7 Hari Bersama Althara

7 Hari Bersama Althara
Happy birthday Althara


__ADS_3

“Surpriseee!!!!” Teriak semua teman nya dengan meloncat ke arah ku membuat ku tersadar.


Aku tak percaya ini adalah hari ulang tahun Althara. Pantas saja dia meminta ku untuk menemani nya seharian,seperti kebiasaannya dulu di hari ulang tahun Althara dia hanya meminta untuk bisa menghabiskan waktu dengan aku dan tidak menginginkan yang lain.


Althara pun pura-pura tersenyum bahagia melihat semua teman nya yang telah memberikan kejutan.


Kue bolu masih ku pegang dengan hati-hati di kedua tangan ku dan lilin nya pun masih menyala menancap di atas bolu.


“Make a wish dulu dong” seru bebepa teman nya di belakang ku.


Althara menatap ku dengan bingung.


Dia memejamkan kedua matanya, dan terlihat sedang berdoa dalam pejaman matanya. Lalu dia meniup lilin itu dengan mata yang masih saja mencuri pandang kepadaku.


“Yee selamet ya tar” ucap Billa mendahului mencium pipinya sebelum yang lain.


“Selamat ya bos akhirnya lo ulang taun juga” ucap Sam sambil menyalami dan memeluk Althara.


“Taraa udah tua banget sih loh ternyata, tapi kenapa wajah lo kayak bocah ya?” Canda Rey di samping ku sambil menyalami dan memeluk nya.


Tinggal lah aku yang belum menyelamati nya. Dan semua orang seperti tengah menunggu ku untuk berpartisipasi mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Aku begitu kikuk di lihat semua orang seperti itu.


“Happy Birthday Althara” ucap ku akhirnya.


Namun Althara hanya menatap ku dengan diam, aku pun sampai lupa hari ulang tahu Althara karena sudah lama sekali aku melupakan hari bahagia itu.


Lalu dengan tak terduga Rey menumpahkan semua kue itu ke muka Althara membuat semua orang disana berteriak dengan histeris dan malah ikut melumuri wajah Althara dengan kue.


Semua orang tertawa sementara Althara begitu pasrah menerima kejahilan semua teman nya. Setelah puas ,semua teman nya tertawa Althara menggelengkan kepalanya dan mulai mengejar semua temen nya yang berlari berhamburan keluar rumah dan berlari di halaman dan di parkiran yang begitu luas itu.


Sementara aku hanya duduk terdiam di ruang tamu menunggu mereka. Aku masih memikirkan hari yang baru saja aku lalui. Mengapa Althara masih mau menghabiskan waktu dengan ku di hari ulang tahun nya ? Dia kembali membuat ku bingung.


Seorang wanita duduk di samping ku dengan sebuah handuk kecil di tangan nya. Dia baru saja mencuci wajah nya dari lumuran kue yang tadi menempel di wajah nya.


Dia melirik ku lalu tersenyum, aku membalas senyuman nya.


“Hay Alhena” sapa nya.


“Hay Bil”


“Maaf ya mereka emang iseng kaya gini”


Ucap nya sambil tertawa.


“Gak apa-apa”


“Kamu pacar nya Rey?” Tanya dia.


Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum.


“Bukan”


“Oh haha aku kira udah jadi pacar”


Lalu kami terkekeh bersama.


“Kapan-kapan kita keluar barempat ya, kita nonton atau nongkrong ..”


“Berempat?” Tanya ku memotong ucapan Billa.


Karena dari sekian banyak teman nya seperti ini kenapa dia bilang hanya berempat.


“Iya berempat, aku,kamu,Rey dan Althara”


Seperti tersambar petir. Aku terkejut mendengar nama Althara di sebut nya.


“Kamu pacar Althara?” Tanya ku dengan hati-hati.


Dia tersenyum dengan malu.


“Aku juga belum jadi pacar dia Al” dia terkekeh dengan ucapan nya sendiri.


