
“Alhena” Mama mengusap punggung ku dengan lembut,seperti berusaha untuk menenangkan aku.
“Dulu memang Althara sempet bilang sama mama kalau dia akan kuliah di Jerman,dan dia udah minta maaf akan tinggalin kamu” ucap Mama membuat ku shock.
“Mama tau Althara dimana tapi ga pernah kasih tau Alhena?!” Ucap ku tak percaya.
“Sayang” Mama berusaha menenangkan ku.
Aku menatap kesal kepada Mama dan Althara secara bergantian.
“Kenapa bisa kalian setega ini sama aku?” Ucap ku lalu pergi ke kamar ku berada meninggalkan mereka.
“Alhena” mama berusaha memanggil ku namun Althara menahan nya.
“Biar aku aja Ma” dan dia mengejarku.
Aku pergi menuju kamar yang masih berada di lantai atas. Di rumah ini aku masih memiliki kamar sendiri yang tidak pernah berubah bentuk ataupun berubah isi nya. Terdengar suara langkah kaki Althara yang berusaha mengejar ku.
Aku sampai ke lantai atas dan segera membuka kamar ku yang tidak terkunci.
“Alhena dengerin aku dulu” ucap Althara yang berhasil mengejar ku sampai ke dalam kamar.
“Ngga aku ga mau” aku berusaha melepaskan genggaman nya.
“Alhena Mama kamu ga salah apa-apa, aku yang minta dia untuk ga cerita apapun sama kamu. Mama cuma ga mau kamu tahu itu dan semakin sedih Al”
“Tapi Mama kan tau selama ini aku sedih karena cari keberadaan kamu Althara, harusnya dia bisa jujur,bukan malah ngebiarin aku sedih selama itu”
“Iya. Tapi Mama cuma berusaha nepatin janjinya aja,dia ga salah apa-apa,aku yang minta mama untuk ga bilang apa-apa sama kamu. Dan Mama juga ga tau kabar aku setelah itu,jadi mungkin Mama takut salah menjelaskan sama kamu. Jangan Marah sama Mama kaya gini dong” ujar Althara malah balik memarahi ku.
“Sekarang kamu turun kebawah temuin lagi Mama” pinta nya dengan tegas.
“Ngga,aku mau disini dulu” kesal ku sambil duduk di ujung tempat tidur ku. Aku kembali menjadi seperti anak kecil di rumah ini.
“Alhena” Panggil Althara dengan nada yang masih sangat lembut.
Aku masih tak mengacuhkan nya,aku terus saja cemberut menatap lurus memikirkan begitu tega nya mereka bekerja sama.
“Alhena!” Panggil dia lagi dengan mulai nada meninggi 1 oktaf.
Aku melirik nya dengan mata yang masih begitu kesal. Namun tatapan Althara lebih terlihat menyeramkan dariku,dia sudah mulai terlihat seperti macan ngamuk.
Aku berdecak kesal menatap nya yang sudah terlihat emosi. Aku keluar dari kamar ku dan kembali ke bawah menemui Mama yang sudah menunggu ku menyiapkan makanan di atas meja makan bersama Bi Inah.
Saat turun dari tangga,aku mencium aroma makanan kesukaan ku yaitu soto madura yang sangat enak buatan Mama. Aku membulatkan mata ku melihat begitu menggoda nya soto yang berada di dalam mangkuk besar di atas meja makan.
“Waaaww soto madura!” Seru ku sambil berlari mendekati meja makan. Dan mencium aroma asap panas dari soto itu
“Hhmm bau nya enak gini”
“Kesukaan kamu” ucap Mama tersenyum melihat ku yang sudah membaik ini.
“Makasih ya Ma” aku memeluk nya begitu manja.
“Iya sayang,Mama siapin ini untuk kamu” ujar Mama dengan lembut.
Aku menatap nya dengan menyesal.
“Maafin Alhena Ma” ucap ku dengan penuh penyesalan.
Mama tersenyum manis kepadaku.
“Harusnya Alhena ga salahin Mama,yang salah emang Althara” ujar ku masih saja menyindir Althara.
“Ya udah udah, ayok kita makan dulu kalian pasti cape perjalanan jauh” ujar Mama mencoba mengalihkan pembicaraan ku yang akan menimbulkan perdebatan lagi.
