
Keesokan hari nya aku dan Althara sudah kembali membaik. Dan seperti biasa dia menjemput ku untuk bekerja di pagi hari itu dan pulang pun tepat waktu di sore hari.
Althara melajukan mobil nya namun bukan ke arah jalan pulang rumah ku.
“Kita mau kemana?” Tanya ku dengan memperhatikan jalanan di sekitar ku bingung.
“Kerumah ku. Bukannya semalam kamu bilang mau ke rumah mau ketemu Laluna?” Tanya Althara mengingat percakapan semalam.
“Dia ada di rumah?” Tanya ku menatap nya.
“Ada. Dia sudah nunggu kamu” jawab nya balas melirik ku dengan senyum dan kembali fokus ke jalanan.
Kita sampai dirumah nya dan aku langsung mencari keberadaan Laluna yang ternyata ada di taman halaman belakang bersama Bunda sedang asik menyiram tanaman.
“Laluna” teriak ku dengan senang begitu melihat nya.
“Kak Alhena” dia terkejut dan terlihat bahagia ketika melihat ku.
Laluna melempar selang air yang di pegang nya lalu berlari ke arah ku.
“Pelan-pelan nak” teriak Bunda kepada Laluna karena takut anak nya ini terjatuh.
Aku berlutut dengan melentangkan tangan untuk menyambut nya,dia langsung memeluk ku dengan cepat dan menyandarkan kepala nya di bahu ku. Aku mengelus rambut nya dengan lembut.
“Laluna kangen sama Kak Alhena” ujar anak kecil lucu itu.
“Kak Alhena juga kangen sama Laluna”
Lalu dia melepaskan pelukan nya namun masih melingkarkan tangan nya di leher ku.
“Kemarin Laluna beli mainan baru tapi belum di buka” ujar nya dengan lagak nya yang lucu.
“Kenapa belum di buka?” Tanya ku ikut berbicara lucu seperti nya. Sambil merapikan poni nya yang berantakan.
“Dia mau nya main sama Kak Alhena tuh jadi mainan nya belum di buka” teriak Bunda yang masih menyiram bunga bunga nya yang cantik.
“Di ajak main sama Kak Althara malah ga mau” ucap Althara yang masih berdiri di belakang ku.
“Laluna ga mau main sama Kak tara. Kak tara nakal suka bikin Laluna nangis” ucap nya cemberut.
Aku tersenyum dan mencium pipi gemes nya.
“Ya udah sekarang kita buka mainan baru Laluna yuk” ajak ku dengan tersenyum bahagia melihat nya.
“Ayuk” dia pun ikut senang sambil menganggukan kepala nya.
Aku menggendong Laluna dengan kedua tangan ku.
“Bunda kita ke dalem ya” teriak ku kepada Bunda yang masih sibuk dengan tanaman nya.
“Iya sayang. Bunda siapin dulu untuk makan malam ya” ucap nya.
“Oke Bunda” lalu aku mengajak Laluna masuk ke dalam. Di ikuti Althara yang terus mengekor ku ke ruang bermain yang ada di lantai bawah.
Sampai di ruang bermain Laluna yang berbentuk petak lumayan besar dan begitu banyak mainan dia disana seperti,tempat mandi bola yang ukuran kecil,serodotan plastik,ayunan plastik, sepedah plastik,dan masih banyak mainan lain nya yang kebanyak dari plastik.
Laluna langsung mengambil mainan baru nya di sebuah lemari pendek di ujung ruangan. Mainan itu adalah mainan kitchen set yang berukuran kecil lengkap dengan lemari,kompor,piring gelas sayuran dan buah-buah an. Aku dan Laluna langsung bermain dengan senang nya menemani imajinasi si kecil ini menjadi koky dadakan. Laluna mengajak ku untuk memasak dan membantu nya menyiapkan makanan mainannya.
Aku melirik Althara yang tersenyum menertawakan ku.
__ADS_1
“Kenapa?” Tanya ku dengan masih terus bermain menemani Laluna.
“Lucu aja liat kamu kaya gini” ucap nya sambil terus tersenyum dengan manis.
Suara pintu ruangan terbuka, terlihat pembantu rumah tangga Althara membuka pintu nya dengan masih memegang handle pintu.
“Den ada yang cari Aden di luar” ujar nya.
“Oh iya suruh tunggu sebentar” ucap Althara kepada pembantu nya itu.
“Sebentar ya” aku menganggukan kepala ku.
