
Kita semua mulai makan dalam satu meja di makanan ala Jepang itu.
Kita makan dengan terus tertawa karena seru nya mereka sekarang dan banyak nya lelucon yang di lontarkan teman-teman ku itu.
Edo terlihat menerima sebuah pesan dari handphone nya. Raut wajah nya berubah menjadi gelisah, aku langsung pura-pura tak memperhatikan. Edo bangun dari duduk nya dan menghampiri Althara.
“Al gue mau ngomong dulu sebentar” ujar Edo sedikit berbisik ke kuping Althara. Dan aku terus pura-pura tak memperhatikan mereka di samping ku. Aku melirik Tata yang sedang menceritakan hal lucu namun telinga ku begitu tajam mendengar Edo berbicara.
“Oke” jawab Althara.
“Alhena” Althara menyentuh lengan ku. Aku melirik nya dengan senyuman.
“Aku ke depan dulu sebentar ya” ujar nya.
“Oh oke” jawab ku dengan tersenyum,walaupun sebenarnya aku penasaran ada apa dengan mereka sampai harus berbisik.
Lalu Althara dan Edo keluar dari Restaurant dan entah pergi kemana.
Beberapa jam kemudian acara makan malam kami selesai. Dan kami berpisah di basement mall.
“Ya udah nanti kabari lagi aja ya kalo lo pulang” ujar Tata memegang tangan ku.
“Iyaa Ta,nanti kalo gue pulang dari Jakarta gue janji kabarin kalian ya”
“Dia bakalan terus di Bandung mulai minggu depan” ujar Althara membuat ku malas mendengar nya dan tak mau menatap nya.
Semua teman ku terlihat shock dan senang.
“Serius?” Tanya Venna.
Aku menggelengkan kepalaku dan menggedikan bahu,seolah mengatakan 'entahlah'
“Aku mau buka Cafe disini” lanjut nya lagi.
“Waahhh seru dong bikin Cafe nih,kita bisa nongkrong tiap hari” seru Ghea dengan begitu antusiasnya.
“Kalian ga cuma nongkrong. Kalian bisa ikut ngelola Cafe itu” lagi-lagi Althara membuat terkejut semua teman-teman nya.
“Hah?! Ngelola?” Kaget semua teman ku hampir bersamaan.
Teman-teman Althara pun tak kala kaget nya mendengar itu.
“Aku buat Cafe itu bukan untuk Alhena saja tapi untuk kalian semua, biar kalian ada kegiatan,biar bisa bantu Alhena,menata interior Cafe sesuka kalian..”
Teman-teman ku tampak tak percaya,mereka terus saling melempar pandang tidak mengerti kenapa mereka harus ikut andil dalam pembuatan Cafe Althara.
__ADS_1
Venna bertepuk tangan, Ghea dan Tata masih menatapku dengan bingung. Jangan kan mereka,akupun tidak mengerti apa yang di katakan Althara.
Tidak termasuk para lelaki. Rizal,Kevin dan Edo sepertinya sudah mengetahui hal ini,karena mereka hanya tersenyum melihat kita yang excited.
“Yang bener Al?!” ujar Tata meyakinkan.
“Kita mulai bicarakan ini dengan serius begitu Alhena sudah menyelesaikan pekerjaan nya di Jakarta” ujar nya sambil menatap ku.
Ini adalah suatu paksaan. Althara membuat ku semakin berat untuk menolak keinginan nya karena membawa teman-teman ku dalam persoalan ini.
“Oke Al kabarin kita ya” ujar Ghea.
“Ya udah kita pulang dulu ya” pamit Venna memeluk ku. Di ikuti semua teman-teman ku dan teman Althara.
“Kita juga pulang ya tar” ujar Kevin menjabat tangan Althara.
“Hati-hati. Thank ya kalian udah mau dateng padahal lagi sibuk”
“Demi ketemu lo yang menghilang selama beberapa tahun,gue rela ninggalin kerjaan penting gue” ujar Rizal begitu dramatis.
“Haha oke oke thank you” Althara tertawa mendengar itu.
“Euh Ghe, lo bawa mobil?” Tanya Edo ketika mereka semua sudah pamit untuk berpisah.
Wajah Ghea tiba-tiba tersipu.
“Mau gue anter?” Tawaran Edo membuat kami semua yang mendengar menyoraki mereka berdua yang terlihat malu-malu.
“Cieee….” Ledek Tata dan Venna.