Mama duduk di ujung meja, sedangkan aku dan Althara duduk di samping kanan nya.
Aku mengalas nasi di atas piring Althara dan punya ku,dan aku juga membantu Althara untuk mengambil soto madura ke mangkuk yang terpisah.
“Papa kapan pulang?” Tanya ku sambil memasukan suapan pertama soto ku kedalam mulut.
“Nanti malam kayak nya” jawab Mama.
“Althara juga sempet teleponan sama Papa kan kemarin malam?”
Aku mengerutkan kening ku dan menatap bingung Althara.
“Iya Ma” jawab Althara.
Aku memiringkan sedikit kepala ku memperhatikan Althara dengan tajam.
__ADS_1
“Dari mana kamu dapet no Papa?” Tanya ku.
“Handphone kamu” dingin nya.
“Untuk apa telepon Papa?”
“Tanya kabar. Kenapa?”
Aku menggelengkan kepala ku kesal dengan balik pertanyaan,seolah aku jangan perlu tahu urusan nya dengan Papa ku sendiri.
“Ga mungkin cuma itu Althara,pasti ada hal lain yang kamu bicarakan sama Papa”
“Ga ada” dia memasukan dulu makanan nya kedalam mulut.
Aku masih tak mempercayainya.
“Ga usah boong”
“Papa ngajakin buka bisnis sama aku” sambung nya.
“Bisnis?”
“Alhena kita makan dulu ya,nanti baru lanjut ngobrol nya ya” ucap Mama seakan akan dia tahu jika ini akan menjadi perdebatan baru untuk kami.
Lalu aku diam melirik Althara yang terlihat serius makan makanan di hadapan nya. Lalu dengan menghela nafas aku juga ikut menyelesaikan makanan ku.
Setelah selesai aku langsung dengan cepat mengikuti Althara ke ruang keluarga. Sementara Mama bantu Bi Inah memebereskan dapur bekas masak dan makan.
“Althara”
“Apa?” Tanya nya seolah dia lupa pembicaraan yang menggantung di meja makan tadi.
“Kamu ada bisnis apa sama Papa?” Tanya ku mengingatkan pertanyaan ku.
“Ya bisnis aja”
“Ya bisnis apa? Kan aneh, kalian baru pertama kali lagi komunikasi tiba-tiba kalian bikin bisnis”
“Emang nya ga boleh?” Tanya nya seolah aku ini bodoh.
“Please Al, jangan lagi ada yang di tutupin dari aku,kamu udah janji”
Althara menatap ku dengan diam. Seolah dia sedang mempertimbangkan jawaban nya.
“Hah bikin Cafe?” Kaget ku.
Ini pasti akal-akalan Papa saja agar aku mau diam di Bandung dan tidak lagi bekerja.
“Siapa yang akan kelola?”
“Ya kamu siapa lagi” ujar nya yang sudah bisa ku tebak.
Aku sudah tahu,Papa pasti menggunakan Althara untuk rencana Papa selama ini. Papa selalu meminta aku untuk memiliki usaha sendiri di Bandung,agar aku bisa lebih mudah di pantau oleh mereka.
“Kamu setuju?” Tanya ku dengan muram.
“Ya tentu,ini juga kan buat kamu”
Aku menghela nafas dan menyandarkan tubuh ku di sofa lalu menyilangkan tangan ku begitu kesal.
“Kenapa ?” Tanya Althara.
“Aku ga mau”
“Apa alasan nya?”
“Aku udah betah di Jakarta” Ucap ku masih sama dengan jawaban yang selalu Papa pertanyakan kepadaku.
“Apa yang bikin kamu betah?”
Aku bingung menjawab nya,karena dulu aku pindah ke Jakarta itu semua karena Althara,aku ingin melupakan Althara,Jakarta seperti tempat kelahiran baru untuk ku. Lalu aku bisa langsung di buat betah di Jakarta karena suasana yang aku dapat begitu menyenangkan dan menenangkan. Aku bisa bekerja di tempat yang baik,dengan orang-orang yang baik, lalu dengan lingkungan yang baru yang membuat aku merasa terlahir kembali tanpa kenangan Althara disana. Tapi itu semua alasan ku dulu demi melupakan Althara,dan sekarang Althara sudah kembali,seharusnya aku tidak perlu khawatir untuk kembali diam di Bandung.
