
Kita berdebat di kamar ku.
“Kenapa kamu ga bilang kalau orang tua kamu mau kita resepsi di Jakarta?” Tanya ku dengan kesal ketika kita sudah selesai dengan acara pertemuan keluarga kita dan orang tua Althara pulang lebih dulu ke rumah di Bandung mereka.
“Alhena. Bunda sama Ayah emang mau nya mereka acaranya di Jakarta Al,keluarga dan teman kerja Ayah kan kebanyakan nya di luar kota dekat nya ke Jakarta jadi ya mereka pasti pengen nya disana” ujar Althara yang juga bingung dengan keinginan kedua orang tua nya.
“Terus gimana? Aku mau kita rayain semuanya di Bandung” resah ku dengan terus saja bingung.
“Alhena dengar. Orang tua ku lebih banyak di Jakarta mereka banyak juga yang sibuk kerja disana. Ayah mau kita merayakan disana supaya yang sibuk kerja pun seengga nya bisa menyempatkan diri untuk mampir ke pernikahan kita”
“Terus menurut kamu aku ga punya keluarga di Bandung? Kamu fikir aku lahir dimana? Saudara ku juga lebih banyak di Bandung Althara” Emosi ku sudah tak terbendung lagi. Aku sudah mulai terlalu kesal.
Aku membalikan badan ku tak ingin melihat nya.
Althara menghampiri ku dan memegang kedua bahu ku dari belakang. Dia menenangkan ku yang sudah mulai memanas. Hebat nya Althara,dia tidak pernah mau menanggapi ku yang sedang emosi.
“Alhena” panggil nya dengan begitu lembut.
Aku masih diam tak mau menatap nya.
“Tenangkan dulu diri kamu,jangan sampai kita bertengkar hebat tentang ini” ujar nya mengkhawatirkan ku yang sudah terlihat begitu marah.
“Aku ga mau,kita mengawali semua nya dengan banyak nya masalah yang sebenarnya bisa kita lewati”
Althara benar. Aku menghela nafas ku untuk mengatur emosi ku menghembuskan nya dengan kencang lalu berbalik menatap nya.
“Kamu yang minta aku pulang ke Bandung dan kamu juga yang bilang akan menikahi ku di Bandung,bahkan kamu juga udah janji kita akan hidup di Bandung kan? Aku mau melakukan semua itu karena kamu bilang kehidupan ku yang sebenernya di Bandung,aku udah tinggalin Jakarta dan aku ga mau merayakan pernikahan aku disana,aku mau memulai semuanya disini” ucap ku memohon dengan lembut dan sungguh sungguh dengan raut wajah sedih ku.
Althara hanya menatap kedua mata ku yang begitu sedih. Dia tidak akan tahan melihat ku yang sudah memohon seperti ini dan raut wajah ku yang kasihan.
Althara menarik nafas nya dan menganggukan kepala nya.
“Baiklah aku akan bicara ke Ayah dan Bunda kalo kita sepakat ingin menggelar pernikahaan di Bandung” jawabnya yang akhirnya membuta ku begitu bahagia.
Raut wajah ku berubah menjadi berseri seri dan bahagia. Aku langsung memeluk Althara begitu erat.
“Terimakasih Althara” ujar ku dengan begitu senang nya.
Dia membalas pelukan ku dan ikut bahagia melihat ku yang begitu bersemangat.
“Apapun akan aku lakukan asal kamu ga marah-marah lagi”
Lalu Althara segera mengatakan keputusan nya ketika dia pulang ke rumah nya yang di Bandung. Namun sepertinya orang tua nya merasa keberatan dan meminta kami untuk kembali mempertimbangkan.
“Tapi Ma aku mau kita menikah di Bandung” ujar ku mengadu kepada Mama ketika kami mendapatkan kabar dari Althara jika orang tua nya meminta kami kembali mempertimbangkan nya. Orang tua Althara bersikeras ingin menggelar acara di Jakarta.
Aku Mama dan Papa duduk di ruang keluarga untuk kembali membahas ini.
“Nak dengar. Ini bukan hanya perkara acara mewah saja. Orang tua Althara pun pasti sangat ingin mengundang keluarga mereka menyaksikan pernikahaan anak nya. Mereka juga sama seperti Mama dan Papa yang ingin keluarga besar dan kerabat nya di undang ke pernikahaan kalian nanti nak, karena itu mereka bersikeras untuk meminta kalian menggelar nya disana” ucap Mama begitu bijak.
“Tapi Mama sama Papa emang ga mau keluarga kita yang ada di Bandung menyaksikan pernikahan aku?” Tanya ku dengan cemberut.
__ADS_1
“Mama dan Papa tentu mau kalian menggelar disini nak. Tapi Mama dan Papa juga tidak pernah masalah jika pernikahaan kalian harus di lakukan di Jakarta ataupun di manapun. Karena yang terpenting adalah kalian menikah dengan lancar dan selamat” sahut Papa.
Aku menghela nafas ku dengan kesal.
“Tapi aku mau disini Pa” ujar ku dengan menyandarkan diri ku di sofa.
Tidak lama suara handphone Mama berdering. Itu dari Mama nya Althara.
“Hallo Bu Jenni” sapa Mama.
Aku langsung menatap Mama dengan serius.