“Boleh” jawab Ghea dengan centil.
“Ya udah ayo” ajak Edo.
“Bye semua” Edo dan Ghea melambaikan tangan kepada kami.
Ghea melirik ke arahku sambil melotot,dia terlihat begitu bahagia namun dia menahan rasa bahagia nya karena malu.
Aku menggelengkan kepalaku melihat kelakuan teman ku yang ternyata masih belum berubah.
Sepanjang jalan aku masih saja tidak percaya Althara mengajak ku bertemu semua teman-teman ku disini. Padahal selama aku pulang Bandung beberapa tahun ini,aku jarang sekali mengabari mereka. Karena dulu aku begitu takut terlihat masih menyedihkan di hadapan mereka dan malah membuat mereka kasian melihat ku yang kacau seperti itu.
“Althara makasih ya” ucap ku kepadanya yang serius memperhatikan jalan.
“Untuk?”
__ADS_1
Apa Dia tidak sadar jika dia telah melakukan hal yang begitu besar untuk ku hari ini.
“Untuk mengembalikan semua kebahagiaan aku”
Althara hanya tersenyum melirik ku sebentar dan kembali fokus ke jalanan.
“Aku ga pernah nyangka kalau aku masih bisa sebahagia ini bertemu semua temen aku,aku kira mereka akan berubah,karena aku selalu berusaha menghindar dari mereka dan membuat mereka kesel”
“Alhena mereka teman sejati kamu, mereka sangat sayang sama kamu bahkan mereka peduli sama kamu”
Dia berbicara dengan terus memperhatikan jalanan di hadapan nya.
“Kemarin pas aku hubungi mereka satu-satu. Mereka semua begitu kompak marahin aku pas aku bilang ini Althara. Apalagi Ghea yang langsung tutup telepon nya pas dia tau ini aku,dia ga mau angkat telepon aku setelah itu”
Aku tertawa mendengar itu. Karena memang dia lah selama ini yang ikut kesal dengan kepergian Althara yang sudah membuat aku sedih sepanjang waktu.
“Tapi aku berusaha menjelaskan semua nya. Dan aku bilang sama mereka kalau aku mau memperbaiki semuanya”
Aku menatap nya penuh haru.
“Alhena. Semua kehidupan kamu ada disini,teman,keluarga,kebahagiaan semua ada disini”
“Termasuk kamu?” Tanya ku.
Dia melirik ku sebentar sambil tersenyum.
“Termasuk aku” jawab nya dengan masih tersenyum.
“Aku tau tujuan kenapa kamu tinggalin Bandung Alhena. Selama aku pergi kamu masih selalu mikirin aku kan? Dan itu membuat kamu frustasi. Akhirnya kamu pergi meninggalkan semua hal yang ada kaitan nya dengan aku, dan kamu benar-benar meninggalkan tempat ini”
Dia mengetahui segala nya,karena mungkin begitu terlihat jelas di dalam diriku.
“Dan sekarang aku udah berusaha membuat semua nya kembali seperti semula,aku mau kamu mengikuti keinginan aku”
“Tapi Althara, aku bisa aja ninggalin kerjaan aku disana dan ninggalin semua temen-teman aku” yang aku maksud adalah Riani karena memang hanya dialah teman ku satu satu nya selama ini yang selalu menemani ku di Jakarta. Rey mungkin tidak akan lagi masuk menjadi hitungan ku sekarang.
“Tapi gimana sama kamu?”
Althara mengerutkan kening nya.
“Keluarga kamu disana,pekerjaan kamu disana dan teman-teman kamu disana” begitu berat ketika aku menyebutkan kalimat terakhir ku. Mengingat apakah semua teman Althara sudah mengetahui tentang kami atau belum.
“Pekerjaan yang aku punya flexible Alhena. Aku bisa kerjain pekerjaan dimana pun. Untuk keluarga aku, mereka semua bisa ngerti itu. Jarak Jakarta Bandung gak seperti Jakarta Jerman yang harus naik pesawat, dan untuk teman-teman aku..”
Dia sempat menghentikan ucapan nya. Mengingat kembali bagaimana kabar teman-teman nya setelah tau apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
“Aku bisa tinggalin mereka setelah aku jelasin sendiri apa yang sebenernya terjadi. Dan kalaupun mereka gak mau menerima kenyataan dan tetap menganggap aku pengkhianatan,aku gak akan peduli Alhena, karena yang akan mengerti dan percaya hanya teman-teman ku disini”