Althara memiringkan posisi duduk nya,dia menopang kepala dengan satu tangan nya di senderan sofa dan satu tangan lagi mengelus pipiku dengan lembut.
“Aku minta maaf kalau Bandung udah buat kamu sedih karena inget aku” ucap nya lirih seolah bisa membaca fikiran ku.
Aku menundukan kepala ku.
“Tapi sekarang udah ga ada alasan lain buat kamu kembali,aku udah disini Alhena,aku juga udah kembali,dan aku udah janji ga akan pernah pergi lagi”
Aku menatap nya dengan sendu.
__ADS_1
“Tapi kamu di Jakarta Al” jawab ku mengingat dia tinggal di Jakarta sementara aku di minta untuk di Bandung,bukan kah jadinya kita akan long distance.
Althara tersenyum,dengan tangan yang masih mengusap lembut pipiku.
“Aku akan ikut kemanapun kamu berada sekarang,aku bisa tinggal di Bandung”
Aku mengerutkan keningku mendengarnya.
“Kerjaan kamu?”
Althara tertawa.
“Pekerjaan aku flexible, ga kaya kamu. Aku bisa bawa kerjaan ku kemanapun aku mau” ledek nya.
Aku memutarkan bola mata ku sambil tersenyum melihat begitu sombong nya dia.
“Gimana?” Tanya nya lagi.
“Aku harus fikirin dulu ini”
“Kenapa?”
“Ya aku ga bisa lepasin kerjaan aku gitu aja”
“Kenapa ga bisa?”
Althara selalu tidak puas dengan jawaban yang terkesan bertele-tele,dia ingin nya langsung to the point.
“Ya karena posisi aku sekarang sebagai General Manager disana,aku ga bisa tiba-tiba keluar tanpa ada yang gantiin aku kan”
“Kamu kan bisa bilang sama si Daniel itu untuk cepat cari pengganti kamu”
Althara tidak akan mengerti bagaimana Daniel begitu percaya kepada ku. Aku merasa begitu bertanggung jawab atas operasional restaurant itu,dan aku menikmati posisi ku sebagai atasan disana.
“Ga segampang itu Althara”
“Mau aku yang ngomong sama dia?” Ancam nya.
Aku langsung melirik nya dengan dingin.
“Kasih aku waktu untuk selesein kerjaan aku disana”
“Berapa lama ?”
Aku berfikir dulu, dan mengingat apa saja pekerjaan yang harus aku selesaikan ketika akan melepaskan Restaurant itu.
“1 tahun”
Althara menggelengkan kepala nya dengan masih menatap ku dingin.
“10 bulan?”
Dia masih menggelengkan kepalanya.
Aku memikirkan lagi berapa lama aku bisa bekerja disana dengan sesingkat mungkin.
“Oke 8 bulan” tawar ku terkahir kali,karena menurut ku 8 bulan sudah terlalu cepat juga untuk aku selesaikan pekerjaan ku disana.
“1 bulan” timpal Althara membuat ku shock.
“1 bulan ?”
Althara mengangkat halisnya menandakan dia tidak main-main.
“Al 1 bulan itu terlalu cepet,aku bisa tiba-tiba bilang ke Daniel kalau aku mau resign bulan depan”
“Bisa” jawab nya dengan begitu mudah seolah dia tahu bagaimana pekerjaan ku disana.
“Kamu hanya General Manager kan,bukan pasangan dari Bos kamu?” Tanya Althara dengan tajam.
Sepertinya dia masih cemburu kepada Daniel karena sering menghubungi ku dengan beralasan pekerjaan, tapi itu bukan alasan,Daniel memang selalu menghubungi ku tapi membahas tentang pekerjaan tidak ada yang lain. Namun itu semua membuat Althara begitu cemburu.
“Al,aku sama Daniel ga ada apa-apa”
“Tapi dia suka sama kamu”
Aku menghela nafas mendengar ucapan Althara.
“Ya itu urusan dia bukan urusan aku”
“Itu urusan aku juga Al” jawab Althara begitu tegas.
__ADS_1
“Kamu emang ga pernah terima Daniel,tapi keberadaan kamu disana akan buat Daniel terus punya alasan untuk hubungi kamu,dan akan tetep buat dia akan terus menyimpan perasaan sama kamu”