan romantis seperti ini,di tempat favorit ku dengan taburan bintang dan city lights menjadi saksinya.


Air mataku menetes di pipi. Aku menganggukan kepala dengan cepat dengan tak bisa menahan air mata kebahagiaan ku yang akhirnya impian ku terwujud untuk bisa bersama Althara selamanya.


Dia melingkarkan cincin itu di jari manis ku,lalu dia tersenyum kepada ku dengan bahagia begitu pun dengan aku yang tak henti henti nya menangis. Dia mencium bibir ku dengan lembut lalu memeluk ku begitu hangat dan begitu erat.


Suara ledakan keras diikuti dengan kertas warna warni tertembak ke atas kepala ku. Di tambah dengan kembang api yang begitu indah bertebaran di langit yang gelap ini membuat langit menjadi tambah indah.


Semua teman ku dan teman Althara keluar dari per sembunyian nya dan membuat sorakan yang indah serta terus menyalakan kembang api ke atas langit.


Mereka begitu bahagia melihat ku. Aku menatap kembali Althara untuk mengatakan terimakasih dengan raut wajah ku.


Kevin, Edo dan Rizal memberikan salaman selamat kepada Althara sambil beradu dada mereka dengan penuh bangga dan bahagia, mungkin mereka bahagia akhirnya Althara punya keberanian untuk melamar ku.


Tata, Ghea dan Venna memeluk ku dengan begitu bahagia. Kita sama-sama menangis sambil berpelukan bersama.


“Thank ya”


“Selamat ya Al, lo akhirnya married sama Althara” ucap Ghea penuh haru.


“Gue seneng banget liat lo bahagia” ucap Venna.


“Kita semua bahagia liat lo bahagia Al” tambah Tata.

__ADS_1


Aku kembali menatap ketiga teman ku itu dan kembali memeluk mereka.


__ADS_2