Aku kembali bermain dengan Laluna.
Laluna begitu antusias sekali bermain menjadi koki-koki an ini,sepertinya dia selalu melihat Bunda masak jadi dia bisa meniru gaya Bunda ketika masak. Lucu sekali anak ini.
“Kak Alhena. Laluna mau pee” ucap Laluna tiba-tiba dengan murung dia ingin buang air kecil.
“Mau pee?” Tanya ku. Dia menganggukan kepala nya dengan cemberut.
“Oke kalo gitu kita ke toilet yah” aku menggendong Laluna keluar ruangan dan segera menuju toilet yang melewati ruang tamu
Tak sengaja aku melirik ke arah ruang tamu dan aku terkejut melihat Tania ada disana berdiri di depan Althara. Aku memperhatikan dulu mereka yang seperti nya masih saja berdebat seperti tadi malam. Lalu aku menghampiri nya dengan masih menggendong Laluna. Tania melihat ku berjalan mendekati mereka di belakang Althara.
“Kamu?” Tanya nya dengan heran.
Aku menurunkan dulu Laluna dan membungkuk membuat diriku sejajar dengan Laluna.
“Laluna anak pinter kan?” Tanya ku dengan tersenyum kepada Laluna. Dia menganggukan kepala nya.
“Laluna udah bisa pee sendiri?”
Aku mengusap pipi nya yang tembem.
“Kalau gitu Laluna pee dulu sendiri ya. Kak Alhena mau bicara dulu sama temen Kak Althara” dia mengangguk sambil tersenyum dan berlari menuju toilet sendiri.
Aku kembali berdiri dan diam di samping Althara.
“Kenapa dia masih disini?” Tanya Tania dengan nada tak suka menatap Althara.
“Karena dia pacar aku,dia bebas mau disini kapan aja” jawab Althara dengan dingin.
“Althara kenapa sih kamu masih aja ga peduliin aku?” Ucap nya dengan dramatis.
“Aku udah rela ninggalin kuliah aku demi nyusul kamu kesini. Aku udah rela ga ikut ujian cuma buat nyusulin kamu Althara,kenapa kamu masih bersikap dingin gini sama aku? Sampe kapan sih kamu mau terus marah sama aku dengan kejadian kita di masa lalu?” Tanya nya dengan kesal dan menyinggung masalah mereka dulu.
“Aku udah bilang tan,aku udah bener-bener lupain kejadian bodoh kamu sama Devan,aku udah bener-bener ga peduli dengan kejadian yang udah kelewat lama itu,aku udah ga marah sama kamu atau Devan” ketus Althara menatap nya dengan sinis.
“Ya terus kenapa kamu masih dingin kaya gini?” Tanya Tania ini dengan kesal.
“Ya karena aku udah gapeduli sama kamu” ucap nya dengan begitu tajam dan menyakitkan pastinya.
“Kita teman,bukan berarti aku bisa lebih perhatian sama kamu”
“Apasih kurang nya aku Althara?” Lagi-lagi dia membuat dramatis keadaan ini.
Aku hanya masih diam menonton mereka beradu mulut.
“Aku udah bilang,aku ga tertarik sama kamu, apapun yang kamu lakukan ga akan bisa ubah perasaan aku untuk buka hati buat kamu” ujar Althara dengan begitu jelasnya.
__ADS_1
“Althara aku cuma minta kesempatan sekali aja untuk aku bisa nemenin kamu tar. Aku bisa buktikan kalau aku bisa lebih baik dari wanita manapun”
Tania terlihat begitu berharap kepada Althara dengan membuat raut wajah sedih.
“Tania kesempatan itu ga pernah ada” Althara berusaha untuk membuat dia mengerti.
Dia menatap Althara begitu kesal lalu menatap ku dengan begitu sinis.
“Hebat ya kamu” ucap nya terdengar begitu meledek.
“Apa yang udah kamu lakuin Sih? Sampai-sampai kamu bisa buat Althara tergila-gila kaya ini” sinis nya dengan tatapan yang begitu keji,namun aku menatap nya dengan dingin.
“Bahkan kamu juga hebat,udah bikin persahabatan Rey dan Althara hancur kaya gini karena ulah kamu!” aku terkejut karena mendengar dia menyinggung tentang Rey.
Tania tau tentang itu. Sudah pasti teman-teman nya sudah menceritakan semua permasalahan antara aku,Althara dan Rey kepada Tania.