“Iya Bu ada apa?”
“Iya Bu maafkan ya. Ini saya dan Alhena juga masih membicarakan tentang ini bu” jawab Mama lagi sambil menatap ku.
“Bagaimana?” Tanya Mama menajam kan pendengaran nya.
“Iya” dia hanya menjawab seperti itu semakin membuat ku penasaran apa yang di katakan nya. Sementara Papa terus saja menonton tv favorite nya di samping Mama.
“Iya”
“Iya”
“Oh bagus itu. Itu malah lebih baik”
“Oh gitu”
“Baik bu baik saya bicarakan lagi dengan Alhena ya bu” ucap Mama.
“Iya Bu Jenni terimakasih. Sampai bertemu nanti”
Lalu Mama menutup telepon nya.
“Apa katanya? Kok Mama main iya iya aja?” Heran ku sudah mengira jika keputusan sudah berpihak kepada keluarga Althara.
“Sayang kita akan menggelar acara di Bandung lalu di Jakarta” ucap Mama memberi tahu ku.
Aku mengkerutkan kening ku.
“Merayakan di dua tempat?” Tanyaku memastikan.
“Iya. Kita ambil jalan tengah. Karena kita ingin bersikukuh menggelar acara di daerah kita masing-masing akhirnya Mama Althara meminta kita untuk menggelar acara di dua tempat”
“Di hari yang sama?” Tanya ku semakin tidak mengerti.
Mama berdecak kesal.
“Ya ngga lah Al. Kita menggelar dulu akad dan resepsi di Bandung. Lalu lusa nya kita pergi ke Jakarta untuk mengadakan resepsi di sana. Kasian Papa Althara sudah membooking hotel disana,ya kan Pa?” ujar Mama menoleh ke Papa yang sejak awal dia hanya diam tak ikut bicara.
“Hah?” Sahut Papa dengan terkejut.
__ADS_1
Mama memukul kecil kaki Papa dengan kesal,karena dia terus diam saja tak membantu nya.
“Iya iya iya bagus itu” jawab Papa dengan kikuk seolah dia mengerti dengan apa yang baru saja kita bicarakan.
“Bagus apa nya?” Tanya Mama dengan memicingkan matanya.
“Ya bagus nikah nya mau di gedung kan?” Jawab Papa dengan begitu berusaha mengerti.
Mama menggelengkan kepala nya sedangkan aku mengkerutkan kening dengan menertawakan nya.
“Apaan sih Pa?” Cibir ku.
“Gimana?” Tanya Mama lagi kepadaku.
“Baik. Kalau kayak gitu aku ikut. Aku juga ga mau egois untuk keluarga Althara”
Mama tersenyum dan mengelus rambut ku. Dia menatap ku dengan sedih dan hampir saja menetes kan air mata. Aku heran menatap Mama.
“Bagus. Mama telepon dulu Bunda nya Althara ya untuk memberitahukan keputusan ini. Dan selanjutnya kita akan membicarakan tentang akad nya”
Aku menganggukan kepala ku dengan manis. Mama bangun dari duduk nya dan langsung kembali menghubungi Bunda Althara dengan pergi meninggalkan ku dan Papa.
Papa menatap ku dengan begitu pilu.
“Sini nak” pinta Papa dengan melentangkan satu tangan nya di sofa.
Aku menghampiri Papa dan bersandar di bahu nya. Papa memeluk ku dan mengelus rambut ku.
“Kamu harus tahu nak. Setiap malam Mama selalu sedih mengingat kamu akan menikah”
“Oya?” Tanya ku tak percaya dengan terus bersandar di antara bahu dan leher Papa.
“Ya Mama sudah pernah kehilangan kamu ketika kamu ke Jakarta. Dan sekarang dia harus kembali kehilangan kamu untuk di ambil oleh Althara” ujar Papa.
“Tapi kan aku tinggal di Bandung Pa” jawab ku.
“Semua ini berbeda Nak. Kami berdua seolah harus mengikhlaskan kamu untuk di ambil oleh Althara dan tanggung jawab kami sepenuh nya akan berpindah kepadanya”
Aku merasa sedih memikirkan itu. Aku begitu menyayangi mereka. Aku adalah anak satu satu nya yang di miliki mereka. Pasti akan terasa begitu berat melepaskan anak semata wayang nya untuk pergi menikah dan tidak lagi tinggal disini.
“Aku akan baik-baik saja Pa” ucap ku berusaha menenangkan Papa.
“Ya Papa tahu. Althara laki-laki yang sangat bertanggung jawab,dia sangat mau membahagiakan kamu. Dia mau melakukan apapun asal kamu bahagia kan? Dia menunjukan semua itu kepada Mama dan Papa,dan akhirnya kita percaya sepenuhnya dengan Althara”
Aku tersenyum mendengar Papa begitu percaya dengan Althara.
“Itu alasan kenapa Mama mau menerima Althara menjadi menantu nya secepat ini. Kalo bukan Althara,mungkin Mama sudah menolak mentah-mentah pria lain,karena Mama masih mau menghabiskan waktu dengan anak semata wayang nya ini”
Aku terus tersenyum dengan perasaan yang sedih.
“Alhena sayang Mama dan Papa” ucap ku sambil memeluk Papa ku yang tersayang ini.
__ADS_1