
“Apa sih maksud kamu tar? Ya aku kan coba menebak aja,karena aku juga kan seorang perempuan dan aku hanya membaca permasalahan kalian saja dari cerita kamu” ujar Tania dengan penuh keyakinan.
“Lalu dari mana kamu tahu jika bunga itu bunga Lili?” tanya Althara dengan tajam.
“Ya aku juga hanya asal menebak aja tar,karena memang bisanya bunga Lili kan selalu di kirim orang” jawab nya.
“O yah?” Tanya Althara dengan begitu tak percaya.
“Kamu kenapa sih? Kok jadi malah nyudutin aku? Kamu curiga kalo aku yang kirim bunga itu?” Tanya Tania dengan seolah dia sudah tersalahkan.
“Siapa yang nyudutin kamu? Aku kan cuma tanya Tan” jawab Althara dengan mengerutkan kening nya.
Sekarang Althara memajukan posisi duduk nya,dan menaruh kedua tangan nya di meja.
“Dengar Tania. Aku sudah tahu semua nya,pengirim bunga Lili terakhir kali itu, aku sudah menyogok dia dengan uang yang begitu banyak sehingga dia mau buka mulut dan memperlihatkan siapa yang sudah menyuruh dia mengirimkan bunga Lili itu. Dan tukang kurir itu hanya mengatakan jika dia hanya mengambil pesanan di sebuah toko bunga di daerah pusat kota,dan aku mengunjungi toko bunga itu dan bertanya siapa yang sudah selalu memesan bunga Lili kesini lalu karyawan disana mengecek nama pemesan. Dan pemesan nya atas nama Tania,bukan kah itu kebetulan ?” ujar Althara membuat Tania begitu tersentak mendengar semua cerita Althara.
Tania terlihat begitu terpojok tak bisa lagi menyangkal. Dia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikan nya itu.
“Aku ga percaya, bisa-bisa nya kamu sampai mengirim bunga Lili itu kepada Alhena dan mengaku sebagai pengagum rahasianya. Apa tujuan mu Tania?” Tanya Althara begitu tajam menatap Tania.
Tania menatap Althara begitu kesal.
“Ya. Aku yang sudah mengirimkan bunga Lili itu kerumah kamu. Dan aku juga yang sudah mengirim pesan ke Alhena dan membuat dia terusik” jawab Tania dengan sebuah pengakuan yang sudah di ketahui Althara sebelum nya.
Althara kembali menyandarkan diri nya di kursi dengan begitu menahan emosi nya.
“Karena aku masih dendam sama dia tar. Dia udah buat kesal aku dengan menyebutkan bahwa aku hanya masa lalu kamu dan tidak berhak untuk bersama kamu lagi. Aku tidak terima dengan kata-kata dia waktu itu tar. Dia sudah sangat menghina aku,bilang bahwa aku bukan wanita istimewa kamu, bahkan dia mengusir aku dengan berani nya” ucap nya mengingat betapa menyakitkan nya perkataan ku waktu di rumah Althara.
“Dan aku cuma mau dia merasakan kalo dia di hantui dengan bayang-bayang masa lalu nya dia,dan buat kamu marah sama dia” jawab Tania dengan begitu marah.
Aku terus mendengarkan percakapan mereka lewat telepon.
Dari awal semua ini Althara sudah menaruh handphone nya di meja dan membiarkan telepon nya tersambung dengan ku yang duduk jauh dengan mereka namun di dalam Restaurant yang sama. Sehingga aku bisa mendengarkan percakapan merek lewat telepon dan menyaksikan apa saja yang sudah mereka lakukan.
“Apa yang di ucapin Alhena waktu itu benar Tania” ucap Althara.
__ADS_1
“Semua kisah kita saat di sekolah itu hanya masa lalu,aku pun udah ga berharap dengan kamu sejak kejadian itu. Aku memang pernah punya perasaan sama kamu,tapi itu sudah terlalu lama Tan,dan perasaan itu ga sepenuh nya tumbuh,aku ga pernah merasakan cinta seutuh nya untuk kamu” jawab Althara dengan begitu sungguh-sungguh.
“Tapi perasaan yang aku punya untuk kamu itu tulus tar. Aku bahkan menyesal memilih Devan dari pada kamu,aku terus di hantui bayang-bayang kamu setiap waktu nya. Bahkan aku selalu mengingat kita pergi ke Jerman bersama dan melanjutkan sekolah kita berdua,lulus bersama,dan bahagia bersama pada akhirnya” ucap Tania dengan penuh harap dan mulai begitu dramatis.
Althara hanya terus membuang wajah nya dan menatap sekeliling nya.
“Kenapa kamu ga pernah mau mencoba membalas perasaan aku Althara? Kenapa kamu jadi begitu kejam?” Tanya Tania dengan mulai bersedih.
“Aku ga pernah meminta kamu untuk memiliki perasaan itu,dan aku ga pernah bisa memaksakan hati ku untuk orang lain lagi. Setiap kali aku bilang bahwa perasaan aku masih dimiliki orang lain, itu benar adanya Tan,bukan hanya sebuah kata-kata khiasan” jawab Althara.