“Tan..” Althara baru saja ingin memarahi Tania namun aku menahan nya,aku memegang lembut bahu Althara, menatap nya dengan tersenyum kaku.
“Biar aku yang bicara” ucap ku kepada Althara meminta agar aku yang menghadapi nya.
“Dengar Tania. Aku tau persis gimana kisah kamu dan Althara dulu selama sekolah, aku tau permasalahan apa yang sudah kalian alami sampai membuat kamu keluar dari sekolah. Aku tahu semuanya,aku udah denger semua ceritanya, tapi aku tau bukan dari mulut Althara,malah aku tau dari mulut orang lain. Althara sama sekali ga pernah ceritain apapun tentang kamu, kalau aja bukan aku yang desek tanya sama dia,bahkan kemarin kalo aja aku ga pergokin kalian disini kayanya aku ga akan pernah tau kalo ternyata kamu satu kampus sama Althara di Jerman. Kamu tau kenapa dia ga mau cerita tentang kamu ? Karena kamu bukan wanita istimewa untuk Althara”
Dia membulatkan mata nya mendengar aku menyindirnya.
“Sedangkan aku? Kamu pasti tahu cerita tentang aku dari Althara kan ? Kamu pasti tau siapa aku,walaupun Althara ga pernah sebut nama aku atau liatin wujud ku di ceritanya,tapi kamu pasti tau ada perempuan yang selalu Althara fikirkan selama di Jerman,perempuan yang selalu bikin dia pengen cepet pulang kesini,perempuan yang ga akan pernah bisa tergantikan di hati dia,walaupun banyak perempuan yang berusaha deketin dia,tapi dia begitu setia sama perempuan idaman nya itu. Yaitu aku,aku adalah perempuan istimewa untuk Althara”
Percaya diriku begitu memuncak berhadapan dengan perempuan ular ini. Sudah pasti dia tertampar dengan ucapan ku yang benar adanya.
Tania hanya diam dengan kesal tak dapat melawan ku.
“Dan untuk Rey. Itu hanya kesalahan. Aku ga pernah berniat untuk menghancurkan persahabatan mereka. Aku udah jelasin semua sama Rey kalau aku dan Althara memang ada hubungan jauh sebelum kenal Rey,aku juga udah bilang kalo aja aku tau Rey teman Althara udah pasti aku ga akan mau deket sama dia,bahkan untuk kenal pun aku pasti ga akan mau. Tapi Rey sama sekali ga mau terima penjelasan aku. Sama seperti kamu” ucap ku dengan menyinggung nya dengan raut wajah yang masih saja dingin.
Tania terlihat begitu kesal dengan menatap ku begitu penuh dendam,dan terlihat sekali dia kehabisan kata-kata untuk membalas ocehan ku.
“Aku minta kamu pergi dan jangan pernah ganggu Althara” ucap ku memperingati nya.
Tania menatap Althara dengan kecewa dan kesal,seolah dia meminta perlindungan karena aku sedang mengusirnya.
“Lebih baik kamu pulang” pinta Althara.
Dia terlihat sedih dan begitu emosi mendengar kami berdua mengusir nya dengan lembut.
Dia membalikan badan dan berjalan menghentakan kaki dengan kesal nya.
Aku menghela nafas lega melihat dia pergi dan sudah merasa lega mengatakan semua yang bisa membuat dia kecewa.
Aku melirik Althara dengan memicingkan mata ku. Dia mengangkat kedua halis nya seolah bertanya aku kenapa.
“Lain kali jadi laki-laki bersikap tegas” sinis ku kepadanya.
Dia membenarkan posis tubuh nya menghadap ku dengan tatapan nya yang begitu ketus.
“Kalau aku bersikap tegas. Aku ga akan pernah dapetin kamu” ujar nya dengan dingin.
Aku menatap nya dan membenarkan ucapan nya. Memang awal aku menyukai nya karena dia tidak pernah tegas dengan perasaan yang dia miliki. Dia malah membuat ku bimbang karena bertanya-tanya tentang perasaan yang dia miliki dan selalu membuatku penasaran,apakah dia menyukai ku atau tidak.
Aku melipat kedua tangan ku dan menatap nya sinis.
“Untuk sekarang kamu harus bisa tegas. Aku ga mau lagi menghadapi wanita seperti dia”
__ADS_1
Lalu aku pergi dengan meninggalkan tatapan tajam untuknya.