“Tapi kita emang sedekat itu, cuma Thara emang sulit buat akuin perasaan dia, dan akhirnya kita jalani aja hubungan dengan apa adanya”


Aku tersenyum mendengar cerita dia. Dan menyembunyikan rasa kecewa ku.


“Sorry ya aku jadi curhat gini”


Ucap nya sambil tertawa.


“Gak apa-apa bill”

__ADS_1


Lalu mereka semua akhirnya datang dan duduk bergabung bersama kami. Rey duduk di samping ku dengan nafas yang terdengar lelah.


“Mau minum?” Tanya Rey.


Aku melirik Althara yang masih berdiri di samping Billa dengan mengusap wajah nya dengan handuk. Dia menatap ku bingung.


“Aku mau ke toilet Rey”


“Oh ada disana Al aku antar ya”


“Gak apa-apa,aku sendiri aja”


Lalu aku pergi menuju toilet yang di tujukan nya. Aku melewati Althara dengan menatap nya dengan tajam dan sinis. Althara tahu sudah terjadi sesuatu yang membuat ku sinis seperti itu.


Aku masuk kedalam toilet dan mencuci tangan ku di washtafel. Aku menatap diriku di dalam cermin dan mengatur emosi ku.


“Lo bisa Al,lo harus tenang” ucap ku pada diriku sendiri di dalam cermin.


Aku menarik nafas begitu dalam dan berusaha untuk mengatur emosi ku.


Aku keluar dari toilet dan mendapati Althara sudah menunggu ku di luar pintu dengan melipat kedua tangan nya.


Aku berusaha tidak memperdulikan nya. Dan melangkahkan kaki ku untuk pergi.


“Alhena” dia menahan tangan ku.


“Billa cerita apa aja sama kamu?” Tanya nya dengan penasaran.


Aku mengangkat kedua halisku.


“Ga ada”


“selain bilang kalo kalian ternyata memiliki hubungan” ucap ku dengan berlagak seolah tak perduli.


Aku kembali hendak pergi.


“Tunggu Al. Aku ga mau kamu salah paham”


“Iya aku salah paham Al. Aku udah salah paham, mengira kalo semua nya akan kembali baik-baik aja”


Sinis ku dan benar-benar pergi dari sana meninggalkan dia yang mulai gelisah.


Aku duduk di samping Rey.


“Minum dulu” ujar Rey memberikan sebuah minuman soda kepadaku.


“Thank you Rey”


Althara datang dan dia segera mengambil alih pekerjaan Rey dan Fadil.


“Udah biarin ahli nya aja yang bekerja” ujar Rey.


“Udah lah kita nunggu mateng aja udah” ucap Fadil sambil duduk di samping Rey.


“Ini tar” Billa menyodorkan steak yang baru saja di balur nya ke Althara.


“Biar aku aja” ujar Althara dengan ketus membuat Billa terlihat kecewa.


Billa duduk bergabung dengan kami dengan raut wajah yang sedih.


“Oh iya tadi katanya lo lagi sibuk tar?” Tanya Fadil.


“Heeh ketemu siapa lo? Client?” Tambah Sam.


“Gue ketemu orang penting” ujar Althara dengan sibuk membulak balikan steak di depan nya.


Aku meneguk minuman ku untuk meredam rasa panik ku.


“Penting banget emang?”


“Penting” Ujar nya sambil menyunggingkan senyuman menatap ku.


“Gue kira lo lagi jalan sama Billa” Ujar Sam membuat Billa terlihat kecewa.


“Ngga, Althara ga nemuin aku” ujar nya dengan raut wajah yang muram.


Althara terlihat tersenyum dengan sinis.


“Kalian mau tau gue pergi sama siapa?” Tanya nya.


“Siapa?” Tanya Sam.

__ADS_1


Althara menatap ku dengan dingin.


“Alhena”


Dia membuat semua orang menatap ku dengan terkejut. Dan membuat ku kikuk bingung tak tahu harus bagaimana.


