7 Hari Bersama Althara

7 Hari Bersama Althara
Selalu ada di sekitar ku


__ADS_3

Tak terasa hari ini adalah hari kelulusan ku. Setelah 2 tahun lamanya di sekolah tanpa penjagaaan dari Althara, ternyata aku bisa melewati nya. Althara benar, tak akan ada yang berani menggangguku, status ku sebagai pacar Althara sudah sangat berpengaruh walau sampai dia lulus Sekolah.


Aku dan semua siswa tengah merayakan kelulusan kami di tengah lapangan. Semua orang memegang pylox,mereka men corat coret baju dengan pylox, menandatangani baju seragam, bahkan banyak sekali yang ber swipe foto di both yang bertuliskan Angkatan 2014.


Handphone ku berdering ketika aku tengah sibuk menanda tangani seragam seorang siswa lain.


“Hallo” aku menyelipkan handphone di antara telinga dan bahuku.


“Hallo, lagi apa?” Tanya Althara di sebrang telepon.


“Aku lagi sibuk aja di lapangan”


“Sibuk apa ? Sibuk merusak seragam kamu?”


Aku mengerutkan kening ku.


“Alhena boleh foto dulu” seru seseorang siswa yang menenteng kamera nya dan meminta foto dengan ku.


“Oh iya boleh” aku masih menempelkan handphone di telinga ku ketika aku berfoto dengan siswa ini.


Siswa itu memberikan kamera ke teman nya meminta tolong untuk memeotret kami berdua. Siswa ini merangkul ku dan tersenyum ke arah kamera.


“Bilang sama dia,tangan nya ga usah macem-mcame”


ucap Althara membuat ku mengerutkan kening ,siswa itu telah pergi.


Aku semakin yakin jika dia ada disini,aku terus mencari Althara di sekitar ku di antara seluruh siswa yang memenuhi lapangan. Tata menepuk punggung ku dan menunjuk ke arah lantai 2 di atas kami.


Dan terlihat lah Althara dan semua teman alumni nya sedang memperhatikan ku di atas sana. Dia tersenyum kepadaku dengan handphone di telinga nya.


“Sejak kapan kamu disitu?”


“Aku ga pulang dari anter kamu tadi”


“Terus kenapa ga bilang?” Tanya ku dengan terus menatap nya.


“Aku cuma mau jaga kamu dari orang-orang yang berusaha ganggu kamu” ujar nya sambil tersenyum di atas sana.


Aku pun ikut tersenyum dan langsung mematikan ponsel ku.


“Al foto dulu” ujar Ghea menarik tangan ku.


Ketika masih dalam sesi pemotretan lalu Tata berbisik kepadaku.


“Al, lo ikut kan?” Bisik nya di tengah tengah pemotretan.


“Kemana?” Tanyaku.


“Kita mau ke Taman Hutan Raya rayain kelulusan disana”


“Gue bole ajak Althara ga yah?”


“Ga tau gue, kayak nya ngga deh ,ketua osis pengen nya kita privacy aja satu angkatan kesana”


Aku melirik Althara yang masih nongkrong di lantai 2 berbincang dengan semua teman nya yang lain.


Sepulang sekolah aku mencoba meminta izin kepada Althara untuk membiarkan ku mengadakan kelulusan di luar sekolah.


“Al, aku ada acara kelulusan di sekolah udah ini sama anggota OSIS tapi si ketua osis ga ngizinin kita bawa orang lain” ujar ku.

__ADS_1


Althara diam,dia menimbang keinginan ku.


“Kamu mau ikut?” Tanya nya.


“Mau Al, ini kan acara kelulusan cuma sekali doang kan?” Izin ku dengan memelas.


Dia terlihat begitu berat hati dan sama sekali ragu untuk mengizinkan ku.


“Oke,kamu pergi sama siapa?” Tanya nya membuat ku tersenyum bahagia.


“Aku pergi sama Tata” ucap ku sambil terus tersenyum.


Aku meloncat loncat kegirangan dan mencium pipi Althara.


“Makasih Althara”


Terlihat sekali Althara begitu ragu dan khawatir dengan jawaban nya sendiri namun aku tak menghiraukan nya. Karena acara ini hanya bisa terkenang sekali seumur hidup ku.


Aku dan anggota osis lain nya mulai bersiap di parkiran untuk pergi ke Taman Hutan Raya yang letak nya cukup jauh dari sekolah ku. Namun masih di daerah kota Bandung.


“Kayak nya ada yang ngikutin kita deh Al” ucap Tata memperhatikan kaca spion nya.


Aku melihat belakang ku. Memang seperti ada beberapa gerombolan siswa yang sepertinya mengikuti ku.


“Iya deh kayak nya Ta, coba lo agak cepet dikit” ujar ku.


Tata melajukan motor nya lebih cepat dan menyusul beberapa kawan kami di depan agar terasa aman.


Kita sudah sampai di Taman Hutan Raya, dan segera memarkirkan motor kita semua. Suasana dingin terasa di tubuh ku walaupun sudah di balut dengan jaket atau sweater. Karena ini benar benar di pinggiran hutan,dan banyak sekali pohon pohon besar di sekitar kami.


Terdengar suara gerung beberapa motor masuk kedalam parkiran,dan sudah pasti itu bukan bagian dari kawan kami.


“Siapa mereka?” Tanya ku kepada siapapun saja yang mendengar.


“Mereka siswa di sekolah Pelita Raya” ujar Ricky terlihat sekali dia panik melihat siswa siswa itu memarkirkan motor nya sembarang di depan kita.