“Tapi apa yang di miliki wanita itu? Apa yang istimewa dari nya? Aku bisa berbuat lebih dari apa yang dia lakukan Althara” dia masih saja keras kepala dan begitu menyebalkan.
“Aku memiliki apa yang tidak di miliki kamu” ucap ku dengan tiba-tiba saja ikut bergabung dengan mereka,dan berdiri di samping Tania menatap dia begitu tajam.
Aku sudah tidak tahan lagi dengan drama dia yang berlarut, dia memang harus di beri pelajaran, sama hal nya seperti Roni yang sudah di berikan efek jera oleh Althara, tapi tidak dengan kekerasaan untuk ku.
Tania sudah menyadari jika itu adalah aku. Lalu dia berdiri dan balas menatap ku begitu tajam.
“Kamu merasa diri kamu sempurna?” Tanya Tania dengan begitu antagonis berbicara padaku.
“Aku hanya merasa diri aku lebih baik dari pada kamu” lanjut ku membuat sebuah tamparan yang keras untuk nya.
Tania menyeringai begitu mendengar ucapan ku.
“Alhena.. Alhena”
“kamu begitu naif,kamu bahkan terlalu lugu merasa bangga sudah mendapatkan Althara,andai saja kamu membiarkan Althara dengan ku sebentar saja sekarang,kamu pasti akan kehilangan dia” ucap Tania dengan penuh keyakinan dan fikiran nya yang nakal seolah itu akan mengusik fikiran ku.
“Dan kamu mau merendahkan diri kamu hanya untuk membuat ku hancur?” Tanya ku kembali membuat dia kesal.
“Aku ga akan peduli dengan apa yang akan di lakukan Althara di belakang ku sekarang. Bahkan jika dia mau bermain main dengan kamu,aku akan membiarkan dia melakukan apa yang dia mau dan aku akan dengan mudah melepaskan nya. Karena aku tahu,dia sudah memilih wanita yang murahan di banding kan aku. Untuk apa aku meladani wanita yang tidak tahu diri,yang hanya terus membuat diri nya terlihat rendah hanya demi mendapatkan masa lalu nya. Bukan kah itu lucu?” Ucap ku dengan begitu tajam.
Tania sudah terlihat begitu emosi.
“Berani kamu bilang aku murahan?” Ucap nya dengan raut wajah nya yang berubah menjadi marah menggebu gebu.
__ADS_1
“Lalu apa kata yang pantas untuk kamu selain murahan?” Tanya ku kembali membuat emosi dia naik.
Dia lalu mengangkat tangan nya dan hampir saja menampar ku jika saja Althara tidak sigap menangkap tangan nya.
“Jangan pernah kamu lukain Alhena,jika kamu tidak mau terluka” ucap Althara begitu tajam.
“Kamu mau menyakiti aku Althara? Kamu menyakiti perempuan yang tidak sepadan dengan kekuatan mu?” Tania menatap ku dengan tersenyum sinis.
“Kamu terus bersembunyi di balik tubuh Althara. Kenapa? Kamu tidak sanggup melawan aku sendiri?” Tanya Tania menatap ku dengan penuh menantang.
Aku balas memberikan senyuman yang manis untuk Tania.
“Aku tidak pernah mau mengotori tangan ku hanya untuk meladeni orang seperti kamu” jawab ku kembali membuat Tania kesal dan dia berusaha melepaskan tangan nya dan mencoba menamparku dengan tangan nya yang lain. Namun Althara memegang kedua tangan Tania dengan kencang.
“Dengar Tania. Aku tidak akan pernah memandang siapa pun dia yang sudah berani melukai Alhena. Lebih baik kamu pergi sebelum kamu mengundang amarah ku yang sudah begitu tertahan sekarang” Ancam Althara dengan begitu menyeramkan.
Tania menatap Althara dengan begitu kesal. Dia tahu Althara bukan lah tandingan Tania,dia pun merasakan takut dalam dirinya ketika melihat Althara menatap nya seperti itu.
Lalu Tania melepaskan genggaman Althara dengan kasar,mengambil barang-barang nya di atas meja,menatap kami dulu dengan tajam lalu dia pergi dengan perasaan yang begitu emosi.
Aku masih berdiri di tempat ku dengan menatap Tania penuh kesal. Bisa-bisa nya Tania berbuat seperti itu dan mengatakan hal yang membuat diri nya terlihat begitu rendah. Apa maksud nya dia akan mengambil Althara dengan mudah jika aku membiarkan nya. Apa yang akan dia lakukan kalo seandainya aku tidak tahu mereka bertemu diam-diam.
Althara menyentuh pipi ku.
“Alhena” panggil Althara.
“Kamu sudah tenang?” Tanya Althara melihat ku dengan cemas.
Aku menghela nafas ku untuk mengatur emosi ku.
“Yah. Aku sudah puas akhirnya dia mendapatkan pelajaran”
Althara lalu tersenyum dan memeluk ku.
“Kita pulang ya” pinta Althara.
__ADS_1