Althara benar-benar gila.


Aku tak sengaja tersedak dengan minum ku mendengar nama ku di sebut nya.


Semua orang masih menatap ku dengan bingung.


“Tolong ambilkan kecap yang ada di samping kursi” lanjut Althara membuat ku celingukan.


Semua orang bernafas lega,termasuk aku.


Aku langsung mencari kecap yang di maksud nya. Setelah ketemu kecap yang membuat semua orang menatap ku itu,aku langsung memberika kepada Althara dengan wajah panik.


“Terimakasih”


Aku hanya menganggukan kepala ku dengan menatap nya sinis.


Bisa-bisa nya Althara membuat aku sport jantung seperti ini. Dia terlihat begitu puas sudah membuat ku panik seperti ini. Aku hanya bisa duduk di samping Rey dengan kesal.


“Ada orang penting yang harus gue temuin tadi” lanjut Althara menjelaskan.


Semua diam tak lagi membahas hal yang menurut mereka tidak penting. Padahal mereka tidak tahu jika orang penting itu adalah aku.


“Oh iya nyokap kemana ?” Tanya Rey.


Aku langsung menatap Rey dengan reflek.


“Mereka lagi perjalanan kesini” ucap nya dengan tangan terus saja membulak balikan steak yang di masak nya.


Aku semakin membulatkan mata ku mendengar Bunda dan Ayah sedang perjalanan menuju kesini.


Kenapa aku bisa menyangka jika Althara mendiami rumah sebesar ini sendirian,kenapa aku tidak berfikir dengan orang tua nya ?


“Mereka baru pulang dari acara keluarga di Palembang?” Tanya Fadil.


“Iya” singkat lagi Althara.


Dia sesekali melirik ku, memergoki wajah pucat ku yang sangat sekali terlihat jika aku panik bertemu dengan orang tua nya.


Tentu saja aku panik,mana bisa aku bertemu orang tua Althara dengan berpura-pura tida mengenal mereka seperti kepada anak nya ini. Mana bisa aku siap bertemu mereka dengan keadaan seperti ini. Aku tidak siap melihat wajah terkejut mereka bertemu aku tiba-tiba ada di rumah nya,di tambah lagi bersama Rey. Aku tidak bisa membayangkan itu terjadi.


Lalu aku segera bangkit dari duduk ku.


“Rey aku harus pulang” ucap ku tiba-tiba membuat semua orang melihat ke arah ku.


“Kenapa kok pulang?” Tanya Rey masih duduk di tempat nya.


“Steak nya aja belom mateng loh ini” ucap Sam.


“Tunggu nyicip dulu,bentar lagi baru pulang” tambah Rey.


“Iya Al buru-buru banget” ucap Althara dengan begitu menyebalkan.


Aku tak menghiraukan mereka, aku terus menatap Rey.


“Aku ada janji aku lupa, kalau kamu ga bisa anter aku pulang,aku bisa naik taxi” ancam ku karena aku tidak bisa lagi lama-lama disini sampai orang tua Althara datang.


“Oke oke aku antar”


Rey berdiri dan mengambil handphone di meja nya.


“Guys gue cabut dulu nanti gue kesini lagi” ucap Rey kepada semua teman-teman nya.


Aku tahu mereka semua terlihat heran dengan tingkah ku.


“Al tunggu gue ya” ucap Rey kepada Althara.


Aku mengambil tas ku di meja dan berjalan mendekati Althara.


“Happy Birthday Althara” ucap ku lirih menatap mata nya.


Dia balik menatap ku dengan begitu dalam dan semu. Begitu banyak arti dari tatapan nya,membuat aku begitu merindukan kehangatan bersama nya,namun rasa sakit yang selama ini aku alami begitu bisa mengalahkan tatapan penuh kasih dari Althara.


Aku langsung menyadarkan diriku dan pergi meninggalkan mereka di acara berbeque Althara.


Happy birthday Althara.

__ADS_1


__ADS_2