“Mau apa mereka kesini?” Tanyaku.


Mereka semua mulai turun dari motor nya, terlihat sekali wajah-wajah garang dari mereka begitu mereka menatap kami semua.


“Mereka musuh sekolah kita Al, sekolah kita dan sekolah mereka tidak pernah akur dari jaman Dulu katanya” ujar Ricky.


Aku dan semua teman ku saling tatap dengan panik.


“Waawww sekolah terkenal ngerayain acara kelulusan nih” ucap salah satu pria garang itu dengan seragam sekolah nya yang begitu lusuh.


“Mau apa kalian?” Tanya Rio sang ketua OSIS dengan berani.


Siswa garang itu hanya tersenyum sinis kepada Rio.


“Gue mau nantang duel lagi sekolah kalian” jawab sangar siswa itu.


“Urusan kita udah lama sekali selesai, kita disini ada perempuan dan di tempat yang terjaga, tolong jangan buat keributan” ujar Rio berusaha menghindari perkelahian.


“Hallaahh jangan cuma karna perempuan, kalian berlagak seperti banci”


Semua teman-teman ku terlihat begitu panik dan takut. Aku berjalan ke depan dan mencoba menghadapi mereka.


“Kalo kalian hanya mencari keributan,mending kalian pergi dari sini” ujar ku dengan berani membuat semua teman ku menatap ku khawatir.

__ADS_1


“Alhena” bisik Venna dengan panik di belakang ku memperingati ku untuk tidak melakukan hal bodoh.


Semua siswa garang itu terlihat menertawakan ku.


“Berani banget ya ni cewe” ujar sang pemimpin ini kepada teman teman nya.


Dia melangkah kan kaki begitu dekat dengan ku dengan tatapan nya yang di buat menyeramkan.


“Kalo kita ga mau pergi dari sini,lo mau apa cewe cantik?” Ucap nya dengan wajah yang begitu sinis dan dengan senyum jahat nya.


Aku mengangkat kedua halis ku dengan menatap nya penuh berani. Lalu terdengar lagi suara motor yang begitu bising masuk ke dalam parkiran taman. Suara-suara motor sport yang begitu banyak terparkir di samping motor mereka. Althara dan para alumni lain di angkatan nya.


Semua mata teralihkan kepada mereka para pemotor yang terlihat gagah dengan motor besar nya. Althara turun dari motornya dan menyimpan helm nya diatas motor,di ikuti beberapa teman alumni nya mengekor di belakang Althara.


Kini giliran aku yang tersenyum jahat kepada siswa garang ini yang terlihat ketakutan.


“Atau lo berurusan dengan mereka” ucap ku dengan penuh kemenangan.


Si pemimpin garang ini menatap ku dengan kesal. Tatapan nya penuh dengan dendam,namun aku menatap nya dengan senyuman yang begitu manis.


Althara menghampiri ku dan berdiri tepat di hadapan nya.


“Mau apa lo?” Tanya Althara dengan tegap berdiri menghadapi semua siswa yang menantang kami.


“Ini bukan urusan lo lagi” jawab nya membuat Althara begitu kesal. Sepertinya mereka tahu siapa Althara.


“Lo berani macem-macem sama mereka apalagi sama cewe gue, berarti lo juga berurusan sama gue” ucap Althara dengan serius.


Siswa itu hanya menatap Althara dengan kesal.


“Pergi dari sini kalian semua!” teriak Rizal meminta mereka semua pergi.


Dengan panik teman-teman nya siswa garang ini menaiki motor nya,namun tidak dengan sang pemimpin ini masih saja menatap Althara dengan tajam.


“Kenapa? Masih penasaran mau berantem sama gue?” Tantang Althara.


Laki-laki itu terlihat begitu berusaha untuk memberanikan dirinya menghadapi Althara namun dari raut wajah nya aku ragu jika dia berani menantang Althara.


Tanpa bicara sang pemimpin garang ini kembali ke motor nya dan segera pergi di ikuti gerombolan nya meninggalkan hutan raya ini.


Rio berjalan cepat menghampiri Althara.


“Thank you Al, sorry banget udah hampir bikin keributan” ucap Rio.


“Lain kali kalo lo mau ngadain acara kaya gini, jangan sampe pake seragam sekolah terbuka gini lagi, apalagi banyak cewe. Secara ga langsung lo udah mancing keributan mereka di wilayah kekuasaan mereka” ujar Edo memperingati.


Rio hanya terdiam merasa bersalah.


Althara hanya diam berusaha menahan emosinya yang masih tersisa. Aku menyentuh pundak Althara dengan lembut untuk menenangkan nya.


“Hay” sapa ku dengan manis.


Wajah Althara masih begitu kusut.


“Udah dong marah nya, mereka udah pergi tuh” ucap mu berusaha menenangkan nya.


“Jangan pernah so berani lagi kaya gitu Al,kalo tadi aku ga dateng gimana?” Kesal nya.


“Ya karena aku tahu kalo kamu pasti ikutin aku. Kamu sendiri kan pernah bilang, kamu akan selalu ada di sekitar aku walaupun aku tidak menginginkan nya” ucap ku mengingat kalimat Althara yang membuat ku bisa seberani tadi menghadapi siswa garang itu.

__ADS_1


Althara menghela nafas nya dengan berat dan menggelengkan kepala nya. Aku hanya memberikan dia senyuman terbaik ku sambil mengelus punggung nya.


__ADS_2